APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelecehan Yang Menjadi Obsesi (Aku Dan Suami)

Pelecehan Yang Menjadi Obsesi (Aku Dan Suami)

Rumah tangga Angga dan Ratih awalnya sangat harmonis dan bergelimang materi bersama putri mereka. Namun, kebahagiaan keluarga kecil ini hancur seketika saat rumah mereka disatroni pencuri. Tak sekadar menjarah harta, penyusup tersebut juga memaksa mereka melakukan tindakan di luar batas. Insiden tragis malam itu tidak hanya menyisakan trauma berat, tetapi juga memicu obsesi psikologis yang berbahaya. Akankah pernikahan mereka mampu bertahan setelah melewati malam kelam tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

Di kesibukan Angga akan pekerjaan kantor-nya, Pas jam istirahat makan siang, Angga pergi kesebuah Resto tidak jauh dari Kantor-nya.

Dia memesan makan dan minum-nya, lalu matanya memerhatikan setiap orang yang ada di Resto itu, tiba-tiba dia melihat seorang Pria yang mirip dengan Farhan, dia hanya mencoba mengingat-ngingat wajah Farhan, saat pertama bertemu, saat menjemput Ratih.

Angga kurang Yakin akan hal itu, sehingga dia tidak berani menyapanya, (maklum, pertemuan pertama dan Singkat di waktu itu).

Pas sedang asik melahap, ayam bakar pesanan-nya, sesosok Pria tinggi sudah berdiri tepat di depan-nya, dan menyapa-nya.

Apa Kabar Bro! ucap Pria itu

kabar baik, jawab Angga

masih ingat dengan saya? tanya Pria itu

Farhan ya? Pacar-nya Ratih?

yoiiii! jawab-nya, beleh bergabung duduk disini?

silahkan-silahkan ucap Angga dengan Senyum, tenyata benar Farhan yg dilihatnya tadi, dan sekarang sudah satu meja dengan-nya.

Makanan Pesanan milik Farhan pun diantar, lalu mereka berdua makan bersama, sambil ngobrol ringan kerjaan masing-masing, disana Angga baru tau, ternyata Farhan bekerja di bidang Kontraktor, dan Angga pun mengasih tau soal kerjaanya, yaitu bergerak dibidang Export-Import.

Memang sifat Angga tidaklah banyak bicara, dia lebih banyak diam, pas di tanya barulah dia berbicara, sementara Farhan adalah sosok yang selalu bisa mencari bahan untuk dibicarakan, sosok yang mudah bergaul.

Jam sudah menunjuk jam 1 lewat

Angga pun pergi kekasir dan menanyakan berapa total-nya, tidak lupa, dia juga membayar pesanan milik Farhan.

Setelah itu, Angga pamit dan memberitahu Farhan, kalau dia sudah membayar bill makanan Farhan, dan dibalas Farhan dengan senyum dan ucapan terimakasih.

Kesibukan Angga pun kembali, sesampainya di ruang kerjanya, sebuah layar MacBook terpampang di atas mejanya, dia pun mulai sibuk dengan pekerjaannya, tidak lupa, Angga meminta segelas kopi kepada OB kantornya.

Begitulah keseharian Angga, Sibuk dan Sibuk akan kerjaan di hari Senin-Jumat. dia adalah orang yang serius mengejar karir, dan tentu juga bonus pendapatan akan prestasi-nya.

Waktu pun berlalu, hari demi hari, minggu demi minggu.

Suatu Waktu, di hari Sabtu, Angga pergi ke sebuah pameran Lukisan, mengisi kekosongan harinya, dimana Sabtu dan Minggu adalah hari Libur.

Saat sedang asik memerhatikan karya-karya lukisan yang di pajang, dia dikagetkan sebuah tepukan di pundak-nya, ternyata itu adalah Ratih bersama seorang Ibu yang masih terlihat cantik. Ratih pun memperkenalkannya kepada Angga.

Tante Mila, mamanya "Ratih" ucap wanita tersebut

Angga Tante, jawab Angga dengan senyum dan sedikit menunduk saat menyalami Ibu nya Ratih.

Ratih pun bertanya kepada Angga

Cari lukisan apa nih?

ah, ga ko, cuman mengisi waktu luang aja, jawab "Angga"

Ratih sendiri nyari apa?

ni si Mami, pengen nyari Lukisan besar buat di temper ke dinding ruang tamu, ga tau juga lukisan apa, ucap Ratih sedikit cemberut.

nyari lukisan seperti apa Tante?

ya yang bagus aja di pandang mata, jawab Tante Mila.

Mereka pun berkeliling sambil melihat-lihat lukisan yang dipajang di sana,

tiba- tiba mata Tante Mila tertuju ke sebuah Lukisan bergambar pedesaan yang asri, Tante Mila pun mendekat, di ikuti Angga dan Ratih.

ini kayak-nya cocok nih, Ucap Tante Mila, sambil memperhatikan detail Lukisan itu.

kira-kira berapa ya? tanya Tante Mila

Ratih dan Angga, tentu saja ridak tau akan nominal harga lukisan itu.

Ratih pun memanggil seorang penjaga disana, lalu menanyakan harga dari lukisan itu, ternyata harganya 25 Juta-an dan di diskon jadi 22 Juta.

Gimana Tih, bagus ga? tanya Tante Mila kepada Putri tercinta-nya

Bagus sih, Mami mau?

tapi lumayan mahal ya! kata Tante Mila

Angga pun menyimpali, Tante suka?

Suka sih jawab Tante Mila, tadi berapa katanya?

22 Juta Mih, jawab Ratih

tiba-tiba Angga pergi meninggalkan mereka, lalu menuju kasir tampa sepengetahuan Ratih dan Tante Mila, Angga pun memesan lukisan tersebut dan membayar-nya, total yang harus dibayar Angga sekitar 22 juta 3 ratus dengan biaya antarnya, hanya tinggal gesek, lunas deh itu lukisan.

Saat Angga kembali ketempat Ratih dan Tante Mila, tiba -tiba 3 orang pegawai disitu ikut menghampiri mereka.

Pak, Mau disiapkan sekarang? tanya salah satu pekerja tersebut

Boleh Pak, di bungkus yang Rapih ya, ucap Angga

Ratih dan Tante Mila pun serasa kaget akan hal itu, lalu Angga menjelaskan, kalau Lukisan itu sudah di bayar-nya, Sebagai kado perkenalan dengan Tante Mila, ibunya Ratih.

apa? ucap Ratih dan tante Mila serempak

ga apa-apa Tante, Angga senang mengenal Tante, dan tentu saja Mengenal Ratih, ucap Angga.

dibalas Ratih dengan senyuman tipis

Akhirnya lukisan itupun disiapkan, dan Tante Mila memberikan alamatnya, tempat dimana lukisan itu akan dipajang, Lalu Tante Mila menelpon pembantunya, dan memberitahu, bahwa nanti akan ada yang mengantar dan memasang lukisan ke rumah

Sehabis itu, mereka masih berkeliling-keliling, kaki pun mulai terasa pegal, Mereka pun duduk sambil ngobrol ringan

Tante Mila menanyakan dimana Angga tinggal, kegiatannya apa dan sebagainya, seolah-olah interviu calon pekerja

Dirasa sudah cukup istirahatnya, Mereka pun berjalan keluar, Lalu Angga mengajak mereka untuk Makan siang, gara merasa tidak enak, Ratih dan Tante Mila pun akhirnya setuju, mereka mampir kesebuah Resto Japanesse.

sambil makan, obrolan mereka pun semakin terlihat akrab, dan Tante Mila merasa nyaman dengan Angga, bahkan lebih nyaman jika dibading Farhan saat datang ngapel ke rumah.

setelah dirasa Cukup, sudah saatnya untuk pulang, Tante Mila ingin melihat Lukisan yang akan terpasang di ruang tamu-nya, lalu Ratih tiba-tiba mengeluarkan HandPhone-nya, dan berniat memesan Grab-Car, Ratih memang sedikit malas untuk menyetir sendiri.

Angga yang memerhatikan itu, tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantar Mereka, Ratih merasa tidak enak akan hal itu, mengingat tadi, Angga sudah keluar cukup lumayan Uang untuk Lukisan, dan bayaran Makan mereka bersama, sekarang ditambah Angga menawarkan diri untuk mengantarkan mereka pulang.

Dalam hati Ratih, diterima ga enak, apalagi kalau ditolak.

tiba-tiba Ibu Mila malah setuju untuk diantarkan Angga, dan meminta Angga sekalian mampir nanti, untuk melihat lukisan tersebut.

Angga pus dalam hati sangat senang

Mereka pun meluncur ke rumah Ratih, yang berada di kawasan Permata Hijau

Angga baru tau, ternyata Ratih tinggal di kawasan sini, Sesampainya di tempat yang di tuju, mereka pun masuk ke dalam rumah, lalu Tante Mila memanggil Bi "Ijah" untuk membuatkan minuman.

Tante Mila dan Angga pun berjalan mendekat melihat lukisan yang sudah terpasang tersebut,

Gimana Nak Angga, bagus kan?

iya Tante, jawab Angga

ayo, itu silahkan diminum teh-nya

iya Tante, makasih

Ratih yang tadi pergi ke kamar berganti pakaian, segera kembali ke ruang tamu, mereka ber tiga pun kembali ngobrol banyak hal, disini terlihat, bahwa Tante Mila senang akan sosok Angga.

hampir 1 jam berlalu, Angga pun pamit untuk pulang.

Sebuah Pertemuan yang tidak disenganja, dalam hati Angga.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Garwo, Satu Hati Sampai Nanti
8.4
Dalam filosofi Jawa, garwa adalah belahan jiwa yang utuh. Namun, ketulusan yang dibangun dari titik nol justru dibalas pengkhianatan pahit. Saat kesetiaan diharapkan menjadi muara, badai perselingkuhan dan orang ketiga hadir mengguncang fondasi pernikahan. Akankah ikatan suci ini bertahan ketika rasa hormat telah sirna? Simak kisah perjuangan batin penuh emosi ini.
Sampul Novel Mengejar Cinta Calon Janda
8.2
Satu malam penuh gairah akibat pengaruh alkohol membuat Rajendra Christian Darius jatuh hati pada Arawinda Divya Jovanka. Namun, Darius harus menelan pil pahit saat mengetahui Divya ternyata sudah bersuami. Enggan menyerah, ia terus mengamati kehidupan Divya dari jauh hingga menemukan bahwa rumah tangga wanita itu sedang berada di ambang kehancuran. Darius pun memilih bertahan dalam bayang-bayang, setia menanti waktu yang tepat untuk menjadi sandaran baru saat Divya resmi menjanda.
Sampul Novel Of Love Trilogy
8.9
Hidup Ayana Ranisya hancur akibat beban utang yang ditinggalkan suaminya, Ares Adiswara. Namun, takdir mempertemukannya dengan Arga Arkhilendra, seorang miliarder yang sebenarnya telah bertunangan dengan Sheryl Claudia Wibowo demi bisnis. Sebuah ketidaksengajaan satu malam menumbuhkan benih cinta di hati Arga yang dingin. Kini, sang pengusaha dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan aliansi kekuasaan bersama Sheryl atau mengejar ketulusan cintanya pada Ayana.
Sampul Novel Pengantin Pengganti Tuan Muda Gila
9.5
Yura terpaksa menggantikan posisi Mina yang kabur demi menyelamatkan keluarga angkatnya dari kehancuran finansial. Ia pun harus menikah dengan Ataya Wijaya, Tuan Muda yang selama ini ia rawat secara sembunyi-sembunyi. Menariknya, hanya pelukan hangat serta ASI dari Yura yang sanggup meredakan penyakit mental Ataya saat sedang kambuh. Kini, Yura terjebak dalam kehidupan pernikahan yang misterius bersama pria yang sangat bergantung penuh pada dirinya.
Sampul Novel Pernikahan Bukan Pilihanku
8.2
Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sakit, Kirana Ayunda Putri terpaksa merelakan cintanya pada Bima Senjaya. Di usia sembilan belas tahun, ia harus menikahi Mahardika Satria Wibowo, seorang pria yang didesak ayahnya untuk segera memiliki penerus baru setelah kematian anak tunggalnya. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan Kirana. Tanpa pembelaan dari Mahardika, ia harus berjuang sendirian menghadapi kebencian serta kekejaman dari istri pertama suaminya.
Sampul Novel Setelah Mati Pun Aku Masih Nomor Dua
8.8
Tiga tahun berlalu sejak kematian Candy Wongso, suaminya datang mencari demi donor sel hematopoietik kekasih masa kecilnya yang kembali menderita leukemia. Namun, ia hanya menemukan rumah yang kosong. Meski tetangga menjelaskan Candy telah wafat setelah dipaksa mendonorkan sumsum tulang saat sakit, sang suami menolak percaya. Mengira ini taktik bohong, ia mengancam menghentikan biaya medis anak haram Candy jika sang istri tak muncul dalam tiga hari, abai bahwa sang anak pun telah lama mati kelaparan.