APKDock Logo
Sampul Novel Garwo, Satu Hati Sampai Nanti

Garwo, Satu Hati Sampai Nanti

8.4 / 10.0
Dalam filosofi Jawa, garwa adalah belahan jiwa yang utuh. Namun, ketulusan yang dibangun dari titik nol justru dibalas pengkhianatan pahit. Saat kesetiaan diharapkan menjadi muara, badai perselingkuhan dan orang ketiga hadir mengguncang fondasi pernikahan. Akankah ikatan suci ini bertahan ketika rasa hormat telah sirna? Simak kisah perjuangan batin penuh emosi ini.

Garwo, Satu Hati Sampai Nanti Bab 1

Happy Reading

*****

Bunyi gelas jatuh ke lantai membuat kedua orang itu menoleh. Bukannya membereskan pecahan kaca, perempuan itu malah berlari menjauhi dua orang yang berada di ruang tamu. Suara-suara sumbang beberapa hari tentang sang suami tak pernah dihiraukan, tetapi saat mendengar secara langsung mengapa bisa sesakit ini.

Tangisan Ibu dua orang anak itu semakin menjadi saat melihat buah hatinya yang tertidur lelap. Wajah polos dengan segala keluguan sebagai penyemangat hidup. Tak terbayang jika mereka tahu kejadian hari ini.

"Ma, buka pintunya," teriak sang suami, "aku bisa jelasin semua."

Perempuan dengan tinggi 155 sentimeter itu enggan menjawab dan beranjak membukakan pintu. Tangan kanannya menyusuri setiap inci wajah anak-anak satu per satu. Sesekali mengecup kening mereka.

"Kalian harus jadi kuat setelah ini, Nak. Bantu Mama menghadapi semua, hanya kalian harapan Mama," ucap sang perempuan pada dua buah hatinya.

Sepulang sekolah dan makan siang, anak-anak bermain di ranjang kamarnya. Sesuatu hal yang sudah jarang sekali mereka lakukan, mengingat usia mereka yang semakin dewasa. Namun, Ardiyanti kini menyadari bahwa semua sudah tertulis. Kehadiran mereka di kamarnya sebagai penguat atas kabar yang baru saja dia dengar.

"Sayang .... Buka pintunya atau aku akan mendobrak," teriak si lelaki, sekali lagi.

Yanti mengusap kasar air mata, berbalik arah mendekati pintu. Air mata yang masih terus mengalir ditahannya kuat-kuat. Bukan sekali ini sang suami bermain hati, tetapi yang sekarang sudah sangat keterlaluan.

"Dobrak saja! Dari dulu kamu selalu melakukannya, 'kan?"

Lelaki pemilik nama Basukiharja itu membuka paksa pintu. Menarik keluar sang istri, membanting pintu dengan keras setelah mereka berada di luar kamar.

"Dengar! Suka tidak suka kamu harus menerimanya jika masih ingin hidup enak," kata Basuki tegas tak terbantahkan.

Apa katanya tadi? Jika ingin hidup enak? Sejak kapan aku hidup enak selama membangun mahligai bersamanya. Namun, semua kalimat itu, hanya mampu Yanti ucap dalam hati.

Perempuan dengan rambut lurus hampir sepinggang itu melepas paksa cekalan sang suami. Yanti berlalu pergi tak menghiraukan perkataan selanjutnya. Menyibukkan diri di dapur sebagai pengalihan.

"Kamu budek apa gimana? Suami ngomong itu dengerin!" teriak Basuki yang mengikuti langkah sang istri sampai di dapur.

"Ini rumah, Mas. Bukan lapangan atau alun-alun kota. Ada anak-anakmu yang sedang tidur. Apa pantas seorang abdi negara sepertimu melakukan semua ini?" kata Yanti.

Berkata lembut pada seseorang yang telah menyakiti hati harus tetap dia lakukan. Bukan karena memaafkan kebejatan Basuki, tetapi menjaga psikis anak-anak jauh lebih penting saat ini. Menekan segala ego yang dia miliki agar tak semakin memperkeruh perdebatan di rumah.

"Berani kamu sekarang, ya?" Tangan kanan si lelaki sudah mengayun pada pipi Yanti. Namun, teriakan si sulung menghentikan semua.

"Papa!" teriak Chalya, putri sulung keduanya yang masih berumur 16 tahun. Gadis belia itu memeluk erat Yanti.

"Jangan takut, Kak. Mama nggak papa, kok," ucapnya menenangkan disertai elusan tangan pada rambut si sulung.

"Papa nggak capek tiap pulang kerja selalu marah-marah? Kakak yang denger aja bosen, Pa. Ini rumah apa neraka sih sebenarnya." Chalya mengatakan sambil terisak.

Bagai bom waktu yang menunggu untuk meledak, ketakutan Yanti terbukti hari ini. Perkataan si sulung membuat perempuan itu tertampar. "Sudah ... sudah, Sayang. Kakak kembali ke kamar, ya," pintanya.

"Nggak, Ma. Kalau Kakak nggak datang tadi, Papa pasti nampar Mama." Tatapan penuh amarah Chalya tujukan pada orang tua laki-lakinya.

"Lancang kamu, Kak!" kata Basuki keras, "apa ini hasil didikan mamamu?"

"Mas," ucap Yanti.

Jari telunjuk si sulung menempel pada bibir mamanya. "Mama nggak pernah ngajari hal jelek sama Kakak. Kenapa nggak mau ngaca gimana perlakuan Papa selama ini pada kami." Gadis itu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

"Chalya ...," teriak Basuki. Dia mengejar putrinya yang terus berlari keluar.

Sampai di ruang tamu, si sulung melihat seorang perempuan yang sedang asyik bermain ponsel. Pertengkaran kedua orang tuanya seakan tak diketahui oleh orang itu. Chalya menatap tajam dan mengerutkan kening.

"Siapa njenengan?" tanya Chalya sinis.

Perempuan itu mendongakkan kepala menatap gadis di depannya. "Hai, kak," sapanya sok akrab.

Chalya menajamkan mata. "Tante siapa?"

"Dia temen Papa, Kak," terang Basuki yang sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu.

Perempuan itu berdiri dan mendekat pada lelaki yang tahun ini berumur 35 tahun. Bergelayut manja pada pergelangan tangan kanan si empunya rumah. "Kok teman, sih, Mas."

"Oh, jadi Tante biang kerok pertengkaran Papa, Mama," kata Chalya, "jadi perempuan yang punya harga diri dikit, dong, Tan. Masak nggaet cowok yang udah punya anak-istri. Punya otak dipake napa."

"Kakak!" panggil Basuki marah.

"Papa nggak terima? Mau belain perempuan nggak bener ini? Dasar ...."

"Jangan teruskan kata-kata itu, Kak. Mama nggak pernah ngajari Kakak durhaka sama orang tua." Yanti menggelengkan kepala, meminta pada putrinya menghentikan semua.

Chalya keluar tanpa berkata apa pun lagi. Yanti menatap nanar dua orang di hadapannya. "Ini kan yang kalian mau?" Dia kembali masuk, meninggalkan perempuan yang masih bergelayut pada suaminya.

Bersama dengan Basuki sejak jaman putih biru, Yanti paham betul bagaimana sifat dan sikapnya. Jika ada yang membuat perempuan itu bertahan hidup dengan sang suami tak lain semua demi anak-anak. Menyandarkan pungung pada daun pintu, lalu meluruhkan tubuh ke lantai. Yanti kembali menangis dalam diam. Memukul-mukulkan tangan ke lantai, kecewa pada kehidupan dan takdirnya.

"Mama kok duduk di lantai," tanya putra bungsunya yang terbangun.

Gegas Yanti merapikan rambut dan pakaiannya. Berdiri, lalu menghampiri si bungsu. "Adik udah bangun?"

"Adik dengar orang teriak-teriak tadi, Ma. Ada apa?"

"Adik mimpi kali. Nggak ada orang teriak kok. Dah, bobok lagi, ya," suruh Yanti.

Cipta Bagaskara anak kedua dari Yanti dan Basuki, masih berumur 10 tahun. Bocah laki-laki itu menatap mamanya. Netranya berhenti pada mata sang Mama yang terlihat memerah dengan kabut menyelimuti seluruh kornea.

"Mama habis nangis?" tanya Bagas. Tangannya mengusap satu tetes air yang mengalir di pipi Yanti. "Apa Adik nakal lagi?"

Yanti menggeleng dan mendekap erat sang putra. "Adik nggak nakal, kok," jawab Yanti, terbata, antara menahan tangis dan ingus yang mulai menghambat pernapasan.

"Alhamdulillah kalau bukan karena Adik. Lepas dong, Ma! Adik mau berangkat ngaji. Tuh, suara azan asar dah terdengar," kata Bagas.

Seolah tuli oleh perkataan sang putra, Yanti terus mendekap Bagas. "Adik nggak usah ngaji hari ini. Libur sehari nggak papa, Sayang," ujarnya.

"Nggak bisa, Ma. Hari ini Adik harus setor hapalan surat Ad-Dhuha. Minggu lalu 'kan belum setor." Bagas turun dari ranjang Yanti hendak pergi ke kamarnya sendiri.

Perempuan dua anak itu sudah berusaha mengejar Bagas, tetapi si bungsu terlanjur keluar kamar. Seketika bocah kecil itu menghentikan langkah, mendengar suara tawa papanya dengan orang lain.

Bagas mendekati sumber suara dan melihat Basuki dengan seorang perempuan yang bergandengan tangan.

"Papa ngapain?" tanya Bagas.

Bukannya melepas genggaman tangan, Basuki malah mengenalkan perempuan itu sebagai calon Mama baru padanya.

"Mamaku cuma Mama Ardiyanti nggak ada yang lain." Dia pergi menjauhi mereka dan masuk kamar lagi.

Lengkap sudah kekecewaan Yanti hari ini. Semua orang di dalam rumah ini sudah mengetahui kebejatan sang suami.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Garwo, Satu Hati Sampai Nanti

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dosa Dalam Pelukan Brondong
7.9
Kehidupan Sheana, wanita 35 tahun yang bersuamikan miliarder, terasa sepi dan hampa. Demi mengusir kesunyian, ia nekat menjalin hubungan terlarang dengan pemuda menawan berusia 23 tahun bernama Ellandra yang ditemuinya di klub malam. Meski pernikahan taruhannya, Sheana kian terjerat pesona sang brondong. Namun, romansa ini dihantui rahasia gelap suaminya, masa lalu kelam, serta pacar Ellandra. Kini ia harus memilih antara bertahan atau mengikuti gairah baru yang menghidupkan jiwanya.
Sampul Novel I Stuck On You
7.9
Nadya Ivanka, seorang penulis amatir yang sedang terluka, terpikat oleh pesona Ethan Sullivan di Bali. Pria asal Australia yang tampan ini ternyata bukan orang biasa, melainkan bos media besar sekaligus pemilik resor mewah. Nadya yang dihantui trauma masa lalu mencoba bertahan, sementara Ethan yang dingin justru terobsesi dengan kesederhanaan Nadya. Di tengah bayang-bayang luka lama yang menyelimuti mereka berdua, mampukah cinta baru ini menyatukan hati mereka?
Sampul Novel ISTRI KECILKU YANG MENGGEMASKAN
9.3
Mahardika tidak punya pilihan selain menuruti kemauan kakeknya untuk menikahi Eka Maheswari. Pernikahan ini dirancang demi menjaga ikatan erat antara keluarga Wijaya dan Saputra. Namun, perbedaan usia sembilan tahun menjadi ujian berat setelah mereka resmi bersama. Mahardika harus ekstra sabar menghadapi sikap Eka yang masih sangat kekanak-kanakan. Mampukah pernikahan mereka bertahan melewati jurang kedewasaan yang begitu lebar?
Sampul Novel Kisahku Berakhir Di Pusara
8.2
Hubungan hangat dua orang yang masih sekeluarga mendadak retak setelah rencana perjodohan muncul. Salah satu pihak memilih berkhianat demi mengejar cinta yang lain. Meski didera cobaan berat, upaya menemukan kebahagiaan sejati tidak pernah berhenti. Namun, tepat saat hati mereka kembali menyatu, sebuah tragedi besar justru datang menghantam. Berangkat dari kisah nyata yang sarat kepedihan, akankah takdir mempersatukan mereka, ataukah maut di pusara yang menjadi akhir segalanya?
Sampul Novel Menantu Menjadi Madu
9.6
Chika sangat menginginkan pernikahan yang bertahan selamanya. Namun, Irsan malah menceraikannya karena patuh pada sang ibu. Di sela rasa sakit hati dan luka yang mendalam, Chika pun berniat membalas dendam. Rencana itu berubah arah ketika ia justru terpikat pada ayah tiri dari mantan suaminya. Akankah relasi rumit ini berujung bahagia? Ikuti kisah asmara tak terduga yang dipenuhi konflik serta gejolak emosi ini.
Sampul Novel Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan
8.8
Demi melunasi utang besar mendiang ayahnya, Farel Quinshaa, Arsyana Quinshaa mengambil langkah nekat. Gadis berusia 21 tahun ini sepakat menyewakan rahimnya seharga satu miliar rupiah kepada Kelvin Daviandra. Kelvin merupakan seorang CEO berwatak dingin dan sangat arogan. Kini, Arsyana harus mengandung serta melahirkan anak dari pria tersebut. Ini menjadi satu-satunya jalan bagi Arsyana demi mengembalikan kehormatan keluarganya yang hancur.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan