APKDock Logo
Sampul Novel Pelakor Sebaya

Pelakor Sebaya

8.1 / 10.0
Seorang suami tega mengkhianati pernikahan yang telah berjalan dua puluh lima tahun demi mahasiswi muda seumur anak sulungnya. Ironisnya, perselingkuhan ini dilakukan saat kondisi kesehatan sang istri sedang terus menurun. Penolakan keras dari kedua anaknya membuat situasi kian pelik dan memanas. Di persimpangan jalan, pria ini dihadapkan pada pilihan sulit: mengejar gairah sesaat bersama kekasih barunya atau pulang demi sang istri tercinta.

Pelakor Sebaya Bab 1

Janice melenguh panjang saat sapuan hangat dari embusan napas lelaki di atasnya menelusuri seluruh tubuh sintalnya. Wanita 23 tahun itu meremas sprei hingga kusut. Mata lentiknya terpejam lama demi menikmati setiap detik kehangatan bersama Satriyo. Lelaki yang 20 tahun lebih tua darinya itu terus meluapkan seluruh kehangatannya pada wanita yang hampir dua minggu ini tidak ditemuinya.

"Mas ... jangan tinggalin Janice lagi, ya!" ucap Janice tak berdaya saat semua kenikmatan mencapai puncaknya. Satriyo tergeletak tak berdaya di samping tubuh Janice. Lengan kokohnya memeluk pinggang aduhai milik wanita itu.

Satriyo tersenyum manis di tengah kelelahannya. "Iya, Sayang." Sebuah kecupan hangat dan lama mendarat di kening sang wanita. Janice memeluk lelaki itu seolah tak ingin dipisahkan.

"Mas, sih, lama nggak ke sini!" Janice merajuk. Satriyo meraih dagu belahnya dan menciumnya sekilas. Wanita itu semakin cemberut.

"Kan Mas harus ngajar semester pendek, Sayang!"

"Ah, bohong!"

Janice melepaskan pelukan dan berbalik, membelakangi Satriyo. Lelaki itu tersenyum menatap punggung mulus Janice. Dia mendekat, meraba kulit sehalus porselen itu, dan mengecupnya. Lengan kokohnya melingkari pinggang Janice.

"Kok, bohong, sih. Mas jujur, lho!"

"Bilang aja lagi sibuk liburan sama mereka, iya, kan?"

Satriyo menarik tubuh Janice untuk menghadapnya. "Kok nggak percayaan gitu, sih, sama Mas?"

Janice masih cemberut. Membuat Satriyo semakin gemas. Dielusnya pipi halus tanpa make-up itu dengan lembut. Bibir sensual dan tebal Janice diusap dengan ibu jarinya. Gemas, Satriyo menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi. Janice berusaha memberontak. Namun sayang, dia juga sangat membutuhkan dan amat menyukai perlakukan Satriyo itu. Jadilah mereka kembali bergumul hangat di balik selimut yang menahan hawa dingin karena hujan di luar. Suara rintik hujan bagai backsound untuk kemesraan mereka di malam itu. Berpadu dengan suara desahan dan jeritan kecil menahan nikmat dari mulut keduanya. Seluruh kerinduan tumpah. Bersamaan dengan keringat dan cairan kenikmatan dari keduanya. Membuatnya terus terbuai hingga akhirnya lelah dan terlelap.

Dering ponsel membangunkan Janice. Wanita cantik itu menggeliat. Memerhatikan sekitar dan tersenyum menatap sosok di sampingnya. Sosok yang tengah melingkarkan lengannya di perut Janice. Sosok lelaki yang tengah tertidur pulas. Jemari Janice bergerak pelan mengusap bibir dan menelusuri wajahnya. Bibirnya tersenyum penuh bahagia.

"Aku sayang banget sama kamu, Mas," ucapnya pelan.

Tiba-tiba Satriyo bergerak dan memeluknya erat. Jemari lelaki itu menggelitik pinggang Janice. Janice berteriak geli dan meronta. Bukannya berhenti, Satriyo semakin beringas. Bukan hanya gelitikan, tapi ciuman dan gigitan kecil menghampiri tubuh seksinya.

"Udah, Mas. Please!" ucap Janice berusaha menahan gerakan Satriyo. Lelaki itu terengah-engah di atas tubuh Janice. Jemari Janice mengusap dada bidang dan kokoh lelaki yang sudah berkepala lima itu.

"Ada telepon tuh!" Janice melirik ponsel Satriyo di atas meja yang terus berdering sejak tadi. Satriyo hanya mencebik dan tak menoleh.

"Aku tidak peduli! Kamu mencuri perhatianku!" Satriyo menjawil hidung bangir wanita blasteran Indo-Rusia itu. Janice hanya tersenyum dan mengecup hidung Satriyo sekilas.

"Mas nggak ngajar?"

Satriyo bergerak. Dia duduk di tepi ranjang, menatap Janice yang berselimut tak sempurna di sampingnya. "Ngajar, kok, nanti jam 10."

Janice ikut duduk. Dia melendot manja dan bersandar di bahu Satriyo.

"Kenapa? Masih kangen, ya?"

Janice mengangguk cepat. Satriyo tersenyum. Dia meraih Janice ke dalam rengkuhannya. Jemari mereka saling bertaut. Menyalurkan kehangatan dan kerinduan masing-masing. Mereka saling tatap penuh arti.

"Nanti malem pasti nggak ke sini!" ucap Janice merajuk. Satriyo mengusap bibirnya pelan.

"Aku sudah dua hari nggak pulang, Sayang. Mereka nanti curiga!"

"Ah, biarin aja!"

"Kok gitu?"

"Ya biar mereka sekalian tahu hubungan kita."

"Ehm, jangan sekarang, ya. Sabar, ya!"

"Sampai kapan?"

Satriyo mengerling dan berpikir. "Entahlah!"

Janice merajuk. Dia bangkit dan meninggalkan Satriyo di ranjang. Tubuh sintal dan padat itu tanpa busana. Dia melenggang menuju kursi. Satriyo menahan napas memperhatikan tubuh yang semalaman dipeluknya itu. Janice meraih kimono dan mengenakannya. Dia duduk di kursi rias, menyisir rambut.

"Aku juga butuh kepastian, Mas."

Satriyo menghela napas panjang. Dia menatap Janice dari pantulan cermin. Wanita itu tengah membersihkan wajahnya dengan kapas dan pembersih.

"Mas tega ngeliat aku hidup begini terus?"

Satriyo menunduk. Matanya menatap benda perak yang melingkari jari manisnya. Cincin yang sudah ada di sana 20 tahun ini. Benda yang juga masih melingkar dengan setia di jari yang lain.

"Emang Mas nggak bosen liat Mbak Manda terus? Masih sakit-sakitan kan dia?"

Dada Satriyo berdesir halus. Mendengar nama Manda, dia mendadak resah. Ada rasa bersalah ketika wanita yang mengenakan cincin satunya itu membayang di dalam pikirannya. Apalagi dia muncul di saat-saat seperti ini. Saat dia tengah bersama wanita muda yang empat bulan ini dia sembunyikan. Wanita muda, cantik, dan menggoda yang sering dia jumpai di kampus tempat dia mengajar.

"Ehm, kamu ujian jam berapa?" tanya Satriyo seolah mengalihakn pembicaraan. Janice menoleh dengan wajah masam. Di kembali merengut.

"Malah ngalihin topik!" rutuknya.

Satriyo hanya tersenyum. Dia berdiri, menutupkan handuk di tubuh bagian bawahnya. Lelaki itu menuju meja, mengambil ponsel. Matanya sempat melihat name tag-nya yang berdekatan dengan kartu ujian Janice. Satriyo Singgih yang bersebelahan dengan kartu nama bertuliskan Janice Michella Harsono lengkap dengan foto cantik wanita itu.

"Mau Mas anterin atau ...."

"Naik mobil sendiri aja! Lagian kan Mas langsung pulang ke rumah!" jawab Janice sewot. "Pulang ke rumah tempat anak dan istri Mas tercinta!"

Janice membanting daun pintu kamar mandi dengan keras, meninggalkan Satriyo yang menggelengkan kepala dan terkekeh.

"Tapi tetap kamu tempat Mas pulang sesungguhnya, Sayang!" ucap Satriyo sedikit berteriak dari lubang kunci daun pintu kamar mandi. Janice yang mendengar itu tersenyum senang. Semakin tersenyum saat menatap pantulan wajah semringahnya di cermin. Dengan cepat dia bergerak, menarik lengan Satriyo yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Lelaki itu terkejut, tapi kemudian langsung mengangkat tubuh Janice hingga menempel di dinding. Mereka berpagut mesra.

Sementara di sebuah rumah mewah yang lain. Seorang wanita dengan wajah pucat menatap ke halaman. Seolah menunggu seseorang. Kacamatanya berembun karena terlalu dekat dengan teras dan terkena embun dari hujan deras yang belum juga reda.

"Mami ngapain di situ, sih?" tegur seorang remaja dengan seragam SMA mendekati kursinya. Gadis berlesung pipi dan berkulit manis itu adalah Pelangi. Kilau Pelangi Princhesa Satriyo, begitu nama di name tag seragamnya. Dia berjongkok di samping sang mami. Hidung dan bibirnya menciumi tangan yang mulai keriput, tapi tetap halus itu.

"Nggak apa-apa, Nak. Seneng aja liat hujan."

"Seneng apa lagi mikir yang lain?" celetuk seorang lelaki dari dalam. Dia mengibas-ngibaskan rambut gondrongnya yang masih basah. Membuat cipratan airnya mengenai Pelangi.

"Abang Langit! Basah ini!" teriaknya. Yang dipanggil Langit hanya tergelak lantas memapah sang mama untuk masuk ke rumah.

"Haha, kan kamu belum mandi! Weekk!"

Pelangi merutuk kesal. Sementara mami mereka hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka lantas duduk berdekatan di meja makan. Satu kursi masih kosong. Kursi untuk kepala keluarga mereka. Namun kemudian terisi karena Langit duduk di sana.

"Yuk, aku yang pimpin doa!" ucap Langit menengadahkan tangan, memimpin doa sebelum makan.

Sarapan yang dibuat Pelangi memang enak, tapi tetap terasa hambar di lidah Manda. Wanita 50 tahun itu menahan getir ketika menyadari sang suami yang sudah dua hari ini tidak pulang. Entah ke mana dia sekarang, Manda hanya bisa menebak. Berbeda dengan kedua anaknya yang hanya tahu jika papi mereka tengah lembur dan disibukkan dengan tugasnya sebagai seorang dosen. Langit percaya itu, karena di kampus dia masih sering bertemu sang papi. Begitupun Pelangi yang juga sering melihat papinya ketika di musola kampus yang bersebelahan dengan yayasan tempat dia bersekolah.

Hujan terus turun, bahkan semakin deras. Langit memutuskan menggunakan mobil maminya untuk ke kampus sekalian mengantar sang adik. Manda melepas mereka dengan senyum bangga. Senyum yang menutupi luka yang mulai menimbulkan borok bernanah karena terlalu lama dipendam. Luka yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.

....

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pelakor Sebaya

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel 10 Miliar Menjadi Pelakor
8.3
Demi membiayai operasi ginjal sang ayah, Calla terpaksa mendatangi sebuah klub malam. Di sana, ia bertemu Lucian Donovan yang menawarkan uang 10 miliar rupiah. Syaratnya, Calla harus merusak pernikahan Caspian Hawthorne. Calla terkejut saat tahu Caspian adalah pria culun yang dulu ia abaikan sewaktu SMP. Kini, Caspian telah menjelma menjadi miliarder dingin yang berkuasa. Terdesak kemiskinan, Calla pun bimbang memilih antara harga diri atau menjadi pelakor demi bertahan hidup.
Sampul Novel Aku Istri Bukan Babu Gratisanmu Mas!
9.2
Anisa Rahmawati awalnya sangat mencintai suaminya, seorang duda bernama Arman Hermansyah. Namun, impian indahnya hancur seketika pada hari keempat pernikahan mereka. Anisa memergoki Arman berselingkuh dengan kekasih gelapnya, hubungan yang rupanya telah terjalin lama sebelum mereka resmi menikah. Kini, Anisa harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya hanya dimanfaatkan. Arman menikahinya bukan karena rasa cinta, melainkan hanya untuk dijadikan pelayan gratis di rumah.
Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Panggilan polisi seketika menghancurkan hidup Emily yang damai. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Jaka Guntur, kekasihnya, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah badai emosi tersebut, sebuah ketidaksengajaan membawa Emily ke dalam hubungan satu malam bersama Jacob, paman dari Jaka. Kini, ia terjebak di tengah konflik rumit dan dilema asmara antara sang mantan kekasih dengan pria berkuasa yang merupakan paman mantannya itu.
Sampul Novel Satu Malam, Dua Anak
8.8
Lima tahun usai keluarganya bangkrut, Melita terpaksa memisahkan putra kembarnya. Satu anak ia bawa, sementara yang lain ditinggal bersama sang ayah. Kini, Melita kembali sebagai influencer sukses, namun bayang masa lalu belum hilang. Mantan kekasihnya menyambutnya dengan dingin dan provokatif. Ketika bertemu anak di rumah pria itu yang sangat mirip putranya, Melita malah ditegur dengan ketus. Ia pun bertekad merebut anaknya dari pola asuh kaku sang mantan.
Sampul Novel Tak Terduga
9.4
Sebuah peristiwa tragis mengubah total kehidupan Fiel. Kini, ia harus menerima kenyataan bahwa penampilan fisik dan usianya telah berganti sepenuhnya. Walau penyebab transformasi aneh ini masih diselimuti misteri, Fiel menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Sambil memandang keluar jendela rumah sakit, ia justru menyambut takdir barunya dengan senyuman penuh makna. Bagi Fiel, perubahan misterius ini adalah permulaan dari sebuah permainan baru yang sangat menantang.
Sampul Novel Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku
7.8
Ketika badai topan besar melanda, sahabat dari putri sang protagonis terpaksa menginap di kediamannya. Suasana malam yang sunyi berubah drastis saat gadis itu menghampirinya dengan pakaian tidur tipis, berpura-pura mencari mentimun untuk meredakan rasa lapar. Namun, gelagat malu-malu dan penampilannya justru memicu ketegangan intim di antara mereka. Alih-alih mentimun biasa, pria itu menawarkan sesuatu yang jauh lebih menggoda, memulai hubungan rahasia yang penuh gairah.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan