APKDock Logo
Sampul Novel Duda itu Suamiku

Duda itu Suamiku

8.1 / 10.0
Pertemuan dengan balita bernama Bealize yang terus memanggilnya 'Mami' mengubah total takdir Bianca. Ia pun terpaksa tinggal serumah dengan Bea dan ayahnya, seorang duda tampan. Khawatir akan gosip miring dan perasaan yang mulai tumbuh, Bianca memilih melarikan diri demi kebebasan. Ia nekat mengabaikan nasib Bea demi menghindari skandal. Namun, akankah sang duda membiarkannya pergi begitu saja, atau justru akan memburu dan membawanya kembali?

Duda itu Suamiku Bab 1

"Ehm, kau terlihat sangat cantik hari ini, Bianca."

Teguran seorang lelaki yang tiba-tiba terdengar, membuat Bianca–yang sedang mengelap meja–menoleh. Dia tersenyum saat mendapati salah satu pelanggan menyapa dirinya.

"Oh, Maxim … apa selama ini aku tidak cantik?" tanyanya sambil tersenyum dan mengangkat sebelah alis.

"Kau selalu cantik, Bianca. Bahkan dengan apron dan lap kotormu itu. Aku justru menyukai wajahmu yang berkeringat," goda Maxim lagi, cepat-cepat duduk di meja yang baru saja dibersihkan oleh Bianca.

"Terima kasih, itu terdengar seperti sebuah pujian," kata Bianca terkekeh.

"Aku memang sedang memujimu, Sayang." Maxime terkekeh. "Jadi, kapan kau mempunyai waktu luang untuk menerima tawaran kencan dariku?"

"Aku akan menghubungimu, jika sudah senggang," kata Bianca serius. "Kau di sini untuk merayuku, atau mau pesan beberapa kue?"

"Tentu saja pesan kue dan juga melihatmu," ucap Maxime terkekeh. "Bawakan aku red velvet dan juga moccacino,"pintanya.

"Kalau begitu tunggu sebentar," tutur Bianca, tersenyum begitu manis sebelum beranjak pergi dari sana.

Wanita itu memasuki ruangan lain, dan wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum yang sejak tadi dia tampakkan, sirna lenyap tak berbekas sedikit pun digantikan raut wajah kekesalan.

"Sialan! Dasar lelaki perayu ulung. Jika bukan karena pelanggan, sudah kudepak dia sejak tadi!" umpatnya bergumam lirih.

Namun, ternyata ada yang mendengar. Mary—salah satu karyawan kepercayaannya, mendekat dengan alis saling bertautan. "Ada apa, Bu? Kenapa terlihat kesal sekali?" tanyanya.

Bianca menoleh, lalu berdecak dengan kedua tangan bertolak pinggang. Hanya menggerakkan dagunya, dia memberikan kode pada Mary. "Urus pesanan si cassanova itu. Aku mau pergi sebentar," ucapnya ketus.

Setelah memastikan Mary tahu pesanannya, Bianca melepaskan mulai melepas apron dan mencuci tangannya sampai bersih. Lalu dia mengambil tasnya dan pergi lewat pintu belakang. Dia tak ingin sosoknya terlihat oleh Maxim, atau lelaki manapun yang sering merayunya. Bianca merasa muak, dan dia ingin terbebas dari lelaki macam itu.

Selama ini, dia hanya berpura-pura bersikap baik, bersikap lemah lembut, hanya untuk menarik perhatian pelanggan toko kuenya. Namun, sepertinya beberapa pelanggan salah mengartikan tentang kebaikan dirinya. Hal ini malah membuatnya menjadi bulan-bulanan sasaran para lelaki penggoda ulung.

Wanita itu mendesah kasar, berjalan tergesa ke taman yang tak jauh dari toko kuenya. Memilih tempat ternyaman untuknya duduk, lalu mengeluarkan kertas dan bolpoin. Dia terlihat terdiam sebentar menghadap depan dengan pandangan kosong karena tengah berpikir untuk merencanakan launching produk baru berupa kue di tokonya.

Sore ini, taman terlihat begitu ramai dan Bianca sangat menyukai suasana tersebut. Suara tawa anak-anak kecil yang bermain, entah kenapa membuat hatinya menghangat dan semakin melancarkan otaknya untuk berpikir.

Di tengah-tengah fokusnya Bianca menulis, tiba-tiba seorang bocah perempuan berlarian di depannya. Bianca mendongak, dan tersenyum melihatnya. Namun, ketika bocah itu tiba-tiba terjatuh, Bianca reflek berdiri dan mendekat.

"Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya Bianca panik.

Bocah itu menatapnya dengan mata bulatnya yang sempurna. Awalnya, bocah itu terdiam. Tetapi, tiba-tiba menangis dan memeluknya dengan erat. "Mama."

Terkejut, mulut Bianca terbuka setengah mendengar bocah itu memanggilnya Mama. Cepat-cepat, dia mendorong bocah kecil itu agar bisa melihat wajahnya. "Hey, Nak, aku bukan Mamamu. Kau pasti salah orang. Lihatlah ke sekeliling, perhatikan baik-baik semua orang yang ada di sini lalu kenalilah Mamamu," kata Bianca memberikan pengertian.

Namun, bocah itu menggeleng cepat. Merangsek maju dan lagi-lagi memeluk Bianca. "Mama … ini takit."

Bianca terkekeh miris, terlihat sedikit frustasi. "Nak, aku bukan–"

"Kejam sekali, anak terjatuh dan menangis kau malah membentaknya!"

Bianca belum menyelesaikan ucapannya, seorang wanita tua tiba-tiba berdiri di dekatnya. Menegurnya dan memberikan tatapan tajam. Hal ini membuat Bianca salah tingkah dan ingin sekali menjelaskan. Namun, bocah yang ada dalam pelukannya itu malah merengek semakin kencang, dan terus memanggilnya Mama.

"Nak, sadarlah … jangan membuatku kesusahan," bisik Bianca, menepuk-nepuk punggung bocah itu lembut.

"Tenangkan dia, cepat gendong. Kalau perlu, cepat obati jika dia terluka. Jangan hanya memarahinya saja. Namanya juga anak kecil, pasti banyak tingkah!" Seorang wanita paruh baya lain, datang mendekati Bianca untuk memperingatkan. Wajahnya sinis dan kata-katanya terdengar ketus. Terlihat sekali jika sedang menghakimi.

"Tapi, Bu—”

"Mama, ayo toyong Bea, Mama. Aki Bea takit," rengek bocah itu lagi dan memotong ucapan Bianca.

Hal ini membuat Bianca mendesah kasar. Dia merasa tertekanbketika semakin banyak orang menatapnya penuh tuntutan. Mau tak mau, akhirnya Bianca menggendong bocah itu. Mengambil tasnya, lalu kembali ke tokonya dengan langkah kaki menghentak kesal.

Sepanjang jalan, Bianca terlihat bergumam. Mengumpatkan kekesalan-kekesalannya pada orang-orang yang telah menuntutnya tadi. Tak lupa dengan bocah yang sekarang mendekapnya erat dalam gendongan.

Wajah Bianca tampak muram ketika memasuki toko. Mengabaikan para lelaki yang biasanya menggoda. Bianca terus berjalan sampai tiba di ruangannya. Cepat-cepat, Bianca menurunkan bocah itu dan bersiap untuk memarahinya.

Namun, ketika bocah itu menatapnya polos dengan mata bulatnya yang sempurna, entah pertahanan Bianca luruh. Wanita itu tak sanggup untuk marah dan hanya bisa membuang napasnya kasar berkali-kali.

Setelah merasa tenang, Bianca duduk di lantai untuk mensejajarkan tingginya pada bocah itu, lalu tersenyum dengan manis. "Nak, siapa namamu?" tanya Bianca, menekan lagi kekesalan akibat perbuatan bocah itu tadi.

"Bea, api papa cering manggil aku Boo," jawab bocah perempuan itu dengan kata-katanya yang belepotan yang terdengar belum begitu jelas.

Tentu saja hal ini malah membuat Bianca semakin gemas. Dia tersenyum, lalu mengusap pipi bocah itu. "Boleh aku tahu, kenapa kau panggil aku Mama tadi? Kau tahu jika aku bukan Ibumu, dan itu artinya kau melakukan hal buruk karena telah berbohong."

"Boo tuma mau Mama." Bocah itu menjawab lirih, dan tiba-tiba menunduk kembali menangis.

Melihat ini, membuat Bianca merasa salah tingkah. Dia tak bermaksud membuat bocah itu menangis. Cepat-cepat, dia duduk di dekat bocah itu, memeluk erat sambil mengusap kepalanya lembut. "Maaf, ya … maaf. Tante gak bermaksud memarahi Bea tadi." Tiba-tiba, Bianca mempunyai ide. "Cup, Sayang, jika Bea berhenti nangis, Tante bakal kasih Bea banyak kue."

Tipu muslihat itu berhasil, dan bocah itu menghentikan tangis. Dengan tangannya yang mungil, Bea mengusap pipinya yang sudah setengah basah. "Apa Boo boyeh maem kue?"

"Tentu saja boleh," jawab Bianca sumringah. "Memangnya siapa yang akan melarang bocah cantik sepertimu makan kue?"

"Papa Boo biacanya didak cuka Boo maem kue," jawab Bea menggelengkan kepala lucu.

"Papamu pasti orang yang kaku," sahut Bianca, mengerucutkan bibir.

Akhirnya, setelah Bea tenang, Bianca mengajak bocah itu keluar dari ruangannya. Dia mengantar Bea ke meja etalase yang terdapat banyak kue. Bianca tersenyum saat melihat tingkah Bea yang menggemaskan seraya mengambil beberapa kue dengan bahagia.

Namun, kesenangan itu tak bertahan lama ketika Bianca melihat beberapa orang berpakaian rapi memenuhi toko kuenya. Wajah para lelaki itu begitu dingin, dengan sorot mata yang tajam. Hal ini membuat Bianca panik, apalagi saat orang-orang itu mendekati Bea dengan penuh minat.

***

Lanjut Membaca

Daftar Isi Duda itu Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dari Pengasuh ke Cinta
8.4
Mengemban tugas di negeri asing, seorang pengasuh mendedikasikan dirinya untuk mendampingi putra majikannya yang sedang menempuh studi. Namun, tanggung jawab pekerjaan ini berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih intim dan rumit. Di balik dinding tempat tinggal mereka, ia terpaksa mengorbankan kehidupan pribadinya demi melampiaskan hasrat terpendam sang putra majikan. Hubungan profesional yang semula biasa kini berubah menjadi ikatan penuh rahasia yang menguji batas pengabdiannya.
Sampul Novel Dikhianati oleh Orang yang Dicintai
9.1
Malam pertama Lana berubah menjadi mimpi buruk saat mendapati suaminya, Revan, berselingkuh dengan seorang pria. Di tengah keputusasaan karena dikhianati dan terjebak di rumah mertua, Lana kehilangan arah. Namun, sang ayah mertua, Henry, datang melindungi. Ketegasan Henry luluh demi menjaga menantunya yang rapuh. Dalam kesunyian yang mendalam, Lana mulai bergantung pada Henry hingga akhirnya hubungan terlarang di antara mereka berdua terjalin tak terkendali.
Sampul Novel Istri Pengganti Sang Miliarder
8.7
Identitas aslinya terbongkar, memaksa Hailey membalas budi pada keluarga Brantley. Ia pun terpaksa menggantikan sang kakak menikahi miliarder yang dirumorkan telah renta. Namun di pelaminan, ia terkejut mendapati Mathias, pemuda tampan yang menjadi suaminya. Ketegangan memuncak saat malam pertama ketika Mathias menyudutkan Hailey ke dinding, mengungkap fakta bahwa ia tahu sang istri bukanlah putri sulung yang seharusnya ia nikahi.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Kepergian Sari dua tahun lalu menyisakan sepi mendalam bagi seorang guru SD berusia 35 tahun. Di tengah kesederhanaan hidupnya, pria duda ini terus didesak oleh keluarga serta sahabat karib untuk segera mencari istri baru. Meski merasa hampa dan kesepian, ia masih didera keraguan besar. Hatinya belum sepenuhnya siap melepaskan masa lalu dan menyambut kehadiran sosok pendamping lain dalam lembaran hidupnya yang baru.
Sampul Novel Menantuku Dari Keluarga Kaya
8.7
Saat menghadiri perayaan ulang bulan cucunya, seorang ibu justru mendapat cacian dari menantu dan besannya yang kaya raya hanya karena pakaian yang dikenakannya. Mereka bahkan melemparinya uang dan mengusirnya dengan kejam, menganggap putranya hanyalah barang jualan. Meski sang suami berusaha membela, hinaan yang mereka terima justru semakin menjadi-jadi. Namun, roda nasib berputar drastis ketika keluarga kaya yang sombong itu akhirnya harus berlutut memohon belas kasihan demi bertahan hidup.
Sampul Novel SI ANTAGONIS Mengejar Cinta Sang Suami.
8.4
Demi memiliki Marvel Ardana, Alexia Zarne Merchez memanfaatkan kekuasaan keluarganya. Putri konglomerat ini mengancam keselamatan Dara Anetta, kekasih Marvel, agar pria itu bersedia menikahinya. Alih-alih meraih kebahagiaan, tindakan nekat Xia justru menyulut kebencian mendalam di hati Marvel. Hubungan tanpa cinta ini berubah menjadi bumerang bagi Xia, saat sang suami bertekad membalas dendam dan mengubah kehidupan rumah tangga mereka menjadi neraka yang menyiksa.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan