APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati

Pedang Kebenaran Sejati

Demi menebus dosa masa lalunya yang kelam, pendekar Permana Brata mengembara untuk menyebarkan kebaikan. Mengandalkan jurus Sepuluh Syair Bumi Pertiwi serta senjata legendaris Pedang Kebenaran Sejati, ia juga bertekad kuat mencari keberadaan orang tuanya. Berbagai rintangan besar tidak membuat langkahnya surut. Permana memegang teguh prinsip hidupnya untuk melibas segala kejahatan dan kebatilan, demi mewujudkan kedamaian yang hakiki di muka bumi.
Bab
Bagikan

Bab 3

“I-iya…, Den,” jawab Soma tergagap. Pucat wajahnya. Tak beda dengan Rinten dan Raras. Ketiganya pucat. Pucat pasi seperti mayat. Seperti tidak bernyawa. Seperti tidak hidup.

Mati.

“Kenapa mau masuk rumah?”

Soma tidak menjawab. Bibirnya gemetar. Rinten dan Raras memeluk Soma, juga gemetar.

“O…, rupanya kalian ingin menghindariku ya?” kata si tampan rupawan yang bernama Srenggoloyo itu. “Kalian jijik melihat kedatanganku? Kalian mau menolak keinginanku untuk mengambil Raras jadi gundikku di kadipaten?”

“Bukan begitu, Den. Raras bukan jijik dengan Raden. Hanya…, Raras tidak mau jadi gundik Raden di kadipaten….”

“Kalau begitu maunya jadi apa? Jadi istriku yang utama sebagai calon permaisuriku? Boleh…, boleh saja kalau itu keinginanmu, Soma. Asalkan Raras mau jadi istriku, maka segala keinginannya akan kuturuti!”

Soma hanya diam. Tidak mau berkata-kata lagi. Janji-janji yang muluk-muluk seperti yang diucapkan Srenggoloyo itu selalu diucapkan bajul buntung ketika merayu calon mangsanya. Namun kalau sudah dapat, di kadipaten sana, cuma dijadikan gundik saja! Setelah bosan, dibuang seperti sampah. Habis manisnya, maka ampasnya dibuang ke sembarang tempat!

Sering Soma mendengar cerita gadis-gadis malang dari Genturan ini yang kena bujuk rayu Srenggoloyo. Pada awalnya Srenggoloyo pasti akan sangat baik dan lembut memperlakukan gadis dari Genturan ini di Kadipaten Moncer sana.

Tapi selang waktu tidak lama, atau asalkan sudah bosan, Srenggoloyo dengan teganya membuang gadis-gadis itu semaunya! Ada yang disuruh kembali ke Genturan dengan jalan kaki, ada yang disuruh meninggalkan Kadipaten Moncer tanpa boleh menginjak kota kadipaten itu. Bahkan kabarnya ada yang dibunuh oleh Srenggoloyo secara kejam karena si gadis tidak mau meninggalkan kadipaten!

Cerita-cerita yang seram-seram begitu membuat hati Soma merasa miris juga. Maka dengan sekuat tenaga dia ingin menghindarkan Raras dari kekejaman macam begitu. Soma tidak ingin anak gadisnya yang semata wayang itu cuma dijadikan gundik –lebih rendah dari selir—dari Srenggoloyo.

Srenggoloyo adalah pangeran pati, calon pengganti Ardawalpa, Adipati Moncer. Sebagai orang tua, wajar-wajar saja kalau Soma berkeinginan begitu. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya sengsara hidupnya. Begitu pula dengan Soma.

Maka segala upaya telah dia lakukan untuk menghindarkan Raras dari Srenggoloyo. Di antaranya, membatasi Raras keluar dari rumah. Maksudnya, supaya Raras jangan sampai ketahuan Srenggoloyo.

Soma menyadari bahwa anaknya itu cantik. Bahkan sangat cantik. Banyak orang mengatakan, Raras adalah kembang Dukuh Genturan! Soma –dan juga Rinten—sangat hati-hati menjaga Raras. Agar jangan sampai jadi korban si bajul buntung semacam anak Ardawalpa itu!

Namun agaknya Srenggoloyo mempunyai mata telinga di seluruh wilayah Kadipaten Moncer, termasuk di Genturan ini. Walaupun Genturan termasuk wilayah pelosok dan terpencil, rupanya Srenggoloyo tahu juga bahwa di sini ada gadis cantik bernama Raras. Entah bagaimana caranya, yang jelas Srenggoloyo bisa tahu keberadaan gadis paling cantik di Genturan itu!

Kini malah Srenggoloyo sudah datang ke rumah Soma. Itu berarti Soma sekeluarga berada dalam bahaya. Mereka tidak mungkin bisa menghindari desakan dan paksaan dari Srenggoloyo.

Kalau sampai mereka menolak keinginan Srenggoloyo, maka bahaya ada di depan mata! Maut sewaktu-waktu siap menjemput kalau sampai mereka tidak menuruti keinginan Srenggoloyo yang tadi telah diucapkan walau secara tidak langsung…!

“Raras…, ehm…, siapa nama lengkapmu cah ayu?” tanya Srenggoloyo, langsung kepada Raras Arum.

“Raras Arum, Den,” Soma yang menjawab pertanyaan Srenggoloyo. Soma sudah tahu watak anaknya. Kalau tidak suka pada seseorang, Raras tidak mau berbicara walau hanya sepatah kata pun!

“Aku bukan berkata denganmu, Soma! Aku ingin jawaban Raras secara langsung!”

“Hamba tahu maksud Raden, tapi Raras tidak mau berbicara bila dia merasa tidak suka pada seseorang. Jadi hamba berani menjawab walaupun tidak ditanya Raden karena….”

“Hei jangan banyak bacot! Nih terimalah hadiahku untuk kelancangan mulutmu, hiaaa!” teriak Srenggoloyo sambil melompat dari atas pelana kudanya!

Srenggoloyo mencabut goloknya yang bergagang emas. Golok Saraju namanya. Pusaka sakti pemberian Ardawalpa. Ada senjata sakti sejenis Golok Saraju, yaitu Golok Seroja yang sekarang masih di tangan Ardawalpa sebagai senjata andalan. Orang dunia persilatan kenal kesaktian kedua golok itu. Golok Saraju hebat dan sangat mematikan, tapi Golok Seroja lebih mematikan lagi!

Ada hawa panas memancar dari Golok Saraju sewaktu dicabut Srenggoloyo dari sarungnya. Tubuh pendekar tampan itu masih melesat di udara waktu mencabut dan siap menebas kepala Soma!

Gerakan Srenggoloyo sangat cepat, sehingga tidak ada kesempatan bagi Soma untuk menghindar! Kelihatannya Soma sendiri merasa panik dan sulit bertindak cepat pada situasi tak terduga itu.

Soma benar-benar tidak menduga kalau Srenggoloyo akan berbuat kejam secepat itu! Soma hanya membelalakkan mata lebar-lebar sewaktu Golok Saraju di tangan Srenggoloyo terayun dari atas untuk ditebaskan ke kepalanya!

Sreeek…wet! Golok tercabut dari sarung dengan cepat. Dengan cepat pula golok itu terayun. Hanya berlangsung beberapa kejapan mata saja kejadian itu. Sulit diikuti oleh gerakan mata, saking cepatnya gerakan yang dilakukan oleh Srenggoloyo terhadap Soma itu!

Rinten dan Raras hanya bisa menjerit sambil menutup mata ketika kejadian cepat itu akan menimpa Soma. Kedua wanita itu tidak bisa berbuat apa pun juga selain hanya menjerit panik. Mereka merasa seolah-olah akan kehilangan orang tercinta. Yang satu akan kehilangan suami, sedang satunya akan kehilangan ayah.

Pada saat bersamaan, secara tak terlihat ada tenaga dalam terkirim dari jarak puluhan tombak. Tenaga dalam itu dikirim untuk mendorong tubuh Soma dan anak-istrinya. Sehingga ketiganya terpental beberapa tombak ke samping kanan dan kiri.

Menyebar dengan formasi segi tiga, sehingga antara yang satu dengan lainnya tidak saling bertumpang tindih tapi memisah. Tenaga dalam jarak jauh yang dikirimkan itu bukan tenaga dalam yang mematikan, sehingga ketiganya bisa tersingkir dari tempat masing-masing dan jatuh di tanah tanpa menderita luka yang berarti.

Mereka bergeser tempat secara cepat dan masih dalam posisi berdiri. Cuma sedikit terhuyung karena kagetnya. Ketiganya merasa heran atas kenyataan itu.

Lebih heran lagi Srenggoloyo dan keenam prajuritnya. Srenggoloyo hanya bisa melongo ketika menyadari bahwa golok saktinya hanya menyabet angin. Menyabet tempat kosong. Padahal yang dia inginkan adalah kepala Soma. Karena Soma dia anggap terlalu lancang dan berani menentang kata-katanya.

“Bajingan…, mengapa aku gagal membantai mereka?” kata-kata serapah muntah dari mulut Srenggoloyo. “Setan mana yang menghalangi aku untuk membungkam manusia-manusia coro itu untuk selama-lamanya?”

Srenggoloyo memang suka membungkam seluruh rakyatnya. Seluruh rakyat Kadipaten Moncer tidak boleh menentang setiap keinginannya. Prinsip ini diterapkan Srenggoloyo karena meniru Ardawalpa, sang ayahanda.

Keduanya memang tidak ingin rakyat Moncer berani berbicara untuk menyatakan kebenaran. Soma tadi sebenarnya berkata benar. Berkata apa adanya.

Raras memang tidak ingin berbicara kepada siapa pun yang dia benci. Tidak pandang bulu, walaupun yang dia benci itu adalah Srenggoloyo. Raras benci Srenggoloyo, maka dia tidak mau berbicara dengan Srenggoloyo. Daripada Srenggoloyo tersinggung atas perlakuan Raras, maka Soma yang menjawab setiap pertanyaan Srenggoloyo.

Rupanya Srenggoloyo tersinggung diperlakukan seperti itu oleh Raras. Sebagai tindakannya untuk melampiaskan kemarahannya yang muncul dengan cepat, adalah membunuh! Mematikan yang berani bicara. Mematikan bukan hanya dalam arti kias. Tapi mematikan dalam arti yang sebenar-sebenarnya, yakni menghilangkan nyawa si pemberani berbicara itu!

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Tujuh pemuda berkekuatan mistik dahsyat dipersatukan dalam tim khusus yang terinspirasi dari simbol reinkarnasi teratai. Dipimpin Sagara Widyatama, mereka berlatih keras demi menertibkan dunia supranatural yang kian kacau. Namun, misi maut ini bukan sekadar laga fisik biasa. Sosok Sagara perlahan menyingkap tabir misteri tentang ikatan mendalam yang pernah menyatukan mereka semua di kehidupan masa lalu.
Sampul Novel Another Maze
9.6
Uji coba mesin waktu memicu ledakan bola misterius akibat sentuhan Robert Hans. Insiden ini menghancurkan laboratorium dan menyisakan ilmuwan Zora sebagai satu-satunya penyintas. Demi menyelamatkan Hans yang tak sadarkan diri, Zora nekat melintasi ruang waktu tanpa arah jelas. Di dimensi lain, Dewi Penjaga Waktu memberi tahu bahwa mereka hanya bisa pulang jika berhasil mengumpulkan serpihan Air Mata Aldebran di berbagai alam asing sebagai kunci penyelamat.
Sampul Novel Cintya Persusuan  Di Balik Tahta
8.3
Sebagai selir paling dimanja karena keunikan tubuhnya, Rona menarik perhatian penuh dari Kaisar dan Pangeran Surowi. Namun, malam-malam di kamarnya berubah menjadi ketegangan saat kedua pria berkuasa itu mengajukan rencana gila untuk membaginya bersama. Meski dijanjikan kenaikan status sosial oleh Pangeran Surowi, Rona yang ketakutan mencoba menolak tawaran tersebut dengan menegaskan asal-usulnya yang hanya seorang budak biasa di hadapan senyuman misterius sang Kaisar.
Sampul Novel Dijodohkan Hantu
8.7
Erina, gadis yatim piatu penyintas kebakaran yang bisa melihat makhluk halus, terus diikuti hantu wanita selama sepekan. Arwah itu memohon agar Erina menghibur suaminya yang tengah berduka. Walau awalnya enggan, Erina akhirnya bersedia menemui Eldrick Damiano. Tak disangka, pertemuan tersebut menumbuhkan rasa cinta di diri Erina. Sayangnya, Eldrick telah menutup rapat hatinya dan bersumpah setia selamanya kepada sang mendiang istri.
Sampul Novel Hati Alpha yang Terlambat
7.9
Demi Timothy Oliver, Vanessa Price rela mendonorkan sumsum tulangnya. Namun, pengorbanan itu justru dibalas dengan kekejaman Timothy yang ingin membalas dendam demi ibu tirinya, Bryanna. Selama empat tahun Vanessa hidup dalam siksaan, hingga ia dinyatakan tewas di reruntuhan tambang. Penyesalan Timothy baru datang saat menemukan jasad Vanessa bersama bukti kehamilan. Kini, Vanessa bangkit kembali untuk menuntut balas atas kehancuran hidup dan kariernya.
Sampul Novel JUST MATE
8.6
Renata meregang nyawa secara tragis setelah dikhianati oleh dua orang terdekat yang sangat ia cintai. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia teringat pada Dewa Fenrir yang dahulu sering diceritakan ibunya, lalu memanjatkan doa pamungkas untuk menuntut balas. Namun, keajaiban aneh justru menghampiri sebelum napasnya habis. Sebuah suara dahsyat memanggilnya 'Luna' bersamaan dengan dekapan tangan dingin di wajahnya. Misteri apa yang menanti takdir Renata di batas kematian ini?