APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pasutri Jadi-Jadian

Pasutri Jadi-Jadian

Jaka dan Nuning telah bersahabat sejak kecil meski kepribadian mereka bertolak belakang. Jaka selalu menolak menikahi Nuning yang dinilainya aneh. Suatu hari, Nuning tiba-tiba meminta Jaka menikahinya demi bisa merantau bersama ke Jakarta. Jaka sempat menghindar hingga Nuning nyaris putus asa, namun Jaka mendadak berubah pikiran dan setuju. Bagi Nuning yang ambisius, alasan Jaka tidaklah penting; baginya yang utama adalah menikah dulu, sedangkan urusan cinta bisa dipikirkan nanti.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Maaak? Nasinya mana??” protes Pak Priyo menggelegar ke seluruh isi rumah. Menggetarkan jendela.  Mengguncang lantai. Dan menggoyang kasur Bu Parmi yang tengah asyik leyeh-leyeh di kamarnya. Perempuan berusia lima puluhan itu pun terbirit-birit ke dapur. Meringis saat suaminya memelintir kumis.

“Loh! Perasaan tadi masih penuh loh, Pak?” Bu Parmi kebingungan melihat isi magic com yang tiba-tiba tinggal kerak.

“Ya udah sih, Mak ..., tinggal masak lagi apa susahnya?” Nuning tiba-tiba nongol sambil bersendawa, mengelus perutnya yang kekenyangan usai menyikat habis isi meja makan hingga licin mengkilat sampai-sampai bisa bikin kepleset lalat yang hinggap.

“Oooh pasti ini dia biang keroknya!” omel Bu Parmi sambil menuding anak gadisnya itu dengan centong nasi.

Nuning ambil langkah seribu sebelum centong itu sempat mendarat di kepalanya. Terbirit-birit kabur meninggalkan emaknya yang ngomel-ngomel di belakangnya, ngepot-ngepot mengejarnya sambil mengacung-acungkan centong bukan sembarang centong, itu centong sakti yang sudah puluhan kali bikin kepalanya benjol.

Nuning melompati pagar dengan lincah. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai pun menghamburkan jutaan ketombe di udara. Gadis itu menerobos jemuran tetangga dengan rusuhnya. Bikin janda semok sebelah rumah menjerit-jerit mengira ada maling mau nyolong pakaian dalamnya.

Nuning pun cekikikan setelah merasa aman dari kejaran makhluk berdaster yang tak lain emaknya sendiri.

“Ngapain ketawa-tawa sendirian? Obat lagi habis?” tegur Jaka sambil memiringkan telunjuknya di kening.

Nuning meringis jijik karena Jaka menegur sambil menjitak keningnya dengan permen kojek yang baru keluar dari mulutnya. Dia mengumpat sambil menginjak kaki Jaka, bikin cowok jangkung itu meringis kesakitan.

“Ngapain ngumpet-ngumpet? Kayak habis maling aja?” tanya Jaka.

Nuning nyengir. “Emang!” Lalu melenggang santai menuju lapangan. Ada lomba layangan sore ini yang tak boleh dilewatkan. Meskipun sudah berseragam putih abu-abu, tapi layangan tetap menjadi hiburan favoritnya. Apalagi layangan Jaka sering membuatnya menang taruhan lawan anak-anak kampung.

“Eh, beneran? Emangnya mangga Mbah Surip udah pada mateng?” tanya Jaka dengan mata berbinar.

Mangga Mbah Surip memang sudah jadi langganan curian mereka sejak zaman SD. Soalnya mangganya enak, buahnya lebat. Sekali srampang langsung berjatuhan. Posisinya yang di pinggir jalan bikin mereka kebiasaan nyolong sambil lewat. Salah sendiri yang punya pelit, diminta baik-baik nggak boleh. Sementara buahnya yang lebat dan ranum seringkali melambai-lambai, nantangin minta dipetik.

“Bukan nyolong mangga, tapi nyolong ayam penyet jatahnya bapakku. Salah sendiri sama emak pake diumpetin segala. Nggak adil namanya, masa anaknya disuruh makan tempe bapaknya makan ayam? Kan kebalik. Siapa yang sedang dalam masa pertumbuhan coba?” sahut Nuning sambil cekikikan.

“Wah, gendeng kamu Ning. Nggak kapok apa uang jajanmu ntar disunat lagi?”

“Lah, kan ada kamu?” Nuning mengalungkan lengannya ke pundak Jaka.

Jaka mengedikkan pundaknya, menyingkirkan tangan Nuning darinya. “Memangnya aku ATM-mu? Ngomong kok kayak kentut, lega di kamu tapi bikin eneg yang denger,” cebiknya jengkel. “Seratus ribuku yang kemarin aja belum balik, ini udah mau nadah lagi? Kayaknya kamu memang cocoknya jadi tukang palak, deh!”

“Kayaknya sih gitu, Jak. Kalau malakin kamu aja bisa kaya, ngapain juga repot-repot mikirin kerjaan lain?”

“Sompret minta dikepret!” gerutu Jaka keki.

Nuning terkikik senang sambal menaiki punggung Jaka yang otomatis memeganginya. “Buruan, Jak! Ntar lomba layangannya keburu mulai!”

Jaka menurut tanpa banyak bacot. Dia lari menuju lapangan dengan Nuning yang tertawa merdeka di gendongan belakang. Orang-orang kampung sudah tak aneh lagi melihat kelakuan duo abege yang gesrek dan tukang bikin rusuh itu.

Nuning, terkenal suka menakuti anak-anak pulang mengaji, pura-pura menyamar jadi Kunti, gelantungan di pohon pakai mukena. Sedangkan Jaka, kebagian menyamar jadi pocongnya.

Meskipun sudah menjadi rahasia umum kalau duo  setan itu cuma cosplay, tapi tetap saja sukses membuat takut anak-anak. Bikin duo setan jadi-jadian itu senang, sementara setan betulan yang gaweannya sedang disabotase oleh mereka cuma bisa geleng-geleng saja di pojokan.

Mereka berdua pula yang suka bikin kalong-kalong di kebun minder karena kalah skill nyolong. Mbah Surip pun cuma bisa pasrah memandangi mangganya yang tak pernah awet di pohon.

***

Pak Priyo selama ini terkenal dengan keangkerannya. Kumisnya yang lebat dan perawakannya yang tinggi besar serta suaranya yang menggelegar, suka bikin semaput anak-anak kecil yang berpapasan dengannya. Mungkin karena kebiasaan orang tua mereka yang suka menakuti anak-anaknya pakai nama Pak Priyo. “Awas loh kalau nakal, ntar ditangkap Pak Pri!” begitu kata emak-emak mereka. Padahal Pak Priyo bukan Polisi, bukan TNI, bukan pula satpol PP yang suka beringas saat penertiban bangunan liar. Beliau cuma kepala satpam pasar yang suka bawa pentungan.

Sayangnya, keangkeran Pak Priyo malah tak mempan untuk menghadapi anaknya sendiri. Nuning, anak gadisnya yang bontot justru sering bikin ulah yang bikin Pak Priyo sepaneng. Bikin Bu Parmi  mengelus dada dan berpikir keras dulu pernah mengidam apa. Mungkin ada yang belum keturutan jadinya begitu si anak lahir, besarnya jadi ugal-ugalan.

“Mak, aku maluuu. Nuning tuh, Mak!” keluh Bambang, si anak sulung yang satu sekolah dengan Nuning.

Bu Parmi menarik napas, menguatkan jantung, siap-siap menerima cobaan lagi. Minggu lalu sudah dua kali dipanggil kepala sekolah karena Nuning tawuran dan mengunci kakak kelasnya di WC sekolah dan menggembesi motor gurunya. Sekarang, apa lagi?

“Mendingan nggak punya adik sekalian daripada bikin malu aja!” keluh Bambang sambil membanting tas sekolahnya ke kursi. Lalu menghempaskan badan lelahnya ke sebelah si emak yang mukanya ikut kusut.

“Bilangin Nuning dong, Mak. Kalau nggak niat sekolah, mending suruh kawin aja terus pergi sana ikut suaminya. Serah mau ke mana. Ke hutan kek, kebun binatang kek, ke dunia lain kek,” oceh Bambang dengan sekali tarikan napas. Bikin muka Bu Parmi tambah berlipat-lipat bingung.

Bambang emosi! Percuma rasanya jadi bintang kelas, bintang sekolah, bintang lapangan, tapi punya adik yang hobinya bikin malu. Nuning selalu jadi bahan gunjingan di sekolah karena ulahnya yang sering bikin gempar. Dia kerap dapat hukuman karena suka datang terlambat, tapi tak pernah kapok dapat hukuman keliling lapangan sambil berjongkok. Nuning juga suka mengompori teman-temannya mengosongkan kelas saat pelajaran. Lalu jadi komando teman-temannya bolos melompati pagar. Kalau ada lomba panjat pagar sekolah, Nuning pasti sudah jadi juaranya. Rok panjang sepertinya tak jadi halangan bagi adiknya untuk urusan panjat memanjat dan lompat melompat. Monyet aja kalah lincah!

Pokoknya punya adik macam Nuning jadi beban mental bagi Bambang yang seorang ketua OSIS. Bagaimana mau digubris warga sekolah kalau mengurus satu adik perempuan saja tak becus? Wibawanya bagai dikuliti tingkah adiknya sendiri yang rajin melanggar ketertiban.

“Sabar tho, Mbang. Kok jangankan kamu, lah bapakmu aja ikut mumet kok mikirin adikmu satu itu.”

“Ya makanya itu, kawinin aja biar tau rasa!”

“Iya kalau ada yang mau? Tau sendiri kelakuan adikmu itu sudah nyebar seantero kampung,” cebik Bu Parmi ngenes sendiri memikirkan masa depan anak gadisnya yang super absurd. Sudah tampangnya pas-pasan, kelakuan dan prestasi tak bisa dibanggakan.

“Jodohin aja sama duda juragan empang. Dengar-dengar dia lagi cari bini. Biar emak nggak usah khawatir Nuning bisa makan apa nggak, karena suaminya kaya, kan bisa ngasih makan yang banyak. Dia mau makan sepuluh bakul sehari juga udah bukan tanggung jawab Emak lagi,” cibir Bambang jengkel.

Adiknya itu kalau makan persis kerbau bunting! Nasi sepiring pernuh, masih bisa nambah. Herannya badan adiknya tetap mungil dan tak bisa gendut meskipun suka makan tiga piring berturut-turut. Jangan-jangan cacingnya lebih panjang ketimbang ususnya!

“Husss. Sembarangan! Gitu-gitu dia adikmu! Sabar-sabar aja, itung-itung buat nambah pahala.”

“Yang ada mah nambah dosa dan penyakit punya adik kek dia.”

“Kalau ngatain orang bisa lebih keras dikit nggak? Orangnya nggak denger nih,” celetuk Nuning yang tiba-tiba nongol sambil nyengir, masih memakai seragamnya yang warnanya tak putih abu-abu lagi. Tapi Bambang akan lebih heran kalau rok adiknya belepotan dengan darah mens ketimbang belepotan tanah seperti itu. Pasti habis dari lapangan main layangan, atau duduk-duduk di tegalan sambil menikmati mangga hasil colongan.

Memandangi seragam Nuning yang kumal, Bu Parmi geleng-geleng sambil mengelus dada. Perasaan ya ..., anak gadis jaman sekarang wangi-wangi, rapi-rapi. Begitu duduk di bangku SMP umumnya sudah pada sadar kerapihan, sadar penampilan, dan peduli kecantikan. Tapi kenapa anak gadisnya yang sudah SMA begini amat?

“Kayaknya kamu perlu ke psikiater deh. Kali aja kena gangguan jiwa. Kalau nggak, bisa aku yang lama-lama gila punya adik kayak kamu!” omel Bambang.

“Beuhhh. Gaya amat! Kayak kita orang berduit aja. Emangnya ke psikiater gak bayar? Ke dukun aja bayar. Kalau bisa dibayar pake daun sih aku mau aja. Soalnya psikiater kan adanya cuma di kota. Ntar sekalian mampir deh ke mall, jalan-jalan. Bosen tau di kampung mulu,” cebik Nuning, “kalau hujan becek, nggak ada ojek...” lanjutnya lagi dengan logat ala Cinta Laura yang kebarat-baratan.

Nah, kan! Ngomong sama adiknya memang suka bikin senewen. Nuning tak pernah peduli biar seluruh dunia menertawakan atau meledeknya. Dia memiliki dunia sendiri. Punya cara menikmati hidupnya, yang tak pernah sejalan dengan cara hidup Bambang sang kakak.

“Omong-omong soal ke kota, kapan yuk Mak kita ke Jakarta?” celetuk Nuning tiba-tiba.

“Ntar, kalau sapinya bapakmu sudah lahiran,” sahut Bu Parmi asal. Memangnya sejak kapan Pak Priyo punya sapi?

“Yah, emaak. Masa kalah sama Mbah Paijo yang sering bolak-balik liat Monas?” protes Nuning mencatut nama tetangganya.

“Mbah Paijo sopir bus Damri? Ya emang trayeknya itu Lampung-Gambir!”

Tapi Nuning tetap merengek tak mau tahu sambil menarik-narik lengan Bu Parmi yang mulai kelimpungan. Sampai-sampai Bambang menggulung buku lalu menggeplak kepala adiknya supaya berhenti bertingkah macam orang kesurupan jin Monas. Nuning pun manyun, merajuk masuk kamar. Dia bahkan melewatkan makan malam.

Pak Priyo dan Bu Parmi keheranan karena untuk pertama kalinya magic com mereka penuh. Tapi bukannya senang nasinya utuh, kedua orangtua itu jadi galau.

Ada apa dengan Nuning?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Rahasia Milyader
9.2
Akibat kekeliruan kecil di depan Ben Clayton, CEO New York yang sangat berkuasa, hidup Ivy Anderson kini terancam. Ben yang terobsesi mulai melancarkan siasat licik untuk menjebak Ivy, bahkan mendekati anak kembar Ivy, Terra dan Terry. Demi melindungi buah hatinya, Ivy terpaksa menyerah pada ancaman kejam pria tersebut. Mampukah Ivy melarikan diri dari jeratan berbahaya ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kendali dominasi Ben yang gelap?
Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya meregang nyawa akibat pengkhianatan keluarga dan tunangannya yang tega merampas organ hatinya. Saat mendapat kesempatan hidup kedua, ia bertekad merebut kembali segalanya dan membalas dendam. Namun, takdir mempertemukannya dengan Randy Logan, seorang CEO dingin yang tiba-tiba terobsesi padanya. Di sela rencana pembalasan, sang miliarder justru menjerat Viona dengan kasih sayang posesif yang membuatnya tersudut.
Sampul Novel Dasha: Balas Dendam Pada Mantan Suami
8.8
Diceraikan saat berusia 27 tahun karena mantan suaminya memilih Irina, Dasha bertekad membalas dendam. Ia menemui dokter bedah bernama Oscar untuk mengubah wajahnya. Namun, Oscar meminta imbalan yang sangat berat: Dasha wajib melayani hasrat seksualnya kapan saja. Demi menghancurkan sang mantan, ia pun menyetujui syarat menyimpang tersebut. Akankah rupa barunya ini membawa keberhasilan, dan bagaimana nasib hubungan rumit mereka?
Sampul Novel I`m Holding You
8.0
Masa lalu Bima menyimpan rahasia kelam. Hubungan satu malam yang tak disengaja membuat Levina hamil tanpa tahu siapa pelakunya. Bertahun-tahun berlalu, Levina mendatangi klinik Bima demi mengobati putri kecil mereka, Anetta, yang mengidap penyakit langka. Bima sangat terkejut mengetahui anak itu adalah darah dagingnya, padahal ia sendiri sudah menikah empat tahun tanpa keturunan. Kini, ia bimbang untuk mengakui dosanya demi kesembuhan Anetta dan nasib pernikahannya.
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
8.7
Selama dua tahun, Nina menjalani pernikahan kontrak dengan suami misterius yang tak pernah ia temui. Suatu malam, sebuah kekeliruan fatal membuatnya salah masuk kamar dan menyerahkan kesucian kepada pria asing. Akibat pelanggaran ini, ia terancam denda besar dan memutuskan untuk meminta cerai. Namun, saat menyerahkan berkas perceraian, Nina syok mendapati bahwa suaminya ternyata adalah pria yang sama yang menghabiskan malam bersamanya.
Sampul Novel Wedding Doll
8.9
Seorang gadis dengan berani mendatangi Allard dan langsung memintanya untuk menikah. Bukannya menolak, pria itu justru merasa tertarik. Dengan senyum tipis di wajahnya, Allard memberikan sebuah syarat yang menantang. Ia menuntut sang gadis untuk melayaninya sepanjang malam. Kesepakatan pernikahan itu baru akan dipertimbangkan jika Allard merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Hubungan penuh syarat ini pun dimulai dengan penuh ketegangan.