
Pasti Ada yang Mencintaimu
Bab 4
Felix mengingkari janjinya.
Dia tidak pulang.
Selama beberapa hari berturut-turut, dia bahkan tidak muncul sekali pun.
Aku baru tahu bahwa Felix sedang melakukan perjalanan bisnis lagi ketika menelepon Liana.
Kali ini, dia bersama Yoana lagi.
Namun, ini justru memberiku lebih banyak waktu untuk membereskan segalanya.
Di kalender, hanya tersisa 7 hari lagi.
Hari itu, saat aku sedang mengemas barang-barang yang akan aku bawa ke Kota Bana, Liana tiba-tiba menelepon.
"Silvia, apa kamu salah menulis alamat untuk pengiriman paket?"
"Apa?"
"Itu adalah gaun pengantinmu dan Felix, dikirim ke kantor atas namamu. Si Felix-mu ini bahkan menghabiskan banyak uang untuk gaun pengantin yang dibuat khusus. Gaun pengantin buatan AND ini paling nggak harganya mencapai lebih dari sepuluh digit. Dia pasti sudah menghabiskan semua tabungannya. Apa dia nggak memikirkan kehidupan kalian setelah menikah?" ujar Liana.
Aku buru-buru ke kantor. Begitu membuka paketnya, aku juga tertegun.
Ukurannya memang pas denganku.
Namun ....
Gaya dan detailnya tidak seperti pilihan Felix.
Selama beberapa tahun ini, meski performa perusahaan lumayan bagus, kami belum sampai pada titik rela menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk sebuah gaun pengantin.
Lagi pula, dia sepertinya ... memang tidak pernah benar-benar berniat menikah denganku.
Saat aku masih bingung, ibuku menelepon.
"Sayang, apakah gaunnya sudah kamu terima? Haih, Keluarga Quinn benar-benar antusias tentang pernikahanmu dengan Steven. Waktu aku mengatakan kalau kamu baru akan pulang dua minggu lagi, mereka langsung buru-buru mulai menyiapkan segalanya."
"Bahkan gaunnya pun mereka kirim duluan, supaya kamu bisa melihat dan mencobanya, apakah gaunnya cocok atau nggak!"
Suara ibuku terdengar ceria di telepon, jelas sekali dia merasa sangat puas dengan sikap serius dari Keluarga Quinn terhadapku.
Aku mengusap pelipisku sambil bertanya, "Bu apakah Ibu yang memberikan alamatnya?"
"Ya! Apakah kamu sudah pindah perusahaan?" tanya ibuku.
"Nggak ...."
Aku menghela napas sambil menjawab, "Aku akan mengirimkan alamat baruku. Kalau ingin mengirimkan paket atau apa pun, kirimkan ke alamat itu saja."
"Baiklah."
Ibuku langsung menyetujui dengan penuh semangat, "Oh ya, Bibi Cecil juga memintaku untuk bertanya padamu, apa kamu punya permintaan khusus untuk acara pernikahannya? Dia akan mengaturnya."
"Aku nggak ada permintaan apa pun."
Aku menggigit bibir sejenak, lalu berujar, "Pernikahannya kalian atur saja, aku nggak masalah."
"Pernikahan?"
Suara Felix tiba-tiba terdengar dari belakang. "Pernikahan apa?"
Jantungku langsung berdebar kencang, sementara aku langsung menutup panggilan. "Kamu sudah kembali dari perjalanan bisnis?"
"Ya."
Dia menghindari tatapanku dengan rasa bersalah, lalu melirik gaun pengantin di sofa sambil mengernyitkan kening. "Silvia, aku sudah bilang kalau sekarang ini aku nggak ada niat untuk memikirkan pernikahan. Bisakah kamu nggak memaksaku?"
Aku terdiam.
Aku menatapnya lekat-lekat ketika berkata, "Apakah aku mengatakan kalau kamu adalah mempelai pria dalam pernikahan ini?"
"Apa maksudnya?" tanya Felix.
"Nggak ada maksud apa-apa."
Aku mengangkat bahu, lalu berjalan mendekat, mulai merapikan kembali gaun itu ke dalam kotaknya.
Felix langsung menarik lenganku, suaranya melunak, "Apa kamu marah? Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya kelelahan karena perjalanan bisnis kemarin. Maafkan aku, oke?"
"Ya."
Tanpa pikir panjang, aku mengangguk.
Felix masih tampak ragu, "Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu, bisakah kamu menyimpan gaun pengantin ini untuk sekarang?" ujar Felix.
Dia tampak sedikit bimbang. "Silvia, beri aku sedikit waktu lagi, aku pasti akan menikahimu."
Nada suara Felix seperti orang yang takut dipaksa melakukan sesuatu.
Aku tidak kuasa menahan tawa kecil. "Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tadi nggak mendengarku menelepon? Ini adalah gaun milik temen kuliahku yang akan menikah. Dia membuat kesalahan saat mengisi alamat."
Felix langsung menghela napas lega, mencubit pipiku, lalu berkata, "Apa kamu sengaja menakut-nakutiku?"
"Anggap saja begitu," balasku.
Felix kenal baik dengan ketiga sahabatku dari kampus.
Jika saja dia masih sedikit peduli padaku, dia pasti akan mengingat kalau ketiganya sudah lama menikah.
Bahkan Felix menemaniku ke setiap pernikahan mereka.
Waktu itu, dia terus membuat rencana masa depan kami. Setiap menghadiri pernikahan orang lain, Felix pasti terlihat sangat tersentuh.
Kami pernah berjanji, begitu perusahaan stabil, kami akan segera menikah.
Namun, dalam sekejap mata, sudah tiga tahun berlalu.
Felix tidak pernah menyinggung tentang hal itu lagi.
Pernah suatu saat, aku sempat berpikir mungkin dia takut menikah.
Namun, sekarang aku mengerti.
Bukan karena Felix tidak ingin menikah, tetapi karena orang yang ingin dia nikahi bukanlah aku.
Liana mengetuk pintu dan melangkah masuk. Wajahnya tampak seolah sudah terlalu muak dengan kemesraan ini. "Aku sebenarnya nggak mau mengganggu kalian, tapi Pak Felix, nanti kamu tetap harus hadir untuk wawancara calon direktur desain baru."
"Direktur desain?"
Felix yang tampak bingung, menoleh ke arahku. "Apa kamu kewalahan? Apa kamu butuh orang untuk membantumu?"
"Nggak."
Aku menggelengkan kepala. "Felix, aku sudah mengundurkan diri."
Kening Felix langsung berkerut dalam. "Kamu mengundurkan diri? Kenapa kamu nggak mendiskusikannya dulu denganku? Silvia, sekarang ini masa yang penting untuk perusahaan. Kita sedang dalam proses pendanaan, sementara divisi desain adalah jantung perusahaan! Apa kamu tahu kalau mengganti direktur sekarang bisa berdampak besar ke investor?"
Tiba-tiba, aku merasa seperti sedang berdiri di hadapan orang asing.
Aku mendongak menatapnya. "Jadi, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Tanpa tanda tanganku, proses pengunduran dirimu belum sah."
Felix menghela napas. "Kamu bukan anak kecil lagi, jangan bertindak kekanak-kanakan. Kembalilah bekerja besok."
"Felix."
Aku tersenyum simpul. "Kamu sudah tanda tangan."
"Kalau kamu nggak percaya, Liana punya salinannya. Kamu bisa melihatnya," tambahku.
Setelah berkata demikian, aku membawa gaun pengantin itu pergi.
Anda Mungkin Juga Suka





