APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pasti Ada yang Mencintaimu

Pasti Ada yang Mencintaimu

Setelah enam tahun mendampingi Felix Darian, Silvia akhirnya mengutarakan keinginannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Namun, Felix menolaknya dengan canggung, berdalih bahwa fokus utamanya saat ini adalah mengamankan pendanaan penting bagi perusahaannya. Menanggapi penolakan tersebut dengan senyuman tenang tanpa beban, Silvia membiarkan Felix tenggelam dalam kesalahpahamannya. Felix tidak menyadari bahwa keputusan Silvia untuk menikah sudah bulat, hanya saja sosok pengantin pria yang dipilihnya bukanlah dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebelum melangkah masuk ke kantor Felix, aku sempat ragu sejenak.

Bukan karena bimbang atau tidak rela.

Namun, ini karena aku belum memikirkan bagaimana caranya agar dia menandatangani dokumen ini tanpa banyak tanya.

Setelah sistem kepegawaian perusahaan dibenahi, aku pun harus menandatangani ulang kontrak kerja.

Selain itu, posisiku sebagai direktur desain cukup sensitif. Bisnis keluargaku pun ada kaitannya dengan industri ini. Jika dokumen pengunduran diri tidak diurus dengan benar, ini bisa jadi merepotkan saat aku kembali ke Kota Bana nanti.

Aku membuka pintu, lalu melangkah masuk. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, aku melihat Yoana sedang duduk di seberang Felix.

Pantas saja meja kerja di dekat pintu kosong.

Rupanya sudah dipindahkan ke sini.

Yoana yang pertama melihatku. Dia menepuk kepala Felix, lalu berkata dengan suara manja, "Felix!"

Suara Felix terdengar lembut penuh kasih sayang, "Sudah, jangan mengganggu dulu. Aku akan menyelesaikan perjanjian ini dulu."

"Aku nggak mengganggu ...."

Yoana melirikku dengan tatapan menantang, lalu dengan nada polos berkata, "Kak Silvia datang."

Felix langsung bersandar ke belakang, menjauh dari Yoana. Dia menoleh ke arahku dengan gugup, lalu tatapan kami pun bertemu.

Aku mengabaikan rasa sesak di dada, lalu berkata padanya dengan acuh tak acuh, "Felix, ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani."

Aku menyerahkan map dokumen itu padanya.

Ketika melihat aku tidak mempermasalahkan kemesraan mereka barusan, dia merasa sedikit lega, lalu mengangguk, "Oke."

"Felix, kalau begitu aku keluar dulu. Kalian bisa lanjutkan," ucap Yoana.

Wanita itu bangkit berdiri, berjalan keluar dengan anggun.

Saat Felix membuka map itu, aku bersiap mengutarakan alasan yang sudah aku siapkan. Namun, tiba-tiba Yoana meringis kesakitan sambil berseru, "Ah! Sakit!"

"Yoana!"

Felix langsung berdiri dengan panik, ingin bergegas menghampirinya.

Aku menghalangi langkahnya sambil berkata, "Tanda tangani dulu. Hanya butuh beberapa detik."

Felix mengerutkan kening sambil berujar, "Silvia, sejak kapan kamu jadi begitu dingin? Apakah dokumen ini begitu penting?"

"Felix ...."

Yoana terduduk di lantai, memegangi kakinya sambil menangis.

Mata dan hati Felix hanya tertuju pada Yoana. Tak ingin berdebat lebih lanjut denganku, dia bahkan tidak melirik isi dokumen itu, langsung menandatangani di tempat yang aku tunjuk dengan acuh tak acuh.

Ini memang sesuai dengan yang aku inginkan.

Aku hanya ingin proses pengunduran diriku berjalan dengan lancar, lalu pergi meninggalkan kota ini.

Kembali ke jalur hidupku yang seharusnya.

Felix mengangkat Yoana, langsung membawanya ke sofa. Dia memegang kakinya untuk memeriksanya dengan hati-hati. Felix berujar, "Syukurlah nggak bengkak. Tapi kalau masih sakit, aku akan membawamu ke rumah sakit."

"Ini nggak separah itu ...."

Yoana menarik kakinya malu-malu, lalu melirikku dengan pandangan takut.

Aku menatap mereka tanpa ekspresi, lalu berbalik untuk pergi.

Sebelum masuk ke dalam mobil, aku dihadang oleh Felix yang mengejarku dari belakang. Dia berkata, "Silvia, jangan salah paham. Nggak ada apa-apa di antara kami berdua. Aku hanya ingin menjaganya karena kami tumbuh besar bersama."

"Ya."

Aku mengangguk dengan tenang, menatap tangannya yang menahan pintu mobil, memberi isyarat pada Felix untuk melepaskannya. "Aku masih ada urusan," ujarku.

Dia tertegun sejenak. "Kamu nggak marah?"

Aku tersenyum sambil membalas, "Apa aku harus marah?"

Felix berkata, "Dulu kalau aku melakukan ini, kamu pasti akan marah ...."

"Tapi bukankah kamu tetap saja melakukannya?" balasku.

Aku mendongak, menatap kegelisahan yang terlihat jelas di matanya. "Sudahlah, aku hanya bercanda. Malam ini pulanglah untuk makan di rumah, oke?"

"Aku ...."

Felix menekan rasa bersalahnya, menggenggam tanganku, lalu membalas, "Malam ini aku ada janji, tapi aku pasti akan pulang."

Aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa.

Entah kenapa, bahkan keputusannya untuk pulang ke rumah pun terasa seperti pemberian yang terpaksa.

Aku makan malam di luar, sebelum kembali ke rumah untuk melanjutkan beres-beres.

Baru saat itu aku sadar, ternyata saat rasa kecewa sudah mencapai titik paling dalam, bahkan kenangan pun tidak layak disimpan.

Aku menghapus setiap jejak kehadiranku di rumah ini dengan sungguh-sungguh.

Termasuk kamar Felix.

Tentu saja, hanya barang-barang yang aku beli untuk kami berdua yang aku buang.

Sikat gigi, gelas, sandal, baju tidur ....

Saat sedang beristirahat sejenak, aku menerima pesan dari Yoana lewat WhatsApp.

[Silvia, lihatlah. Setelah sekian lama, Felix masih ingat kalau bunga favoritku adalah mawar merah muda. Sekarang dia bahkan lebih perhatian dari sebelumnya.]

[Terima kasih karena sudah membantu membentuknya menjadi pria yang begitu sempurna.]

[Menikmati teduh di bawah pohon yang ditanam orang lain itu sungguh menyenangkan.]

Terlampir satu foto dalam pesannya.

Bagasi mobil Porsche yang aku pilih sendiri, tampak penuh dengan bunga, bahkan dihiasi lampu-lampu kecil yang cantik.

Dalam sekejap, aku benar-benar tersadar.

Cinta yang aku dapatkan selama bertahun-tahun ini, sejak awal memang milik orang lain.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Palsu, Luka Nyata
8.9
Sejak awal, aku menyadari kedekatan Karen dengan teman masa kecilnya yang telah terjalin belasan tahun, namun aku tetap memilih untuk mengejar cintanya. Keputusan ini berujung pahit di hari pertunangan kami. Saat menerima kabar sang teman pingsan, Karen tanpa ragu meninggalkanku di atas panggung. Tragedi memuncak ketika nenek yang berusaha mengejarnya justru tertabrak mobil hingga merenggut nyawanya. Kehilangan ini menyadarkanku bahwa memaksakan hubungan yang rapuh hanya akan mendatangkan luka.
Sampul Novel Kesempatan Kedua: Terlahir Kembali
8.8
Setelah mengorbankan martabatnya demi Romeo Fernandez, Violet justru berakhir tragis di meja operasi. Beruntung, ia terlahir kembali dan bertekad segera bercerai demi menyelamatkan dirinya. Namun, Romeo yang dulu membencinya malah berbalik memohon rujuk. Enggan mengulang kesalahan, Violet memilih memeluk musuh bebuyutan mantan suaminya, Charles Griffin, dan memperkenalkannya sebagai kekasih baru di hadapan.
Sampul Novel LELAKI "LAIN" SELAIN SUAMIKU
9.2
Pengkhianatan dalam pernikahan terasa kian ganjil saat sang istri menyadari suaminya, Mas Puji, tampak terbelah menjadi dua kepribadian berbeda yang serupa tapi tak sama. Di tengah prahara rumah tangga ini, ia harus memecahkan teka-teki rumit demi mengungkap kebenaran. Siapakah sosok suami asli dan siapa yang palsu? Misteri besar kini menyelimuti pernikahan mereka, memaksanya mencari tahu identitas sebenarnya dari pria yang selama ini hidup bersamanya.
Sampul Novel Pria Pertamaku
9.6
Alex Rayyan berkomitmen menjaga cinta sejatinya kepada sang mantan istri, Rania. Sementara itu, rumah tangga kedua Rania bersama Harris justru berujung kehancuran akibat isu keturunan dan perselingkuhan. Harris terbukti kembali pada mantan tunangannya, diperparah intrik mertua yang mendesak perceraian. Saat Rania terpuruk dalam kepedihan, mampukah ia menata kembali hidupnya? Dapatkah Alex membuktikan sumpahnya untuk hadir dan melindungi Rania lagi?
Sampul Novel Surat Cinta Tanpa Nama
9.1
Setelah hubungannya dengan Niko berakhir, Leta mendapati sebuah surat misterius tanpa nama di bawah mejanya. Di zaman serbadigital ini, cara berkirim pesan yang kuno tersebut terasa janggal baginya. Namun, kiriman surat harian yang terus datang membuat Leta kian penasaran. Tanpa diduga, untaian kata dari sang pengirim anonim itu justru membawa dampak positif dan mengubah hidupnya. Kini, Leta bertekad kuat mengungkap siapa sebenarnya sosok misterius yang telah menyentuh hatinya.
Sampul Novel Takdir Yang Salah
7.9
Keputusan Alif memadu kasih dengan Amel justru merusak hidupnya. Pengaruh buruk sang kekasih membuat Alif berani melawan orang tua dan menelantarkan sekolah. Akibatnya, keluarga besar menentang keras hubungan mereka, memicu rentetan cobaan yang datang bertubi-tubi. Di tengah tekanan luar dan pergolakan batin, sanggupkah Alif dan Amel mempertahankan cinta mereka tanpa adanya restu, ataukah hubungan ini akhirnya akan hancur oleh realitas?