APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pasangan Rahasia

Pasangan Rahasia

Demi menyelamatkan kariernya, Erin terpaksa menyembunyikan status pernikahan dari publik. Situasi kian rumit karena suaminya sendiri merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Di tengah lingkungan kantor, keduanya harus bersandiwara dan menjaga rapat hubungan rahasia mereka dari kecurigaan rekan kerja. Akankah pernikahan rahasia ini bertahan demi target mereka, ataukah tekanan dunia kerja yang berat justru akan mengungkap kebenaran sebelum waktunya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Baru saja menjejaki gedung 57 lantai itu, Erin sudah dihampiri oleh teman-teman sejawatnya. Dia cukup canggung ketika disinggung mengenai pernikahan yang baru dilangsungkan kemarin. Berita memang cepat menyebar.

“Erin! Kau sangat jahat karena tidak mengundang kami!”

“Maafkan aku. Kami sudah sepakat untuk menyelenggarakan pernikahan secara tertutup,” ucap Erin, menunjukkan raut penyesalannya.

“Tapi bukankah sangat keterlaluan jika tidak mengundang kami? Apa Kau tidak menganggap kami sebagai temanmu selama ini?”

“Bu—bukan begitu ... aku—“

Percakapan langsung terhenti kala pemilik perusahaan berjalan melewati mereka, menarik diri masing-masing untuk segera memberi hormat. Berbeda dengan Erin yang tidak begitu menundukkan kepala, sempat melirik sebentar ke arah pria yang ditemukan sedang menatapnya dengan tajam.

Sesudah jejak pria berkarisma itu, semua teman-temannya berekspresi tidak berdaya seolah baru saja diberikan santapan luar biasa di pagi hari. Orang yang berhasil meluluhkan hati mereka adalah Hansel Mescach, atasannya sekaligus pria yang telah menikahinya.

***

Erin berhasil mendapatkan kartu aksesnya setelah mencari cukup lama di depan pintu apartemen. Baru akan menggunakannya, seseorang sudah lebih dulu melanjutkan niatnya.

Seketika Erin terpekik, langsung memperhatikan sekeliling yang leganya terbilang aman untuk mereka berinteraksi.

“Kau mengagetkanku, Hans,” ucap Erin dengan nada rendah, tidak lagi khawatir.

Sementara Hansel tidak mengatakan apa-apa, berlalu masuk ke apartemen. Sebenarnya, bersandiwara seperti tidak mengenal adalah sesuatu yang begitu melelahkan, baik bagi Hansel mau pun Erin.

Namun, apa yang dapat dilakukan? Erin harus memikirkan nasib pekerjaannya. Dia tidak ingin hidup dengan hanya memanfaatkan apa yang dimiliki Hansel. Terlebih tidak ingin lagi ada perbedaan sikap jika banyak yang tahu kalau dia adalah istri dari pemilik perusahaan itu sendiri.

Lebih baik bagi mereka hanya mengenal sebatas atasan dan bawahan saja agar kehidupannya berjalan dengan normal. Bukan berarti Erin menyesali pernikahan mereka. Dia hanya belum siap dengan status barunya.

Sedangkan Hansel berada dalam suasana hati yang buruk. Dia tidak menatap ke arah Erin, apalagi berbicara. Wajar saja, karena pembahasan semalam telah memicu pertengkaran pertama mereka sebagai sepasang suami istri.

Hansel tidak masalah jika hubungan mereka harus disembunyikan. Dia mengerti posisi dan juga ambisi yang dimiliki Erin. Tetapi jika tidak memiliki anak, bagaimana dia bisa terima?

Erin mengambil kesempatan ketika suaminya mengeringkan rambut. Dia memberanikan diri untuk mengambil alih handuk kecil itu. Keberaniannya semakin bertambah kala Hansel tidak menolaknya.

“Kita baru saja pindah ke apartemen ini dan belum sempat merapikan barang-barang yang ada di sisa kardus lainnya. Aku rasa kita hanya memiliki waktu membongkarnya sepulang bekerja. Mungkin aku akan mencicilnya sedikit demi sedikit selagi Kau beristirahat, karena aku masih punya banyak tenaga lebih.”

“Kita akan merapikannya sekarang.”

Meskipun suara itu terkesan dingin, tetapi berhasil membuat Erin tersenyum. Ternyata suaminya tidak begitu marah seperti yang dibayangkan karena mau berbicara dengannya.

Alhasil, mereka turun ke lantai bawah untuk membongkar isi kardus dan merapikannya. Di sana suasana kembali canggung dengan tidak adanya percakapan di antara mereka. Sekali lagi membuat Erin dilanda dilema tidak berkesudahan.

“Hans, aku rasa diffuser itu lebih baik diletakkan di kamar kita. Umurnya memang sudah cukup tua, tapi masih bagus dan masih bisa dipakai,” ucap Erin, berusaha mencairkan suasana.

Hansel menatap alat pelembab udara yang dipegangnya. Dia yang membelikan karena pada saat itu Erin mengalami masalah sulit tidur. Tidak banyak yang berubah dan dia mengakui kalau Erin memang sangat pandai merawat barang.

“Kau bisa menjualnya secara online, karena kamar kita sudah memiliki diffuser yang lebih bagus daripada ini.”

Erin meraih benda yang akan disimpan ke dalam kardus kembali, lalu memeluknya dengan sayang. “Tidak. Aku tidak akan menjualnya. Benda ini sangat berharga karena telah membantu mengatasi permasalahan tidurku. Kau tahu, kalau aku kesulitan tidur karena tinggal seorang diri. Diffuser ini sudah seperti teman baik bagiku.”

Erin datang ke kota yang sekarang untuk bersekolah. Kebetulan dia adalah gadis yang begitu semangat menimba ilmu. Dia mendapatkan beasiswa untuk masuk ke salah satu universitas ternama.

Pada waktu itu pula dia bertemu dengan Hansel, pria populer yang tidak disangka akan menjalin hubungan asmara dengannya. Hingga kisah cinta membawa mereka ke jenjang pernikahan.

Erin yang melamunkan masa lalu berubah terkejut ketika sang suami mendesaknya ke belakang, memerangkapnya hingga tidak bisa membuat jarak lagi. Hanya ada diffuser di antara mereka.

“Jangan bergurau, Sakya Erina. Kau tidak butuh benda tua itu lagi sekarang karena sudah ada suamimu yang akan menemani, bahkan membuatmu kelelahan hingga akhirnya terlelap di pelukanku. Bukan hanya itu, Kau juga akan mendapatkan fasilitas kehangatan. Aku adalah obat yang paling mujarab untuk membuatmu tertidur. Lalu, apa lagi yang Kau butuh dari diffuser ini?”

Erin sudah merah seluruh wajahnya. Perkataan tadi terdengar erotis di telinga. Tetapi bukan hal yang baru untuknya mendengar kejujuran Hansel karena mereka sudah mengenal cukup lama.

“Tapi aku tetap tidak ingin menjualnya atau membuangnya. Benda yang sangat mahal dulunya ini memiliki kenangan berharga. Kau sendiri yang menghadiahkannya, bukan?”

“Aku akan menghadiahkan banyak diffuser untukmu. Tidak perlu terbawa perasaan hanya karena benda satu itu. Kau tidak bisa menyimpan semuanya di dalam kardus-kardusmu hanya karena alasan kenangan. Bila perlu kita bisa menyumbangkannya pada orang yang sekiranya membutuhkan. Itu akan jauh lebih baik.”

Erin mencebik, tidak membantah kebenaran dari kata-kata itu. “Baiklah. Aku akan mempertimbangkan saranmu.”

Hansel tersenyum tipis melihat tingkah istrinya. Jujur saja, dia merasa senang karena Erin sangat menghargai barang pemberiannya. Tetapi mereka tidak bisa membiarkan benda tidak terpakai menumpuk.

Senyuman langsung lenyap ketika Erin menatapnya. Hansel berekspresi dingin kembali karena pada saat ini dia seharusnya sangat marah pada keputusan sang istri yang begitu mengecewakan.

“Kau masih marah padaku?”

Hansel melirik ke arah kardus-kardus di bawah mereka, lalu mengambil beberapa buku untuk dibawa. “Aku akan menyimpan ini di rak,” ucapnya.

Erin mencegah, memegang tangan suaminya. Dari mata itu terlukis kekhawatiran, berhasil membuat Hansel akhirnya luluh untuk tidak beranjak.

Hansel berpikir bahwa mereka memang harus membicarakan masalah tadi malam, karena dia pun tidak betah mendiamkan istrinya terlalu lama.

“Menurutmu, apa kemarahanku adalah sesuatu yang tidak wajar?”

Erin menjauhkan tangannya, lalu menundukkan kepala. “Maaf. Aku masih ingin menikmati waktuku terlebih dahulu sebelum menjadi seorang ibu. Aku bukan benar-benar tidak ingin memiliki anak, hanya butuh waktu untuk mempersiapkan diri.”

“Jika belum siap, kenapa memilih untuk menerima pernikahan kita?”

“Karena aku mencintaimu, Hansel. Aku tidak ingin Kau hidup bersama wanita lain. Kau begitu populer, sedangkan kita harus menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Ada banyak wanita yang mungkin saja akan merebutmu dariku.”

“Kalau begitu, Kau seharusnya menyetujui agar hubungan kita ditunjukkan pada mereka.”

Erin menggelengkan kepala. “Aku masih ingin bekerja sebagai Sakya Erina, bukan sebagai istri dari seorang pria kaya yang dapat melakukan apa pun.”

“Kau tahu bahwa pemikiranmu begitu egois, bukan?”

“Aku tahu. Maka dari itu, tunggulah sebentar lagi sampai aku benar-benar siap.” Erin memandang dengan penuh harapan di matanya.

Hansel mengembuskan napas panjang seraya meletakkan buku ke dalam kardus dan juga diffuser yang ada dalam pelukan istrinya ke atas meja. Entah mengapa melihat kelinci kecilnya yang tidak berdaya membuat dia tidak tega.

“Sikapmu sungguh tidak berperikemanusiaan. Tidak tahukah Kau bahwa aku sangat menanti kebahagiaan kita menjadi satu keluarga yang utuh?”

Hansel menangkup kedua pipi Erin dengan tangan lebarnya. “Tapi aku terlalu mencintaimu.” Dia langsung melumat bibir yang tadinya tercengang.

Erin yang sudah terperdaya menggenggam jubah mandi suaminya yang longgar, tidak menolak ciuman yang begitu lembut, melahap jiwanya perlahan ke dalam kenikmatan yang indah.

Erin tidak hanya pasif. Dia membalas perlakuan itu dengan yang sama. Bisa dikatakan kalau dia juga sangat rindu dengan sentuhan Hansel setelah cukup lama tidak saling memuaskan hasrat.

Ini bukan kali pertama mereka melakukan hubungan intim. Awal sekali ketika berada dalam naik turunnya hubungan asmara, mereka seperti anak muda yang sering bertengkar dan mengucapkan kata-kata manis.

Tentu saja mereka pernah melalui masa itu, di mana darah muda yang begitu rawan melakukan hal di luar batas. Beruntung bagi Erin mendapatkan pria seperti Hansel, bukan pria hidung belang yang suka bermain dengan banyak wanita, mampu menepati janji untuk menikahinya dan melindunginya.

Hansel sudah menyusupkan tangannya ke bawah gaun, singgah ke perut istrinya sebelum berlalu ke atas. Pada saat yang sama, Erin mendorong kedekatan mereka secepat mungkin.

“Hansel ... aku rasa ... kita harus ke kamar.” Erin sendiri sudah hampir tenggelam dalam kabut hasrat. Dia sulit berkata-kata, di samping tubuh yang sudah berhasil dilemahkan.

Hansel mengembuskan napas panasnya di bibir sang istri. “Hanya ada dua orang yang dapat mengakses apartemen ini. Jadi, kenapa harus malu jika kita melakukannya di sini?”

Erin menggigit bibir, menahan hasrat sekaligus menyeimbangkan logika secara bersamaan. “Kita ... tidak bisa melakukan malam pertama kita di ruang tamu.”

“Kenapa tidak? Suatu saat aku berpikir untuk melakukannya bersamamu di ruang tamu.”

“Hansel!”

Hansel tersenyum jahil dan hal itu membuat Erin semakin naik saja hasratnya. Senyuman yang selalu menawan hati dan memaksanya untuk merelakan diri tenggelam dalam mata terpejam, melanjutkan ciuman mereka yang sempat terhenti dengan gairah membara.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam sang pewaris yang tak bertopeng
8.1
Pemilik bar terkejut saat tahu kekasihnya, Lucas, yang mengaku bangkrut justru menyewa ruang VIP mewah. Melalui CCTV, ia melihat Lucas menjadikannya bahan taruhan dan hanya memanfaatkannya demi uang. Tak hanya itu, Lucas juga menghinanya miskin di depan wanita lain. Merasa dikhianati, sang pewaris asli ini pun membongkar identitas aslinya. Ia mempermalukan Lucas yang akhirnya berlutut di hadapan tumpukan uang sebagai pembalasan setimpal.
Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan
9.2
Diceraikan oleh Raka, seorang model ternama yang menganggapnya beban karier, membuat hidup Asha hancur seketika. Pernikahan mereka yang berjalan tiga tahun harus kandas begitu saja. Di tengah kepedihan mendalam, Asha dipertemukan dengan Rafael Adiwangsa. Duda kaya raya yang merupakan wali murid di tempatnya mengajar ini hadir membawa ketulusan baru. Kini, Asha yang merasa tidak lagi memiliki apa-apa harus memilih: menutup diri atau membuka hati untuk cinta sang konglomerat.
Sampul Novel Hubungan Sebatas Ranjang
8.1
Jonathan Prawira Maulana, CEO genius Maulana Grup, sangat andal berbisnis tetapi tidak paham urusan cinta. Khawatir dengan kesibukan putranya, orang tua Jo berniat menjodohkannya dengan anak rekan bisnis mereka. Jo menolak keras rencana itu. Namun, ia kini terjebak syarat sulit: harus membawa calon istri pilihannya sendiri dalam waktu satu bulan. Jika gagal, ia wajib menerima perjodohan tersebut. Mampukah Jo menemukan belahan jiwanya dalam waktu sesingkat itu?
Sampul Novel Kehidupan Malam Mendatangkan Cinta
8.2
Demi melunasi utang dan biaya medis ibunya, Maudy terpaksa mengambil pekerjaan misterius berbayar tinggi. Keputusan ini menyeretnya ke dunia malam kota Alka, tempat ia harus bertahan hidup di sebuah lokalisasi. Tak disangka, Maudy justru jatuh cinta pada seorang pria kaya yang ternyata pemilik tempat tersebut. Hubungan asmara mereka pun harus menghadapi berbagai rintangan berat yang tak terduga.
Sampul Novel On CEO's Bed
8.6
Alyssa nekat mendatangi kediaman Assa Zachary demi menghindari kejaran penagih utang sang ayah. Ia membawa surat wasiat, berharap sang miliarder mau membereskan masalah keuangan keluarganya. Namun, harapannya hancur saat ia justru dikurung di dalam rumah megah tersebut. Kini, Alyssa harus bertahan di tengah ketidakpastian janji Assa. Mampukah ia lolos, atau justru akan terseret semakin dalam ke dalam kehidupan penuh rahasia gelap milik pria itu?
Sampul Novel Pengantin Pengganti Tuan Muda Gila
9.5
Yura terpaksa menggantikan posisi Mina yang kabur demi menyelamatkan keluarga angkatnya dari kehancuran finansial. Ia pun harus menikah dengan Ataya Wijaya, Tuan Muda yang selama ini ia rawat secara sembunyi-sembunyi. Menariknya, hanya pelukan hangat serta ASI dari Yura yang sanggup meredakan penyakit mental Ataya saat sedang kambuh. Kini, Yura terjebak dalam kehidupan pernikahan yang misterius bersama pria yang sangat bergantung penuh pada dirinya.