APKDock Logo
Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan

Dicerai Suami, Dipinang Sultan

9.2 / 10.0
Diceraikan oleh Raka, seorang model ternama yang menganggapnya beban karier, membuat hidup Asha hancur seketika. Pernikahan mereka yang berjalan tiga tahun harus kandas begitu saja. Di tengah kepedihan mendalam, Asha dipertemukan dengan Rafael Adiwangsa. Duda kaya raya yang merupakan wali murid di tempatnya mengajar ini hadir membawa ketulusan baru. Kini, Asha yang merasa tidak lagi memiliki apa-apa harus memilih: menutup diri atau membuka hati untuk cinta sang konglomerat.

Dicerai Suami, Dipinang Sultan Bab 1

Hujan deras mengguyur kota, membungkusnya dalam suasana sendu yang menggema hingga ke dalam hati Asha. Di dalam apartemen kecilnya yang baru saja disewa, Asha duduk memandangi kertas gugatan cerai yang tergeletak di atas meja. Tinta hitam di atas kertas putih itu terasa seperti luka yang baru saja ditorehkan di hatinya, menganga dan pedih.

Tiga tahun... Hanya tiga tahun, dan segalanya hancur begitu saja.

Bayangan wajah Raka, pria yang pernah ia cintai dengan segenap hatinya, terus membayangi pikirannya. Kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan Asha terngiang-ngiang, menembus lebih tajam daripada hujan yang menampar kaca jendela.

"Aku menikahimu hanya karena dorongan sesaat, bukan karena cinta. Aku bosan dengan semua ini, Asha. Kamu hanya menghalangiku. Kehadiranmu di hidupku seperti rantai yang menahan kebebasanku. Pergi dari hidupku, dan jangan kembali."

Suaranya yang dingin, seperti pisau, terus-menerus mengiris hatinya. Kata-kata itu bukan hanya menghancurkan hatinya, tetapi juga meluluhlantakkan rasa percaya diri yang telah ia bangun dengan susah payah. Asha menelan ludah, mencoba mengusir perasaan sakit itu, tapi semakin ia melawan, kenangan tentang Raka semakin menyeruak.

Ia mengingat bagaimana awalnya Raka datang ke dalam hidupnya, dengan senyum yang penuh pesona dan janji-janji manis yang seolah menggantungkan bintang di langit. Asha, yang saat itu hanyalah seorang guru taman kanak-kanak sederhana, merasa seperti gadis paling beruntung di dunia ketika seorang pria tampan sekaligus model terkenal seperti Raka jatuh cinta padanya.

"Raka, apa kamu yakin mau menikah dengan aku?" tanya Asha dengan ragu di malam ketika Raka melamarnya.

Raka tersenyum, menggenggam tangannya dengan lembut. "Asha, aku nggak pernah seteguh ini mencintai seseorang. Kamu adalah rumah yang aku cari selama ini."

Dan Asha percaya. Ia percaya pada setiap kata yang keluar dari mulut Raka, percaya pada tatapan hangatnya, percaya pada pelukannya yang membuatnya merasa aman. Tapi ternyata, semua itu hanyalah ilusi. Pernikahan mereka ternyata hanyalah perangkap, di mana Asha menjadi pion kecil dalam ambisi besar Raka.

Hari-hari setelah menikah adalah hari-hari penuh perjuangan bagi Asha. Raka, yang sibuk mengejar mimpinya sebagai model papan atas, jarang pulang. Jika pun ia pulang, mereka hanya berbicara sebentar sebelum Raka tenggelam dalam dunianya sendiri.

"Asha, tolong jangan ganggu aku, ya. Aku capek," katanya setiap kali Asha mencoba berbicara tentang harapan atau impiannya untuk masa depan mereka.

Asha diam, menelan kekecewaannya. Ia pikir, jika ia sabar dan terus mendukung Raka, semuanya akan berubah. Tapi ternyata ia salah. Kesenjangan di antara mereka semakin melebar, dan cinta yang dulu ia pikir nyata kini terasa seperti bayangan yang samar.

Puncaknya adalah malam itu, ketika Raka pulang dengan wajah dingin, membawa koper besar.

"Asha, aku ingin kita bercerai," katanya tanpa basa-basi.

Asha menatapnya tak percaya. "Apa maksudmu, Raka? Kenapa tiba-tiba?"

"Bukan tiba-tiba, Asha. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku hanya... Aku nggak bisa lagi. Kamu bukan orang yang aku butuhkan. Kehadiranmu cuma jadi penghalang untuk karierku. Aku nggak mau hidupku terjebak dalam rutinitas rumah tangga ini."

Asha menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai mengalir. "Penghalang? Aku selalu mendukungmu, Raka. Aku selalu ada untukmu, bahkan saat kamu sibuk dan mengabaikanku. Kenapa kamu tega bilang aku penghalang?"

Raka mendengus, tatapannya penuh kejengkelan. "Karena itu kenyataannya. Aku nggak pernah mencintaimu, Asha. Aku menikahimu hanya karena dorongan sesaat. Dan sekarang aku sadar, aku nggak butuh kamu."

Kalimat itu seperti pukulan telak yang menghantam dada Asha. Napasnya tersengal-sengal, tapi ia menahan diri untuk tidak terjatuh di depan Raka. "Kalau memang itu yang kamu mau..." katanya akhirnya, suaranya bergetar. "Aku akan pergi."

Malam itu, Asha mengemasi barang-barangnya, meninggalkan rumah yang pernah ia huni bersama Raka. Ia tidak menoleh ke belakang, meskipun hatinya terasa seperti hancur berkeping-keping.

Kini, duduk di apartemennya yang kecil, Asha berusaha mengumpulkan kembali serpihan-serpihan hidupnya. Tapi luka itu masih terlalu baru, terlalu menyakitkan. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. Apa aku benar-benar tidak layak dicintai? tanyanya dalam hati.

Hujan di luar semakin deras, seolah turut menangisi kesedihannya. Asha memejamkan mata, membiarkan air mata itu mengalir tanpa henti. Ia tidak tahu bagaimana caranya bangkit, bagaimana caranya melanjutkan hidup. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa terus seperti ini.

Di saat itulah, tanpa ia sadari, hidupnya akan berubah. Dan perubahan itu akan datang dari seseorang yang sama sekali tidak ia duga.**Bab 1: Perpisahan yang Membekas**

Hujan deras mengguyur kota, membungkusnya dalam suasana sendu yang menggema hingga ke dalam hati Asha. Di dalam apartemen kecilnya yang baru saja disewa, Asha duduk memandangi kertas gugatan cerai yang tergeletak di atas meja. Tinta hitam di atas kertas putih itu terasa seperti luka yang baru saja ditorehkan di hatinya, menganga dan pedih.

*Tiga tahun... Hanya tiga tahun, dan segalanya hancur begitu saja.*

Bayangan wajah Raka, pria yang pernah ia cintai dengan segenap hatinya, terus membayangi pikirannya. Kata-kata terakhirnya sebelum meninggalkan Asha terngiang-ngiang, menembus lebih tajam daripada hujan yang menampar kaca jendela.

"Aku menikahimu hanya karena dorongan sesaat, bukan karena cinta. Aku bosan dengan semua ini, Asha. Kamu hanya menghalangiku. Kehadiranmu di hidupku seperti rantai yang menahan kebebasanku. Pergi dari hidupku, dan jangan kembali."

Suaranya yang dingin, seperti pisau, terus-menerus mengiris hatinya. Kata-kata itu bukan hanya menghancurkan hatinya, tetapi juga meluluhlantakkan rasa percaya diri yang telah ia bangun dengan susah payah. Asha menelan ludah, mencoba mengusir perasaan sakit itu, tapi semakin ia melawan, kenangan tentang Raka semakin menyeruak.

Ia mengingat bagaimana awalnya Raka datang ke dalam hidupnya, dengan senyum yang penuh pesona dan janji-janji manis yang seolah menggantungkan bintang di langit. Asha, yang saat itu hanyalah seorang guru taman kanak-kanak sederhana, merasa seperti gadis paling beruntung di dunia ketika seorang pria tampan sekaligus model terkenal seperti Raka jatuh cinta padanya.

"Raka, apa kamu yakin mau menikah dengan aku?" tanya Asha dengan ragu di malam ketika Raka melamarnya.

Raka tersenyum, menggenggam tangannya dengan lembut. "Asha, aku nggak pernah seteguh ini mencintai seseorang. Kamu adalah rumah yang aku cari selama ini."

Dan Asha percaya. Ia percaya pada setiap kata yang keluar dari mulut Raka, percaya pada tatapan hangatnya, percaya pada pelukannya yang membuatnya merasa aman. Tapi ternyata, semua itu hanyalah ilusi. Pernikahan mereka ternyata hanyalah perangkap, di mana Asha menjadi pion kecil dalam ambisi besar Raka.

Hari-hari setelah menikah adalah hari-hari penuh perjuangan bagi Asha. Raka, yang sibuk mengejar mimpinya sebagai model papan atas, jarang pulang. Jika pun ia pulang, mereka hanya berbicara sebentar sebelum Raka tenggelam dalam dunianya sendiri.

"Asha, tolong jangan ganggu aku, ya. Aku capek," katanya setiap kali Asha mencoba berbicara tentang harapan atau impiannya untuk masa depan mereka.

Asha diam, menelan kekecewaannya. Ia pikir, jika ia sabar dan terus mendukung Raka, semuanya akan berubah. Tapi ternyata ia salah. Kesenjangan di antara mereka semakin melebar, dan cinta yang dulu ia pikir nyata kini terasa seperti bayangan yang samar.

Puncaknya adalah malam itu, ketika Raka pulang dengan wajah dingin, membawa koper besar.

"Asha, aku ingin kita bercerai," katanya tanpa basa-basi.

Asha menatapnya tak percaya. "Apa maksudmu, Raka? Kenapa tiba-tiba?"

"Bukan tiba-tiba, Asha. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku hanya... Aku nggak bisa lagi. Kamu bukan orang yang aku butuhkan. Kehadiranmu cuma jadi penghalang untuk karierku. Aku nggak mau hidupku terjebak dalam rutinitas rumah tangga ini."

Asha menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai mengalir. "Penghalang? Aku selalu mendukungmu, Raka. Aku selalu ada untukmu, bahkan saat kamu sibuk dan mengabaikanku. Kenapa kamu tega bilang aku penghalang?"

Raka mendengus, tatapannya penuh kejengkelan. "Karena itu kenyataannya. Aku nggak pernah mencintaimu, Asha. Aku menikahimu hanya karena dorongan sesaat. Dan sekarang aku sadar, aku nggak butuh kamu."

Kalimat itu seperti pukulan telak yang menghantam dada Asha. Napasnya tersengal-sengal, tapi ia menahan diri untuk tidak terjatuh di depan Raka. "Kalau memang itu yang kamu mau..." katanya akhirnya, suaranya bergetar. "Aku akan pergi."

Malam itu, Asha mengemasi barang-barangnya, meninggalkan rumah yang pernah ia huni bersama Raka. Ia tidak menoleh ke belakang, meskipun hatinya terasa seperti hancur berkeping-keping.

Kini, duduk di apartemennya yang kecil, Asha berusaha mengumpulkan kembali serpihan-serpihan hidupnya. Tapi luka itu masih terlalu baru, terlalu menyakitkan. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. *Apa aku benar-benar tidak layak dicintai?* tanyanya dalam hati.

Hujan di luar semakin deras, seolah turut menangisi kesedihannya. Asha memejamkan mata, membiarkan air mata itu mengalir tanpa henti. Ia tidak tahu bagaimana caranya bangkit, bagaimana caranya melanjutkan hidup. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa terus seperti ini.

Di saat itulah, tanpa ia sadari, hidupnya akan berubah. Dan perubahan itu akan datang dari seseorang yang sama sekali tidak ia duga.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dicerai Suami, Dipinang Sultan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Dalam Keheningan
9.3
Aria menjalani kehidupan yang sunyi sebagai seorang tunawicara yang terabaikan sejak lahir. Takdir membawanya menjadi nyonya di Keluarga Kurnia secara tidak sengaja, meski ia sadar sang suami, Ian, tidak pernah menaruh hati padanya. Situasi kian pelik ketika Letty, cinta pertama Ian, kembali dari luar negeri dan kembali dekat dengan suaminya. Menyadari posisinya yang kian tergeser, Aria memilih menyembunyikan kabar kehamilannya dan bersiap untuk mundur dari pernikahan tanpa cinta tersebut.
Sampul Novel Cinta Yang Suci
8.9
Harga diri Corinna hancur akibat ucapan kejam Brenden. Lelah memendam kepedihan yang mendalam selama bertahun-tahun, ia akhirnya memilih menyerah dan berharap takdir tak pernah mempertemukan mereka. Hubungan keduanya pun terputus sepenuhnya. Namun, setelah Corinna pergi, Brenden justru dirundung penyesalan luar biasa. Ia kini menderita insomnia dan merindukan kehangatan wanita yang dulu disia-siakannya, baru menyadari arti kehilangan.
Sampul Novel Menikah dengan Cinta Pertama
8.0
Saat menghadiri reuni bersama James, pertanyaan tentang pernikahan mengungkap keretakan hubungan delapan tahun kami. Di hadapan teman-teman, James mengaku belum memikirkannya, sementara aku dengan tegas menyebutkan tanggal sebelas sebagai hari pernikahanku. Sikapku membuat James marah karena selama ini dia selalu menunda komitmen demi menyembunyikan perselingkuhannya dengan wanita yang lebih muda. Namun, kemarahannya sia-sia karena pria yang akan kunikahi nanti bukanlah dirinya.
Sampul Novel Perpisahan yang Kutandatangani
8.2
Setelah sebelas tahun bersama Petro, Yasmin mendapati suaminya berselingkuh selama tiga tahun dengan gadis yang lebih muda dan memiliki kemiripan wajah hingga enam puluh persen dengannya. Penderitaan Yasmin memuncak ketika putranya, Haris, menyodorkan surat pemutusan hubungan dan menuduhnya merusak kebahagiaan keluarga. Dengan hati yang hancur, Yasmin akhirnya menandatangani kesepakatan cerai dan memutuskan untuk memutus semua ikatan dengan suami serta anaknya.
Sampul Novel Sweet Divorce
9.3
Pravara Pranatha tak pernah mencintai Pandu Laksamana selama lima tahun pernikahan mereka, dan ia yakin suaminya pun demikian. Namun, saat ibu mertuanya meminta mereka bercerai, Pandu justru menolak keras. Prava sangat terkejut ketika suaminya tiba-tiba mengajak memperbaiki hubungan yang retak. Di tengah rasa muak yang mendalam, Prava mempertanyakan motif di balik perubahan sikap Pandu yang mendadak setelah sekian lama mengabaikan dirinya.
Sampul Novel Terpenjara Cinta Sang CEO Kejam
8.4
Demi membalas dendam masa lalu, Morgan menculik Vallen dan menyiksanya secara fisik maupun mental. Vallen terpaksa menjadi tawanan pelampiasan hasrat pria itu, tanpa pernah tahu siapa sebenarnya sosok Morgan di masa lalunya. Di balik kebencian akibat salah paham ini, benih cinta Morgan rupanya belum sepenuhnya padam. Akankah penderitaan tragis ini menghancurkan mereka, atau justru menumbuhkan kembali cinta di hati keduanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan