APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

Pernikahan paksa akibat perjodohan membuat Elara dan Kiano saling membenci hingga memutuskan bercerai. Namun, takdir mempertemukan mereka lagi dalam satu proyek kerja setelah lima tahun berpisah. Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan sindiran masa lalu, mereka perlahan menyadari ketulusan yang dahulu tak terlihat. Rasa cinta pun mulai tumbuh di antara sisa amarah. Kini, mereka harus memilih antara membuka hati kembali atau terperangkap dalam luka lama.
Bab
Bagikan

Bab 3

Elara menatap layar komputer di kantornya, jari-jarinya mengetuk meja ritmis, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus pada pekerjaan. Teleponnya berdering sebentar, menampilkan nama Kiano di layar. Ia menahan napas, lalu menekan tombol angkat.

"Ya?" suaranya terdengar lebih tegas dari biasanya.

"Kamu sibuk?" suara Kiano terdengar lembut, bukan dingin seperti dulu. Ada nada ringan yang membuat Elara sedikit terkejut.

"Tidak terlalu. Ada apa?"

"Ada undangan untuk menghadiri konferensi startup besok. Aku rasa kita perlu menghadirinya bersama, untuk klien."

Elara menghela napas panjang. Undangan itu sebenarnya hal kecil, tapi kata "bersama" membuat hatinya bergetar. "Baiklah... aku ikut. Tapi jangan harap aku duduk diam di sampingmu dan tersenyum manis sepanjang waktu."

Kiano tertawa ringan, terdengar hangat dan tulus. "Aku tidak mengharapkan itu."

Keesokan harinya, mereka tiba di lokasi konferensi. Gedung futuristik itu dipenuhi orang-orang berbaju formal dan teknologi mutakhir. Elara menatap kerumunan itu, merasakan energi berbeda dari kantor yang monoton.

Kiano berjalan di sampingnya, menatapnya sekilas. "Aku suka caramu mengamati semua ini. Kamu selalu melihat detail yang orang lain lewatkan."

Elara tersenyum tipis, sedikit terkejut. "Kamu juga selalu memperhatikan hal-hal yang aku lewatkan. Jadi, kita saling melengkapi, ya?"

Kiano menatapnya dengan mata yang dalam, lalu tersenyum tipis. "Sepertinya begitu."

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Saat mereka berjalan memasuki aula konferensi, seorang pria muda menabrak Elara secara tidak sengaja, membuat dokumen pentingnya berserakan.

"Maaf, saya tidak sengaja," kata pria itu, tergesa-gesa membungkuk.

Elara menatapnya dengan mata tajam, tapi sebelum ia bisa marah, Kiano menatap pria itu dengan dingin. "Pastikan ini tidak terjadi lagi."

Pria itu tersentak, menunduk cepat, dan pergi. Elara menoleh ke Kiano, merasa campuran emosi-sebagian lega, sebagian... aneh. "Kamu tidak perlu begitu keras padanya."

Kiano menatapnya, serius. "Kalau ini menyangkutmu, aku tidak akan membiarkan hal sepele menjadi masalah."

Hatinya berdegup lebih cepat, tapi Elara menahan diri untuk tidak mengakuinya. Lima tahun kebencian membuatnya selalu waspada. Namun kali ini, rasa aman yang aneh mengalir di hatinya.

Di dalam konferensi, mereka harus mempresentasikan strategi pemasaran mereka untuk klien potensial. Namun, jadwal berubah secara tiba-tiba; mereka harus bergabung dengan sesi panel tentang inovasi teknologi.

Elara menatap Kiano, panik. "Panel ini bukan bagian dari rencana kita. Aku belum menyiapkan materi apa pun!"

Kiano tersenyum, tenang seperti biasa. "Kamu cukup fokus pada inti ide kita. Aku akan mengisi sisanya."

Mereka naik ke panggung, duduk berdampingan di antara panelis lain. Mata semua orang tertuju pada mereka. Elara merasakan tekanan, tapi ada kepercayaan yang tumbuh di hatinya. Ia menatap Kiano dan melihat ketenangan yang menular.

Saat sesi dimulai, pertanyaan pertama diajukan kepada Elara. Ia tersentak sebentar, lalu menatap Kiano. Satu kedipan mata darinya, dan Elara menemukan kata-kata yang tepat. Jawabannya lugas, penuh percaya diri, dan mendapatkan tepuk tangan ringan dari audiens.

Kiano tersenyum tipis, bangga. Saat giliran dia berbicara, ia menambahkan perspektif yang melengkapi Elara. Kerja sama mereka di panggung terasa natural, bukan lagi dipaksakan. Beberapa peserta konferensi saling bertukar pandang, menyadari chemistry baru yang muncul di antara mereka.

Usai konferensi, mereka berjalan di koridor luar gedung, menatap kota yang berkilau di bawah lampu jalan.

"Kita terlihat hebat di atas panggung," kata Elara, nada suaranya ringan, hampir bercanda. "Tapi aku tidak yakin aku suka sorotan itu."

Kiano menatapnya, mencondongkan tubuh sedikit. "Aku tahu. Tapi aku rasa kita bisa melakukannya, selama kita bersama."

Elara menatapnya, jantungnya berdegup lebih cepat. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa berat dan tulus. Ia menatap kota di bawah kaki mereka, mencoba menenangkan diri.

"Mungkin... aku mulai merasa nyaman," gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Kiano.

Kiano menoleh, menatapnya penuh arti. "Aku juga."

Mereka diam beberapa saat, menikmati momen yang jarang terjadi: sunyi, tenang, tapi penuh emosi yang baru saja muncul.

Beberapa hari kemudian, proyek kantor kembali memanggil mereka. Kali ini, masalah lebih kompleks: seorang klien menuntut laporan lengkap yang harus diserahkan dalam tiga hari, sementara data yang diberikan tim internal tidak lengkap.

Elara menatap Kiano, frustasi. "Kita tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu kalau data ini tidak lengkap. Aku tidak tahu harus mulai dari mana."

Kiano mencondongkan tubuh, menatap layar laptopnya. "Kita harus menyusun ulang strategi. Fokus pada yang bisa kita kontrol dulu. Aku bantu kamu menata semua angka ini."

Selama tiga hari, mereka bekerja tanpa henti. Lembur hingga malam, makan seadanya di kantor, saling menutupi kelemahan, saling memotivasi. Momen-momen itu berbeda dari lima tahun lalu. Tidak ada sindiran pedas, tidak ada pertengkaran sengit. Hanya kerja sama, ketegangan, dan rasa ingin saling memahami yang perlahan muncul.

Suatu malam, saat mereka menyiapkan laporan terakhir, listrik mati secara tiba-tiba di kantor. Kegelapan menyelimuti ruangan, hanya cahaya laptop yang tersisa.

Elara menatap layar, panik. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Kiano menatapnya, tersenyum tipis. "Tenang. Kita bisa pakai cahaya dari ponsel dan menuntaskan ini bersama."

Mereka saling berbagi cahaya ponsel, bekerja berdampingan di kegelapan. Dalam momen itu, Elara menyadari sesuatu: Kiano bukan lagi pria yang dingin dan menakutkan. Ia bisa menjadi pendukung, pelindung, dan... seseorang yang membuatnya merasa aman.

Hari berikutnya, laporan selesai dan klien puas. Suasana kantor ringan dan penuh tawa. Elara dan Kiano duduk di luar gedung, menikmati kopi sore, menatap matahari yang mulai tenggelam.

"Rasanya aneh," kata Elara, menatap Kiano. "Lima tahun lalu, kita tidak bisa duduk seperti ini tanpa bertengkar."

Kiano menatapnya, serius. "Kita berubah. Kita belajar dari masa lalu. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama."

Elara menunduk, merasakan campuran lega dan gugup. "Aku juga. Tapi... aku takut."

Kiano menatapnya, mengulurkan tangan. "Kalau begitu, kita hadapi bersama. Tanpa drama, tanpa topeng. Aku ingin mencoba, sekali lagi. Tapi kali ini... sungguh-sungguh."

Elara menatap tangan itu, panas dan menenangkan sekaligus. Ia menggenggamnya erat. Dan untuk pertama kalinya, mereka berdua tahu: masa lalu bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang baru.

Elara menatap jendela apartemennya, hujan tipis menyelimuti kota Jakarta. Suasana senja membuat lampu jalan memantulkan bayangan panjang di lantai ruang tamu. Ia duduk dengan secangkir teh hangat di tangannya, tetapi pikirannya berkecamuk. Lima tahun lalu, ia dan Kiano hanyalah dua orang yang saling membenci. Lima tahun kemudian, mereka kembali bertemu, dan sesuatu yang tak terduga mulai tumbuh di antara mereka.

Namun, hidup tidak pernah sesederhana itu. Kali ini, tantangan datang dari luar: keluarga Elara yang tak sepenuhnya menerima perubahan hubungannya dengan Kiano, dan tekanan pekerjaan yang semakin kompleks.

Pagi itu, Elara menerima telepon dari ibunya.

“Elara, aku dengar kamu sering bekerja dengan Kiano. Apa maksudnya ini?” suara ibu terdengar tegas, hampir menuntut jawaban.

Elara menahan napas. “Ibu, aku sudah dewasa. Aku bisa bekerja profesional. Ini soal proyek, bukan soal masa lalu.”

“Proyek atau tidak, aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan dia,” sahut ibu. Nada suaranya jelas menunjukkan kekhawatiran. “Lima tahun bukan waktu yang sebentar, Elara. Aku hanya ingin kamu hati-hati.”

Elara menutup telepon, jantungnya berdegup kencang. Perasaan campur aduk muncul—antara marah, kesal, tapi juga sedikit lega karena ibunya peduli. Ia menatap teh di tangannya, lalu berbisik, “Aku harus kuat. Aku tidak bisa membiarkan masa lalu menentukan masa depanku lagi.”

Di kantor, Kiano sudah menunggu. Ia menatap Elara saat ia masuk ke ruang meeting. Ada kilatan tanya di matanya, seakan membaca suasana hatinya.

“Elara, kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Elara menepuk pundaknya sendiri, berusaha tersenyum. “Ya, aku baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Namun, Kiano tidak mudah dibohongi. Ia melihat kesedihan samar di matanya, meskipun Elara berusaha menutupinya. “Kalau kamu ingin bicara, aku bisa mendengarkan,” katanya lembut.

Elara menatapnya, rasa hangat aneh menjalar di dadanya. Ia tersenyum tipis. “Terima kasih, Kiano. Tapi… aku harus fokus pada proyek hari ini.”

Hari itu, tim mereka mendapat tantangan baru: presentasi mendadak untuk calon klien yang ingin mengubah strategi digital mereka. Waktu terbatas, data tidak lengkap, dan anggota tim sedikit panik.

“Kita harus bisa mengatasi ini,” kata Elara, menatap semua anggota tim. “Kita harus membuat strategi yang jelas dan inovatif, meskipun dengan waktu terbatas.”

Kiano mengangguk, menatapnya dengan mata serius. “Aku akan bantu kamu. Kita bisa bagi tugas. Kamu fokus pada ide kreatif, aku fokus pada analisis data.”

Mereka mulai bekerja, mengatur semua angka, grafik, dan materi presentasi. Meskipun suasana tegang, ada kehangatan samar di antara mereka—sebuah rasa saling percaya yang mulai tumbuh.

Selama jam-jam kerja, mereka saling bertukar pandangan, sesekali tersenyum, sesekali menegur dengan nada lembut. Tidak ada kata-kata tajam, tidak ada perselisihan lama. Hanya kerja sama yang tulus dan rasa ingin saling memahami.

Malamnya, Elara memutuskan untuk pulang lebih awal. Hujan turun deras, dan jalanan macet parah. Saat ia hampir putus asa, Kiano muncul di luar gedung, mobilnya menyala, menunggu.

“Naik saja,” katanya singkat. “Aku antar pulang.”

Elara menatapnya, jantungnya berdebar. Ia ragu sejenak, tetapi kemudian naik ke mobil. Dalam perjalanan, keduanya hanya diam, mendengarkan hujan yang memukul atap mobil.

Kiano akhirnya memecah keheningan. “Aku tahu ini tidak mudah untukmu… dengan keluargamu.”

Elara menunduk. “Mereka… mereka sulit menerima perubahan. Aku takut mereka tidak bisa memahami hubungan kita sekarang.”

Kiano menatapnya, serius. “Kita akan hadapi ini bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Rasa hangat merambat ke dada Elara. Ia tersenyum tipis, sedikit lega. Ia mulai menyadari bahwa Kiano bukan hanya rekan kerja—ia bisa menjadi pendukung, pelindung, dan seseorang yang benar-benar peduli padanya.

Beberapa hari kemudian, masalah lain muncul: seorang klien penting menolak strategi mereka dan meminta pertemuan mendadak di luar kota. Elara dan Kiano harus menyiapkan presentasi dalam waktu 24 jam dan melakukan perjalanan cepat ke Bandung.

Di kereta, suasana canggung tapi penuh ketegangan muncul. Mereka duduk berdampingan, menatap laptop dan tablet mereka. Elara mencoba fokus, tapi Kiano terus memperhatikannya.

“Ada sesuatu yang salah?” tanya Kiano tiba-tiba.

Elara menoleh, terkejut. “Apa maksudmu?”

“Kamu terlihat gelisah. Aku tahu kamu menyembunyikannya, tapi aku bisa merasakannya.”

Elara menelan ludah. “Aku… aku hanya lelah. Ini perjalanan cepat, dan tugasnya menumpuk.”

Kiano menatapnya lebih lama, lalu tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita hadapi bersama. Jangan bebani dirimu sendiri.”

Hatinya berdegup cepat. Kata-kata itu sederhana, tapi menyentuh sesuatu yang dalam. Ia mulai menyadari: Kiano bukan lagi pria dingin dan menakutkan. Ia bisa menjadi pelindung, pendukung, dan… lebih dari sekadar itu.

Di Bandung, mereka bekerja tanpa henti. Presentasi harus sempurna, data harus jelas, strategi harus inovatif. Suasana menegangkan, tapi ada hal lain yang muncul: kekompakan.

Kiano dan Elara menemukan ritme baru. Mereka saling melengkapi, saling mendukung, saling menutupi kelemahan masing-masing. Tidak ada lagi kata-kata menyakitkan, tidak ada lagi pertengkaran sengit. Hanya kerja sama dan rasa percaya yang tumbuh perlahan.

Suatu malam, setelah rapat selesai, mereka berjalan menyusuri tepi sungai yang tenang. Lampu jalan memantul di air, menciptakan bayangan yang indah.

“Kau tahu,” kata Kiano, menatap air yang berkilau, “aku tidak pernah menyangka kita bisa sampai pada titik ini. Dari kebencian… menjadi kerja sama, bahkan kepercayaan.”

Elara menunduk, merasakan campuran lega dan gugup. “Aku juga. Tapi… aku takut. Takut kalau ini hanya sementara, atau kalau kita terluka lagi.”

Kiano menatapnya, mengulurkan tangan. “Kalau begitu, kita hadapi bersama. Tanpa topeng, tanpa drama. Aku ingin mencoba… sungguh-sungguh.”

Elara menatap tangan itu, panas dan menenangkan sekaligus. Ia menggenggamnya erat. Dan untuk pertama kalinya, mereka berdua tahu: masa lalu bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang baru.

Hari berikutnya, mereka kembali ke Jakarta, membawa kemenangan besar: klien puas, proyek sukses, dan tim merasa lebih solid. Namun, tantangan baru muncul: rumor tentang kedekatan mereka mulai terdengar di kantor. Beberapa rekan mulai berspekulasi, beberapa menatap mereka dengan heran.

Elara menatap Kiano saat mereka berjalan ke lift. “Rumor… aku tidak ingin ini mempengaruhi pekerjaan kita.”

Kiano menatapnya, mata penuh keyakinan. “Aku juga tidak. Kita tetap profesional, tapi kita tidak bisa menyembunyikan diri dari kenyataan. Perasaan kita… sudah berbeda sekarang.”

Elara menelan ludah, jantungnya berdegup cepat. Ia tahu, benih cinta yang muncul dari reruntuhan masa lalu kini semakin nyata. Ia menatap Kiano, tersenyum tipis, dan merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya: kepercayaan, ketenangan, dan… harapan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadisku UniQue
9.5
Uni merintih kesakitan saat Ares mencoba memasukkan sesuatu secara hati-hati. Meski diminta perlahan, rasa sakit membuat Uni membentak Ares dalam situasi panik. Ares lalu mengajak Uni ke kamar mandi agar lebih mudah. Di luar ruangan, Deris tidak sengaja mendengar percakapan ambigu tersebut hingga merasa sangat terkejut dan tidak percaya. Kesalahpahaman pun akhirnya muncul akibat interaksi penuh ketegangan ini.
Sampul Novel Hasrat di Depan Kemudi
9.3
Hasrat di Depan Kemudi mengisahkan seorang instruktur setir mobil di dekat area kampus yang harus mengajar seorang mahasiswi baru yang polos namun berani berpakaian terbuka. Saat sesi latihan, sang mahasiswi sengaja meminta duduk di pangkuannya demi mendapat bimbingan langsung secara dekat. Meski sang instruktur berusaha keras mengabaikan setiap sentuhan halus demi menjaga profesionalisme, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kopling dilepas terlalu cepat hingga mobil mati mendadak dan terguncang hebat, membuat tubuh sang mahasiswi jatuh tepat di atas pangkuannya dalam posisi yang sangat intim.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, pemuda berparas menawan, memperoleh peluang emas untuk hidup kembali demi membalas dendam atas kematian orang tuanya. Terlempar ke tahun 2001, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan di masa lalu tersebut. Dengan strategi cerdik, Hades mulai mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas waktu ini menjadi langkah awal baginya untuk mengubah takdir sekaligus menuntut keadilan atas masa lalunya.
Sampul Novel Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid
9.4
Kehamilan tak terduga akibat cinta satu malam menghancurkan hidup Rossa. Di tengah keputusasaan, ia terpaksa menjalani pernikahan bisnis dengan tunangan masa kecilnya. Walau awalnya terasa hambar, cinta mulai tumbuh di hati Rossa. Tragisnya, menjelang persalinan, ia justru didepak dengan surat cerai. Rossa pun memilih pergi. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, sang mantan suami memohon kesempat kedua. Akankah Rossa mau memaafkan?
Sampul Novel Kecelakaan dan Penyesalan
8.4
Pasca-kecelakaan mobil bersama adiknya, sang protagonis mengalami luka fatal berupa robekan pada jantung yang membutuhkan bedah darurat. Ironisnya, sang ibu yang menjabat sebagai direktur rumah sakit justru mengerahkan seluruh tim medis demi memeriksa goresan kecil pada tubuh sang adik. Meski telah memohon pertolongan, ia malah dituduh mencari perhatian di tengah situasi kritis tersebut. Tanpa penanganan medis yang semestinya, ia mengembuskan napas terakhir dalam kesendirian yang tragis.
Sampul Novel Petualangan Gairah Kenikmatan
8.0
Akibat sebuah kejadian tidak terduga, Randy dan Ririn terjatuh hingga tubuh mereka saling berhimpitan sangat dekat. Dalam posisi intim tersebut, Randy dapat merasakan embusan napas dan detak jantung Ririn yang kian cepat. Sentuhan fisik itu seketika menyulut gairah membara yang sulit dikendalikan oleh keduanya. Di tengah ketegangan asmara yang kian memuncak, Ririn akhirnya terbawa suasana dan meminta Randy untuk segera menyatukan perasaan cinta mereka.