APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Om Kos

Om Kos

Kehidupan Mariska di Surabaya runtuh setelah memergoki kekasihnya berselingkuh dan kehilangan tempat tinggal. Di masa sulit ini, ia pindah ke kos milik Ares, pemuda rupawan yang secara mengejutkan melamarnya. Namun, kehadiran Ares justru memicu ingatan kelam tentang tragedi masa lalu keluarga Mariska. Di tengah keunikan para penghuni kos lain, Mariska berjuang bertahan hidup, sementara Ares perlahan menyadari bahwa perempuan itu adalah cinta masa kecilnya yang sempat hilang.
Bab
Bagikan

Bab 2

❤MARISKA'S POV❤

Tanpa sadar kulajukan motor ke arah rumah besar dengan halaman luas di pertigaan. Aku menghentikan motorku di depan pintu gerbang rumah berpagar hitam tersebut.

Semoga saja aku bisa diterima untuk tinggal di sini walaupun cuma untuk sementara, karena aku nggak yakin bisa bayar biaya kos di rumah semewah ini.

Belum juga aku mematikan mesin motorku, ketika Sebuah Honda Jazz berwarna silver melaju cepat ke arahku. Sinar lampu depannya menyorot dan menyilaukan mataku.

Kupejamkan mataku ...

Mungkin ini akhir hidupku ...

Tragis sekali nasipku ...

Aku akan jadi headline di koran murahan besok pagi, judulnya 'SEORANG GADIS DAN KUCINGNYA MATI TERTABRAK SETELAH DIUSIR OLEH IBU KOSNYA YANG KEJAM'.

Gak keren, sumpah.

Klakson mobil berbunyi, dan kubuka mataku. Mobil itu berhenti cuma 20cm di depan motorku.

Aku menghela napas. At least aku nggak mati.

Kaca film di pintu sopir bergerak turun, membuka. Seorang perempuan cantik berambut pirang lurus sebahu melongokkan kepalanya.

"Mundur dikit, Mbak! Aku mau masuk!" teriaknya di sela alunan musik RnB yang disetel cukup keras di dalam mobilnya.

'Oh, dia salah satu penghuni di rumah ini?' tanyaku dalam hati.

"Woi, Mbak?!" teriaknya lagi.

"Oh, maaf!" jawabku sambil memundurkan motorku. Entah dia dengar atau nggak.

Dia turun untuk membuka pintu pagar, si cantik ini wangiii sekali. Pakaian yang dia kenakan pun sangat seksi. Cropped top warna putih dengan kerah rendah yang menampilkan G-string bralette hitam di dalamnya, menunjukkan belahan dada dan perutnya yang sempurna, dipadukan dengan hotpants kulit ketat berwarna hitam yang aku sangat ragu bisa dikenakan bersamaan dengan dalaman dilapisi dengan fish net stocking yang mengaksentuasikan sepasang kaki jenjang dan putih mulusnya. Dia melengkapi penampilannya dengan sltiletto berwarna silver. Dia gak kelihatan terganggu sama sekali dengan rintik hujan yang membasahi rambut dan tubuhnya.

Setelah membuka gerbang pagar, dia balik badan untuk masuk kembali ke mobil, tapi berhenti saat melihatku. "Mbak cari siapa?" tanyanya.

Aku menggelengkan kepala. "Saya cari kosan," jawabku.

Dia memicingkan mata melihat tas ransel di depan tubuhku, lalu membelalak. "Oh my God! Itu kucing? Ya ampun kalian basah. Tunggu sini bentar Mbak, aku markirin mobil dulu."

Aku mengangguk.

Dia memasuki mobilnya dan memarkirkannya di carport luas yang ada di halaman rumah itu, ada dua mobil lain berjajar di sana, sebuah sedan Mercedes Benz hitam dan VW kodok klasik berwarna kuning. Setelah mesin mobilnya mati, dia keluar dan menghampiriku.

"Motornya masukin dulu Mbak, biar aku kunci gerbangnya," katanya sambil menunjukkan tempat kosong di antara jajaran motor yang terparkir di bawah kanopi yang kelihatannya memang dikhususkan untuk parkiran motor, ada tiga motor yang sudah terparkir di sana.

Aku melakukan apa yang dia minta sementara dia menungguku di teras tanpa pandangan kesal sama sekali. Setelah motorku terparkir, tanpa kuminta dia mengambil tas besar di atas motorku dan mengangkatnya ke teras.

Dia memencet tombol bell wireless yang terpasang di tengah pintu kayu minimalis warna putih, yang di sampingnya dilengkapi dengan jendela kaca besar dengan bingkai berdesain senada dengan pintu.

"Kenalin, aku Monik," kata si pirang sambil menjulurkan tangannya, kuku-kukunya cantik terawat dengan cat kuku warna silver.

Aku menjabat tangannya. "Mariska," kataku. Matanya terbelalak, seolah namaku tak biasa, atau entah apa yang ada di pikirannya tentangku. "Cantik banget Mbak Monik," pujiku.

Dia tertawa. "Tuntutan profesi, sih. Kalau nggak lagi kerja ogah aku dandan begini, ribet."

"Oh, kerja di mana Mbak?" tanyaku, sekedar berbasa-basi.

"Tergantung klien yang hiring, sih," jawabnya, bikin aku berpikiran negatif secara bajunya kayak gitu.

Penasaran, mending aku tanya aja daripada gak bisa tidur. "Kerja apa kalau boleh tau?"

Dia tersenyum. "Aku stripper," jawabnya kalem. (Stripper = Penari striptease)

Aku melongo, baru kali ini aku berhadapan langsung dengan seorang stripper. Melihat reaksiku, dia menggigit bibirnya dengan ekspresi lucu dan sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Hadoooh, masih aja nemu orang yang reaksinya sepolos ini," katanya sambil menggelengkan kepala. "Cari kos kok, malem banget? Pas hujan, pula."

"Aku barusan diusir sama ibu kos," gumamku malu.

"Kenapa? Nunggak?" tanyanya tanpa sungkan.

"Boro, orang aku selalu bayar tepat tanggal 2 setelah gajian. Alesannya karena aku selalu telat bayar, maunya tanggal satu tet, dibayar," omelku kesal.

"Hah?! Sinting kali, tuh orang!" sungutnya ikutan kesal.

Aku punya feeling kalau nanti aku dan mbak stripper ini bisa jadi teman baik.

Terdengar suara kunci dibuka dari dalam lalu pintu terbuka. Aroma musky menguar keluar sebelum siluet seorang pria muncul dari dalam rumah yang gelap. Handuk putih tersampir di pundaknya, dia memegang ujung handuk tersebut untuk mengeringkan rambut hitam tebalnya yang agak gondrong.

"Ngapain pencet bell, Nik? Kuncimu ilang lagi?" tanya si pemilik suara bariton yang belum menyadari keberadaanku.

Kulihat Monik nyengir, "Nggak Om, ada yang nyari kos," katanya sambil menunjuk ke arahku.

Lelaki tadi maju satu langkah. Kini cahaya dari lampu teras menerpanya dan aku bisa melihatnya cukup jelas.

Full facial hair(brewokan). Rambut tebal di wajahnya membuatku sulit menebak berapa usianya, mungkin pertengahan 30-an.

Tingginya jelas lebih dari 180cm, mungkin 185cm atau lebih. Lehernya kokoh dilengkapi dengan bahu tegap dan dada bidang. Perutnya kotak-kotak sempurna dengan pinggang yang ramping. Dia mengenakan bawahan piyama berbahan satin warna hitam yang menggantung rendah di pinggulnya, memperlihatkan cukup V-line yang separuhnya tertutup waistband celananya. Aku menelan ludah.

"Oh," pekiknya, membuyarkan fokusku pada tubuh sempurna pria berkulit sawo matang di hadapanku.

"Namanya Mariska. Dia baru aja diusir sama ibu kosnya tanpa alasan yang jelas. Kasian nih Om, mana ujan-ujanan sama kucingnya," Monik menjelaskan. Entah kenapa dia menekankan suaranya saat menyebut namaku.

"Ya udah, masuk dulu. Monik tunjukin kamar kosong di samping kamarnya Mishka. Kamu keringin badan, ganti baju bersih, aku tunggu di bawah buat ngomongin kelanjutan tinggal di sini."

"Tapi, Om ... saya belum tau biaya bulanan ngekos di sini," gumamku malu.

"Itu nggak penting, yang penting sekarang jangan sampek sakit," katanya. Wajahnya memang nggak senyum, tapi aku tau kalau orang ini baik hati. LAku mengangguk.

"Yuk," kata Monik yang mengangkat tasku lagi.

"Itu berat, Mbak Monik. Biar aku aja yang bawa," kataku sungkan.

Monik meletakkan kembali tas besarku di lantai, lalu bersedekap. "Kamu umur berapa?" tanyanya.

"22," jawabku.

"Aku 26 tahun dua bulan lagi, gak usah panggil mbak, panggil Monik aja, ok?" katanya jutek, lalu tersenyum manis. Si om tertawa.

Monik mengangkat tasku lagi dan aku berjalan mengikutinya menaiki tangga ke lantai dua. Dia memencet sakelar lampu di dinding, menunjukkan ruang tengah dengan sebuah sofa di tengah ruangan, dilengkapi dengan TV layar datar berukuran besar yang menempel di dinding. Terdapat empat kamar dengan pintu menghadap ruangan ini. Lantai marmer berwarna putih abu-abu, dan di bagian depan sofa dilapisi karpet faux fur berwarna cream. Rumah ini bersih, wangi, dan tertata rapi.

"Yang lain udah pada tidur. Selain gue yang ngekos disini ada Anna, Mishka, dan Ruby. Semua tinggal di lantai ini, lantai 3 masih kosong. Besok bakal gue kenalin sama yang lain. Biasanya kalau ada penghuni baru kami akan adain welcome party kecil-kecilan."

Yang Monik ceritakan membuat hatiku menghangat. Kalau aku berjodoh tinggal di sini sepertinya akan menyenangkan.

"Ibu kos nggak tinggal di sini?" tanyaku.

Monik tertawa kecil. "Om Ares masih single," katanya sambil membuka pintu kamar yang paling ujung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel MAWAR EMAS SANG PEWARIS
9.2
Sebagai pewaris tunggal bisnis keluarganya, Lily terjebak perjodohan bisnis demi menguasai pasar global. Pernikahan tanpa cinta itu murni demi kekuasaan. Namun, segalanya rumit ketika Lily jatuh hati pada asisten pribadinya sendiri. Pemuda cerdas itu hidup dalam kemiskinan, memicu dilema besar dalam diri Lily. Kini, ia harus memilih antara menunaikan tanggung jawab warisan keluarga atau mengejar cinta tulusnya.
Sampul Novel Merebut Kekasih Selingkuhan
8.5
Sienna hancur melihat Miranda, kakak iparnya, bermain api dengan Alec yang merupakan musuh bisnis Damian. Demi menjaga perasaan kakaknya yang rapuh, Sienna memilih bungkam dan menyusun siasat nekat. Ia bertekad memikat Alec agar perselingkuhan itu berakhir. Namun, rencana balas dendam ini justru menjerat Sienna dalam pusaran rasa yang rumit. Kini, ia harus memilih antara menyelamatkan Damian atau ikut hancur dalam permainan emosi yang ia buat sendiri.
Sampul Novel Mutiara Istri Yang Dijual
8.5
Hidup Tiara hancur setelah Andre, sang suami, tega menjual dirinya kepada pengusaha kaya bernama Dewa untuk melunasi utang. Di tengah kepahitan itu, benih cinta perlahan tumbuh di antara Tiara dan Dewa. Namun, Dewa justru mengusirnya saat sedang hamil demi kembali pada sang mantan kekasih. Bertekad membesarkan bayinya sendiri, Tiara pun menata hidup baru. Saat kandungannya berusia tujuh bulan, Dewa datang memohon untuk kembali, tetapi Tiara tidak akan menyerah begitu saja.
Sampul Novel Pemuas Nafsu Sang Casanova
8.6
Nasib malang menimpa Aletta Casandra. Gadis berparas menawan ini dijadikan alat bayar utang oleh pamannya sendiri. Kebebasannya direnggut paksa ketika ia diserahkan kepada Leonardo Pradungganegara. Leonardo adalah konglomerat muda yang sangat kejam dan berkuasa. Kini, kehidupan masa muda Aletta hancur sepenuhnya. Ia terjebak dalam lingkaran hitam, dipaksa menjadi pemuas hasrat bagi pria berdarah ningrat tersebut tanpa bisa melarikan diri.
Sampul Novel Sayangnya Tak Ada Kata Andaikan
9.4
Saat memergoki Silvano, tunangannya, berciuman dan berjanji akan membiarkan cinta pertamanya, Marisha, merebutnya di altar, hati Juvena hancur. Namun, alih-alih melabrak mereka, Juvena memilih jalan lain yang jauh lebih ekstrem. Dia diam-diam merancang rencana balas dendam yang matang. Di hari pernikahan mereka sebulan kemudian, Juvena berniat menayangkan bukti perselingkuhan Silvano dan Marisha ke hadapan semua tamu undangan, sementara dirinya telah bersiap kabur ke luar negeri.
Sampul Novel Terjebak Dalam Ikatan Penuh Kebencian
8.1
Alana Evander, seorang pewaris yang berani, terpaksa harus bersanding di pelaminan bersama Michael Jackson. Sosok CEO kejam sekaligus pemimpin mafia tersebut sangat dibenci oleh Alana. Kendati telah berupaya melarikan diri, penjagaan ketat membuatnya tak berkutik hingga pernikahan digelar. Di altar, Michael mengikatnya tanpa rasa iba. Malam pertama mereka pun menjadi awal dari mimpi buruk saat Michael mengklaim Alana sepenuhnya. Kini, ia terperangkap dalam pernikahan bagai neraka.