APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Om Kos

Om Kos

Kehidupan Mariska di Surabaya runtuh setelah memergoki kekasihnya berselingkuh dan kehilangan tempat tinggal. Di masa sulit ini, ia pindah ke kos milik Ares, pemuda rupawan yang secara mengejutkan melamarnya. Namun, kehadiran Ares justru memicu ingatan kelam tentang tragedi masa lalu keluarga Mariska. Di tengah keunikan para penghuni kos lain, Mariska berjuang bertahan hidup, sementara Ares perlahan menyadari bahwa perempuan itu adalah cinta masa kecilnya yang sempat hilang.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ibu kos nggak tinggal di sini?" tanyaku.

Monik tertawa kecil. "Om Ares masih single," katanya sambil membuka pintu kamar yang paling ujung.

Monik masuk duluan dan menyalakan lampu kamar. Dia meletakkan tasku di lantai dan melambaikan tangannya, memberi isyarat agar aku masuk.

Aku melongo. Kamar ini fasilitasnya udah kayak hotel berbintang, sih. Dilengkapi dengan AC dan queen sized bed, juga ada customized bed side table yang menempel ke dinding di kedua sisinya, terbuat dari kayu yang satu tema dengan headboard. Built in closet dengan meja rias, jendela kaca dan balkon yang menghadap ke halaman.

Di kamar tersebut juga ada sofa dengan side table dan juga meja dengan recliner chair. Belum lagi kamar mandinya yang dilengkapi bathtub, shower, water heater, dan wastafel marmer yang cerminnya aja harganya pasti di atas lima juta.

"Mampus, udah pasti gak bisa bayar sih ini, aku," keluhku. Monik nyengir.

"Sini pus, tante hairdryer, biar Mama mandi dulu ...," kata Monik pada kucing di ranselku, aku tertawa mendengar caranya berbicara pada Pippo seolah kucing ini akan mengerti, dan melepas ranselku untuk kuberikan pada Monik.

"Namanya Pippo," kataku.

Monik meninggalkan kamar yang sekarang dan entah sampai kapan akan jadi milikku ini. Aku segera membongkar tas besar di di lantai untuk memisahkan barang yang basah dengan yang kering, yang bersih dengan yang kotor, serta menyiapkan toilet box dan makanan untuk Pippo. Setelahnya aku mandi dan keramas dengan air hangat. Sisa barang-barang yang masih berserakan akan kubereskan setelah mandi.

Saat aku keluar dari kamar mandi Monik sedang duduk di karpet sambil memangku Pippo yang sudah hampir kering. Tangan kanannya memegang hairdryer, sementara tangan yang kirinya menyisir bulu Pippo dengan jari-jarinya.

"Udah cukup," katanya.

Pippo melompat turun dari pangkuannya dan langsung menghampiri mangkuk makanan, mengendus lalu makan dengan lahap. Kayaknya dia nggak perlu beradaptasi sama tempat baru yang nyaman ini.

Monik yang sudah menghapus semua makeup dari wajahnya, kini mengenakan kaus oversized warna putih dan celana bali pendek bermotif bunga-bunga warna hijau. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Saat ini dia terlihat lebih imut daripada saat mengenakan 'seragam'nya.



Monik Raven Lukito

"Makasih udah bantuin," ucapku sungkan.

Aku mulai merapikan barang-barangku. Tanpa kuduga, Monik tetap berada di situ, mengarahkan hairdryer-nya ke kepalaku sambil menemaniku bekerja.

Kulihat Monik tersenyum. "4 tahun lalu aku diusir dari rumah. Aku gak punya apa-apa selain bakat nge-dance. Ares tampung aku di sini, aku gak dibolehin bayar kos sampek setahun kemudian. Masalah uang kos tenang aja, Ares nggak butuh duit segitunya. Yang pasti kami bakal jadi keluarga baru buat kamu."

Aku terharu, sungguh. Tunggu dulu ...

"Terus kalau semua yang ngekos di sini cewek, maaf ... apa yang gak ada yang kecantol sama si Om, secara-"

Belum juga aku selesaikan kalimatku, Monik sudah tertawa. "Kayaknya Elu yang bakal bisa meluluhkan hati Om Ares," katanya.

Waduh!

Aku mengangkat tanganku, "Bukan gitu maksudku-"

Monik ngakak. "Elu kira gue gak liat apa, when you gawking on him earlier (kamu ngiler liatin dia tadi). Dan meskipun cuma sedetik aku lihat si Om looking at you in the same way (menatapmu dengan cara yang sama). Muka lu merah, Mar! Hahahahahah! Sorry, gue lebih nyaman ngobrol pakai gua-elu daripada aku-kamu."

"Aku nggak berniat gitu, Moniiik!" cicitku.

"Gua ... lesbi, Mar. Lu pikir kenapa gua diusir?" Dia tertawa kecut. "Papah ngegeb gua ciuman sama mantan di mall. Ptlangnya, gue open up ke ortu dan diusir. Waktu itu gua udah diterima masuk kuliah di Unair, untungnya uang gedung udah dibayar. Dengan uang yang gue punya waktu itu, gua nekat naik kereta dari Jakarta ke Surabaya. Lalu cari kos dekat kampus dan ketemu rumah ini."

Wow.

"Sorry," ucapku.

Monik menggedikkan bahunya. "Anna udah anggap Ares seperti adiknya sendiri. Mishka selibat, dan Ruby sama sekali bukan tipenya Ares, jadi gak ada kemungkinan penghu i di sini bisa luluhin hati Ares," katanya. Aku mengangguk-angguk mengerti.

"Lalu kerja begini, nggak takut diapa-apain orang? Kamu cantik gini."

Dia tertawa, "Thanks. Gak ada yang bakal main-main sama gue, Mar. Gue jago karate," dia nyengir.

Aku berdiri untuk memasukkan buku-bukuku ke rak buku di samping lemari dan Monik mematikan hairdryer-nya. Pippo sudah lompat ke atas tempat tidur sedari tadi, setelah makanan di mangkuknya kosong.

"Gue gak tau harus kerja apa lagi. Tapi untuk sekarang, ini cukup profitable. Gue bisa beli mobil, penuhin kebutuhan hidup, nabung ... gue harus nabung yang banyak cepet-cepet karena beberapa tahun ke depan udah harus coas, mau gak mau gue harus berhenti kerja. Kalau udah buka praktek sendiri gua udah janji ke diri sendiri gak bakal stripping lagi, kecuali untuk pacar dan diri gue sendiri."

Penjelasannya membuatku berpikir bahwa gak cuma aku di dunia ini yang hidupnya susah.

"Monik ambil kedokteran?" tanyaku, dia mengangguk.

"Spesialis anak, on the way," dia tersenyum bangga.

"Hebat!" pujiku.

"I know," dia mengedipkan mata, membuatku tertawa.

"Lalu pacarmu yang sekarang?" tanyaku pada Monik. Kurasa aku nggak perlu sungkan lagi untuk tanya hal pribadi padanya, seperti dia padaku.

"Anna. Dia sekamar sama aku, nanti aku kenalin. Sekarang ayok ke bawah dulu, Ares udah nungguin."

Aku mengangguk dan mengikutinya kembali ke lantai satu. Di lantai satu, si Om yang sekarang pakai atasan kaos fitted warna putih dan dilapisi apron, sedang sibuk memasak di dapur.

Dia mengaduk masakan di dalam panci dengan sendok sayur, menyendok dan menuangkan sedikit isi panci di sebuah sendok, lalu meniup dan mencicipinya. Setelah itu diaduknya kembali isi panci, dan dimatikannya api kompor.

Ya Tuhan! Udah ganteng, bisa masak, tajir—

Tunggu dulu, sejak kapan aku doyan om-om?

Aku mikir apa, sih?!

Kayaknya otakku korslet gara-gara kehujanan, deh.

Pria yang rupanya menyadari keberadaan kami tersebut menoleh ke belakang sambil melepas apronnya untuk digantung di samping oven mitt, di gantungan besi dengan desain rustic yang menempel di salah satu sudut dinding dapur.

"Duduk dulu," katanya sambil menggedikkan dagunya ke arah pantry.

Monik menarik tanganku untuk jalan ke arah situ, menyeret dua buah kursi, duduk di salah satunya, lalu menepuk kursi di sampingnya. Aku duduk di tempat yang disediakan Monik bersamaan dengan si Om menaruh nampan berisi tiga buah mangkuk di atas meja pantry.

Asap mengepul dari sup yang masih panas. Dia meletakkan masing-masing mangkuk di hadapan kami lalu kembali ke dapur untuk meletakkan nampan berbahan bambu tersebut di dalam bak cuci piring. Dia menarik kursi pantry dan duduk di hadapanku.

"Ambilin minum, Nik! Aku air putih aja, kamu pilih aja apa yang ada di kulkas," perintahnya pada Monik, "Mariska mau minum apa?"

Entah kenapa mendengar namaku terucap dari bibirnya membuat bulu kudukku berdiri. Aku benar-benar gak paham bagaimana bisa orang yang baru saja kutemui memiliki efek seperti ini pada diriku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Pengganti Pengasuh Anakmu
8.6
Lima tahun membina rumah tangga tanpa buah hati, Salma dikhianati saat Rifky memutuskan berpoligami demi anak. Padahal, mereka telah berjuang bersama menjalani pengobatan medis hingga Rifky dinyatakan sembuh. Sayangnya, sang suami justru menikahi perempuan pilihan ibunya ketimbang setia pada Salma. Kini, Salma dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan dalam pernikahan yang tak lagi utuh, atau berani bercerai demi menjaga martabat serta prinsip hidupnya.
Sampul Novel Escaping The Madhouse
9.7
Selepas kabur dari lelang gelap yang menjual nasibnya, Alana hanya punya satu tujuan: berlari sejauh mungkin. Namun, takdir mempertemukannya dengan sebuah rumah mewah yang menyimpan bahaya lain. Pria di dalamnya, Jeffrey, memberinya satu pilihan: bantu balas dendamnya, dan tubuh Alana menjadi taruhannya. Di balik kemewahan itu, teror dan hasrat saling jalin-menjalin. Alana terjebak dalam lingkaran gelap yang makin sulit ia kuasai. Bisakah ia selamat dan terbebas, atau justru tenggelam lebih dalam ke dunia yang ia masuki? Kisah ini adalah dark romance dalam balutan mafia romance yang mempertaruhkan segalanya.
Sampul Novel Jodoh Palsu Sang Alfa, Perang Diam Sang Omega
9.2
Sebagai Omega, aku dikhianati oleh Alpha Baskara yang mandul demi wanita lain. Janin di rahimku dianggap aib dan aku dijadikan bahan taruhan. Setelah disiksa oleh Kirana serta dikhianati para prajurit, aku menelan ramuan terlarang untuk mematikan janinku demi membalas dendam. Ini adalah awal perang dingin dariku.
Sampul Novel Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
8.3
Sebuah peristiwa tak terduga menghubungkan takdir Laskar dan Pelangi, walaupun penolakan demi penolakan terus terjadi. Pelangi sadar perasaan ini sulit bersatu karena Laskar telah bertunangan dengan Natalia. Di tengah kebimbangan, apakah tautan misterius ini sanggup mendekatkan mereka atau malah memisahkan keduanya selamanya? Meski Pelangi mencoba ikhlas untuk merelakan Laskar pergi, batinnya tetap tidak mampu berbohong bahwa melepaskannya adalah hal yang sangat berat.
Sampul Novel Setelah Pergi Penelitian, Tunanganku Menyesal
9.0
Satu bulan menjelang pernikahan, sang kekasih bersikeras ingin memiliki anak dengan cinta sejatinya. Meski ditolak, ia terus mendesak hingga rahasia terungkap dua minggu sebelum hari besar. Melalui hasil pemeriksaan, terungkap bahwa perempuan itu telah hamil sebulan. Sadar persetujuannya tak pernah dianggap penting, hubungan bertahun-tahun pun kandas. Pernikahan dibatalkan, semua kenangan dihapus, dan tepat di hari pernikahan, ia memilih masuk ke laboratorium riset tertutup demi memutus hubungan.
Sampul Novel Terjebak Cinta Pria Arogan
8.3
Peony Madeline Hart sangat membenci Kheil Abraham Leight akibat peristiwa kelam di musim panas sepuluh tahun lalu. Walau Peony berupaya menjauh demi melindungi harga dirinya yang sempat hancur, takdir berkata lain. Mereka kembali dipertemukan saat Kheil kini menjelma menjadi sosok pria yang sangat memikat. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali hadir, Peony kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan kebenciannya atau kembali jatuh hati padanya.