APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel OLD VIRGIN (WHEN I LOVED YOU)

OLD VIRGIN (WHEN I LOVED YOU)

Shereen Edwarida, seorang wanita karier sukses, menutup rapat hatinya akibat trauma masa lalu yang mendalam. Ia ditinggalkan oleh kekasihnya tepat sebelum pernikahan demi perempuan lain. Meski dicap perawan tua oleh lingkungan sekitar, Shereen tetap memilih sendiri dengan dukungan keluarga dan sahabat. Namun, pertahanannya goyah saat sang mantan kembali untuk menebus kesalahan. Akankah ia memberikan kesempatan kedua di tengah bayang-bayang luka lama?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku terduduk lemas di atas jalanan aspal, aku harus mencari Boy kemana? Sedangkan di rumahnya, Boy nampak tidak ada. Aku berfikir dan mencari tempat yang biasanya Boy kunjungi.

'Apa mungkin Boy ke taman, ya?' gumamku dalam hati

Tanpa fikir panjang, aku segera berlari kembali menuju taman. Biasanya Boy selalu berdiam di taman seperti aku yang sejak tadi terdiam memikirkan masalahku dengan mantan kekasihku.

Aku dan Boy selalu datang ke taman ketika kami ingin bersama, di taman banyak sekali orang yang berdiam. Karena kami sangat suka keramaian.

Sesampainya di taman, gegas aku mencari Boy dan langsung menatap ke arah kiri dan kanan semoga saja Boy berdiam di sini, sayangnya sama sekali tak kutemukan Boy berada di sini. Aku merasa sudah sangat lelah, berharap Boy mau mendengar penjelasanku kalau aku mau sudah menerima lamarannya. Tapi kenapa rasanya Tuhan tidak menginzinkan.

Semua yang terjadi salahku, kalau saja aku tidak gegabah seperti tadi. Aku pasti akan bersama Boy terus. Lebih baik aku pergi ke rumah mengistirahatkan sejenak, lagi pula hari sudah menampakan gelap. Aku berjalan pelan menyusuri jalanan berniat pulang, tanpa diduga hujan mengguyur alam semesta membasahi tubuhku.

Gegas aku meneduh di pinggir jalan raya, supaya aku tak bisa terkena rintikan hujan kembali. Aku duduk bersama orang-orang yang tengah menunggu hujan reda. Tiba-tiba tangisku pecah seketika seiring rintikan hujan yang sangat lebat, aku sangat ingin bertemu dengan Boy. Tapi kenapa sekarang aku bersedih ketika Boy mengatakan jika besok ia akan pergi dan ucapannya masih terus terngiang di benakku.

Tiba-tiba aku melihat Boy yang tengah mengendarai mobilnya secara pelan, kaca mobilnya pun terbuka. Aku lantas menatap ke arah mobil dan ternyata itu adalah Boy. Tanpa berfikir panjang aku segera berlari mengejar mobil yang dia kendarai. Padahal hujan mengguyur sangat lebat.

"Boy ....!'' teriakku ketika aku melihat Boy dari kejauhan.

Aku berteriak kencang terus-terusan memanggil namanya, tapi sepertinya ia tidak mendengar teriakanku. Mobilnya malah melaju dengan cepat, aku berusaha mengejar walaupun pasti tidak akan terkejar tapi aku yakin Boy akan mendengar dan melihatku dari kaca spion.

"Tunggu aku, Boy. Berhenti!"

"Boy, ini aku Shrereen."

"Boy!"

Hujan semakin deras, aku sama sekali sudah tidak kuat mengejar. Mobil yang dikendari Boy sama sekali tidak nampak akan berhenti. Padahal aku berteriak sangat kencang dan keras. Tiba-tiba pandanganku kabur, kepalaku sangat sakit. Pada Akhirnya aku terjatuh pingsan di bawah rintikan hujan yang sangat lebat dan seketika aku tidak mengingatnya lagi.

*****

Aku perlahan membuka kedua mata, menatap sekeliling ruangan berwarna putih. Rupa-rupanya aku tengah berada di Rumah sakit. Entah siapa yang sukarela membantuku sampai aku bisa berada di Rumah sakit ini.

KREK!

Pintu ruangan terbuka, terlihat pria renta datang menghampiriku dengan berpakaian layaknya seorang dokter.

"Alhamdulillah, ternyata anda sudah sadar!" ucapnya penuh syukur.

"Dokter, kenapa saya bisa berada di sini? Siapa yang membawa saya ke Rumah sakit ini?" tanyaku, aku sangat penasaran siapa yang mengantarkan aku ke sini.

"Saya tidak tahu yang mengantarkan kamu siapa, yang jelas dia laki-laki. Katanya dia melihatmu seketika kamu tengah pingsan di jalan dalam keadaan basah kuyup." satu Dokter memberitahukan padaku.

Aku mengingat sebelum kejadian aku pingsan, ternyata aku pingsan karena tengah mengejar mobil seseorang yang aku kira Boy.

Aku menghela nafas, mungkin saja itu bukan Boy. Untung saja ada orang baik yang menolongku. Kalau saja tidak ada yang menolong, mungkin aku masih tetap berada di tengah jalan.

"Oh, begitu, ya, Dok. Hmm ... kalau begitu, apa saya boleh pulang sekarang?" tanyaku karena sangat tidak mau terlalu lama di sini.

"Boleh, kalau dirasa sudah agak mendingan,'' sahutnya, aku merasa lega.

"Jika yang menolong saya datang ke sini lagi, tolong ucapkan terima kasih padanya ya, Dok. Saya sangat berhutang budi." ucapku pada dokter, seketika ia langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

"Iya, pasti akan saya bilang.''

"Terima kasih ya, Dok. Aku pamit pulang dulu, sudah merasa enak sekarang,'' ucapku. Dokter segera mengangguk.

Aku berjalan keluar dan pergi meninggalkan Rumah sakit. Tampak di luar awan sudah gelap, aku melihat jam di ponsel ternyata sekarang sudah pukul 21:30 WIB.

Aku menghela nafas, ternyata aku sangat lama pingsan, smpai tak menyadari hari sudah larut malam. Aku menunggu taksi lewat, aku ingin segera pulang ke rumah dan akan mengabarkan pada Mama kalau hari ini aku tidak mengucapkan apa pun pada Boy, ia sepertinya menghindar.

Setelah cukup lama aku menunggu, akhirnya mobil taksi yang kutunggu tiba juga. Aku segara masuk kedalam dan mobil segera melaju cepat meninggalkan halaman Rumah sakit.

Di dalam mobil tak henti-hentinya aku berfikir bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan Boy mengingat ia sebentar lagi akan berangkat pergi ke Amerika.

Mama pasti sangat marah setelah mendengar kabar buruk ini. Hmm, lebih baik aku telepon kembali nomer ponsel Boy, siapa tahu dia sekarang bisa mengangkat telepon.

Tut ... Tut ... Tut ...

Sambungan terhubung.

Tapi Boy sama sekali tak mengangkatnya.

'Angkat dong, Boy!' gerutuku kesal dalam hati.

Aku membuang ponsel dengan kasar, aku sangat kesal pada Boy dia malah menghindar dariku padahal apa susahnya angkat telepon.

Supir yang melihat aku emosi, segera memberhentikan mobil.

"Non lebih baik keluar dari mobil, saya tidak mau melihat penumpang saya seperti orang gila marah-marah enggak jelas sambil membuang dengan kasar ponselnya." ucap supir, seketika aku kaget mendengarnya.

"Kenapa Bapak malah mengusir saya? Hanya karena masalah itu saya disuruh turun di jalan? Benar-benar ya." cecarku kesal.

"Maaf, Non. Saya bukan bermaksud--"

Aku segera membuka pintu mobil tanpa mendengar penjelasan supir. Hatiku sangat kesal karena ucapan supir yang menyuruhku turun padahal rumahku masih jauh sekitar sepuluh meter.

Tapi bisa-bisanya supir berkata seperti itu. Apa dia tidak merasa kasihan padaku? Terpaksa aku harus jalan kaki kembali karena tak mungkin harus menunggu taksi sebab sekarang sudah sangat larut malam.

Akhirnya tanpa berlalu lama aku telah sampai di depan rumah, bergegas mengetuk pintu perlahan. Semoga saja Mama belum tidur.

"Assalamualaikum, Mah,'' ujarku sopan mengucap salam.

"Waalaikum salam," sahut Mama menjawab sambil membuka pintu rumah.

"Shereen, kamu dari mana saja kok baru pulang jam segini?" tanya Mama, aku sangat lemas mendengar pertanyaan yang dilontarkan mama.

Aku segera masuk ke dalam tanpa menjawab ucapan Mama.

Mama datang menghampiri ketika aku tengah duduk sambil menyenderkan kepala di bahu kursi.

"Kamu dari mana saja, Nak?" tanya Mama mengulang pertanyaan.

"Shereen tadi pingsan dan tiba-tiba malah berada di Rumah sakit, Mah!" ucapku berkata jujur, mama yang mendengar sangat kaget.

"Astagfirullahal adzim. Kenapa kamu bisa pingsan? Tapi kamu tidak kenapa-napa 'kan Shereen?" tanya Mama kembali.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Chef Galak Itu Mantan Pacarku
9.2
Mita, seorang manajer selebriti profesional, terkejut saat dipertemukan kembali dengan Gun Saliba. Chef terkenal yang terkenal sangat cerewet ini rupanya adalah mantan pacar yang paling ingin Mita lupakan. Bukannya bekerja sama dengan baik, Gun malah terus memusuhi dan mempersulit karier Mita. Namun, di balik sikap buruknya, Gun sebenarnya tidak pernah tahu penyebab utama mengapa Mita mengakhiri jalinan asmara mereka dulu.
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh
8.9
Dalam sekuel The Maid and the Young Heir ini, Amelia menyimpan rahasia kelam sebagai seorang ibu. Sementara Luciano berupaya melindungi keluarganya, bayang-bayang masa lalu kembali datang mengancam. Gabriel, sang putra sulung, mulai dilingkupi keraguan, sedangkan Isabelita menghadapi bahaya di tanah rantau. Di tengah ancaman balas dendam dari musuh lama, Amelia dihadapkan pada pilihan sulit demi keselamatan orang-orang tercinta. Kisah penuh cinta tentang keberanian melepaskan.
Sampul Novel Madu Jadi Upik Abu
8.2
Wati terpaksa menerima keputusan pahit saat Dedy, suaminya, dilamar oleh bos kantornya sendiri. Demi impian akan kehidupan yang lebih baik, ia pun merelakan sang suami untuk berpoligami. Namun, petaka dimulai ketika Wati diboyong ke kediaman istri kedua. Di sana, rahasia gelap sang suami perlahan terkuak. Dedy ternyata menyimpan niat licik yang tak terduga. Wati pun harus berjuang keras setelah sadar bahwa dirinya hanya dimanfaatkan sebagai alat dalam rencana besar suaminya.
Sampul Novel Mr. CEO dan Gadis Lugu
8.9
James Myre, CEO muda paling kaya dan tampan di Prancis, murka karena Mr. Benkins tak mampu membayar utang USD 100 juta. Demi melunasi utang tersebut, Benkins nekat menjadikan keponakannya yang polos, Adelia Benkins, sebagai jaminan kontrak. Gadis lugu itu pun terpaksa melayani semua hasrat liar James. Sanggupkah Adelia bertahan dalam jerat kehidupan kelam ini, atau akankah takdir justru menumbuhkan benih cinta yang tulus di antara mereka?
Sampul Novel Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga
8.8
Demi menyelamatkan Pramudita Global dari kebangkrutan, Anya Pramudita bersedia menikahi pewaris Wijaya Corp, Reza Wijaya. Di balik perjodohan ini, orang tua Reza memanfaatkan masalah keuangan tersebut demi kepentingan mereka. Sementara itu, Reza sebenarnya masih mencintai Kirana secara rahasia. Tanpa adanya rasa cinta, Anya yang bersikap dingin harus bertahan dalam pernikahan sandiwara ini. Akankah tumbuh cinta sejati di antara mereka, atau justru pengkhianatan yang akan mengakhirinya?
Sampul Novel Tambatan Hati
9.6
Pasca-pengkhianatan mantan istri yang mencampakkannya saat terpuruk demi lelaki lain, Reynand Arya Wijaya memilih menutup diri. Duda kaya ini kini sepenuhnya mendedikasikan hidup demi sang putra tercinta. Namun, pendiriannya goyah sejak mengenal Amanda Mey Diana. Ketulusan sang guru TK dalam menyayangi anaknya perlahan mengikis trauma masa lalu Reynand. Di tengah luka lama yang belum sepenuhnya pulih, ia mulai mencoba membuka hati demi sebuah harapan baru.