APKDock Logo
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh

Di Mana Sayap Tumbuh

8.9 / 10.0
Dalam sekuel The Maid and the Young Heir ini, Amelia menyimpan rahasia kelam sebagai seorang ibu. Sementara Luciano berupaya melindungi keluarganya, bayang-bayang masa lalu kembali datang mengancam. Gabriel, sang putra sulung, mulai dilingkupi keraguan, sedangkan Isabelita menghadapi bahaya di tanah rantau. Di tengah ancaman balas dendam dari musuh lama, Amelia dihadapkan pada pilihan sulit demi keselamatan orang-orang tercinta. Kisah penuh cinta tentang keberanian melepaskan.

Di Mana Sayap Tumbuh Bab 1

Laut terasa sunyi sore itu. Begitu sunyi, begitu menakutkan. Hamparan perak raksasa yang bergetar, tak berani bergerak, seolah tahu ombak apa pun dapat melepaskan kekacauan. Namun darah tak mengenal keheningan.

Amelia jatuh berlutut di atas pasir basah. Itu bukan jatuh tiba-tiba, melainkan sebuah penyerahan diri. Seolah tubuhnya, yang dikuasai oleh sesuatu yang tak kasat mata, lepas begitu saja. Tangannya gemetar saat berpegangan erat di tepian, tenggelam dalam campuran garam dan tanah, mencari sesuatu untuk berlabuh. Apa pun. Pada kehidupan yang mulai menjauh.

Ia mengenakan gaun putih. Gaun sederhana, yang dikenakan untuk perayaan. Untuk menyambut seseorang. Untuk mengingat bahwa ada hari-hari yang pantas dibalut harapan. Namun putih itu, yang dulu begitu murni, kini ternoda diam-diam, digelapkan oleh lumpur, oleh darah, oleh ketakutan yang tak kunjung datang. Rasa sakit, ketika datang dari kedalaman ini, tak menyerang. Ia merayap masuk, merembes. Ia menetap. "Lari!" Sebuah suara menangis, jauh, terputus oleh desakan dan keputusasaan.

Kaki telanjang menghantam pasir. Seseorang berlari. Seorang pemuda, mungkin tetangga, mungkin orang asing. Ia membawa sebuah buntalan yang digenggam erat di dadanya. Sesuatu yang menangis. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang hidup. Seorang bayi.

Luna.

Nama itu menusuk Amelia bagai pecahan kaca di jiwanya. Ia ingin bangun, berlari, berteriak, melakukan sesuatu. Namun ia tak bisa. Garam laut bercampur dengan garam air matanya, mengalirkan sungai di pipinya.

Di mana Tomás? Di mana Gabriel? Luciano? Pikirannya mengulang nama-nama itu seperti doa yang khusyuk, mencari makna, keteraturan, logika untuk menenangkan kekacauan. Namun tak ada logika. Hanya suara.

Jeritan itu semakin menjadi-jadi di sekelilingnya bagai ombak hitam, menerjang lagi dan lagi, tanpa henti. Seorang perempuan menelepon 911 sambil terisak. Perempuan lain melepas jaketnya dan mencoba menutupinya. Mereka berbicara kepadanya, menyentuhnya, mencoba menolongnya. Namun Amelia tak mendengarnya. Ia tak merasakan apa-apa. Ia hanya bernapas secara naluriah.

Rasa dingin menyusup ke dalam dirinya. Bukan angin. Bukan angin laut yang lembap. Melainkan sesuatu yang telah pecah jauh di dalam, retakan tak kasat mata yang membelah dunianya menjadi dua. Sebuah masa sebelum. Sebuah masa sesudah. ​​Sebuah jurang.

Lalu sebuah siulan tajam membelah udara. Sedetik kemudian, dentuman:

"Dor!"

Sebuah tembakan. Kering. Akhir. Seperti titik yang dipaksakan di tengah kalimat yang belum selesai. Tangisan bayi itu berhenti sejenak. Laut menelan sebuah sepatu kecil seolah ingin menyembunyikan sesuatu.

"Mereka membawanya," bisik seseorang di dekatnya.

"Siapa?"

"Gadis itu. Bayi itu.

Luna."

Dan kemudian tak ada lagi pikiran. Hanya kebisingan. Suara-suara yang tak berkata apa-apa. Sirene meraung di kejauhan. Pasir di mulutnya. Garam di bulu matanya. Dan sebuah janji bisu yang Amelia rasakan lahir dengan keras di dadanya:

Kali ini, mereka tak akan mengambil apa pun lagi dariku.

Ambulans itu berbau logam panas, disinfektan, dan urgensi. Interiornya terasa seperti dunia yang terpisah, putih dan bermusuhan, tak menyadari aturan dunia luar. Seorang paramedis berbicara kepadanya. Ia menyebut namanya. Ia menyuruhnya bernapas. Namun Amelia tak dapat mendengarnya. Ia menatap langit-langit tanpa melihatnya. Napasnya terdengar jauh, seolah berasal dari tubuh lain. Tubuh yang bukan miliknya. Tubuh yang kosong.

Ia merasakan jarum suntik menembus kulitnya. Infus. Cairan dingin memasuki lengannya. Sebuah upaya untuk membuatnya tetap di sini. Di sisi kehidupan ini.

"Kau stabil. Dengarkan aku, kumohon. Bayinya hidup, kau dengar? Ia hidup." Amelia memejamkan mata. Namun bukan bayi itu yang ia cari. Melainkan bayi lain. Bayi yang memiliki nama. Bayi yang ia bayangkan dalam pelukannya. Bayi yang ia rasakan bergerak di dalam rahimnya.

Seorang perawat mendekat dengan sesuatu yang mungil di tangannya. Seekor bayi baru lahir yang merah dan marah. Ia menangis seolah dunia telah menyakitinya. Seolah ia tahu.

"Bayi perempuan!" kata perawat itu. "Dia bernapas dengan baik. Dia tampak tidak terluka. Dia di sini, lihat?"

Tapi itu bukan Luna. Itu bayi perempuan lain. Takdir lain. Awal yang lain.

"Mereka membawanya pergi," gumam Amelia, tanpa memandang siapa pun.

"Tidak, dia di sini. Kau bersamanya di sini." Mereka tidak membicarakan bayi perempuan yang sama. Ia tahu itu. Jiwanya tahu itu. Sedetik. Lalu sedetik lagi. Dan waktu mulai bergerak mundur, seolah mencari jawaban dalam apa yang telah terjadi.

Dua belas minggu sebelumnya

Gabriel meninggalkan sebuah gambar di meja makan. Sebuah pohon bersayap. Warna-warnanya agak acak-acakan, goresannya tidak sempurna, tetapi penuh makna. Di sampingnya, Tomás tidur di antara mainan-mainan, mulutnya sedikit terbuka, satu tangannya menggenggam dinosaurus plastik.

Amelia, yang sedang hamil sembilan bulan, dengan lembut mengelus perutnya. Setiap gerakan di dalam dirinya adalah keajaiban. Setiap tendangan, sebuah janji masa depan. Di luar, burung-burung camar berputar-putar di pesisir, melolong minta kebebasan.

Luciano masuk dengan sekantong roti hangat di tangan dan kabar di bibirnya:

"Aku menemukannya."

Amelia mendongak, bingung.

"Siapa?"

"Mauro Galván. Dia kembali. Dia kembali ke kota."

Nama itu menghantamnya bagai hantaman di perut. Salah satu nama yang tak pernah benar-benar mati. Yang hidup terkubur dalam ingatan, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.

Ia menelan ludah. ​​Udara terasa sesak.

"Kau yakin?"

"Ya," jawab Luciano, duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya erat-erat. "Tapi kita takkan membiarkannya mendekatinya. Tidak kali ini. Kita siap, Amelia. Kali ini kau tak sendirian."

Ia mengangguk, tapi tak berkata apa-apa. Karena ia tahu: tak seorang pun pernah benar-benar siap menghadapi masa lalu. Apalagi menghadapi bagaimana masa lalu itu kembali. Tersamar. Sunyi. Menunggu.

Hari Ini

Bunyi bip mesin yang terputus-putus membawanya kembali ke masa kini. Amelia membuka matanya. Kelopak matanya terasa sakit. Bibirnya kering. Tubuhnya terasa kalah. Perutnya... kosong.

Dan di hadapannya, mata Gabriel, besar dan ketakutan, dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan siapa pun di usianya.

"Bu... apakah adikmu baik-baik saja?" Amelia mencoba duduk, tetapi tubuhnya tak kunjung merespons. Ia hanya bisa bicara.

"Tomás?"

"Dengan Ayah. Aku ingin menjemputmu, tetapi mereka menyuruhku menunggu di sini." Ia menatapnya dengan air mata berlinang. Ia ingin memeluknya. Untuk melindunginya dari segalanya.

"Sayangku... adikmu! Mereka membawanya!" Gabriel menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Luna baik-baik saja. Aku melihatnya. Dia menangis, tetapi dia baik-baik saja." Luciano kemudian masuk, seolah-olah ketegangan telah memanggilnya. Wajahnya tegang, matanya merah, punggungnya berat karena semalaman tak bisa tidur.

"Dia dalam perlindungan," katanya tegas. "Itu ancaman. Tapi kami berhasil mencegah yang terburuk. Kami membawamu ke sini tepat waktu." Amelia menatapnya. Tepat di matanya.

"Apakah itu dia?" Luciano tak menjawab. Ia hanya memejamkan mata dan mengangguk. Dan nama itu kembali memenuhi udara seperti pisau tumpul:

Mauro.

Beberapa jam kemudian, Amelia melihatnya. Luna.

Ia tertidur di inkubator, diselimuti cahaya redup dan suara-suara mekanis. Tak menyadari kengerian itu. Lugu. Sempurna. Secercah cahaya di jurang.

Amelia meraih kaca, seolah ia bisa menjembatani jarak.

"Namamu Luna karena kau membawa cahaya ke dalam kegelapan. Karena kau jatuh dari langit. Karena kau lahir di tengah tembakan dan darah... namun kau memilih untuk tetap tinggal."

Ia masih merasakan ketakutan di kulitnya. Tapi juga sesuatu yang baru. Sesuatu yang ganas. Seperti sebuah kekuatan yang mulai muncul dari tempat yang sebelumnya hanya hampa.

Lalu, sebuah suara. Dingin. Familiar. Sebuah bisikan di belakangnya.

"Sudah kubilang jangan abaikan aku."

Amelia menoleh tajam. Tapi tak ada siapa pun di sana.

Hanya gema ancaman. Masa lalu yang tak melupakannya.

Suara pelayan yang dicintainya.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Di Mana Sayap Tumbuh

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam yang menegangkan, Shila harus menahan rasa sakit dan gejolak gairah saat Sam menyentuhnya. Di tengah situasi berisiko tinggi ini, Sam memperingatkan Shila dengan bisikan lirih agar tetap diam. Mereka harus menyembunyikan hubungan terlarang ini dengan sangat hati-hati, sebab orang tua Shila berada sangat dekat dan bisa mendengar setiap suara di dalam rumah. Ketakutan akan ketahuan membuat hubungan rahasia mereka terasa kian mencekam.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, Amber Lim, sosialita bereputasi buruk yang ingin bertobat, nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Sialnya, ia dirampok dan terdampar di hutan beku. Kini, satu-satunya harapan hidup Amber bergantung pada Tuan Dingin, seorang duda misterius pembenci wanita yang dicap kanibal oleh warga. Akankah Amber berhasil meluluhkan hati pria itu, atau justru menjadi korban kebenciannya?
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan hasil perjodohan Mira Aditya dengan Rafiq Jaya berujung pilu. Di balik ikatan tersebut, Rafiq rupanya telah menikahi Elena Faris, cinta masa lalunya, secara diam-diam. Terasing di rumah sendiri dan terus didera kepedihan mendalam membuat Mira berada di titik nadir. Di tengah kekecewaan serta hampa yang kian menyiksa, ia pun kini harus menentukan pilihan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau melangkah pergi demi meraih kebebasannya.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Tersesat saat menjelajah, seorang pria terjebak dalam keanehan Hutan Gondoriyo setelah kendaraannya hilang secara misterius. Di sebuah pondok sunyi, sepasang lansia misterius memberinya peringatan keras. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran menuntunnya kembali ke sana, namun hutan itu telah lenyap. Rahasia kelam tentang kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terungkap, memaksanya bertaruh nyawa demi membongkar kebenaran yang meneror.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
9.2
Clayden Ardhanesa, dahulu dikenal sebagai Bradford, rela melepas kejayaannya di puncak dunia demi menikahi wanita yang dicintai. Ia memilih melindungi sang istri dari balik layar hingga wanita itu sukses. Namun setelah berhasil, sang istri justru menganggap Clayden tidak berguna dan meminta cerai. Saat nama Clayden kembali bergema di panggung dunia, sang mantan hanya bisa bersimpuh menyesali keputusannya sambil menangis tanpa henti.
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Elena mengira hidupnya sempurna bersama Samuel Adinata, CEO Royal Adinata yang menjadi suami sekaligus ayah idaman bagi Eliott. Namun, topeng itu runtuh saat rahasia gelap sang miliarder mulai terungkap. Pernikahan yang selama ini Elena jalani ternyata bukan didasari cinta, melainkan sebuah taktik licik yang dirancang Samuel. Menyadari dirinya hanya dimanfaatkan demi ambisi tersembunyi sang suami, amarah Elena pun meledak dalam jebakan rumah tangga ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan