APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage

Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Beberapa bulan kemudian

Gareta masuk ke dalam kamar Ivy dengan membawa banyak kotak, hingga wajah Gareta hampir tidak terlihat.

"Nyonya muda, ini pakaian baru dari Tuan muda Race," ucap Gareta yang kemudian memohon izin untuk masuk ke ruang ganti.

Ivy menghela napas dalam karena mulai lelah dengan sikap Race. Suaminya itu benar-benar melakukan tanggung jawabnya sebagai suami. Race mencukupi semua kebutuhan Ivy, bahkan bisa dibilang berlebihan. Hanya saja Race jarang sekali pulang ke paviliun, mungkin hanya 2 minggu sekali. Itu pun hanya sebentar dan hanya marah-marah pada Ivy yang selalu salah di depan Race.

Setelah meletakkan baju-baju yang Race berikan untuk kesekian kalinya untuk Ivy, Gareta keluar dan menghampiri Ivy yang duduk di kursi dekat jendela.

"Nyonya muda, ingin makan siang apa? Selina dan koki sedang menyiapkan daging saus, apakah tidak apa-apa?"

"Apa saja akan aku makan, Gareta. Em,,,boleh aku bertanya?" ujar Ivy kemudian.

"Tentu saja, Nyonya muda."

"Siapa yang membawa baju-baju itu? Apakah Race mengirimnya dengan kereta lagi?" tanya Ivy yang sebenarnya sudah tahu kalau Race tidak mungkin membawanya sendiri untuknya.

Melihat pelayannya tidak bisa menjawab dan seperti sedang menatapnya iba. Ivy lalu tersenyum dan kemudian menggerakkan tangannya cepat mengusir Gareta.

"Tidak usah di jawab! Aku, sudah bisa menebak jawabanmu, Gareta. Kembalilah ke dapur!"

Malam harinya di kamarnya, Ivy yang sangat kesepian susah tidur. Terlebih lagi Ivy selalu mengingat kedatangannya adalah ancaman bagi Race. vy beringsut turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela kamarnya. Ivy melihat keluar jendela dan melihat ke bawah.

"Apa kalau jatuh dari sini akan terasa sakit?"

"Ini pasti akan lebih sakit dari pukulan Ibu ataupun Charly." sambung Ivy lagi bermonolog.

Brakkk!!!

Pintu kamar Ivy terbuka dengan keras dari luar.

"Kau, gila? Bukankah aku bilang kalau mau mati jangan di paviliun ku!"

Race menyeret Ivy menuju ranjang. Race mendudukkan Ivy sedikit kasar hingga membuat Ivy hampir saja jatuh ke belakang.

"Kau, gila?" hardik Race lagi.

"Aku?" tanya Ivy polos.

"Iya, siapa lagi? Kalau kau tidak gila, untuk apa kau berpikiran lompat dari jendela itu?"

"Lompat? Bagaimana dia bisa tahu kalau aku berpikir seperti itu?" batin Ivy bingung.

"Jawab! Kenapa diam saja? Kau, tidak akan sedikitpun kekurangan disini. Aku, akan bertanggung jawab atas dirimu, finansialmu, makanmu, baju dan semua kebutuhanmu. Jadi, diamlah! Duduk tenang, nikmati hidup mewahmu disini tanpa memiliki pikiran untuk mati. Mengerti?" bentak Race lagi mengejutkan Ivy.

Ivy menatap Race lekat, memang benar semua yang Race katakan. Dia hidup serba berkecukupan, mewah dan juga tidak kekurangan apapun. Hanya saja Race tidak mengerti perasaan Ivy, Race tidak tahu bagaimana inginnya Ivy hidup normal seperti orang lain. Terlebih lagi statusnya sekarang sudah menjadi seorang istri, tentu saja Ivy ingin diperlakukan layaknya seorang istri bukan seperti tawanan seperti yang Miranda katakan.

Race menatap tajam Ivy dan melihat mata sang istri berkaca-kaca. Race menarik napas gusar lalu kemudian menghembuskannya kasar. Race juga mengusap wajahnya sekarang. Melihat Race yang begitu frustasi seperti itu, Ivy menarik tangan Race dengan ragu. Ivy lalu menggenggam tangan Race tanpa permisi.

"Maaf, Race," ucapnya lirih.

Race terkejut dengan ucapan Ivy, dia yang biasanya akan langsung menepis tangan Ivy kasar sekarang justru diam saja dan hanya menatap Ivy dengan mata melebar.

"Aku, akan menuruti ucapanmu, Race. Aku, tidak akan berpikiran untuk mati lagi. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah membuatmu marah seperti ini," ucap Ivy lagi dengan mata berkaca-kaca sudah akan menangis.

"Kenapa kali ini aku diam saja disentuh gadis ini? Kenapa, aku harus khawatir dengan mimpi yang selalu hadir padaku tentang gadis ini? Ada apa sebenarnya padaku sekarang?" batin Race bermonolog.

***

Di paviliun Bungalo, tempat tinggal Race. Race dan Winter sedang minum-minum bersama malam ini.

"Kau, yakin tidak pernah menemui Ivy?" tanya Winter.

"Iya," singkat Race mengiyakan.

"Kau, aneh sekali, Race. Dia itu istrimu bukan orang asing."

"Aku, tahu."

"Lalu, kenapa sikapmu seperti itu? Bukankah kau akan menyakiti hatinya yang lembut?"

Race melihat ke arah Winter sekilas, Race lalu kembali meneguk minumannya.

"Aku, sudah bertanggung jawab padanya. Aku, mencukupi semua kebutuhannya, ada banyak pelayan yang menemaninya, dia hidup mewah dan tidak akan kurang satu apapun. Kurang apa lagi?" ujar Race.

"Race, Ivy bukan hanya membutuhkan itu semua. Bukankah dia lebih membutuhkan perhatian dan juga dirimu lebih dari apapun."

Winter sedikit tidak sependapat dengan sepupunya itu.

Race tersenyum smirk lalu kembali menuangkan minuman ke gelasnya.

"Ini hanya pernikahan karena perjodohan, Winter. Lagipula pada akhirnya kami akan berpisah, aku tidak memiliki niatan untuk hidup selamanya dengan gadis itu."

"Kalau pikiranmu seperti itu, kenapa kau menerima perjodohan ini? Tidakkah kau sedang menyakiti seseorang sekarang?" tanya Winter lagi dengan ekspresi wajah berubah serius dan terlihat tidak senang dengan sikap Race sekarang.

"Karena ini takdirku. Pada akhirnya takdir ini juga untukmu, Winter. Di masa depan, aku akan melakukan apapun untuk dirimu putra mahkota," ucap Race yang sukses membuat bingung Winter.

"Untukku?" tanya Winter lagi.

"Iya, Ivy itu wanita tidak baik untukku ataupun untukmu. Aku, akan menghentikannya sebelum kau yang menjadi korban pertama karena Ivy."

"Apa maksudmu, Race? Kenapa aku jadi korban Ivy? Siapa sebenarnya gadis itu?"

Winter semakin bingung dengan ucapan Winter.

"Putri bangsawan dari barat," ujar Race enteng.

"Aku, juga tahu, tapi apa maksudmu dengan aku menjadi korban pertama Ivy?"

"Turuti saja perkataanku, Winter!"

"Apa pikiranku tentang Ivy benar?" batin Winter.

***

Ivy sedang berkeliling taman samping paviliun tempat tinggalnya sendirian. Ivy terlihat takjub melihat taman bunga yang tertata rapi.

"Ternyata di paviliun yang berisi orang-orang dingin dan pelayan ketus ini, banyak bunga cantik yang tumbuh. Bunga apa ini? Anggrek ungu?"

Ivy tersenyum senang dan tangannya terulur tanpa ragu-ragu untuk memegang bunga itu. Seseorang menarik tangan Ivy cepat.

"Kau, ini benar-benar bodoh atau bagaimana?" ucap Winter.

Ivy mengerutkan keningnya melihat kedatangan Winter di paviliunnya.

"Kenapa?"

"Kau, tidak tahu?"

"Apa?"

"Bunga itu beracun, Ivy. Kau, tidak tahu?"

"Aku, tidak tahu sama sekali, Bunga secantik ini bisa beracun?"

Ivy terlihat bingung dan memandang bunga itu lagi.

"Kau, memang sangat polos, Iv. Kau, benar-benar tidak memegangnya bukan?" tanya Winter memastikan lagi.

"Em,,,aku belum memegangnya. Terima kasih sudah mencegahku memegangnya."

"Ngomong-ngomong ada apa, kau datang kesini, Winter? Apakah ada urusan dengan Race? Kami tidak tinggal seatap," tanya Ivy lagi.

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Bisa kita bicara berdua saja?" tanya Winter berwajah serius.

Winter dan Ivy berakhir berjalan-jalan keliling taman sembari terus mengobrol.

"Jadi, kau tidak tahu apa-apa tentang Race?" tanya Winter.

"Iya, sedikitpun. Karena itu aku tidak tahu kenapa aku dianggap ancaman oleh Race, terutama untukmu Winter," jawab Ivy.

"Aku, juga tidak tahu apa maksud Race, tapi sejauh ini aku merasa kau tidak berbahaya bagiku, Iv. Maka dari itu aku datang kesini dan memastikan sendiri," terang Winter.

Ivy tersenyum lalu memegang tengkuknya yang merinding.

"Tengkukku merinding, ada sihir yang akan mencelakai seseorang," batin Ivy.

Mata Ivy lalu tertuju ke arah hutan dan melihat panah emas menuju ke arah mereka berdua.

"Itu sihir, aku harus melindungi Winter."

Dengan cepat Ivy lalu memeluk Winter, menjadikan dirinya sendiri tameng.

"Hei! Kenapa, kau memelukku tiba-tiba? Apa yang kau lakukan?"

"Di,,,diamlah sebentar!"

"Ivy! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?"

Winter melepaskan pelukan Ivy dengan paksa. Akhirnya Ivy melepas pelukannya pada Winter.

"Ivy! Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu membiru?" Winter mulai panik.

"Tidak,,,tidak ap..."

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Altair Onder de
9.4
Akibat campur tangan dewa yang menukar tubuh mereka tanpa izin, Altair dan Claretta terjebak dalam situasi ganjil. Rasa murka Altair meredam saat melihat Claretta menangis merindukan kehangatan seorang ibu. Di tengah embusan angin dan guguran kelopak bunga, mereka saling memahami luka masing-masing. Keduanya pun sepakat menerima takdir baru ini. Altair melepas identitas lamanya, sementara Claretta berjanji merawat ibu Altair dengan tulus sebelum cahaya memisahkan mereka selamanya.
Sampul Novel Anak Yang Tertukar
9.2
Kehidupan hampa Raya, seorang wanita kaya, mendadak berubah saat ia bertransmigrasi ke dunia novel menjadi Selina. Di sana, ia mendapati fakta bahwa Selina adalah anak yang tertukar sejak bayi akibat kelalaian suster. Menghadapi takdir baru yang manipulatif dan penuh intrik, Raya harus menentukan sikap. Apakah ia akan bertobat demi mengubah nasib buruk Selina, atau tetap menjadi sosok antagonis yang kejam? Setiap keputusan kini menentukan keselamatan jiwanya.
Sampul Novel Hello Again, Husband!
9.5
Kehancuran Natta akibat dikhianati Hasbi membawanya kembali ke masa SMA berkat sebuah jam misterius. Bertekad membalas dendam, ia justru menemukan trauma masa lalu suaminya yang tersembunyi. Kehadiran Hasbi muda yang memikat kini membuat Natta bimbang antara menuntaskan amarah atau kembali jatuh cinta. Di tengah misteri dan kesalahpahaman yang mulai terungkap, ia harus memilih jalan hidupnya.
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, seorang juru masak terkenal, terpaksa melarikan diri setelah dituduh membunuh perdana menteri lewat hidangannya. Di tengah pelarian, jiwanya merasuk ke raga seorang wanita korban tenggelam. Dalam wujud baru ini, Max justru terpikat pada Wulan, sahabat Nadia. Saat berhasil pulang ke tubuh aslinya, Max bertekad kuat untuk melamar Wulan. Namun, perjuangan meyakinkan sang pujaan hati ternyata sangat sulit. Mampukah koki ini memenangkan cinta sejatinya?
Sampul Novel Tak Terduga
9.4
Sebuah peristiwa tragis mengubah total kehidupan Fiel. Kini, ia harus menerima kenyataan bahwa penampilan fisik dan usianya telah berganti sepenuhnya. Walau penyebab transformasi aneh ini masih diselimuti misteri, Fiel menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Sambil memandang keluar jendela rumah sakit, ia justru menyambut takdir barunya dengan senyuman penuh makna. Bagi Fiel, perubahan misterius ini adalah permulaan dari sebuah permainan baru yang sangat menantang.
Sampul Novel Tidak Ada Ampun untuk Masa Lalu
8.3
Kembali ke masa lalu, Amelia dihadapkan pada penculikan putrinya, Anne, bersama Katrina, mantan pacar Jed Bennett. Saat bahaya mengintai, Jed justru memaksanya mendahulukan Katrina demi alasan remeh. Mengingat kematian tragis Anne di kehidupan terdahulu, Amelia menolak tunduk kali ini. Di tengah kemarahan dan tekanan dari Jed, Amelia mengambil tindakan dingin tak terduga untuk membalas dendam atas segala penderitaan masa lalunya yang kelam.