APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Never Move On

Never Move On

Hubungan Nico dan Nina kandas saat kuliah karena terhalang restu orang tua, hingga Nico pergi ke Amerika. Enam tahun kemudian, Nina yang sebatang kara dan kehilangan rumah harus bekerja menjaga apartemen kosong. Kejutan datang saat Nico kembali sebagai pemilik tempat tersebut. Karena Nina tidak memiliki tempat tinggal, Nico memperbolehkannya menetap. Tinggal bersama membuat mantan kekasih ini harus berbagi ruang lewat aturan ketat demi menjaga profesionalitas.
Bab
Bagikan

Bab 2

-Nina-

Aku sudah berada di apartemen ini selama satu minggu, semua berjalan cukup baik meski aku masih belum mendapat panggilan pekerjaan, apartemen ini terasa sangat nyaman dan mewah, bahkan bilik kamar mandi disini pun terbuat dari marmer berkelas, aku hampir terduduk lemas ketika mendengar bahwa harga satu unit apartemen empat belas lantai ini bisa mencapai sekitar tiga puluh empat miliar rupiah, atau jika aku harus membayar sewa maka aku harus merogoh kocek sebesar seratus delapan juta rupiah per bulan. Aku tidak bisa membayangkan berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

Tapi semua kenyamanan itu hilang begitu seseorang datang sambil membawa koper TUMI Alpha 3 berwarna hitam, ia adalah sosok yang tak pernah ku lihat selama bertahun-tahun.

Nico berdiri mematung sambil memegangi kopernya dan memandangku seakan aku adalah hantu.

Sedangkan aku, aku tidak membeku, tapi tulang kaki ku mendadak lemas dan rasanya aku akan terjatuh, mengingat kembali ciri-ciri yang nenek sebutkan tentang pemilik apartemen ini, aku baru menyadari bahwa pria itu adalah Nico, temperamental, dan rewel. Jelas itu dia.

"Sedang apa kau di rumahku?" tanya Nico, suaranya agak tinggi.

"Aku, aku pengganti nenek yang biasa membersikan tempat ini." jawabku. "Bukankah nenek sudah mengatakannya padamu?"

“Tapi ku pikir," Nico berpikir sambil menatapku dengan mengerutkan dahinya." atau paling tidak bukan…” Ia tidak melanjutkan kata-katanya dan malah menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Bukan apa?” Aku bertanya dengan sikap menantang.

“Bukan kau.” Balas Nico, ia mengangkat dagunya.

(Jadi dia tidak keberatan jika yang menginap adalah seorang wanita kecuali aku?) Aku menggeleng sambil mencibir dan melipat kedua tangan diatas perut.

“Jika aku tahu kau adalah pemilik tempat ini, maka aku juga tidak akan sudi tinggal disini sedetikpun.” Kataku dengan kasar, ikut mengangkat dagu.

Nico mengalihkan pandangan dan tertawa, sangat mengejek.

Aku memang butuh tempat tinggal, tapi aku tidak akan menghancurkan harga diriku dengan tetap bertahan disini, jadi ku putuskan untuk masuk ke perpustakaan dan mengambil koper, untung saja aku memang selalu menyusun bajuku di dalam koper, untuk berjaga-jaga jika suatu hari aku harus segera pergi.

“Aku akan pergi.” Kataku sambil menyeret koper dengan tangan kanan.

Nico hanya menatap tanpa ekspresi.

“Mau kemana kau malam begini?” Ia melihat jam di tangannya, terdengar cemas dengan ekspresi dingin.

“Kurasa berada di jalan akan lebih baik daripada disini,” kataku. Aku tidak serius, tentu saja aku tidak ingin tinggal di jalan dan menjadi gelandangan. Tapi tetap ku langkahkan kakiku menuju pintu, tentang kemana tujuanku akan ku pikirkan dalam perjalanan.

“Dengar.” Nico meraih lenganku, langkahku terhenti dan sialnya aku masih merasakan getaran seperti tersengat listrik tegangan rendah yang membuat hatiku berdebar-debar karena sentuhannya. “Aku tidak ingin menjadi orang jahat karena mengusir seorang gadis di tengah malam seperti ini,” katanya.

Aku mendengarkan.

“Kau bisa tetap tinggal disini, “ sambung Nico.

"Kau serius?" Tanyaku, merasa lega, senang dan sangat bersyukur.

"Ya, Tapi segera cari tempat lain besok." katanya.

"Baiklah, terimakasih." kataku lalu menggenggam erat tangannya.

Nico menarik tangannya. Seakan ia tidak ingin disentuh olehku.

"Cihh.. Sombong sekali." gerutu ku pelan. "Apa kau sudah makan? Aku baru saja akan makan malam."

Ia melirik semangkuk mie di meja makan. "Sudah." jawabnya.

"Baiklah, aku makan sendiri saja." kataku lalu duduk dan menyuap mie ku, terserah dia mau berpikir apa, toh aku di matanya memang sudah buruk, dia di mata ku lebih buruk lagi.

"Ada apa denganmu?" Nico duduk di kursi yang berseberangan denganku.

"Rumah yang biasa ku sewa akan dijual oleh pemiliknya, dan aku tidak punya uang untuk menyewa tempat yang baru." Meski ini menyedihkan, tapi aku ingin tetap terlihat kuat dan percaya diri.

"Kenapa tidak pulang ke rumah orang tuamu?"

"Mereka sudah tidak ada." jawabku lagi. "Pernah sih berpikir ingin pergi ikut bersama mereka, tapi itu adalah pikiran yang bodoh kan?"

"Tentu saja bodoh." Nico membentak. "Dan maaf, aku tidak tahu tentang orang tuamu."

(Bagaimana kau bisa tahu? Kau tidak pernah menghubungiku sama sekali dasar pria kejam.) Aku menghujatnya dalam hati. "Tidak apa-apa."

"Kau baik-baik saja?"

"Tentu." ucapku yakin, "Apa aku harus terpuruk? menangis? apa kau akan kasihan padaku jika aku menangis? apa kau tidak akan mengusirku?"

Nico diam saja.

"Sudah cukup aku menangis, satu hal yang diajarkan air mata padaku, bahwa menangis tidak akan menyelesaikan apapun."

"Kemana saja kau selama ini?" tanyanya.

"Bukankah seharusnya itu adalah pertanyaan ku?" Aku ternganga. "Kau yang pergi kenapa malah tanya aku kemana saja?"

"Maksudku bagaimana kau menjalani hidup selama ini?" Ia mengalihkan pandangan dariku.

"Ayahku meninggal beberapa bulan setelah kau pergi, dan ibu menyusul setahun setelahnya." Aku bercerita. "Aku membiayai kuliah dengan bekerja serabutan termasuk menjaga toko roti, dan pemilik toko roti tempatku bekerja memberiku tempat tinggal, sayangnya ia harus pergi ke luar negeri untuk tinggal bersama anaknya, semua asetnya di sini sudah dijual."

"Lalu apa rencana mu kedepannya?"

"Aku masih mencari kerja, seperti yang kau tahu, itu tidak mudah." kataku. "Ku mohon jangan usir aku, aku akan mencari tempat lain setelah aku mendapatkan gaji pertama ku ya." Aku memohon padanya.

"Memangnya kapan kau akan dapat pekerjaan?" Nico yang ku kenal kini semakin kaku saja.

"Kan sedang ku cari, secepatnya." Aku masih dalam posisi memohon. "Aku janji aku akan mencari pekerjaan secepatnya, atau jika sudah sangat terdesak, mungkin aku akan menghubungi pemilik toko roti itu lagi saja."

"Kenapa?"

"Sebelum pergi, bos ku itu sempat mengajakku ikut bersamanya, ia bilang bahwa anak laki-lakinya belum mempunyai calon istri dan sebenarnya ia ingin aku menjadi menantunya."

"Lalu?"

"Awalnya aku menolak, tapi setelah ku pikir-pikir lagi seharusnya waktu itu aku ikut dengannya saja, tidak masalah menikah dengan siapapun, yang penting kan aku bisa mendapatkan tempat tinggal dan bisa melanjutkan hidup."

"Apa-apaan kau?" Suara Nico meninggi lagi. "Mana ada orang yang menikah karena alasan konyol seperti itu."

"Apa salahnya? Aku bisa saja mencintainya nanti."

"Wahh.. yang benar saja, mana bisa seperti itu, sangat tidak masuk akal." Ia menggeleng dan memandangku sambil mencibir.

Aku mendengus. "Aku sudah selesai." kataku lalu pergi ke wastafel dan mencuci mangkuk dan berjalan ke perpustakaan.

"Mau kemana kau?" tanyanya. "Kita harus bicara."

"Tidur, kita bicara besok saja." kataku, aku tidak ingin berdebat dengannya, bisa gawat kalau aku membuatnya marah dan mengusirku malam ini.

"Kau tidur dimana?"

"Perpustakaan." Aku berteriak sebelum menutup pintu lalu segera tidur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ALASKA
8.4
Bhalendra Alaska Arlic meyakini bahwa perubahan sejati harus muncul dari kesadaran pribadi. Meski terus didera kepedihan hingga batinnya hancur, Alaska tetap berusaha tegar. Masa lalunya bersama Yesaya justru menorehkan trauma hebat dibanding memori indah. Di sisi lain, Azka memandang cinta tak lebih dari sekadar bualan belaka. Terperangkap dalam bayang-bayang kepedihan lama, sanggupkah kehadiran orang baru meruntuhkan benteng pertahanan Alaska dan memulihkan luka di hatinya?
Sampul Novel Cinta Yang Penuh Rahasia
8.0
Risa menaruh hati pada dosen mudanya, Bima, walau sadar hubungan mereka terlarang. Impian Risa seolah menjadi nyata saat perjodohan menyatukan mereka. Namun, di balik kehangatannya, Bima menyembunyikan rahasia kelam. Ketika kebenaran menyakitkan itu terbongkar, Risa yang terluka parah berubah menjadi pribadi yang tertutup dan memilih lenyap tanpa jejak. Kepergian sang gadis meninggalkan penyesalan mendalam bagi Bima yang kini didera rasa bersalah selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Melanjutkan kisah dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, sekuel ini menghadirkan dilema horor yang unik. Bagi seorang lulusan baru, kejaran makhluk halus rupanya tidak ada apa-apanya dibanding desakan sang ibu yang sangat berambisi mencarikannya pasangan hidup. Teror perjodohan setiap hari ini terasa jauh lebih mengerikan bagi sang protagonis. Ikuti perjuangan jenakanya menghadapi tuntutan keluarga di tengah gangguan mistis yang penuh misteri.
Sampul Novel Lovers
8.9
Pertemuan tak sengaja di kelab malam saat malam tahun baru memicu ketertarikan Ryan Bagaskara pada Kanaya Putri Soemardi, meski pakaiannya sempat terkotori oleh gadis itu. Namun, jalan cinta mereka sangat terjal. Ayah Kanaya telah merencanakan perjodohan putrinya dengan Gilang Witjaksono, seorang putra pejabat yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Ryan. Kini, Ryan harus menghadapi dilema rumit dan berjuang keras demi mendapatkan restu serta memenangkan hati Kanaya.
Sampul Novel Luka Yang Sisa Kenangan
8.5
Memasuki tahun keempat pernikahan, Luna Gozali bersiap menyambut kehamilan pertamanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat pihak rumah sakit mengungkap bahwa dokumen pernikahannya dengan Rocky Riyandi palsu. Penyelidikan Luna ke kantor catatan sipil justru mengungkap kenyataan pahit: Rocky secara sah tercatat sebagai suami dari Paula Gozali, kakak tirinya sekaligus cinta pertama Rocky yang dahulu kabur ke luar negeri saat hari pernikahan mereka.
Sampul Novel Pengantin Bayangan
8.1
Lima tahun Elara terikat pernikahan paksa tanpa tahu alasan Duke Alaric memilihnya. Usai dihina dan ditinggalkan Cassian pada malam pertama, kini ia bangkit menjadi wanita berbahaya berkekuatan misterius. Saat Cassian kembali membawa rahasia gelap, Elara bukan lagi korban lemah. Konspirasi besar di balik perjodohan mereka mulai terkuak, memaksanya menghadapi kenyataan pahit dalam perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya.