
Nasib Seorang Wanita Proyek
Bab 3
Aku nggak tahu persis kapan akhirnya tertidur, tapi saat bangun, langit masih agak gelap.
Karena kurang tidur, kepalaku terasa berat dan sedikit pusing.
Para pekerja proyek sudah mulai bangun dan bersiap-siap untuk bekerja.
Aku melihat Kak Nia, dan dia masih sempat menyapaku dengan santai.
Suaminya juga ada di dekatnya, mereka berdua ngobrol sambil tertawa-tawa, terlihat begitu akrab. Sikapnya benar-benar seperti biasa saja, seolah kejadian tadi malam sama sekali nggak pernah terjadi.
Harus kuakui, Kak Nia benar-benar wanita yang punya mental baja.
Aku pun terus tinggal dan bekerja di proyek ini untuk beberapa waktu. Selama itu, aku mulai menyadari kalau hubungan Kak Nia dengan banyak pria di proyek ini sepertinya tidak sesederhana kelihatannya.
Bukan cuma dengan anak muda yang kulihat, sepertinya masih banyak lagi…
Bisa dibilang, kepala suaminya sudah jadi padang rumput luas hijau sejauh mata memandang.
Tapi anehnya, dia tetap tenang-tenang saja, seolah nggak pernah menyadari apa pun yang terjadi.
Beberapa waktu kemudian, aku malah mengetahui sesuatu yang lebih mengejutkan. Ternyata suaminya juga main belakang dengan wanita lain.
Dalam hati, aku nggak bisa menerima hubungan seperti itu. Kalau begitu, apa masih pantas disebut suami istri?
Saling selingkuh?
Apa suami Kak Nia memang nggak tahu istrinya begitu, atau pura-pura nggak tahu?
Tapi, di balik rasa heranku, aku juga merasa sedikit iri pada Kak Nia. Dia bisa dengan bebas menikmati tubuh-tubuh pria di sini, menikmati kepuasan yang datang dari kenikmatan fisik.
Sedangkan aku? Aku hanya bisa menahan diri tiap malam, memendam sepi yang sulit diungkapkan.
Setiap kali melihat pria-pria yang bertelanjang dada, hanya mengenakan celana dalam sambil mondar-mandir di kamar setelah mandi, napasku selalu jadi tak beraturan.
Tonjolan kecil itu... entah kenapa selalu berhasil menarik perhatianku. Mataku tak bisa menahan diri untuk melirik dua kali, lalu buru-buru berpaling dengan wajah memerah.
Apalagi kalau malam tiba, suara ranjang besi yang berderit-derit itu membuatku semakin tersiksa. Sementara suamiku, dia memang lemah dalam urusan itu.
Aku takut, suatu hari nanti aku akan kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan terhadap suamiku.
Sudah lebih dari sebulan aku berada di proyek ini.
Hari itu, pekerjaan tahap pertama akhirnya selesai. Mandor membagikan sebagian gaji, dan semua orang memutuskan untuk merayakannya, bersenang-senang sebentar.
Nia mengusulkan untuk karaokean. Semua setuju. Tapi suamiku bilang badannya nggak enak, jadi dia tidak ikut. Dia menyuruhku menikmati malam dan bersantai.
Malam itu, aku pun ikut rombongan teman-teman proyek pergi ke KTV.
Di proyek, sebagian besar adalah pria. Hanya ada empat perempuan: aku, Nia, dan dua gadis lainnya.
Awalnya suasananya masih agak canggung. Kami hanya minum sedikit, menyanyi untuk mencairkan suasana.
Tapi setelah beberapa putaran minuman, mungkin karena pengaruh alkohol, suasana mulai panas. Beberapa pria mulai melontarkan lelucon mesum ke arah Kak Nia, bahkan ada yang iseng menepuk pantatnya.
Tapi Kak Nia sama sekali tak marah. Ia hanya tersenyum tipis, paling banter melirik tajam sambil mendengus pelan.
Setelah menyelesaikan satu lagu, aku menjatuhkan diri di sofa, berniat meneguk sedikit minuman untuk membasahi tenggorokan.
Namun tiba-tiba, pandanganku tertuju pada Nia, entah sejak kapan ada seorang pria duduk di sebelahnya. Dan kedua tangan pria itu sangat nakal, dengan bebasnya meraba tubuh Kak Nia.
Yang membuatku terkejut, Kak Nia sama sekali tidak menolak. Ia hanya membiarkan pria itu menyentuhnya, wajahnya bahkan tampak rileks, seolah menikmati semua itu.
Sepertinya dia menyadari kalau aku sedang menatapnya. Ia pun menoleh dan menatap balik ke arahku.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan.
Tapi tak kusangka, dia justru memanggil namaku, sama sekali tak merasa sungkan, dan memintaku duduk di sampingnya.
Mau tak mau, aku pun memberanikan diri dan duduk di sebelah Nia, lalu mengangkat gelas untuk bersulang dengannya.
Namun bahkan sampai sekarang, pria di sampingnya masih tak berhenti menyentuh-nyentuh tubuhnya, seolah-olah aku ini tak ada di sana.
“Yumi, santailah, kita di sini buat senang-senang!” katanya sambil tertawa genit.
“Yang penting tuh bahagia, kan?”
“Kalau kamu naksir cowok yang mana, bilang aja ke aku. Nanti malam langsung aku atur biar dia nemenin kamu.”
Begitu kalimat itu keluar dari mulut Kak Nia, hampir semua mata pria di ruangan itu langsung menoleh dan tertuju padaku.
Anda Mungkin Juga Suka





