APKDock Logo
Sampul Novel Guruku Suamiku

Guruku Suamiku

8.4 / 10.0
Demi menyelamatkan warisan keluarga Darmawan, Arjuna harus memenuhi wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Asmara, siswi SMK berumur 17 tahun. Penolakan akan membuatnya kehilangan segalanya, sementara ayah Asmara, Pak Banu, terancam bui akibat kasus kecurangan bisnis masa lalu. Kini, Arjuna harus membujuk gadis muda tersebut agar bersedia menikah demi masa depan mereka berdua. Mampukah pernikahan akibat paksaan ini berjalan dengan lancar?

Guruku Suamiku Bab 1

Terik tengah hari bergulir perlahan semakin memanaskan area ruko Puri Mas. Arjuna yang tengah beristirahat siang di salah satu kedai kopi di jajaran ruko sebelah kanan.

Tampak menatap segelas kopi hitam sedikit gula kesukaannya. Wajahnya tampak mengingat sesuatu tentang sebuah kenangan.

Kenangan puluhan tahun silam tentang satu masa. Bahwa pernah ada kisah cinta dalam saksi bisu bangku yang ia tempati siang ini di masa muda putih abu-abu.

Dahulu ada seorang gadis dengan tajuk kencan pertama di malam buta. Duduk berdua menikmati alunan petik gitar para pengamen jalanan di kedai Melati yang ia singgahi siang ini.

“Ya sudahlah itu masa lalu dan biarkan menjadi masa lalu. Sekarang yang harus aku pikirkan tentang pengembangan gurita bisnisku ke depan. Persaingan semakin ketat aku rasa dan para kolega jua sudah mulai goyah,” gerutu Arjuna sambil tersenyum ringan dengan teguk kopi satu seruput di bibirnya yang masih merah jua.

Wajah Arjuna tergolong awet muda dengan usia yang tak muda lagi. Tiga puluh tahun sudah ia menjalani kehidupan. Bahkan teman-teman sebayanya sudah ada yang memiliki tiga atau dua anak.

Namun Arjuna masih betah melajang hingga saat ini. Walau bergelimang harta dan tergolong tampan. Tetapi masalah asmara Arjuna tak pandai bermain di area tersebut.

“Ke mana Pak Banu ini? Katanya janji bertemu di sini siang ini. Andai bukan masalah tentang surat wasiat Bapak. Tentu aku enggan juga meladeni keinginan Pak Banu yang haus akan harta dan jabatan tersebut,” gumam Arjuna yang telah membuat janji bertemu dengan Pak Banu.

Pak Banu adalah seorang yang dahulu dipercaya oleh Pak Darmawan Ayah dari Arjuna. Pak Banu memiliki profesi sebagai notaris handal. Tetapi entah kenapa Arjuna dari dahulu tak menyukai dia.

Bahkan Arjuna bukan tanpa sebab akan tak menyukai orang tersebut. Sebab dahulu pernah Pak Banu melakukan kecurangan penggelapan uang perusahaan Pak Darmawan.

Oleh karena alasan Pak Banu untuk menyekolahkan putrinya menuju jenjang SMK. Oleh sebab sifat Pak Darmawan yang memang sesuai namanya sangat dermawan. Maka Pak Banu hanya diproses secara kekeluargaan dan diwajibkan mengganti dengan dicicil sebisanya.

Masih teringat kata sang Ayah di telinga Arjuna, “Nak, Anakku Arjuna jangan menimbang satu hal dari sisi buruknya saja. Timbang juga akan sisi baiknya pula agar seimbang hidupmu. Tetap berpikir positif dalam hidup, agar jiwamu tetap sehat selalu. Bisa jadi memang benar Pak Banu sangat membutuhkan uang itu dan tak berani bicara pada Bapak. Beliau juga sudah ikut kita bertahun-tahun. Pandang juga jasa beliau yang ikut memajukan bisnis kita.”

Huftz,

Hela nafas Arjuna agak panjang bila mengingat semua hal tentang Almarhum Ayahnya. Bahkan terlalu perih pertemuan terakhir dengan Sang Ayah saat ia hendak menimba ilmu ke luar negeri. Tanpa Arjuna sadari saat itu adalah pertemuan terakhirnya bersama Sang Ayah.

Sialnya saat kematian Sang Ayah satu tahun silam. Arjuna sedang melakukan skripsi yang tidak bisa diundur dan ditinggalkan pelaksanaannya. Bahkan walau Arjuna setelah usai skripsi langsung pulang ke Indonesia. Tetap saja Arjuna terlambat menghadiri pemakaman Ayahnya.

“Assalamualaikum Mas Arjuna, maaf telat. Tadi Asmara putriku sibuk menyiapkan acara ulang tahunnya. Jadi saya harus ikut menyiapkan ini dan itu. Maklum Ibunya Asmara sudah berpulang dua tahun yang lalu. Mohon dimaklumi ya Mas Arjuna atas keterlambatan saya,” ucap Pak Banu yang baru datang dan agak merasa takut atas marahnya Arjuna.

“Tidak masalah Pak saya juga enggak sibuk-sibuk amat hari ini. Silakan duduk dan oh iya mau pesan minum atau makan siang mungkin. Biar saya pesankan kebetulan tadi saya sudah makan siang,” ujar Arjuna agak berbosa-basi.

“Tidak usah repot-repot Mas Arjuna segelas teh hangat cukup menyegarkan dahaga saya dipanas siang hari ini,” jawab Pak Banu sambil mengeluarkan berkas lama yang ia bawa dan bertuliskan logo keluarga Darmawan.

“Pelayan teh hangat satu gelas ya?” teriak Arjuna sambil mengacungkan tangannya.

“Siap Pak Bos segera diantarkan,” jawab salah satu pelayan kedai kopi dimanah mereka sekarang duduk bersama dan baru sekali ini mereka duduk bersama. Walau selama ini Pak Banu terus bekerja di keluarga Darmawan.

“Singkat saja Pak Banu langsung ke topik yang kita bicarakan semalam ditelepon. Apa maksud dan isi surat tersebut. Tenang saja kali ini aku tak akan mencurigai Pak Banu. Sebab Bapak juga pernah berkata padaku. Tentang surat wasiat yang dititipkannya pada Bapak,” tutur Arjuna sambil menyulut sebatang rokok di tangannya.

“Sebaiknya Mas Arjuna membacanya sendiri. Nanti kalau saya yang menjelaskan takutnya Mas Arjuna salah paham. Mas Arjuna juga pasti mengenali tulisan tangan Pak Darmawan dan juga tanda tangannya bukan? Maka surat yang saya bawa asli. Benar-benar ditulis oleh beliau dan dititipkan pada saya saat beliau masih hidup,” ucap Pak Banu mengulurkan satu map berkas warna biru pada Arjuna.

Lantas Arjuna membukanya dengan cepat dan begitu pula cara membacanya. Tampak raut wajah Arjuna seketika berubah drastis. Menjadi satu wajah yang tampak heran dan tak mengerti akan isi tulisan pada surat wasiat Ayahnya tersebut.

“Ada apa Mas Arjuna, apa isi dari surat tersebut. Bahkan saya sendiri bertahun-tahun tidak berani membukanya,” ujar Pak Banu yang jua ikut penasaran akan isi surat wasiat.

“Apa benar Pak Banu tidak pernah membukanya sama sekali. Walau untuk membaca isinya dan sekedar ingin tahu maksud dari Ayah saya?” tanya Arjuna memasukkan kembali lembaran kertas surat wasiat ke dalam map warna biru.

“Sama sekali tidak pernah Mas, bahkan map itu aku istimewakan dan aku taruh pada satu brangkas bersama surat-surat penting kami. Dimanah brangkas tersebut memang jarang kami buka. Apakah isi surat tersebut kalau boleh saya tahu Mas?” Pak Banu malah bertanya pada Arjuna.

“Kata Ayah saya di dalam surat ini. Yayasan SMK Darmawan Jaya yang di tengah kota itu diberikan pada saya. Tetapi saya harus menikah dengan putri Bapak Asmara. Tetapi Putri Bapak bukannya masih kelas dua di sana, apa patut saya menikahi gadis belia?” tutur Arjuna menjadi agak bingung.

“Apa tidak ada kelanjutannya Mas dari kata-kata surat itu. Mungkin ada kata tetapi atau pengecualian setelahnya Mas?” Pak Banu malah bertanya seakan jua tak mempercayai akan surat wasiat dari Ayah Arjuna.

“Ada Pak Banu, Dalam surat ini. Ayah saya berkata. Kalau semua perintah beliau tak dilaksanakan. Maka tuntutan Ayah akan kecurangan Pak Banu dilanjutkan dan perkara itu sudah dititipkan pula pada kepala sektor kepolisian kota ini. Bahkan kata Ayah dalam surat ini semua aset serta kekayaan beliau akan dihadiahkan atau disumbangkan pada yayasan yatim piatu bila aku tak mematuhinya,” tutur Arjuna.

“Terus bagaimana menurut Mas Arjuna. Aku terserah Mas Arjuna bagaimana baiknya?” ucap Pak Banu yang berwajah semakin tegang.

“Terus terang saya dari dahulu tak menyukai Pak Banu. Tetapi saya bukan orang dengan tipe yang suka melihat orang lain sengsara. Apalagi harus memasukkan Pak Banu ke penjara. Jadi mau tak mau kita laksanakan isi dari surat ini,” jawab Arjuna.

“Lalu masalah Asmara anak saya bagaimana Mas?” ucap Pak Banu yang khawatir kalau Asmara tak menyetujui tentang isi surat wasiat Pak Darmawan.

“Mengenai Asmara putri Bapak, saya akan mencoba mendekatinya dengan cara menjadi salah satu guru di SMK itu. Saya akan berusaha menarik simpatinya dan memberitahunya perlahan akan surat ini. Sebab dalam surat ini pernikahan harus dilangsungkan saat saya berusia tiga puluh tahun. Kalau melebihi itu surat dibatalkan dan Bapak tahu artinya pembatalan surat wasiat ini bukan,” tutur Arjuna seraya berdiri hendak berpamitan pergi.

“Baik Mas Arjuna saya serahkan semua pada Mas Arjuna. Tolonglah ya Mas dan saya tak mau masa tua saya nanti saya habiskan di terali besi. Karena saat itu memang benar-benar terpaksa saya melakukannya,” ucap Pak Banu mengulurkan tangan mengajak jabat tangan dengan Arjuna.

“Baik Pak Banu lain kali kita bahas lagi hal penting ini. Saya juga sudah memaafkan kesalahan Pak Banu yang dahulu. Sekarang mari kita bekerja sama untuk melakukan perintah dari surat wasiat ini,” kata Arjuna menjabat tangan Pak Banu.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Guruku Suamiku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bukan Gadis Simpanan
9.2
Carl Davidson gemar menjahili Samantha Walker sejak kecil dengan menaruhnya di meja tinggi hingga menangis. Kebiasaan unik ini bertahan hingga Carl sukses menjadi miliuner otomotif. Kini, ia tidak hanya mendudukkan Samantha di meja, tapi juga membawanya ke ranjang. Di tengah stigma buruk masyarakat yang melabelinya sebagai gadis simpanan, mampukah Samantha mempertahankan kehormatannya dan bersanding dengan Carl di pelaminan?
Sampul Novel Kebahagiaan yang Pernah Kusimpan
8.2
Sebuah skandal besar mendadak mengguncang seluruh penjuru Universitas Jido. Rekaman video sangat pribadi milik Arlena tersebar luas setelah diunggah ke dalam grup obrolan kampus. Video yang diambil di dalam suite kepresidenan sebuah hotel bintang lima tersebut memperlihatkan momen yang sangat intim. Di depan sebuah jendela besar, Arlena tampak bersama seorang pria bertubuh jauh lebih tinggi. Kedekatan yang begitu intens di antara mereka kini menjadi pusat perhatian dan bahan gosip terpanas satu angkatan.
Sampul Novel Menikah Dengan Keponakan
9.0
Satu kekeliruan fatal memaksa Aeris dan Leon terikat dalam pernikahan tanpa rasa cinta. Perbedaan umur yang jauh serta watak yang bertolak belakang membuat rumah tangga mereka terus diwarnai perselisihan. Leon yang bersikap dingin kini harus bersabar menghadapi perilaku aneh Aeris sehari-hari. Situasi kian rumit ketika cinta pertama Leon mendadak kembali hadir. Akankah Leon sanggup bertahan menjaga komitmen pernikahannya, atau justru memilih kembali pada masa lalunya?
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil akibat kecelakaan tragis yang menewaskan orang tua mereka, Angel dan Tiara kembali terhubung lewat media sosial. Namun, pertemuan ini berujung duka saat Tiara tewas mengenaskan. Di sisa napas terakhirnya, Tiara memohon agar Angel membalaskan dendamnya pada para pelaku. Kini, Angel harus mempertaruhkan nyawa demi membongkar konspirasi kejam di balik kematian saudara kembarnya dan menuntut keadilan.
Sampul Novel Suamiku CEO Galak
8.7
CEO muda sukses, Rakha Aditama Syailendra, dikenal sangat dingin dan materialistis. Akibat terus melajang, rumor buruk tentang orientasi seksualnya beredar hingga merusak harga dirinya. Sang ibu yang cemas mendesaknya pulang untuk dijodohkan dengan Mayra, keponakan asisten rumah tangga mereka yang berparas cantik. Rakha menuduh Mayra matre, padahal gadis itu hanya tak tega menolak ibunya. Sanggupkah Mayra bertahan menghadapi kekasaran sikap Rakha?
Sampul Novel Terpaksa Menikah
8.9
Demi menutupi sebuah aib besar, pernikahan dengan karyawan ayahku terpaksa dilakukan. Awalnya perbedaan kasta membuatku enggan, tetapi sikap dingin pria itu malah memicu rasa penasaranku. Walau dia dikenal sangat setia pada wanita dari masa lalunya, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku bertekad melakukan segala cara untuk memenangkan hatinya karena kini aku telah benar-benar jatuh cinta. Perjuanganku untuk mendapatkan cintanya baru saja dimulai.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan