APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nasib Dikelilingi Tetangga Julid

Nasib Dikelilingi Tetangga Julid

Dalam kisah romansa modern ini, ketenangan hidup sang protagonis terusik oleh kehadiran para tetangga yang gemar mencampuri urusan pribadi. Hari-harinya kini dipenuhi keresahan akibat gunjingan serta komentar pedas yang tersebar luas tanpa kendali. Menghadapi lingkungan yang sarat provokasi dan gemar bergosip menjadi ujian kesabaran yang berat. Di tengah dinamika tersebut, ia harus bertahan menghadapi sikap usil orang-orang di sekitarnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Eh, liat tu, Bu Ibu, tetangga sombong lewat," celetuk Bu Tut. Bu Tuti atau biasa dipanggil Bu Tut, memulai kebiasaannya menyindir Rani.

Rani yang mendengar hanya melengos begitu saja. Ia malas kalau berhadapan dengan Bu Tuti. Tak akan ada habisnya kalau melayani sindirannya.

Melihat Rani yang tidak terpancing, membuat Bu Tuti kesal. Ia kembali menyindir, "Kok, bisa ya, si Irwan betah punya istri sombong kaya gini? Kadang saya juga liat loh, Bu Ibu, suaminya mau aja disuruh melakukan pekerjaan rumah. Padahal 'kan itu tugasnya perempuan. Laki-laki itu tugasnya hanya mencari nafkah. Kasihan banget 'kan yang jadi suaminya? Sudahlah bekerja, di rumah pun harus melakukan pekerjaan rumah tangga lagi! Punya istri, kok ya, ga guna." Mulut Bu Tuti memang nggak pernah pake rem kalo ngomong.

Rani terdiam mendengar ucapan Bu Tut. Tangan kanannya yang memegang sayur gemetar saking geramnya dia. Dia mulai terpancing emosi.

"Bu Tut, ini memang nggak bisa didiemin, ya!" ucapnya terlihat geram. Matanya menampakan kemarahan.

Seketika nyali Bu Tut menciut."Memang apa salahnya kalau suami membantu istri? Yang bantuin juga suami saya, bukan suaminya Bu Tut. Mas Irwan-nya aja nggak keberatan, kenapa jadi Bu Tut yang repot?" ketus Rani.

Suasana di tukang sayur pagi itu memanas, Rani yang biasanya diam saja ketika mulut pedas Bu Tut berbicara, kali ini tak tinggal diam.

"Bu, minta tolong sama suami sendiri itu ga dosa dan nggak ada yang larang, yang nggak boleh itu minta tolong sama suami orang, secara paksa pula. Habis itu, dengan tidak tau malunya menggoda suami orang," Rani menyindir Bu Tut. Ia mengingatkan Bu Tut ketika anak perempuannya yang sudah menjadi janda meminta tolong kepada suaminya membetulkan lampu di rumahnya.

Bukan hanya meminta tolong, Ratih-- anaknya Bu Tut bahkan tidak segan-segan menggoda suami Rani. Untungnya, Irwan tidak tergoda. Dia lelaki yang kuat iman.

Bu Tut kena mental. Ia merasa sangat malu. Meski tidak ada satu pun warga yang tau, tapi perkataan Rani sukses membuat Bu Tut terdiam.

Rani menarik sudut bibirnya melihat Bu Tut berhenti mengoceh. "Berapa, Bang, total belanjaan saya?"

"Dua puluh lima ribu, Mbak Rani!" Rani menyodorkan uang pas dan segera berlalu dari perkumpulan ibu-ibu rese itu tanpa mencoba berbasa-basi dengan mereka.

"Liat tuh! Anak muda zaman sekarang ga ada sopan santunnya sama orang tua," celetuk Bu Susi, salah seorang gengnya Bu Tut. "Kurang ajar banget ngomong seperti itu."

"Sudah, Bu!" tegur Bu Midah salah satu tetangga yang rumahnya dekat dengan rumah Rani. "Nanti, orangnya dengar! Ibu mau disamperin si Rani lagi?" Bu Midah mencoba menakuti.

Bu Midah salah satu tetangga yang ga suka berkumpul dengan ibu-ibu penggosip seperti gengnya Bu Tut. Beliau sama seperti Rani. Lebih suka di rumah berkumpul bersama suami dan anaknya.

Beliau juga tau, kalau gengnya Bu Tut selalu membicarakan dia di belakang. "Itu lah resiko kalau sudah kenal dengan orang yang suka menggosip. Kalau kalian tidak ada, kalian lah yang akan dijadikan bahan gosipan," batinnya.

"Emang bener 'kan. Si Rani itu memang kurang ajar. Masa sama Bu Tut bicara seperti itu. Bu Tut ini seumuran loh sama ibunya."

"Bukannya saya membela Rani, tapi 'kan Bu Tut duluan yang memulai. Coba kalau Bu Tut diam aja, mungkin Rani nggak akan bicara seperti itu," bela Bu Midah.

"Bu Midah, ini apa-apaan, sih? Segitunya membela Rani! Dibayar Rani berapa memangnya?" ketus Bu Tut.

Bu Midah yang tau sifat Rani tak seperti yang digosipkan tetangga hanya geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Bu Tut.

"Bukan begitu, Bu Tut. Ya, sudah kalau begitu saya permisi duluan, ya! Mau segera masak untuk suami saya." Daripada semakin panjang Bu Midah segera berlalu meninggalkan mereka.

Yang tersisa tinggal gengnya Bu Tut. Mereka bergosip ke sana ke mari, membicarakan orang yang tak sefrekuensi dengan mereka.

"Bu, ini masih lama lagi milih belanjaannya? Saya mau keliling lagi ke gang sebelah!" tanya Kang Parto, tukang sayur langganan mereka.

"Sabar atuh, Kang! Ini masih milih-milih, bingung soalnya mau masak apa?" jawab Bu Irma.

"Yang cepat, Bu! Nanti pelanggan saya malah belanja di tempat lain lagi," Kang Parto semakin mendesak.

"Yee.. Akang! nggak sabaran banget. Rejeki itu udah ada yang ngatur, Kang! Kalau rejeki Akang mereka bakalan beli, kok!" ucap Bu Tut sewot.

"Ayo, Bu, cepetan! Ibu-ibu ini, milihnya lama palingan nanti juga ngutang sama saya." Kang Parto tak tahan lagi, secara tak sadar dia berkata seperti itu.

Bu Tut merasa tersinggung dengan ucapan Kang Parto. Dia membalas dengan ketus, "Apa maksud Akang bicara begitu? Mau nagih, iya?"

Mendengar suara Bu Tut yang sedikit menggas dan nyaring, Kang Parto sempat kicep. Dia menelan salivanya.

"Bukannya nagih, Bu! Saya juga untungnya dikit, janganlah dihutang terus!"

"Kami memang sering ngutang, tapi kami selalu belanja di tempat Akang, nggak pernah ke tempat lain. Kalau kami nggak belanja di sini, nggak bakalan ada orang kampung sini yang belanja sama Akang!" Bu Irma membela bestinya, Bu Tut.

"Mendingan nggak punya pelanggan kaya situ daripada ngutang terus," batin Kang Parto.

Merasa dibela, Bu Tut pura-pura merajuk. "Nih, saya bayar semua belanjaan saya," ucapnya ketus sembari menyodorkan uang lima belas ribu.

"Loh, nggak sekalian sama hutang-hutang yang kemarin, Bu?"

"Nggak lah.., sebenarnya saya pengen bayar tapi karena Akang bicara begitu, saya jadi males bayar! Ayo, gays kita cabut." Bu Tut bicara seenaknya. Beserta gengnya, mereka berlalu meninggalkan gerobak kang sayur.

Kang Parto hanya bisa melongo melihat kelakuan para gadis berumur itu.

"Heleh.., dikira bayar sekalian sama hutang, taunya cuma bayar belanjaan tadi aja. Sudah lah lama milihnya yang dibeli juga sedikit," gerutu Kang Parto.

"Ngomongin orang jagonya. Nggak ngaca sama kelakuan sendiri." Lelaki berumur 30 tahun itu masih menggerutu sambil mendorong gerobaknya menuju gang sebelah.

****

Rania sampai ke rumah dengan muka cemberut. Pertemuan dengan Bu Tut di kang sayur tadi sukses membuat moodnya berantakan.

Melihat raut wajah istrinya, Irwan-- suaminya bertanya, "Ada apa, Yank? Kok, datang dari belanja mukanya cemberut gitu? Habis digodain si Parto, ya?" Dengan nada sedikit cemburu.

"Huh..." Rani menghela nafas. "Apaan sih, Mas! Aku lagi bete juga, habis ketemu sama Mak Lampir!"

Suaminya terlihat bingung. Dia tidak mengerti, siapa yang dimaksud istrinya Mak Lampir.

"Eh, maksud kamu siapa, Yank?"

"Siapa lagi? Itu ibunya janda gatel, yang rumahnya di pojokan sana," gerutu Rani.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asa di Ujung Sajadah#bukuke-2
9.2
Dalam sekuel Women Power Series, Jihan Khairiyah harus menghadapi cobaan berat saat hamil tua. Rumah tangganya hancur setelah sang suami, Tommy Wiranata, terjebak cinta lama bersemi kembali dengan Diana, tetangga dekat yang sudah dianggap saudari sendiri. Walau Tommy berkilah itu cuma kekhilafan, Jihan menganggap pengkhianatan batin tersebut sebagai perselingkuhan nyata. Jihan pun bimbang untuk bertahan demi materi atau melangkah pergi mempertahankan martabatnya.
Sampul Novel Cinta sang tuan muda
7.9
Suatu pagi, Joan dikejutkan oleh keberadaan bayi perempuan yang ditinggalkan di depan pintu rumahnya. Bayi malang tersebut diletakkan di dalam kardus dengan selimut tipis, lengkap bersama sepucuk surat permohonan maaf yang penuh misteri. Penemuan tak terduga ini seketika mengubah garis hidup Joan. Kini, ia terjebak dalam dilema besar: merawat anak itu sendiri atau menyerahkannya ke panti asuhan demi masa depan yang lebih baik.
Sampul Novel Dia Mengendalikan Dunia
9.3
Grace, miliarder rahasia bentukan pemerintah, akhirnya merasakan kehangatan dalam keluarga Holden. Meski kerap dituduh sebagai penipu, status aslinya sebagai peretas ulung, profesor genius, dan bos korporasi besar perlahan mulai terkuak. Di puncak kejayaannya yang menghebohkan dunia, Colton, seorang taipan misterius, hadir menuntut komitmen masa depan. Berbekal hadiah pulau mewah untuk keturunan mereka, Colton bertekad menjerat Grace dalam kisah cinta yang tak bisa dihindari.
Sampul Novel Dinginnya Bodyguard, Hangatnya Cinta
9.4
Sebagai pewaris dinasti politik, keselamatan Alexa berada dalam ancaman besar. Sang ayah akhirnya menunjuk Rafael, seorang mantan tentara pasukan khusus yang sangat disiplin, untuk menjadi pelindung pribadinya. Walau Rafael berupaya keras bersikap profesional, daya tarik Alexa mulai menggoyahkan keteguhannya. Di tengah kepungan bahaya dari musuh yang mengintai, Rafael menyadari bahwa menghalau pembunuh jauh lebih mudah daripada meredam getaran asmara di antara mereka.
Sampul Novel Pengantin Wanita yang Dicemoohnya Ternyata Legendaris
8.4
Fernanda kerap dihina sebagai gadis desa yang kasar semenjak kembali ke keluarganya, tetapi ia tak peduli. Keadaan berubah saat Cristian, pria yang sangat rasional, digosipkan hilang akal karena mencintainya. Tak rela sang kekasih difitnah, Fernanda mulai bertindak. Satu demi satu identitas aslinya terkuak, mulai dari desainer hebat, gamer genius, pelukis ternama, hingga pengusaha sukses. Ternyata, dialah yang selama ini membodohi mereka semua.
Sampul Novel Penipuan Lima Tahun, Pembalasan Seumur Hidup
9.4
Alina Wijaya mengira hidupnya sangat bahagia bersama suami, Bram, dan keluarganya. Namun, sebuah rahasia kelam terbongkar tepat di hari ulang tahunnya. Bram ternyata menjalani kehidupan ganda selama lima tahun dengan musuh bebuyutan Alina, Kiara. Lebih menyakitkan lagi, cinta orang tua Alina sendiri hanyalah kepalsuan demi menyokong finansial Bram. Menyadari dirinya dikhianati dan dijadikan alat, Alina yang dianggap tak berdaya kini bangkit untuk menuntut balas pada mereka semua.