APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku

Nafsu Kakak Tiriku

Nando memendam obsesi kelam pada Laily, adik tirinya yang santun. Suatu malam, ia nekat mencoba melecehkan Laily saat gadis itu hendak beribadah. Beruntung, Abdi yang sedang mabuk datang menolong. Namun nasib malang menimpa Abdi ketika ia justru difitnah sebagai pelaku asusila tersebut. Akibat salah paham yang berkembang, Abdi pun terpaksa menikahi Laily demi bertanggung jawab atas tuduhan keji yang menjerat dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Menikahlah dengan Nak Abdi, Li."

Laily yang menunduk sontak mengangkat wajahnya menatap Pak Ilham yang berdiri di depannya.

Pak RT juga RW memberikan kesempatan pada Laily dan Pak Ilham untuk bermusyawarah terlebih dahulu, berduaan saja untuk memutuskan memilih sanksi yang mana.

"Apa itu artinya Bapak percaya dengan fitnah Mas Nando?" tanya Laily menatap tak percaya pada Pak Ilham.

Pak Ilham segera menggelengkan kepalanya. "Bukan, Nak…bukan."

"Lalu, Pak?"

"Bapak sama sekali tak percaya dengan tuduhan Nando. Sebab Bapak lebih tahu kamu dari kecil, tak akan mungkin melakukan hal ini. Lebih-lebih Bapak sering kali liat kamu ketakutan saat melihat Abdi, apalagi mau melakukan seperti apa yang dituduhkan oleh Nando."

Mendengar penuturan Pak Ilham, Laily bersyukur dalam hati. Sebab hanya satu harapan Laily selain Allah, yaitu bapaknya.

"Tapi para warga tak akan mengerti, Li. Tentunya mereka lebih percaya sumpah palsu Nando, lebih-lebih ia membawa nama Tuhan dan Rasul-Nya, juga Al Qur'an-Nya. Ditambah kita tak punya bukti untuk menyangkal." Wajah Pak Ilham sendu.

"Bahkan Bapak tadi juga sudah merayu Abdi untuk berbicara jujur, namun respon dia masih sama. Acuh tak acuh. Seolah ia sedang tak dikenai musibah. Ya sekalipun ia angkat bicara mengatakan yang sejujurnya, tentunya para warga tak akan mempercayainya. Tak akan ada orang yang percaya dengan tukang mabuk sepertinya. Mau diusir pun dia tak akan susah, sebab dia memang akan diusir oleh para warga sebelum ada kasus ini. Sebab meresahkan warga dengan mabuknya itu."

"Lalu Laily harus bagaimana, Pak? Laily tak ingin diusir, Laily tak ingin jauh dari Bapak." Air mata Laily menetes. Cobaan begitu berat ia rasakan saat ini.

"Tak ada cara lain." Mata Pak Ilham lekat menatap wajah putrinya. "Kau harus menikah dengan Abdi."

"Tapi, Pak, dia tukang mabuk. Apa Bapak mau memberikan putri Bapak ini pada pria mabuk sepertinya yang selalu meresahkan para warga?"

"Kita tak punya pilihan, Nak."

"Tapi, Pak—"

"Bapak tak ingin putri Bapak satu-satunya diusir dan jauh dari Bapak." Pak Ilham segera menarik tubuh Laily ke dalam pelukannya. Seolah ingin memberikan kedamaian dan ketenangan pada Laily, menghibur dari masalah yang sedang menimpanya.

"Kau tak perlu cerita semuanya dari awal, Bapak sudah bisa menebak apa yang terjadi," ucap Pak Ilham dengan tangan mengusap pelan kepala Laily yang berbalut mukenah. Ia terisak dalam dekapan pria yang paling dikasihinya.

"Percayalah, Nak. Jika Abdi memang bukan jodohmu, maka kau tak akan lama bersamanya. Namun jika dia jodohmu, maka akan ada jalan untuk takdirmu…jangan menangis, Sayang, Putri Bapak…kau kebanggan…."

Laily semakin terisak mendengarnya.

***

Nando meluapkan emosinya dengan meninju tembok rumah hingga tangannya terluka.

Nando benar-benar tak menyangka kalau Laily akan lebih memilih menikah dengan Abdi daripada diusir dari kampungnya.

Benar-benar di luar rencananya. Sia-sia ia memfitnah adik tirinya yang sudah lama ia incar.

Tadinya Nando sudah merasa senang sebab yakin wanita cantik yang tak hanya mendapat gelar wanita malam namun juga kembang desa tersebut akan memilih diusir ketimbang menikahi pria pemabuk yang selalu meresahkan warga.

Jika Laily diusir, maka pria licik, preman yang berkedok santri taat itu akan lebih mudah mendapatkan wanita shalihah itu.

Namun harapannya musnah saat wanita cantik itu memilih untuk menikah dengan Abdi daripada diusir.

Nando benar-benar kecewa.

Di sisi lain, setelah membujuk Abdi untuk bersedia menikahi Laily, Pak Ilham mempersiapkan akad putrinya yang secara mendadak tersebut.

Di mushola yang penuh kenangan, Abdi mengucapkan ijab kabulnya yang sakral tersebut dengan lancar. Sempat membuat orang-orang yang menyaksikan heran.

Pria pemabuk yang selalu meresahkan dan tak pernah menyentuh air wudhu apalagi sholat itu begitu lancar melafalkan kalimat ijab kabul.

Tepat para saksi mengatakan 'sah', dunia Laily rasakan runtuh. Ia tak menyangka bahwa akan menjadi seorang istri dari pria pemabuk. Padahal rata-rata pria yang berusaha mendekatinya adalah orang yang terkenall fanatik.

***

Tak ada resepsi seperti pernikahan pada umumnya, setelah akad nikah selesai dan doa selamat, Abdi langsung pergi begitu saja dari mushola, pulang ke rumahnya sendiri yang ada tepat di samping rumah Pak Ilham.

"Kau akan tinggal di mana, Li?" tanya Maryam dengan sinis sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah.

"Ya pasti ikut suaminya, dong, Buk." Nanda yang baru saja tiba di teras rumah dan ikut duduk di kursi sebelah Maryam menyahuti.

"Iya, sih. Wanita yang bersuami, kan, memang sudah jadi kewajiban suaminya. Jadi mending kamu ikut pulang sana, Li," ucap Maryam.

Laily hanya menundukkan wajah dengan masih berdiri. Ia tahu ibu tirinya tersebut memang tak pernah menyukai dirinya. Ia hanya menyukai bapaknya saja.

Laily juga tahu kalau ibu tirinya tersebut begitu menginginkan dirinya pergi dari rumah bapaknya. Terlihat saat Maryam selalu menyuruh Laily untuk menikah dan menerima lamaran pria yang masuk.

"Kamu itu terlalu pilih-pilih, Li. Udah mending minggu lalu ada yang masuk mau jadikan kamu istri dari Ustadz Afdal, ya sekalipun istri kedua, tapi gapapa daripada suami kamu sekarang itu."

"Pria pemabuk!" Maryam menyahuti sambil menahan senyum ejekannya. Begitupun juga dengan putrinya Nanda.

"Laliy tidak akan pergi ke mana-mana. Ia akan tetap tinggal di sini denganku," ucap Pak Ilham yang baru saja tiba di rumah.

"Maksud Bapak apa?" Maryam segera berdiri menatap heran pada suaminya tersebut.

"Aku menyuruh Laily agar memilih sanksi menikah, agar ia tetap tinggal di sini. Aku tak ingin jauh dari putriku." Pak Ilham menatap putrinya yang menunduk menyembunyikan air matanya.

Entah kesedihan yang mana yang Laily tangisi saat ini. Pak Ilham tak tahu.

"Apa Bapak mau misahin istri dari suaminya? Itu tidak mungkin, kan, Pak?" tanya Maryam.

"Mana bisa, sepasang suami istri itu harus satu atap." Nanda menimpali.

"Siapa bilang aku mau misahin Laily dengan Abdi?"

"Lalu?" Mata Maryam menyipit menatap suaminya.

"Jangan bilang Bapak mau mengajak tukang mabuk itu untuk tinggal di rumah kita juga?" tanya Maryam penuh selidik. Lalu senyum getir dan sinis menyusul saat tak mendapat respon dari suaminya.

Diamnya Pak Ilham sudah cukup menjadi jawaban.

"Eh, Pak. Orang kampung saja mau mengusir mantu Bapak itu, tapi Bapak mau menampung dia di sini … di rumah ini. Tidak." Maryam melipat tangannya di dada.

"Buk, dia itu menantu kita."

"Bukan kita. Hanya menantu Bapak, suami dari putri Bapak," ucap Maryam dengan pandangan ke arah lain.

"Iya, tapi dia harus—"

"Cukup, Pak. Intinya Ibuk gak setuju jika tukang mabuk itu tinggal di rumah ini. Kalau Bapak tak ingin jauh dari anak Bapak. Ya gampang, tinggal Laily ikut tinggal di rumah suaminya. Toh rumahnya deket. Cuman sebelah rumah aja, kok. Kalau kangen tinggal samperin aja." Setelah berucap dengan sengitnya, Maryam berlalu pergi masuk ke dalam.

"Nanda juga tak setuju serumah dengan pria pemabuk. Bisa-bisa bau minuman keras dan banyak dengan botol rumah ini." Nanda juga ikutan masuk setelah berucap.

"Buk, tunggu …!" Pak Ilham hendak melangkah untuk menyusul istri dan anak tirinya namun segera Laily hentikan dengan cara menahan tangannya.

"Sudah, Pak. Apa yang dikatakan Bibik sama Nanda benar, kok. Laily sebagai seorang istri sudah sepatutnya tinggal bersama suami Laily."

"Tapi, Li—"

"Lagi pula…Mas Abdi mana mau tinggal di rumah ini."

Kali ini Pak Ilham terdiam dengan pikiran campur aduk.

"Nak, Bapak sebenarnya …." Pak Ilham tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Netranya mengembun menahan tangis.

"Sudah, Laily ngerti, kok. Sudah gak apa, lagian Laily dekat, Bapak bisa main tiap harinya." Laily memaksakan senyum di wajahnya.

"Maafkan Bapak, Nak." Pak Ilham kali ini tak kuasa menahan air matanya untuk mengalir.

***

Laily pergi ke rumah Abdi dengan diantar oleh Pak Ilham.

Beberapa kali Pak Ilham mengetuk pintu disertai ucapan salam, namun belum juga ada respon dari dalam.

Saat Pak Ilham ingin mengetuk pintu rumah besar itu lagi, Laily menghentikannya.

"Sudah, Pak. Mungkin dia sedang tidur atau—"

Kata-kata Laily terhenti bersamaan pintu terbuka dari dalam.

Laily segera menundukkan wajahnya tatkala pria yang paling menakutkan baginya muncul dari balik pintu.

"Maaf, Nak, jika mengganggu," ucap Pak Ilham. Abdi hanya diam sambil menatap tas yang dipegang oleh Laily.

"Bapak kemari ingin mengantar istri Nak Abdi. Bukannya seorang istri memang harus tinggal dengan suaminya?" Pak Ilham menatap tak nyaman sama Abdi yang masih menampakkan ekspresi datar.

"Sedangkan…sedangkan jika Bapak ajak Nak Abdi untuk tinggal di rumah kami, pastinya Nak Abdi akan keberatan, sebab Nak Abdi tahu sendiri rumah kami sempit." Pak Ilham tersenyum kaku.

Abdi masih tak bersuara, namun ia membuka pintunya dengan lebar tanda ia menyetujui kata-kata Pak Ilham yang mengantar Laily untuk tinggal bersamanya.

Setelah itu, masih tanpa kata-kata, Abdi masuk begitu saja ke dalam.

Pak Ilham menoleh menatap Laily. "Nak, masuklah! Suamimu sudah memberikan izin."

Mata Laily berkaca-kaca menahan tangis menatap bapaknya.

"Sudah, Bapak akan sering mengunjungi kamu. Kamu juga boleh main ke rumah Bapak. Sana masuk!" titah Pak Ilham.

Laily mengusap air matanya yang sempat menetes.

"Laily masuk, ya, Pak." Setelah mendapat anggukan serta senyuman dari Pak Ilham, Laily masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Setibanya di dalam, Laily mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan.

Ternyata besar tak seperti penampakan dari luar yang biasa Laily lihat, namun sayang sedikit berantakan.

Saat baru melangkah, kaki Laily tak sengaja menyepak botol minuman hingga menimbulkan bunyi.

Melihat itu, ketakutan Laily timbul. Tangannya gemetar.

Ketakutan Laily semakin bertambah saat Abdi keluar dari sebuah ruangan. Ia membungkuk mengambil botol minuman yang menggelinding tepat di dekat kakinya.

Laily yang merasa seram melihat penampilan Abdi dengan rambut gondrong, brewok tak terawat dan celana yang dipakainya sobek dibagian lutut segera menundukkan kepalanya.

Entah bagaimana ia akan menjalani hari-harinya dengan tinggal bersama suami pemabuknya itu.

_____

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cermin Retak Masa Lalu
8.0
Pertanyaan suami tentang kenyamanan bra tanpa kawat awalnya dikira perhatian biasa. Namun, kecurigaan muncul saat asisten suaminya panik mengambil kembali paket yang salah alamat. Kebenaran terungkap lewat unggahan Susan Kumala di media sosial yang memamerkan hadiah lingerie dari kekasihnya di hotel romantis. Sadar suaminya berselingkuh demi wanita lain, sang istri langsung menyukai postingan tersebut. Ia mengirim tangkapan layar itu kepada suaminya dengan sindiran tajam tentang diskon belanja.
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Clara dikhianati oleh suaminya, Marco, yang mendorongnya ke jurang saat piknik demi bersama selingkuhannya, Chika. Meski terluka parah, Clara selamat dan mendengar rencana licik Marco yang ingin memalsukan kematiannya. Di tengah keputusasaan, tekadnya untuk membalas dendam membara. Kehadiran Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya yang datang menolong, menjadi titik balik bagi Clara. Bersama Julian, ia kini bersiap menghancurkan Marco.
Sampul Novel JALAN PULANG
8.0
Dua puluh tahun merantau hingga sukses, seorang wanita karier memutuskan kembali ke kampung halamannya. Keputusan ini membawanya bernostalgia dengan kenangan pahit masa lalu, mulai dari luka masa kecil hingga cinta pertamanya. Di tanah kelahirannya, ia dipertemukan lagi dengan sang mantan kekasih. Kini, ia harus menghadapi konflik batin dan mengambil keputusan krusial demi masa depannya. Ini adalah kisah perjuangan emosional untuk berdamai dengan sejarah hidupnya sendiri.
Sampul Novel Lover in Law (Ketika Dua Pengacara Saling Jatuh Cinta)
9.4
Milly merasa nasib buruk terus menimpanya sejak berada di bawah bimbingan Zayn, pengacara senior yang teramat sombong. Sebaliknya, Zayn pun tidak menyukai Milly yang dinilainya keras kepala serta kurang hati-hati. Walau mulanya saling membenci, kedua pengacara genius ini malah terjebak asmara yang tak terduga di tengah ketatnya persaingan kerja. Akankah takdir mempersatukan ego keras mereka, ataukah kesombongan masing-masing justru akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Mahkota Murka
8.3
Amelia Hopewell tidak pernah menduga bahwa Edmund Nash, tunangan tercinta yang pernah ia selamatkan, tega menghancurkan bisnis keluarganya. Sebagai bos kriminal kejam, Edmund bahkan menutup akses dana saat ayah Amelia kritis demi menuruti keinginan Rosalyn. Setelah tiga tahun menderita akibat pengkhianatan keji ini, kebenaran akhirnya terungkap. Dipenuhi amarah mendalam, Amelia segera mengerahkan pasukannya untuk membalas dendam dan menghancurkan Edmund hanya dalam waktu tiga hari.
Sampul Novel Menaklukan CEO tampan
9.6
Sejak kepergian sang ayah, Clara harus membanting tulang sebagai admin demi menghidupi ibu dan kakaknya sembari tetap kuliah. Beban hidupnya kian berat akibat tekanan dari CEO yang arogan serta kepedihan mendalam setelah dikhianati oleh kekasihnya yang playboy. Bertekad mengubah takdir keuangan keluarga, Clara iseng mendaftar ke biro jodoh untuk mencari pria mapan. Mengejutkan, sosok yang ia temui di sana justru bosnya sendiri. Clara pun kini bertekad memikat hati sang CEO tampan.