APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mystical Item User

Mystical Item User

Main, pemuda lemah yang rentan terhadap sinar matahari, harus kembali ke desanya demi memusnahkan mustika ular hijau yang mengancam. Misi berat ini membawanya ke dalam pertempuran sengit melawan para pengguna piranti mistik. Di sepanjang jalan, ia terjebak dalam konflik hebat dengan manusia serta makhluk gaib. Main pun harus berjuang keras mengumpulkan informasi penting demi mendeteksi letak mustika tersebut dan menyelesaikan tugasnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Mau jalan atau naik motor?" tanya Raka.

"Naik motor," jawab Della.

"Aku mundur. Aku tak pernah bisa naik motor," kata Main.

"Wah, kalau aku sedang repot. Motornya aku pakai untuk bekerja," alasan Raka.

"Kalau begitu aku jalan kaki saja," kata Della.

"Aku ikut, kapan lagi berjalan dengan saudariku yang cantik ini," kata Main.

"Mas bisa saja."

Jalan di depan rumah Della sedang ramai. Banyak orang lalu lalang lewat di sana. Bersama dengan beberapa orang Main dan Della ikut menuju ke pasar. Sayang waktu itu aliran sungai sedang deras. Jembatan yang ada masih rusak. Hampir semua orang memilih untuk berputar arah. Della hendak melakukan itu tapi tangannya digenggam Main.

"Mas, ada apa? Kita lewat sana saja," kata Della.

"Atau kita terbang saja," kata Main.

"Caranya?"

Dengan berkonsentrasi kedua pisau secara mendadak muncul di tangan Main. Salah satu diberikan kepada Della.

"Mas, jangan bercanda. KIta tak perlu bunuh diri segala," kata Della.

"Siapa yang suruh? Pegang dengan erat pisau itu dan jangan sampai terlepas," kata Main.

"Buat apa?" tanya Della.

"Begini." Pisau yang dipegang Main menyala terang. Dengan berkonsentrasi pisau bisa mengangkat tubuh main seolah-olah main bisa terbang melayang di angkasa.

"Wow, hebatnya." Della telah yakin dengan ucapan Main. Kini pisau dipegang dengan erat.

Konsentrasi dan memusatkan pikiran dilakukan Main. Sedikit demi sedikit keduanya melayang. Secara perlahan Main dan Della maju sedikit demi sedikit. Derasnya arus sungai yang berada di bawahnya sempat Della lihat dan membuatnya ketakutan. Memejamkan mata menjadi pilihannya.

"Della, kita sudah sampai," kata Main.

Sedikit demi sedikit kelopak mata Della buka. Kakinya telah menginjak bumi, tega rasanya. Rasa takut kini telah hilang. "Mas, lain kali kalau mau mengajak terbang bilang dahulu. Aku malu pakai rok mini. Untung saja tak ada orang yang melihat dari bawah," katanya.

"Lihat itu," tunjuk Main pada beberapa lelaki yang sedang menambang pasir dan batu di sungai.

Rasa malu tak karuan hinggap di hati Della. Wajah cantik kini merona. Tiada lagi daya Della untuk menahan rasanya. Paras wajah ditutupinya. "Mas, kenapa tak bilang sejak tadi," katanya.

"Aku lupa jika ada orang di sana, hehehe," tawa kecil Main. Tangannya dijulurkan ke arah Della. "Mana pisaunya," pintanya.

Dengan keadaan wajah masih tertutup tangan Della membrikan pisau yang dia pegang. Rasa malunya belum hilang.

Kedua pisau telah berada di tangan Main. Niat hati dengan berkonsentrasi penuh untuk mengembalikan pisau. Tapi setelah sekian lama pisau tak hilang juga. Lho, kok tak bisa?" tanyanya sendiri dengan penuh kebingungan.

"Kenapa, Mas?" tanya Della.

"Pisau ku tak mau hilang. Ah, sudahlah." Main membuang pisaunya ke dalam sungai.

Masih dengan wajah tertutup Della berjalan bersama dengan Main. Segerombolan pemuda dengan wajah sangar duduk di sana. Beberapa botol minuman berserakan tak karuhan di dekat mereka.

"Sis, main dengan kami. Sebentar saja," kata seorang pemuda. Terlihat dari omongannya seperti sedikit mabuk.

"Maaf Mas, aku sedang sibuk," kata Della. Bersama dengan Main dia lewat saja.

Kesadaran pemuda itu hampir tiada. Botol minuman yang ada di tangannya di buang. Dipegang tangan Della yang masih menutupi wajah malu. Terlihat kembali wajah cantik Della.

"Kau cantik juga. Temani kami, sebentar saja," kata pemuda itu. Pegangannya semakin kuat.

"Lepaskan aku." Della berusaha memberontak tapi tak bisa. tenaga yang dia miliki tak sepadan dengan pemuda tersebut.

"Mas, kau tak boleh begitu. Jika tak mau jangan memaksa," kata Main.

"Bro, jangan ganggu temanku," kata pemuda yang lain.

"Dan jangan juga ganggu saudariku," balas Main.

"jadi kau saudaranya. Jadi saudara jangan pelit atau...," kata ketua pemuda itu.

"Atau apa?" tanya Main.

"Kami habisi nyawamu." Ketua para pemuda nakal itu mengeluarkan pisau. Para anggota lain melakukan hal yang sama. Benda kecil nan tajam telah bermain di sekitar tangan mereka. Sesekali kilauan cahaya matahari memantul dan menyilaukan mata.

"Aku sebenarnya malas meladeni kalian." Dengan berkonsentrasi pisau cahaya kembali di tangan Main.

Tangan pemuda yang masih memegang tangan Della ditusuk Main dengan sekuat tenaga. Bagian cahaya perpanjangan ketajaman pisau tembus tangan pemuda terbut. Darah keluar di sekitaran pisau. rasa sakit sanagt menusuk hati. genggaman pada tangan Della terlepas. "Argh!" teriaknya merasakan kesakitan yang luar bisa. Tangan yang terluka dipegang, Pisau masih menancap dan darah masih mengalir.

"Kau ini! Berani malaulai temanku!" teriak sang ketua pemuda. Semua serangan dia lancarkan.

Dengan tangan gemulai Main menahan serangan dari ketua pemuda. Menyingkir dari petarungan menjadi pilihan bagi Della. Serangan ketua pemuda mengarah ke tempat lain. Secepat mungkin Main menahan serangan itu. Keduanya saling adu pisau. Meski kalah tenaga tapi pisau bercahaya menambah radius serangan Main. Perut ketua pemuda terisi cahaya. Rasa sakit tak bisa dia tahan lagi. jatuh terkapar di tanah akibat luka parah dan darah yang keluar sangat banyak.

Geram rasa hati pemuda lain. tak mau kalah dengan seorang yang dia remehkan dengan serentak mereka menyerang Main. dari berbagai arah serangan dilakukan. Tapi ketika pisau telah dekat tubuh Main tiba-tiba Main menghilang. Rasa heran menyelimuti para pemuda tersebut.

Rupanya Main berpindah ke dekat pemuda yang terluka. Pisau dia cabut dan pemuda itu ditendangnya. Si pemuda berjatuh ke tanah. Lengkap sudah kedua pisau cahaya milik Main. Dengan genggaman yang kuat pisau mengeluarkan cahaya hingga panjangnya menjadi sekitar satu meter. "Aku tak mau ada yang terluka lagi. Sebaiknya kita akhiri saja semua ini dan kita hidup seperti biasanya," kata Main.

"Tak akan pernah!" Para pemuda berlari ke arah Main. Serangan demi serangan mereka lakukan. Dentingan demi dentingan bunyi adu besi terdengar sangat nyaring dan jelas di telinga Della.

Keadaan Main sedikit terdesak. Serangan bertubi-tubi membuat tenaga Main semakin terkuras. Dipandang dari jarak jauh masih ada sebotol minuman mineral. Sebuah pisau dia lempar. Tiada satu pun mengarah pada sasarannya. Lagi-lagi Main menghilang dan kini mucul di dekat botol mineral. "Maaf Mas-mas semua, aku haua. Aku minum dulu, ya." Botol air mineral dibukanya dan air yang terkandung di dalamnya mengisi butuh Main. Botol plastik yang telah kosong dibuangnya. Kini tenaga dan stamina sedikit pulih.

"Kau ini, serbu!" Para pemuda berbalik arah dan langsung menyerang ke tempat Main berada.

***

Luka yang parah membuat ketua pemuda kilaf. Dengan tekad yang bulat dia merangkak ke sebuah tas. Patung replikasi monster dia keluar. Darah segar masih ada di perut pemuda itu. Kini patung diolesi darah tersebut. Warna merah mata patung tiba-tiba menyala.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Rexton, I'm Not Your True Luna
9.4
Akibat pengaruh alkohol, Amelie tidak sengaja menyerahkan kesuciannya kepada Alpha Rexton, kekasih dari kakak angkatnya. Diliputi penyesalan mendalam, ia memohon agar sang Alpha menolak dirinya demi menjaga perasaan Matilda, sosok yang telah merawatnya sejak kecil. Amelie rela mengorbankan batinnya asal keutuhan keluarga angkatnya tetap terjaga. Namun, rahasia takdir mate ini mengancam segalanya. Akankah hubungan mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Sampul Novel Dunia Lain Di Balik Pintu
8.7
Astrid Ratchett, siswi antisosial korban perundungan, sangat menyukai novel fantasi karya Richard Mcgrory. Hidupnya berubah saat ia menemukan pintu misterius di balik lemari yang membawanya ke dunia fiksi tersebut. Di sana, Astrid menjelma menjadi gadis cantik berkedudukan tinggi. Kejutan besar menantinya ketika ia bertemu mendiang sahabatnya yang telah menjadi pangeran. Kini, ia harus melawan ancaman keluarga jahat demi menyelamatkan dunia itu sekaligus menguak rahasia di baliknya.
Sampul Novel Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
8.2
Pameran seni perdanaku hancur saat Baskara, Alpha pasanganku, melindungi wanita lain di media. Demi aliansi baru, dia mengabaikan ikatan kami, meremehkan karyaku, dan mencuri ide bisnis triliunanku. Setelah empat tahun dihina sebagai Omega penurut, kesabaranku habis. Melalui dokumen palsu yang dikira pengalihan hak seni, aku menjebaknya untuk menandatangani Ritual Penolakan. Kesombongan sang Alpha akan menjadi senjata yang menghancurkan dirinya sendiri.
Sampul Novel Reinkarnasi Pembunuh Bayaran: Dendam dari Tubuh Kedua
8.4
Pembunuh bayaran Liu Yifen tewas saat misi, lalu mendapat peluang hidup baru dari dewi misterius. Ia pun bereinkarnasi ke dalam tubuh pilihan pertamanya demi menuntaskan tugas baru. Namun, nasib buruk kembali datang saat ia tewas bersimbah darah di hadapan musuh yang gembira atas kematiannya sebelum misi itu selesai. Apakah ini akhir dari perjalanan hidup Liu Yifen, atau masih ada reinkarnasi berikutnya yang telah dipersiapkan oleh takdir?
Sampul Novel Sumpah Dalam Kubur
8.0
Hana merenggang nyawa secara tragis, dikubur hidup-hidup oleh mertua dan iparnya saat sang suami, Hadi, sedang pergi. Fitnah kejam pun disebar bahwa ia melarikan diri dengan pria lain, hingga membuat Hadi sakit parah akibat duka mendalam. Di tengah keserakahan keluarga yang memanfaatkan keadaan ini, arwah Hana menolak tenang. Ia bersiap bangkit dari kubur demi menuntut balas pada para pengkhianat. Kisah horor mencekam tentang dendam yang menembus batas kematian.
Sampul Novel The Devil
8.8
Trauma mendalam akibat kekejaman sang paman mendorong Alina mengambil keputusan ekstrem. Ia nekat menyerahkan seluruh hidupnya kepada Alardo, sesosok iblis mengerikan, demi mendapatkan perlindungan dan membalaskan dendamnya. Namun, kesepakatan gelap ini justru menjebak Alina dalam perasaan cinta terlarang pada sang iblis. Terseret kian jauh ke dalam kegelapan, akankah Alina mampu menemukan jalan keluar, atau justru hancur selamanya dalam jerat asmara yang mematikan?