APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Special CEO

My Special CEO

Cheva, gadis bermata biru bernama asli Cleo Alineava Lynn, memilih berkarier di perusahaan luar dibanding mengelola bisnis sendiri. Keputusan itu membawanya jatuh cinta pada sang atasan, Devan Eduardo Hutresky. Meski awalnya skeptis akan cinta, Devan langsung terpikat sejak pandangan pertama. Namun, hubungan asmara mereka tidaklah mudah. Berbagai rintangan berat terus menguji kekuatan cinta keduanya. Akankah perasaan ini menyatukan mereka, atau justru memicu perpisahan?
Bab
Bagikan

Bab 1

Di sebuah kamar bernuansa klasik, dinding bercat putih, dihiasi tirai dan gorden tipis berwarna senada dan dilengkapi perabot dan pernak-pernik yang juga berwarna dominasi putih. Ditengah ruangan, terdapat sebuah tempat tidur berukuran sedang dengan sprei berwarna nude. Di atas tempat tidur itu, berbaring seorang gadis berkulit sawo matang, rambutnya terurai bergelombang.

Dialah Cheva, Cleo Alineava Lynn. Putri tunggal dari Alianro Lynn dan Dewi Rahwani. Keduanya bukan orang berada. Alianro Lynn hanyalah seorang karyawan biasa dari kedutaan besar Belanda untuk Indonesia. Ia bertemu Dewi Rahwani saat kunjungan kerjanya ke Bandung, dua puluh lima tahun yang lalu. Keduanya saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Setelah Cheva lahir, Alianro dipindah tugaskan kembali ke Belanda. Dewi dan Cheva mengikuti Alianro dan pindah ke Belanda. Namun, setelah Cheva menyelesaikan sekolahnya, ia memilih melanjutkan kuliah di Indonesia.

Cheva ingin mengenal keluarga Cheva di Indonesia - begitu alasannya dulu.

Dan di sinilah ia kini. Setelah menyelesaikan kuliah jurusan kesekretarisannya, Cheva juga memilih melanjutkan karirnya di Indonesia. Ia belum memiliki keinginan untuk kembali ke Belanda.

"Non Cheva ... " terdengar ketukan di pintu kamar Cheva beberapa kali. Gadis itu menggeliat, "Noon, Non Cheva. Banguuunnn, udah jam berapa. Katanya mau ke bandara jemput Ibu!!!" Cheva terhentak bangun.

"Oh my God! Bodoh, Cheva!" upatnya sambil bergegas turun dari kasur, "Iya, Biiikk. Cheva mau langsung mandiii!!!!!" teriak Cheva dan langsung berlari ke kamar mandi.

***

"Sarapan dulu, Non ..." Cheva menggeleng.

"Tidak sempat, Bik. Nanti Cheva terlambat. Cheva sarapan di bandara saja. Bye, Bik..." Cheva bergegas meraih kunci mobilnya meninggalkan Bi Inah, asisten rumah tangga yang disiapkan Dewi untuk menjaga Cheva selama di Indonesia.

Cheva mengemudikan mobilnya menuju Bandara. Pagi ini, pesawat yang ditumpangi Ibunya akan tiba di Jakarta. Jadwalnya pukul 10.00 dan sekarang sudah pukul 09.00. Kondisi jalanan dari rumahnya ke Bandara Soetha hanya memakan waktu sekitar satu jam, jika tanpa macet. Tapi, sejak kapan Jakarta tidak macet bukan?

Sepanjang perjalanan, Cheva terus mengutuk kebiaaannya yang tidak pernah bisa bangun pagi. Dulu sewaktu sekolah, ia rajin bangun pagi. Tentu saja, karena pilihannya adalah bangun atau ia akan basah kuyup oleh air dingin. Tapi sejak ia tinggal sendiri, siapa yang berani mengguyurnya dengan air es? Bi Inah? Keberanian tertinggi Bi Inah hanya sampai berteriak marah. Itupun karena Cheva nekat melukai tangannya saat ngotot ingin membanfu Bi Inah masak di dapur.

Cheva tiba di Bandara pukul 10.30, ia langsung menuju lobby kedatangan. Ketika sampai di sana, petugas bandara memberi kabar bahwa pesawat yang membawa ibunya terkena delay. Sehingga kedatangannya terlambat 1 jam. Cheva bernafas lega. Setidaknya ia tidak akan mendengar ocehan ibunya pagi ini karena terlambat.

"Terima kasih, Pak," ucap Cheva lalu berbalik meninggalkan lobby kedatangan.

Cheva merasakan perutnya berbunyi.

"Sial, aku belum makan apapun pagi ini. Lebih baik aku pergi ke Starbucks saja. Mom masih lama ini juga..." Cheva berjalan menuju gerai Starbucks.

Setelah memesan beberapa menu, Cheva kemudian memilih kursi yang sedikit berada di pojokan. Tidak terlalu dalam, kursi yang Cheva pilih berhadapan dengan pintu masuk. Siapapun yang masuk dapat langsung melihat keberadaan Cheva.

Setelah menghabiskan makanannya, Cheva melirik jam di tangannya.

"11.05," gumamnya. Seharusnya pesawat yang membawa ibunya sudah tiba sekarang. Cheva kemudian buru-buru membereskan barang-barangnya.

Karena sedikit tergesa-gesa, Cheva tidak melihat bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam Starbucks. Akibatnya, keduanya bertabrakan.

"Aww, Sorry!!" teriak Cheva. Ia memegangi kepalanya yang sepertinya membentur tubuh seseorang. Cheva mendongak.

Di hadapannya berdiri seorang laki-laki berjas lengkap berwarna navy dipadukan dengan dasi berwarna senada. Tingginya jauh melebihi tinggi Cheva dan sepertinya Cheva membentur dada laki-laki itu.

Laki-laki itu hanya menatap lurus kearah Cheva tanpa mengucap sepatah kata apapun. Sejenak Cheva sempat terpaku karena ketampanan dan aroma maskulin yang menyeruak dari laki-laki itu. Namun lama kelamaan, Cheva sedikit merasa jengah karena laki-laki itu hanya menatapnya dengan tatapan yang ... entahlah, Cheva hanya merasa tidak nyaman.

"S... sorry..." Cheva bergerak sedikit mundur. Dan gerakan Cheva itu menyadarkan laki-laki itu.

"No, problem. Excuse me, you waste my time, Nona..."

"Wh... what?!" laki-laki itu berlalu meninggalkan Cheva yang baru saja hendak menjawab. Namun ia urungkan. Cheva menghela nafas kesal. Ia kemudian buru-buru keluar dari Starbucks.

Kalau saja ia juga tidak sedang dalam urusan penting, Cheva tidak akan membiarkan laki-laki itu. Bagaimana mungkin? Laki-laki itu bahkan tidak meminta maaf sedikitpun. Apakah ini murni kesalahan dan kecerobohan Cheva sendiri? Hey! Dia juga ceroboh saat memasuki Starbucks. Apalagi tatapannya itu. Astaga, Cheva sangat membenci tatapan seperti itu. Tatapan penuh nafsu, tatapan mengintimidasi.

"Dasar laki-laki mata keranjang!!!" ucap Cheva kesal, "Kalau bertemu lagi dengannya, aku akan beri dia pelajaran!!!"

***

"Aku benar-benar tidak punya waktu sekarang, San. Cepat kau kirimkan file itu ke emailku sekarang. Pesawatku akan berangkat setengah jam lagi. Okay, ku tutup!" Devan memasukan kembali handphone ke saku jasnya. Baru saja ia hendak membuka pintu Starbucks, seorang gadis justru tiba-tiba menabraknya dari dalam.

"Aww, sorry!" ucap gadis itu. Ia menggosok kepalanya yang membentur dada Devan dan mendongak.

Devan terpaku.

Mata gadis itu biru. Bagaimana mungkin ada gadis Indonesia dengan kulit sawo matangnya namun memiliki bola mata berwarna biru cerah seperti itu.

Tanpa sadar, Devan menatap gadis itu lamat.

"S... Sorry!" ucap gadis itu lagi sambil mundur beberapa langkah. Devan tersadar dari tingkah konyolnya yang menatap gadis itu.

"No problem. Excuse me, you waste my time, Nona!" ucap Devan sambil berlalu. Ia sempat melihat gadis itu hendak menjawab namun urung.

Setelah memilih kursi, Devan sempat melihat gadis itu berbalik dan berjalan sambil mengomel.

"Gadis yang aneh. Kenapa dia berjalan sambil berbicara sendiri?!" Devan menggeleng.

Perhatian Devan kemudian beralih ke ponselnya yang berdering. Sandra, sekretarisnya mengirimkan file yang ia perlukan untuk meeting hari ini di Bali. Biasanya Devan akan menggunakan pesawat pribadinya untuk pergi kemanapun, namun kali ini, karena beberapa alasan, ia harus menggunakan pesawat komersil.

Ponsel Devan berdering kembali. Tertera sebuah nama di sana.

Fiona.

"Ya, ada apa, Fi?"

"Kau sedang di kantor?"

"Apa? Tidak, aku sedang di bandara."

"Bandara? Sedang apa? Kau mau kemana, Dev?"

"Apa? Tidak, tidak. Aku akan ke Bali, ada meeting dengan Client sore ini... "

"Kau tidak memberi tahu apapun kalau kau ingin ke Bali!"

"Aku sudah memberi tahumu berulang-ulang. Itu menandakan, kau sama sekali tidak peduli dengan yang aku katakan."

"Devan, you're my fiance. Seharusnya kau juga mengajakku ikut serta!"

"Fio, listen to me. Kita sudah sama-sama dewasa. Kau tidak perlu berlaku konyol seperti ini. Aku pergi untuk bekerja, bukan untuk liburan. Sudahlah, ku tutup."

Devan memblokir panggilan dari Fiona. Ia juga mengirimkan pesan ke asistennya untuk tidak merespon panggilan atau pesan apapun dari Fiona. Devan tahu, Fiona akan membuat rusuh satu kantor setelah ia memutuskan sambungan telponnya. Apalagi Devan dengan sengaja memblokir panggilan. Hal ini akan membuat Fiona semakin frustasi.

Tunangan yang merepotkan, ucap Devan kesal.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta, wanita tangguh yang kerap diremehkan karena penampilannya yang sederhana, fokus meniti karier demi membuktikan dirinya setelah dicampakkan akibat perbedaan kasta. Takdir mempertemukannya dengan Evan, seorang pengusaha duda yang sukses. Di tengah badai dan dendam masa lalu yang terus menguji hubungan mereka, keduanya kini harus bersatu guna menyelidiki dalang di balik kekacauan yang melanda perusahaan masing-masing.
Sampul Novel Mengungkap Istriku yang Dijauhi: Dia Menyembunyikan Seribu Identitas
9.4
Kehilangan orang tua akibat pembunuhan, Kathryn kembali untuk menuntut hak warisnya. Dia kerap dicaci sebagai anak haram yang tak layak bersanding dengan Evan. Namun, sang suami justru sangat mencintai wanita misterius ini. Di balik keanggunannya, Kathryn menyimpan rahasia sebagai peretas andal, dukun legendaris, dan peracik parfum istana. Saat Evan memanjakannya di hadapan publik, satu per satu topeng Kathryn terbuka, memaksa para pembencinya tunduk.
Sampul Novel Love for Haphephobia
8.5
Demi membatalkan pernikahan ketiga sang ibu, Arkania Lintang Jagat berpura-pura mencintai calon saudara tirinya, Bintang. Ibunya yang sangsi akibat haphephobia yang diidap Lintang menuntut pembuktian. Di depan mantan kekasihnya, Ishan, Lintang nekat mencium Bintang. Tindakan nekat tersebut memicu obsesi Ishan untuk mendapatkan Lintang kembali, sementara hubungan Lintang dengan sepupu angkat Ishan itu justru menjadi kian rumit.
Sampul Novel My Possessive Husband Book 1
9.7
Aleina Xavinzo lelah menghadapi Richard, mantan kekasihnya yang sangat obsesif. Demi melarikan diri dari kejaran itu, ia tidak sengaja terlibat cinta satu malam dengan pria asing, Adrianus James Verona, akibat insiden mabuk di kelab malam. Siapa sangka, sebulan kemudian mereka dipertemukan kembali dalam sebuah perjodohan oleh orang tua mereka. Kini, Aleina harus menjalani takdir baru bersama Adrianus lewat pernikahan kontrak yang penuh misteri dan benih cinta.
Sampul Novel Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas
8.1
Menjelang hari bahagia mereka, musibah menimpa Nando Soman yang menjadi korban pemukulan hingga kehilangan ingatannya. Rani yang panik segera mendedikasikan seluruh waktunya untuk membantu sang tunangan pulih dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka. Namun, perjuangan tulus Rani hancur seketika saat ia tidak sengaja mendengar obrolan rahasia Nando dengan temannya di rumah sakit. Berbekal hasil pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi Nando sebenarnya normal, Rani akhirnya menyadari bahwa amnesia tersebut hanyalah sandiwara licik untuk menunda pernikahan demi kebebasan Nando.
Sampul Novel Stuck in Love Mr. F
9.5
Niat Gwen Alicia menjauh dari sang kekasih demi ketenangan justru berujung petaka. Di tempat kerja barunya, ia malah berurusan dengan Felix, pria menyebalkan yang kerap membawa kesialan. Akibat kesepakatan rumit yang dirancang Felix, Gwen terpaksa menyetujui pernikahan tanpa cinta saat hatinya masih terikat pada pria lain. Kini, Gwen terjebak dalam dilema besar dan penderitaan batin. Sanggupkah ia membebaskan diri dari belenggu pernikahan tak diinginkan ini?