APKDock Logo
Sampul Novel My Possessive CEO

My Possessive CEO

8.3 / 10.0
Sinta kerap menghadapi situasi berbahaya dan hampir dilecehkan secara seksual. Beruntung, ada Biru, seorang CEO muda yang selalu datang menolongnya. Pertemuan tak sengaja itu rupanya menumbuhkan cinta pada pandangan pertama di hati Biru. Sayangnya, trauma masa lalu yang mendalam membuat Sinta sangat takut untuk membuka diri dan menjalin cinta. Akankah perjuangan tulus Biru berhasil menyembuhkan luka batin Sinta? Ikuti kisah cinta dewasa yang penuh perjuangan ini.

My Possessive CEO Bab 1

"Jangan deket-deket, Pak!" larang Sinta berjalan mundur, bosnya menyeringai dan Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya, jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang, tak bisa berpikir jernih karena takut.

Bosnya terus mendekat sampai Sinta hampir terjerembab ke tumpukan pakaian-pakaian yang baru datang, belum diberi bandrol harga.

"Kamu mau nggak jadi istri simpenan saya? saya udah lama pengen jadiin kamu pacar tapi kamu menghindar terus, Sin. Ayolah, mau ya? Apapun saya kasih, dan jangan panggil saya pak lagi, kita kan cuma beda sepuluh tahun aja, Sin," ucap pria yang tiba-tiba menampakkan belangnya ketika mereka sedang berdua saja di gudang ... lebih tepatnya si bos yang menyusulnya ke gudang. Ia terus mendekat sampai Sinta terpojok ke belakang rak.

"Stop, Pak! Jangan deket-deket saya! saya peringatkan Bapak!" Kedua tangan Sinta terulur ke depan, bosnya ingin menciumnya. Sinta mendorong kasar tubuh gempal berisi yang berdiri di depannya, pria itu dengan cepat mendekat lagi menyingkirkan tangan Sinta, memegang dagu gadis manis yang tak lain adalah karyawati tokonya.

"Jadi istri saya itu enak, Sin. Nggak perlu capek-capek kerja, kamu saya jatah lima juta sebulan, di luar biaya kuliah, kamu tetep mau nolak?" ujarnya congkak, ia membuka kancing kemejanya. Sinta menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "Saya perkasa loh, Sin. Dari pada cowok-cowok di luar sana yang belum tentu bisa buat kamu merasakan nikmat dunia." Bosnya berucap sambil terkekeh pelan, ia sudah bertelanjang dada sekarang. Bosnya berniat melucuti pakaian Sinta.

"Stop, Pak. Inget istri bapak, Bapak gila apa?!" teriak Sinta terus mendorong tubuh kekar yang mengungkungnya.

"Udahlah, istri saya nggak akan tau. Fokus ke kita aja, Sin. Nanti kamu minta berapa aja saya kasih, Sin. Apa kamu masih perawan sampai kamu menolak keras?" Bosnya menarik diri, memberi ruang Sinta untuk menjawab.

"Bukan urusan Bapak!" bentak Sinta sinis.

Bosnya tersenyum, juga mengangguk-angguk ... maju selangkah lagi, ia dengan santai melepas ikat pinggangnya sambil terus saja menatap Sinta, karyawatinya ketar-ketir ingin berteriak.

"Bapak gila ya?!" Sinta menutup matanya dengan satu telapak tangannya.

"Iya, Sin. Saya tergila-gila sama kamu, hehehe."

'Dasar gila!' maki Sinta dalam hati. 'gimana caranya kabur, Ya Tuhan tolooong ...."

Tok Tok Tok!

Ketukan dipintu gudang sontak membuat keduanya menoleh.

"Sin! Kamu di dalem? Lama banget sih ngambil plastiknya? buruan, Sin!"

Hening, Sinta ingin berteriak menjawab namun bosnya lebih dulu membekas mulutnya.

Dok Dok ... Dok Dok Dok

Ketukan pelan kini menjadi gedoran memburu.

Teman kerja Sinta menggedor-gedor keras pintu gudang, kesempatan Sinta untuk kabur, pikirnya.

Bosnya melepas tangannya dan menyuruhnya diam, Sinta berlagak menurut dengan mengangguk-angguk. Sekarang bosnya sibuk memelorotkan celananya kini, Sinta melesat kabur, namun tangan bosnya sigap meraih tangan kiri Sinta.

"Aduuh! Lepasin, Pak atau saya teriak! Bapak nggak takut?!" ancam Sinta geram. Ia tak habis pikir kenapa bosnya bisa nekat begitu.

"Sin! Cepetan!" teriak Sari yang tak tahu keadaan di dalam gudang.

"Iya, Sar!" balas Sinta setengah berteriak.

"Udahlah, Sin biarin aja. Biar saya yang urus kalau ada yang marahin kamu, ya ... Ayo, sekarang aja, Sin, tanggung joni saya udah tegak."

Sinta menatam tajam penuh ancaman ke arah bosnya, tapi bosnya sama sekali tak takut malah tertawa. Dasar gila!

Karena tak kunjung dilepaskan maka Sinta menginjak kaki bosnya hingga bosnya mengaduh dan melepaskan tangan Sinta. Karyawatinya berlari menuju pintu langsung berniat membuka pintu yang terkunci, untungnya kuncinya masih tertancap dilubang kunci. Tangan Sinta gemetaran membuatnya susah memutar kunci.

Si bos masih sibuk mengenakan kembali pakaiannya yang ia tanggalkan. Sinta gelisah, ia terus memeriksa ke belakang takut bosnya menyergap dari belakang, sepuluh detik kemudian Sinta berhasil keluar, bosnya belum muncul. Sinta bisa bernapas lega, ia berjalan cepat diikuti Sari yang kesal.

"Sin, mana kantongnya?" tanya Sari sambil cemberut, mengulurkan tangannya.

"Gue keluar, Sar. Sorry lo ambil sendiri di gudang," balas Sinta mengacuhkan Sari, ia berlalu menuju loker karyawan.

"What? Lo kesambet setan apaan sih, Sin?"

Sinta masuk ke ruangan karyawati, ia melepas kaos kerjanya, namun ia masih memakai tanktop. Ia memakai hoodienya lalu mengambil tasnya buru-buru.

"Maksudnya lo bolos ya? Sin-"

"Gue keluar, gue mau cari kerjaan lain aja, bye, Sar, sampek ketemu di luar sana." Sinta menyambar helm dan keluar tergesa-gesa.

"Sin ... Sin!" pekik Sari sambil berlari mengejar Sinta yang keluar dari toko, namun ia urungkan karena diteriaki pembeli. Ia lantas tak enak hati dan pergi ke gudang untuk mengambil kantong plastik, belum ia masuk ke dalam sana ia berpapasan dengan bosnya yang keluar dari gudang.

Sari hanya menunduk dan berlalu begitu saja tapi dalam batinnya bertanya-tanya, ada apa gerangan.

'Kenapa si bos keluar dari gudang? Jangan-jangan ... Jangan-jangan Sinta diapa-apain?'

"Sari!" panggil si bos menggelegar.

Ia tersadar lalu menyambar kantong plastik lalu kembali menuju meja kasir. Dengan napas memburu, ia mendekat ke kasir.

"I-iya, Pak."

"Ini kenapa pelanggan kamu biarin nunggu lama?"

'Bukannya elo yang ngunciin Sinta di gudang, pake nyalahin gue lagi!' batin Sari kesal, melirik bosnya.

"Sa-saya ngambil kantong plas-"

Bosnya menyambar kantong plastik dan membungkus pakaian milik pelanggannya, semenit kemudian tersenyum ramah dan mengulurkan uang kembalian pada si pelanggan.

"Terima kasih," ucap bosnya ramah.

Sari berniat pergi dari kasir, namun si bos sudah lebih dulu bertanya padanya.

"Sar, Sinta ke mana? toilet?" tanya si bos dengan santainya.

"Emm-anu ... Pak, anu-"

"Apa sih ngomong tuh yang jelas, ini masih jam 7 loh, Sar. Sinta ke mana?"

"Itu-Pak, Sinta katanya keluar," jawab Sari takut-takut, memainkan jemarinya gugup.

'Aduh, gimana nih kalo gue yang kena' batin Sari ingin mengumpat saking kesalnya terjebak dalam situasi tak mengenakkan.

"Apa?!" Si bos keluar dari meja kasir. "Harusnya kamu bilang dong, dia katanya pergi ke mana?"

"Katanya bukan keluar ke mana gitu, Pak, tapi resign." Nada bicara Sari merendah.

"Apa? Dia bilang gitu sama kamu? Wah wah wah, nggak bener ini. Sinta kenapa juga main out-out aja, heran," gerutunya sambil masuk ke dalam ruangan kecil yang ia sebut ruang kerjanya. Si bos terlihat panik, Sari melihat keningnya berkeringat padahal ditoko sudah terpasang AC.

Kini Sari cemas, entah ia mencemaskan apa, mencemaskan temannya atau dirinya sendiri.

Krieet.

Pintu dibuka muncullah bosnya dari dalam ruangan kerjanya lalu berlalu begitu saja melewati Sari yang mondar mandir dibalik meja kasir.

"Pak, mau ke mana?" tanya Sari gugup.

"Bukan urusan kamu, nanti tutup seperti biasanya, bawa kuncinya."

Si bos tergesa-gesa seperti mengejar sesuatu atau dikejar sesuatu, namun Sari enggan mengurusinya, ia memilih untuk tak menghiraukannya sesuai perintah bosnya.

***

Motor yang dikendarai Sinta tiba-tiba dihadang oleh mobil yang langsung berhenti di jalan depannya. Mau tak mau Sinta mengerem laju motornya dari pada harus ganti rugi jika ada kerusakan yang disebabkan olehnya. Sinta yang moodnya sudah hancur karena bosnya, bukan ... tepatnya mantan bosnya seperempat jam lalu kini tambah kesal karena pengguna jalan yang menghadangnya. Ia mematikan mesin motor dan turun, melepas helmnya dan siap memukulkannya ke pemilik mobil itu.

'Brengsek! Siapa sih yang cari gara-gara, pengen gue hajar kali nih orang!'

Sinta mendekat ke pintu kanan mobil, hendak memprotes namun si empunya keluar dengan girangnya terkekeh, Sinta terkejut dan tak habis pikir.

"Kamu mau ke mana sih, Sin? Kamu nggak bisa lari dari saya, kamu nggak bisa apa nurut gitu?" ujar si bos lembut.

Sinta diam, mengangkat helm dan siap untuk menghantamkannya ke muka bosnya yang cabul.

"Mau saya hajar?" tantang Sinta mencoba berani, namun siapa sangka bosnya malah merebut helm Sinta, dan menariknya agar mau masuk ke dalam mobilnya.

"Ayo, ikut saya aja, masuk ke dalam!"

"Nggak, saya nggak mau! Jangan maksa, Pak!" Sinta berusaha melepas cengkraman di pergelangan tangan kirinya, bosnya menyeretnya menuju ke jok samping kemudi.

"Toloooong! Gue mau diperkosaaa!" teriak Sinta lantang, si bos sedikit panik karena Sinta melawan dan berteriak kencang.

"Diem kamu, Sin. Jangan aneh-aneh!"

"Tolooong! Siapa aja lapor polisi toloong!"

Karena Sinta tak mau masuk ke dalam mobil dan bosnya memaksanya masuk dengan menyeret bagian depan hoodie Sinta, saking kuatnya tenaga si bos hoodie tersebut robek bagian depan, menampilkan tanktop Sinta.

Sinta berteriak semakin kencang sambil mencengkram hoodie yang sobek.

"Toloong!" pekiknya sambil berjongkok takut.

Lanjut Membaca

Daftar Isi My Possessive CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel BERBAGI RANJANG DENGAN KAKAK TIRI
8.2
Pernikahan Kenanga hancur setelah Dion, sang suami, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kepedihan akibat poligami tersebut, masa lalu Kenanga kembali hadir lewat sosok Devano. Sahabat kecilnya itu datang untuk memperjuangkan cinta lama yang dipendamnya. Kini, Kenanga dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan dalam rumah tangga yang retak atau membuka hati bagi ketulusan Devano.
Sampul Novel Bercinta dengan Playboy
9.1
Dikhianati oleh Alan sang tunangan membuat hati Risa hancur. Dikuasai rasa sakit, ia nekat menerima ajakan kencan satu malam dari Alva, rekan kerja sekaligus playboy terkenal, demi membalas dendam. Namun, rencana Risa menjadi rumit saat mengetahui Alva adalah sepupu Alan. Akankah balas dendam ini berhasil ketika Alan akhirnya menyadari hubungan terlarang antara tunangan dan saudaranya sendiri?
Sampul Novel INNOMINATUS : THE LOST CHILD
8.8
Seorang ilmuwan ambisius menjatuhkan kutukan kejam pada bocah tanpa nama. Ia memprediksi anak itu akan selamanya terisolasi, tanpa hubungan apa pun, dan dikhianati dunia hingga kehilangan segalanya. Namun, sang bocah justru tersenyum misterius tanpa rasa takut. Ia berani menantang balik ucapan sang profesor, menegaskan bahwa akhir dari takdir ini masih menjadi teka-teki yang belum terjawab oleh siapa pun.
Sampul Novel Love U Eternally
8.9
Takdir mempertemukan seorang manusia biasa dengan vampir misterius dalam ikatan cinta yang mendalam. Menembus batas hidup dan mati, romansa mereka dipenuhi pengorbanan besar akibat perbedaan kodrat yang nyata. Hubungan ini menghadapi berbagai rintangan, baik dari dunia nyata maupun kekuatan supranatural. Kisah ini menyoroti perjuangan gigih mereka demi mempertahankan cinta abadi yang telah mempersatukan dua jiwa yang berbeda ini.
Sampul Novel Skandal Mertua
9.1
Pasca kecelakaan maut yang merenggut Erlangga, Ratna berjuang sendirian membesarkan putrinya selama lima tahun. Tragedi pilu tersebut juga merenggut salah satu anak kembarnya, yang direbut paksa oleh sang mertua karena Ratna dituduh sebagai pemicu kematian suaminya. Di tengah kepedihan, Erlang tiba-tiba muncul kembali. Sayangnya, kepulangan ini menyisakan tanda tanya besar karena pria itu sama sekali tidak mengenali Ratna, menyembunyikan misteri yang belum terungkap.
Sampul Novel Terpenjara Hasrat Adik Ipar
8.8
Kehancuran hati Laura akibat perselingkuhan sang suami membawanya ke diskotik hingga mabuk. Di sana, ia melewati malam intim dengan pria asing yang ternyata adalah Rendra, adik iparnya sendiri. Bukannya bersimpati, pemuda itu malah menghina Laura sebagai wanita kesepian yang murahan. Kini, Laura terjebak dalam skandal rumit bersama Rendra, menghadapi pergolakan benci dan gairah terlarang saat rumah tangganya berada di ambang kehancuran.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan