APKDock Logo
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas

Bismillah, Aku Ikhlas

8.2 / 10.0
Pernikahan yang didambakan harmonis justru berujung pilu akibat lisan tajam sang ibu mertua. Setiap hari, seorang istri harus menahan tuduhan mandul dan cercaan atas pernikahan mereka, sembari memikul beban urusan domestik yang tiada henti. Tekanan batin kian berat saat ia terus dituntut segera menghadirkan cucu. Di tengah perlakuan semena-mena ini, ia kini berada di titik krusial untuk menentukan pilihan: tetap berjuang bertahan atau menyudahi segalanya.

Bismillah, Aku Ikhlas Bab 1

"Naima!" teriak ibu mertua dengan sangat lantang membangunkan tidurku pagi hari ini. 

Aku yang agak kurang enak badan terpaksa harus cepat bangun dan menghampirinya. "Ada apa Bu?"

"Kamu, ya! Jam berapa ini? Kenapa masih belum masak juga?? Hah!" sentak ibu mertua yang sepertinya sudah berpatroli dari dapur.

Ya, sehari-hari tugasku di rumah ini sudah seperti seorang babu. Ibu mertuaku tak pernah menganggapku sebagai anak menantunya. Aku hanya dijadikan pekerja rodi yang tak pernah mendapatkan imbalan.

Sebenarnya aku sangat tersiksa, namun aku juga tak tega jika harus bercerita tentang hal ini kepada mas Ilham, suamiku. Aku takut jika nanti mas Ilham malah merasa keberatan dan tak nyaman dengan ibu kandungnya sendiri. 

"Hei! Diajak ngomong koq malah bengong??" Lagi, dan lagi, mukaku disemprot dengan omelannya.

Andai aku bisa mengeluh satu kata saja, aku akan berteriak kepada semua orang bahwa aku LE-LAH! Aku sungguh lelah! 

"Maaf Bu, hari ini agak kurang enak badan," jawabku ragu. Aku takut jika ibu mertuaku akan semakin garang jika aku sampai salah bicara. 

"Ck! Palingan cuma pusing! Manja banget sih? Dulu kamu waktu di panti asuhan pasti sudah biasa kan, kerja berat?" sahut ibu mertua seolah tidak perduli. 

"Tap ...."

'Prang!'

Belum saja aku selesai mengucapkan kalimatku, ibu mertua sudah beraksi menjatuhkan wajan penggorengan tepat di bawah kakiku.

Nyaris saja menimpa kakiku, untungnya meleset ke samping. Memang, ibu mertuaku ini benar-benar ganas! 

"Halah! Manja banget! Cepat masak!" protesnya tak ingin lagi mendengar alasanku. 

Mendengar kalimat itu membuat hatiku semakin perih. Bagaimana bisa ibu mertuaku itu berubah drastis dengan saat pertama kali bertemu. 

Jika mengingat hari itu, hari di mana Mas Ilham membawaku ke rumah ini untuk memperkenalkanku dengan keluarganya. Bu Ratih yang dulu masih calon bumer, bersikap sangat baik padaku. Sambil tersenyum dia memuji-muji parasku yang ayu. Tapi, saat ini, di saat aku sudah menjadi istri anaknya, kenapa perubahan sikapnya begitu kentara? 

Ya Allah, dosa apa waktu kecilku hingga saat ini aku mendapatkan perlakuan seperti ini? 

"Cepetan masak! Semua orang sudah lapar!" bentaknya lagi. Bagaimanapun hatiku ingin berontak, begitu juga akhirnya aku pasrah dan menurut. Demi keutuhan rumah tanggaku dengan putranya. 

Aku langsung melangkahkan kaki menuju lemari pendingin untuk mencari bahan yang bisa kugunakan. 

"Masak nya yang enak! Jangan keasinan kayak kemarin!" celetuk wanita setengah tua itu mengingatkan. 

Aku mengangguk cepat. "Iya Bu." Aku mulai berjibaku dengan semua bahan yang ada. 

Jika mengingat hari kemarin, padahal ibu mertuaku sendiri yang membuat masakanku keasinan, tapi tetap saja aku yang disalahkan. 

Kejadiannya adalah, saat aku sudah menyetel semua rasa, kutinggal sayur santan yang masih belum mendidih di atas kompor. Karena aku sedang ingin ke kamar mandi untuk membuang hajat, maka aku tinggal sebentar. 

Namun, saat aku kembali kulihat ibu mertuaku itu mengicip kembali dan memasukkan sesuatu lagi ke dalam panci masakku. Aku paham betul toples yang dipegangnya saat itu adalah toples yang berisi garam. Otomatis! Rasa sayur dan kuah, terasa sangat asin. 

Tapi, ibu mertuaku yang sangat pintar di atas rata-rata mengumumkan kepada seluruh anggota keluarga bahwa akulah yang sengaja membuat asin masakanku.

Hingga akhirnya, sayur sepanci besar itu harus terpaksa dibuang karena tidak ada yang mau memakan. 

Kembali ke masa sekarang. Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 08.00 pagi. Sesuai jadwal rutin, seharusnya kami sudah selesai sarapan dari beberapa puluh menit yang lalu. 

Karena kondisi tubuhku yang kurang fit, aktifitas memasakku menjadi terganggu dan sangat lama. 

"Naima!!!" teriak ibu mertua lagi memanggil namaku. 

Aku yang tengah membalik tahu dan tempe memilih tetap di posisi dan tidak langsung mendatanginya. 

"Naimaaaa!!!"

Astaghfirullah ... Itu mulut atau toa?? Nyaring sekali. 

"Iya, Bu." Setengah berlari aku menghampiri ibu mertua yang sedang berdiri di depan pintu. 

'Bruk!'

Setumpuk pakaian berbau menusuk hidung dilemparkan ke arahku. "Habis masak, cuci semua ini!"

Ya Allah, tugas satu saja belum kelar, sudah ditambah lagi? Mana badan lagi meriang begini? 

Aku memungut semua pakaian kotor ibu mertua dan langsung membawanya ke kamar mandi. Mulai memasukkan barang itu ke mesin cuci dan mengisinya lagi dengan air. 

"Ya Allah, Naima!!! Tempemu gosong ini, lho!" 

Mendengar teriakan ibu, aku buru-buru lari ke dapur. 

Ya Allah, ngebul! Asap di mana-mana. Dan tempe yang tadi berwarna kuning sekarang sudah menjadi hitam legam. 

"Ck! Jadi menantu koq nggak becus banget sih!" Ibu mertua berkacak pinggang. Sudah macam mandor sedang mengomeli bawahan.

"Maaf, Bu." Aku langsung mengangkat wajan penggorengan dan mencucinya. 

Untung saja ini gorengan terakhir, jadi tidak terlalu menyesal karena minyaknya tidak bisa dipakai lagi. Maklumlah, jadi wanita itu harus perhitungan. Kan lumayan, harga minyak lagi mahal! 

Ups! Koq malah jadi curhat? 

Sang Ratu kembali menghampiriku. "Ini sudah mateng semua kan? Sana siapin di meja!" bentaknya lagi memerintahku. 

Ya, ibu mertuaku itu sudah seperti ratu bagiku. Karena setiap perintahnya tidak boleh kutolak, Apapun itu. 

"Iya, Bu." Aku berjalan ke arah meja makan dan mempersiapkan semua menu yang sudah kumasak. 

"Ish! Ini bau apa, Sayang?" tanya mas Ilham sambil menutup hidung. 

"Bau tempe gosong istrimu!" seloroh ibu mertuaku seenaknya. 

"Masa sih? Nggak biasanya Naima masak, gosong?"

"Dibilangin juga! Tanya aja istrimu!"

Mas Ilham ikut kena sembur, kan? 

"Iya Mas, memang tadi aku yang gosongin tempe. Soalnya tadi pas lagi masak, aku dipanggil sama ibu."

"Eh, eh! Koq malah nyalain ibu!" sewot ibu mertuaku dengan mata melotot seperti mau copot. 

"Sudah, sudah." Mas Ilham menengahi kami dan langsung menarik kursi untuk duduk. " Sudah, Ibu, Naima, Mari sarapan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Bismillah, Aku Ikhlas

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Menjunjung tinggi kesetiaan tak melindungi Ruela dari pengkhianatan Frans. Suaminya itu justru berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih meratapi nasib, Ruela memilih bangkit demi menuntut balas. Di tengah rencana pembalasan dendam tersebut, takdir mempertemukannya dengan Felix, pemuda yang melewati malam penuh gairah bersamanya. Mampukah Ruela menghancurkan para pengkhianat di hidupnya? Inilah kisah penuh luka, ambisi, dan pertemuan tak terduga.
Sampul Novel Kumpulan Cerita Pendek dengan Alur Ringan dengan Akhir yang Bahagia
9.7
Antologi fiksi romantis modern ini menyuguhkan rangkaian kisah cinta yang menyejukkan jiwa. Hadir dengan plot mandiri dan judul berbeda di setiap bab, buku ini menawarkan pengalaman membaca yang selalu segar. Di tengah peliknya dinamika kehidupan nyata, kumpulan cerita pendek ini dirancang khusus sebagai ruang nyaman bagi pembaca. Fokus utama dari setiap jalinan kisahnya adalah menjamin akhir yang bahagia dan manis bagi seluruh karakter di dalamnya.
Sampul Novel Pelakor Itu Sahabatku
9.7
Perceraian menyakitkan akibat pengkhianatan sang suami meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Senja. Trauma masa lalu tersebut membuatnya enggan membuka hati untuk pria lain. Di tengah keputusasaannya, muncul seorang CEO muda yang terus berjuang keras meluluhkan sikap dinginnya. Kini, Senja dihadapkan pada pilihan sulit: membuka lembaran baru bersama cinta yang baru, atau justru kembali rujuk dengan mantan suaminya yang dahulu telah memberi luka.
Sampul Novel Perang Ego Dalam Jodoh Paksa
7.9
Alina Darya, seorang yatim piatu yang berjuang demi neneknya, harus menghadapi kemalangan usai berseteru dengan pria kaya raya, Rayan Syahmir. Rayan yang telanjur murka dan merasa harga dirinya diinjak-injak, memutuskan membalas dendam dengan memaksa Alina menikah tanpa landasan cinta. Di tengah kehancuran hidupnya, Alina hanya bisa berserah dalam doa. Siapa sangka, kebencian Rayan lambat laun terkikis menjadi ketertarikan. Akankah ada ruang bagi cinta untuk tumbuh di sela ego dan luka?
Sampul Novel Terjebak Cinta Tuan Arogan
9.6
Saat berusaha kabur, takdir membawa Maureen bertemu Max. Meski dikenal sebagai pebisnis dingin yang sulit didekati, daya tarik Maureen sanggup meruntuhkan pertahanan Max. Pertemuan tak terduga ini menjebak Maureen dalam hubungan dengan pria arogan yang punya cara unik dalam mencintai. Kehadiran Max yang sangat mendominasi pun seketika mengubah seluruh kehidupan Maureen untuk selamanya, mengikatnya dalam jerat asmara yang tak terelakkan.
Sampul Novel Terjerat Deduksi Detektif Kejam
8.8
Pernikahan paksa menghancurkan karier gemilang Linda dalam sekejap. Ia kini terperangkap dalam kendali Erik Bayroad, detektif terbaik Inggris yang bertindak kejam dengan melenyapkan mantan kekasih Linda serta mengasingkannya dari keluarga dan dunia luar. Tanpa kekuatan untuk meloloskan diri, Linda akhirnya pasrah menerima nasibnya. Bersama Erik, ia kini harus mengarungi lembaran hidup baru yang sarat akan ancaman bahaya serta rintangan yang tak pernah terduga sebelumnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan