APKDock Logo
Sampul Novel Musuh Tapi Menikah

Musuh Tapi Menikah

7.9 / 10.0
Jihan Aiyana Abimanyu dan Septian Erlangga Wijaya selalu berseteru layaknya Tom and Jerry setiap kali bersua. Padahal, orang tua mereka telah menjalin persahabatan erat sejak masa SMA. Situasi kian memanas ketika kedua keluarga tiba-tiba memutuskan untuk menjodohkan mereka. Apakah keduanya akan menentang keputusan tersebut, atau justru terpaksa menerimanya? Saksikan lika-liku hubungan penuh perselisihan ini saat mereka dipaksa menikah dan mencoba menjadi pasangan yang normal.

Musuh Tapi Menikah Bab 1

Seorang gadis cantik yang tengah fokus membaca novelnya terkejut saat seseorang datang mengagetkannya. Sampai-sampai gadis dengan nama lengkap Jihan Aiyana itu menjatuhkan buku novel yang dia sedang baca, wajah Jihan terlihat sangat kesal lalu mengumpat saat melihat siapa yang mengagetkannya. Jihan langsung memaki pria yang telah membuatnya sangat terkejut. Kalau saja dia memiliki penyakit jantung mungkin dia sudah terkena serangan jantung, untunglah dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.

“Shit! Balik lo dasar curut! Gimana kalau gue mati kena serangan jantung gara-gara ulah lo?!" Teriak Jihan lalu mengejar Septian yg kini berlari setelah berhasil mengerjai Jihan.

“Hahaha! Kejar gue kalau bisa,” sahut pria yang bernama Septian Erlangga Wijaya, sambil berlari dan sesekali menjulurkan lidahnya pada Jihan lalu tertawa, membuat Jihan semakin geram. Karena sudah geram dengan tingkah Septian, Jihan lantas mencopot sepatunya kemudian melemparkannya kearah Septian yang masih saja mengolok-oloknya. Pletak! Sepatu kets Jihan mendarat dengan sempurna diatas kepala Septian, membuat Septian meringis kesakitan.

“Aww...!" Pekik Septian sambil memegangi kepalanya, dia menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap tajam kearah Jihan.

"Hahaha! Mampus! Rasain lho, mamam tuh sepatu gue!" Bukannya takut Jihan malah  tertawa terbahak-bahak karena lemparannya mendarat tepat sasaran mengenai kepala Septian. “Makanya jadi cowok jangan jahil!” lanjut Jihan menatap Septian tanpa belas kasihan.

"Gila lo, ya?! Memang kepala gue apaan? Dasar cewek jadi-jadian!" Cetus Septian yg kini masih mengelus-elus kepalanya yg terkena lemparan sepatu Jihan.

"Septian sama Jihan berantem lagi," Bisik beberapa mahasiswa yg melihat perdebatan antara Jihan dan Septian, yang sudah biasa bagi mereka.

"Eh, eh, apa lo bilang? cewek secantik gue lo bilang cewek jadi-jadian? HEH! Dasar curut empang lo! Kembaliin gak sepatu gue." Jihan pun menatap tajam kearah Septian. Lalu dengan langkah terpaksa Jihan menghampiri Septian. Tahu Jihan akan menghampirinya, tiba-tiba Septian tersenyum jahat.

"Cowok seganteng gue lo katain curut? Gue Idola cewek-cewek di kampus ini, lo tau?” desis Septian tak terima. “Lo tuh cewek jadi-jadian. Gak tahu apa kalau cewek-cewek pada ngantri sama gue?" ujar Septian dengen sombongnya, membuat Jihan ingin tertawa terbahak-bahak karena kesombongan yang Septian ucapkan.

"Ngantri apa, bang? Ngantri buat musnahin lo dari muka bumi ini?”

Mendengar ejekan dari Jihan membuat Septian kesal, tapi dia langsung tersenyum saat menyadari bahwa sepatu gadis itu kini ada ditangannya. "Lo mau sepatu lo balik gak? kalau mau ambil sini! Itu pun kalau lo bisa."

Kini ucapan Septian menghentikan tawa Jihan. Mata bulat Jihan beralih menatap sepatu miliknya yang berada ditangan rivalnya itu. Sambil kini memegang sepatu Jihan, Septian pun menyeringai, tentu saja Septian tidak akan membuat Jihan dengan mudah mengambil sepatunya itu.

"Balikin gak sepatu gue curut!"  Wajah Jihan sudah menunjuk kekesalannya pada Septian. Lalu Jihan pun semakin mendekat pada Septian. Namun bukannya memberikannya, Septian malah kembali berlari meninggalkan Jihan yang semakin geram dengan tingkahnya.

"Jangan harap lo dapetin sepatu lo dengan mudah. Kalau bisa ambil sini!" teriak Septian yang kini sudah kembali berlari meninggalkan Jihan yang masih terdiam ditempatnya.

"Dasar Curut!!! Jangan lari lo, balikin sepatu gue bajingan!" Jihan sudah mulai geram berteriak sekuat tenaga, membuat orang-orang yang berada disana menatap kearah Jihan. Mereka bingung dengan Jihan yang tiba-tiba berteriak dengan sangat kencang. Jihan pun akhirnya mengejar Septian  dengan kaki terpincang-pincang karena hanya memakai sepatu sebelah.

"Siapa suruh lo ngelemparin sepatu lo ke gue, wlek...." Septian berlari lagi sambil menjulurkan lidahnya pada Jihan.

"Maura tangkap Septian!”  Teriak Jihan saat melihat Maura berdiri tepat di depan Septian.

"Kena lo!"  Maura yang diperintahkan oleh Jihan pun langsung memegangi tangan Septian. Apa yang Maura lakukan tentu saja membuat Septian terkejut.

"Tolong ambilin sepatu gue, Ra. Kaki gue udah sakit banget nih, jalan pake sepatu sebelah. Jangan lepasin dia, Ra, Gue mau kasih pelajaran sama sih curut." Jihan dengan semangat menghampiri Maura yang masih memegangi tangan Septian sesuai dengan perintah yang Jihan berikan.

"Ini lo ambil sepatunya, Ra. Tapi tolong lepaskan gue ya Maura yang cantik dan manis, gue mohon," bisik Septian mencoba sedikit memuji  Maura. Dia memohon dengan senyum semanis untuk Maura guna membuat Maura tertipu daya dan melepaskannya.

"Tian manis banget sih,” Maura terlena.

"Makasih pujiannya," Ucap Maura yang kini melepaskan cekalan tangannya pada Septian. Namun sepatu Jihan kini sudah tergeletak dilantai.

“Makasih ya Maura yang manis. Muach!!!" Setelah Maura melepaskan pegangannya pada lengan Septian.  Kini dia pun kembali berlari menjauh dari Maura dan Jihan. Maura yang mendapatkan pujian dari Septian pun terus tersenyum sambil menatap kepergian Septian. Sehingga melupakan apa yang Jihan suruh.

"Hey, Maura! kenapa lo malah lepasin dia sih?! Gue kan udah bilang jangan lepasin dia, kan gue pengen ngasih pelajaran sama dia, Ra!!!" Jihan pun mengambil sepatu yang tergeletak dilantai lalu memakainya.

"Abis dia tampan dan manis banget sih, Han. Jadi gue gak tega kalau lihat lo marahin dia. Apalagi sampai maki-maki dia depan anak-anak," Ucap Maura sambil senyum-senyum tidak jelas.

"Hadeh! Lo ini Ra, sama saja kayak cewek-cewek yang lainnya gampang banget dirayu sama sih curut." Jihan yang memang sedang kesal pun berlalu meninggalkan Maura yg masih senyum-senyum tidak jelas.

"Eh, Han, tungguin gue...!" Teriak Maura yg baru menyadari kalau Jihan sudah pergi meninggalkannya.

*****

"Mama Jihan pulang," Seru Jihan yg kini sudah duduk disofa sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Mendengar putarinya memanggilnya, Sabrina pun menghampiri putri semata wayangnya itu.

"Ada apa sayang? Kenapa wajah putri Mama yang cantik jadi kusut kayak gini?" Tanya Sabrina. Lalu duduk disamping putrinya dan mengelus rambut Jihan yang panjang.

"Gak apa-apa Mah. Jihan cuma lagi bete aja," jawab Jihan lalu memeluk mamanya. Mendapat pelukan tiba-tiba dari putrinya, Sabrina pun hanya tersenyum seakan tahu penyebab kekesalan putrinya.

"Pasti Septian bikin ulah, ya?" Tebak Sabrina. Jihan mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya, dia masih kesal kalau mengingat kejahilan Septian tadi di kampusnya.

"Dia selalu saja menjahili Jihan, Mah. Bikin Jihan kesel. Dia tuh nyebalin banget Mah. Jihan benci banget sama dia!" Rengek Jihan sambil cemburut dan tidak melepaskan pelukannya pada sang ibu.

"Hahahaha! Ternyata Septian, suka banget ya jahilin putri mama ini, jangan terlalu benci sayang, nanti kamu lama-lama bisa jadi cinta lho… " Ucap Sabrina setengah menggoda.

"Ah, Mama kok gitu sih?! Anaknya sedih malah diketawain. Ya sudahlah, Jihan mendingan ke kamar aja. Mau bersihin badan dulu, lengket banget rasanya nih badan." Setelah bicara seperti itu, Jihan pun pergi meninggalkan Sabrina sendirian yg tersenyum melihat kepergian putri kesayangannya terlihat kesal.

Kini Sabrina pun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang, setelah teleponnya tersambung Sabrina mulai berbicara dan sesekali tertawa entah dengan siapa dia bicara sehingga terlihat sangat bahagia. Sedangkan putrinya kini sedang kesal karena ulahnya yang telah menertawakannya.

Bersambung

Lanjut Membaca

Daftar Isi Musuh Tapi Menikah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai setelah tiga tahun menikah. Ia memohon kepada istrinya agar diizinkan memiliki anak lagi dengan sang mantan pacar demi mendapatkan sel pengobatan, berjanji akan kembali setelah semuanya usai. Namun, di balik tangis pilu suaminya, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang menuntut Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Dunia dokterku hancur saat merawat Evelyn Santoso, pasien VIP yang menangisi tunangannya. Pria di foto itu adalah Bima, suamiku, yang ternyata bernama asli Brama Wijaya, seorang taipan kejam. Saat Brama datang, ia sama sekali tidak mengenaliku. Ia memeluk Evelyn dan membisikkan janji manis yang dulu sering ia katakan padaku. Melalui tatapan matanya yang sangat dingin, Brama menegaskan bahwa pernikahan kami hanyalah sebuah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Demi menguji perasaanku, Bramantyo dan Bima tega menyiksaku lewat kehadiran Sandra. Puncaknya, mereka membiarkan tanganku hancur dalam sebuah kecelakaan demi menolong Sandra, hingga karier musikku hancur total. Mereka menanti kemarahanku, tetapi aku hanya diam, bahkan saat Sandra merusak liontin peninggalan ibuku. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku sirna. Ini bukan cinta, melainkan siksaan kejam. Kini, aku bersiap melarikan diri dan membalas semua kehancuran ini.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Tersesat saat menjelajah, seorang pria terjebak dalam keanehan Hutan Gondoriyo setelah kendaraannya hilang secara misterius. Di sebuah pondok sunyi, sepasang lansia misterius memberinya peringatan keras. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran menuntunnya kembali ke sana, namun hutan itu telah lenyap. Rahasia kelam tentang kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terungkap, memaksanya bertaruh nyawa demi membongkar kebenaran yang meneror.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Suasana khidmat menyelimuti Puncak Lundao di Pulau Sepuluh Ribu Binatang saat puluhan ribu anak belia berkumpul. Para murid baru yang baru mendeteksi akar spiritual ini menyimak dengan saksama petuah tetua berjubah hijau. Sang tetua mengisahkan awal mula sekte yang dirintis oleh Wan Beast Immortal Li. Tokoh legendaris itu awalnya hanya kultivator biasa asal Kerajaan Qin di Alam Qianyang sebelum akhirnya berhasil meraih keabadian.
Sampul Novel Perceraian Aku dan Kakak Kembarku
8.5
Pernikahan dua pasang kembar dengan Leo sang hakim dan Sam sang dokter bedah berakhir tragis. Saat diculik dari rumah sakit, sang istri kehilangan bayinya karena disiksa setelah Sam mengabaikan puluhan panggilan telepon. Sang kakak yang menyelamatkannya juga diabaikan oleh Leo saat meminta bantuan. Setelah lolos dari maut akibat terjebak badai salju dan tanah longsor, kedua saudari yang terluka ini sepakat untuk mengajukan perceraian bersama begitu mereka tersadar di rumah sakit.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan