APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Modern maid

Modern maid

Kisah cinta modern ini menyoroti lika-liku hubungan asmara yang terhalang oleh jurang status sosial. Perasaan cinta yang tumbuh di hati seorang asisten rumah tangga terhadap majikannya memicu konflik batin yang mendalam. Di bawah bayang-bayang tuntutan sosial dan pandangan miring lingkungan sekitar, kesetiaan mereka diuji. Mereka harus menghadapi dilema berat dan pengorbanan besar demi memperjuangkan akhir bahagia yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Bab
Bagikan

Bab 1

Entah sudah yang ke berapa kalinya Mila menghela nafas kesal dan kecewanya. Ia marah juga sekaligus sedih, kapan kesialan akan pergi jauh dari hidupnya?

Rasanya selama ia hidup tak pernah sekalipun kebahagiaan yang hakiki bersamanya. Terlahir dari garis keturunan miskin sebenarnya tak pernah Mila keluhkan, ia selalu bersyukur dan bersyukur dengan kehidupannya.

Tapi tiba di detik ini, Mila merasa sungguh tak sanggup lagi. Orang miskin bukan berarti terus bisa di injak-injak, dihina-hina. Apalagi di tuduh mengambil uang ataupun perhiasan milik orang lain.

Hari ini Mila baru saja dipecat dari pekerjaannya, ia bekerja menjadi pembantu di sebuah rumah orang kaya. Alasan ia dipecat karena dituduh telah mencuri uang dan perhiasan sang majikan.

Mila yang tak pernah merasa mengambil uang dan perhiasan yang di tuduhkan itu tentu saja marah dan berani bersumpah jika ia tidak mengambil barang yang di tuduhkan tersebut.

Tetapi malah sebaliknya, entah bagaimana bisa uang dan perhiasan itu ada di dalam tas selempang lusuh yang memang selalu Mila bawa kemana-mana. Mila menganga tidak percaya, percuma juga baginya untuk bersikeras membela diri toh tidak akan ada yang percaya.

Bosnya murka dan marah besar pada Mila, satu tamparan pun mendarat ke pipi mulus Mila disusul dengan berbagai macam cercaan dan juga hinaan. Mila dipecat dan di usir dari rumah itu dengan cara yang sangat kasar dan tidak terhormat.

Hormat?

Bermimpi saja! Tidak diejek dan dihina saja Mila sudah sangat bersyukur.

"Hiks...."

Cairan bening itu kembali lolos membasahi wajah Mila, gadis itu menengadahkan kepalanya melihat langit yang mengelap.

Sudah setengah jam ia duduk sendirian di trotoar meratapi nasib hidupnya yang begitu sangat menyedihkan.

Sekarang, apa yang harus ia katakan pada sang bibi tercintanya? Pastilah bibinya itu merasa sangat sedih.

Mila tersenyum getir, niat hati datang ke kota ini untuk tinggal bersama dengan sang bibi setelah kepergian kedua orangtuanya yang meninggal dunia. Bibi Marsiah mengajaknya untuk tinggal bersama memulai hidup yang baru. Sejak saat itu Mila bertekad untuk membahagiakan bibinya.

Tapi bukannya kebahagiaan yang di dapat, malah penderitaan yang tak berujung.

****

Mila mengetuk pintu sebuah rumah sederhana yang ia tinggali bersama sang bibi tercinta. Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok bi Marsiah yang tersenyum hangat menyambut kepulangan ponakannya.

Mila melangkah masuk dan langsung menghambur memeluk tubuh bibinya. "Kangen, Bibi." ucap Mila dengan suara manjanya.

"Mosok kangen? Tiap hari juga ketemu."

"Tapi tetep kangen, setiap detik malah."

Cup.

Mila mengecup lama pipi bi Marsiah, lalu setelah ia berpamitan untuk masuk ke dalam kamar. Setelah di dalam kamarnya sendiri Mila kembali menangis, menumpahkan segala perasaan sesak di dadanya.

Tok.... Tok....

Ketukan di pintu kamarnya terdengar, Riana kaget dan segera menghapus air matanya kemudian membuka pintu kamar.

"Bibi?" kagetnya.

Bi Marsiah menelisik Mila lekat, "kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya terlihat khawatir.

Mila menggeleng sembari tersenyum lebar, "a-aku baik-baik saja, Bi. Kenapa?"

"Ah, tidak apa-apa. Hanya saja Bibi kok ngerasa gelisah sedari tadi pagi."

Mila mengigit bibirnya, "paling cuma perasaan Bibi aja itu." kilahnya.

"Kamu beneran gak apa-apa kan?" Mila kembali menggeleng.

"Ya sudah kalau gitu."

Mila hendak menutup pintu kamarnya namun terhenti karena melihat bibinya yang kembali membalikkan badan.

"Kamu sudah makan malam belum?"

"Belum, Bi."

"Kalau gitu ayo kita makan malam bersama, Bibi juga belum makan malam."

"Baik, Bi. Tapi, aku mandi dulu ya."

Mila menutup pintu kamarnya setelah bi Marsiah mengangguk dan pergi. Bukannya segera mandi Mila malah menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu yang tertutup.

Ia mengusap kasar wajahnya dan menarik cukup kuat rambut panjang nan Hitam miliknya ke atas. Hal itu selalu ia lakukan setiap kali merasa frustrasi.

Sepuluh menit kemudian Mila sudah selesai mandi kilatnya di sumur yang terletak di belakang rumah. Memakai pakaiannya dengan cepat lalu setelah keluar dari kamar menuju dapur.

Disana ia melihat sang bibi yang duduk lesehan dibawah yang beralaskan tikar usang. Mila juga melihat ada nasi goreng ala kadarnya yang sering menjadi menu andalan mereka makan jika keadaan kritis.

Dengan hidup yang serba pas-pasan mereka lebih menghemat. Itu ajaran sang bibi yang memang sudah terbiasa tak boros, bahkan kelewat irit.

Kadang Mila kesal sendiri melihat bibinya yang sangat irit. Wanita paruh baya itu lebih suka menabung, katanya untuk jaga-jaga bila ada keperluan. Misalnya saja ia ataupun Mila sakit maka sudah ada biaya.

Hmm, kalau untuk yang satu itu Mila setuju dan menjadi irit juga.

"Enak?" tanya bibinya.

"Ya, di enakin ajalah Bi."

Bibirnya tersenyum geli mendengar jawaban Mila yang tampak ogah-ogahan menjawabnya.

"Kapan-kapan kita makan enak ya kalau Bibi udah gajian."

Mila mengangguk, "makan enak lagi kalau Mila juga udah gajian."

"Jangan," bi Marsiah menggeleng. "Uang gaji kamu, kamu tabung saja. Biar yang lain menjadi urusan Bibi."

"Tapi Bi—"

"Oke?"

"Hmm, baiklah." Mila menghela nafas sabar. Percuma juga menjawab ucapan bibinya.

Selesai makan Mila membantu bi Marsiah yang tengah membereskan peralatan makan yang kotor. Sejak tadi ia sudah memikirkannya, antara ingin mengatakan yang sebenarnya pada sang bibi atau tidak.

Mila mengigit bibirnya, kebiasaan setiap kali ia merasa bimbang. Iya, tidak? Iya atau tidak?

"Mila, ada apa?" tanya bi Marsiah mengagetkannya.

"Apa ada yang mengganggu pikiran kamu."

"Uhm, Bibi, aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa itu?" tanya bi Marsiah terlihat penasaran. "Ayo, katakanlah."

"Bibi, sebenarnya aku...." Mila menghentikan ucapannya, menelan salivanya sebentar sebelum kembali melanjutkan. "Aku dipecat."

Bi Marsiah terlihat sangat kaget, "a-apa? Dipecat?"

"Bibi, maafkan aku." isak Mila memeluk tubuh bibinya.

"Aku dipecat karena dituduh mencuri uang dan perhiasan majikanku, Bi." adu Mila yang sudah tak tahan, "padahal jelas-jelas aku tidak melakukannya Bi."

"Iya, tenanglah." bi Marsiah mencoba menenangkan Mila yang semakin terisak pilu.

"Bibi percaya padaku, kan?" Mila melepaskan pelukannya dan mendongak menatap bi Marsiah.

"Tentu saja, mana mungkin keponakan Bibi yang cantik ini melakukan hal serendah itu." bi Marsiah menangkup wajah Mila dengan kedua tangannya.

"Biarpun kita miskin, tetapi kita tidak serendah itu untuk melakukan hal yang tidak baik. Benarkan?"

Mila mengangguk, "tapi kenapa uang dan perhiasan itu ada di dalam tasku ya, Bi?"

"Maksudnya? Kamu dijebak gitu?"

"Lebih tepatnya di fitnah, tapi siapa yang udah tega ngelakuin itu ke aku ya Bi?"

Bi Marsiah menggeleng, "sudahlah. Tidak usah memikirkannya lagi, yang terpenting kamu sudah tidak ada urusan dengan mereka lagi."

"Tapi tetap aja, Bi. Aku gak terima."

"Terus kamu mau apa? Mau kesana dan marah-marah gitu?"

"Ya... enggak sih," lirih Mila cemberut.

Bi Marsiah merasa iba melihatnya, ia peluk Mila dan mengelus punggung keponakannya. "Yang sabar aja, ndok. Tuhan maha adil, dia tidak tidur. Dan yakinlah jika suatu hari nanti kebenaran akan terungkap, bahwa sebenarnya bukan kamu yang melakukan apa yang mereka tuduhkan."

Mila mengangguk setuju, dan ia yakin jika dibalik peristiwa pasti ada hikmahnya.

Tbc....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Terlarang & Rahasia
9.4
Karina, yang tumbuh dalam keluarga broken home, menjalani hubungan gelap bersama Evan, suami dari saudara perempuan sahabatnya. Begitu skandal ini terbongkar, ia menerima kecaman dari publik serta dimusuhi oleh Siska. Karina akhirnya memutuskan pergi dalam kondisi hamil tanpa memberi tahu siapa pun. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali ke Jakarta bersama putranya. Kini, misteri identitas ayah kandung anak tersebut terancam terungkap. Sanggupkah ia terus menyembunyikan rahasia kelam itu?
Sampul Novel Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam
8.6
Divonis menderita kanker otak stadium akhir, hidup seorang wanita hancur saat adik angkatnya, Halida, menukar catatan medis mereka demi merebut perawatan eksperimental terakhir. Didukung oleh keluarga dan suaminya sendiri, Zafran, sang protagonis terpaksa melepaskan hak kepenulisan, menandatangani surat cerai, hingga merelakan putrinya memanggil Halida sebagai ibu baru. Di sisa waktu 72 jam terakhirnya, ia memberikan segalanya tanpa perlawanan. Namun, saat kebenaran dan kebohongan kejam Halida akhirnya terbongkar, penyesalan mendalam justru datang terlambat dari mereka yang telah membuangnya.
Sampul Novel Laksana Senja
7.9
Kehidupan tenang Senja Mahesa sebagai pencinta drama Korea terusik sejak kepindahannya dari Bandung ke Tangerang. Di sekolah barunya, ia dikelilingi para pemuda tampan yang menyeretnya ke dalam berbagai konflik tak terduga. Situasi ini bahkan membuat sang ibu, Utari, merasa sangat cemas. Mampukah Senja bertahan menghadapi lika-liku kehidupan masa SMA yang penuh gejolak ini hingga hari kelulusannya tiba?
Sampul Novel Monster Yang Bersamaku
7.9
Rein sangat yakin telah membunuh suaminya, Hary. Ia bahkan berniat menyerahkan diri kepada sahabat polisinya, Adrian. Namun, rencana itu kacau ketika seorang pria misterius tiba-tiba datang dan mengaku sebagai Hary. Walau berwajah sama, sikap pria ini sangat lembut dan penuh kasih sayang, jauh berbeda dari sang suami. Jika Hary yang asli sudah mati, siapa sebenarnya sosok asing ini? Apakah Rein hanya berdelusi, atau ada rahasia gelap yang disembunyikan?
Sampul Novel Penyesalan Abang dan Calon Suami
8.8
Setelah dikhianati hingga bangkrut oleh abang dan tunangannya demi sang sahabat, Rose mendapatkan kesempatan kedua dengan kembali ke masa tiga tahun lalu. Menyadari ketidakadilan mereka yang diam-diam memberikan proyeknya kepada orang lain, Rose memilih menyerah dan pergi ke luar negeri, yang justru dirayakan oleh keduanya. Namun, penyesalan terdalam menghampiri mereka saat Rose kembali tiga tahun kemudian sebagai istri dari presdir Grup Arkava di sebuah acara tender besar.
Sampul Novel Perceraianku Dimulai Saat Mertua Didiagnosis Kanker
7.9
Saat ibu mertuanya didiagnosis kanker rahim dan memaksa tinggal bersama, sang protagonis dihadapkan pada tuntutan sepihak dari keluarganya. Suami yang egois mengabaikan luka masa lalu pasca melahirkan, sementara putra yang dibesarkannya dengan kasih sayang justru memihak sang nenek. Menolak ditekan atas nama kewajiban moral, ia memutuskan mundur dan membiarkan suami serta anaknya mengurus semuanya sendiri. Kisah rumah tangga modern yang penuh konflik emosional.