APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Misteri Ular Xaver

Misteri Ular Xaver

Sepulang dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang diklaim bisa membuatnya awet muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku, bahkan rambutku dipotong untuk dililitkan di kepala patung itu. Ibu tidak tahu bahwa aku menyimpan rahasia pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, kebohongan ini berbuah petaka saat kulit ibu mulai dipenuhi bercak biru mirip sisik dan mulai mengelupas layaknya ular asli.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam itu, aku bermimpi aneh.

Dalam mimpi, aku melihat ibuku membelakangiku, sibuk mencuci pakaian. Tak peduli berapa kali aku memanggilnya, dia tak menghiraukanku.

Aku pun berjalan mendekat dan menepuk bahunya.

Dia menoleh, wajahnya penuh dengan sisik berwarna merah darah, kulitnya kencang dan mengecil. Lidahnya yang bercabang keluar masuk dengan suara berdecit pelan, seperti ular.

Aku langsung terbangun, tubuhku basah oleh keringat dingin yang meresap hingga ke kasur.

Sepanjang hari itu, saat mengikuti kelas daring, pikiranku benar-benar kacau. Bayangan tentang sosok ibu yang menyerupai monster ular dalam mimpi terus menghantuiku.

Beberapa hari berikutnya, setiap hari ibu berlutut di depan patung ular itu, membakar dupa dan bersujud.

Entah karena sering dibersihkan atau alasan lain, warna patung itu terlihat semakin gelap. Sisik-sisiknya juga tampak mulai terbuka, seperti ular sungguhan yang sedang melingkar di sana. Jika dilihat sepintas, sulit membedakannya dengan ular asli.

Aku yang masih trauma dengan mimpi buruk malam itu, membeli berbagai jenis aroma terapi untuk membantu kualitas tidurku. Aku juga meletakkan sebungkus belerang yang kubeli di Shopee di bawah bantal. Baru setelah itu, aku merasa lebih tenang untuk tidur.

Sebulan kemudian, kulit ibu benar-benar terlihat lebih halus dan lembut. Namun, setiap kali dia berkeringat setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, terkadang ada aroma amis samar yang keluar dari tubuhnya.

Aromanya seperti bau ikan, tapi tidak sepenuhnya sama.

Di sisi lain, ayahku tampak semakin lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas dan tubuhnya menjadi lebih kurus.

Namun, aku tidak heran. Bagaimana tidak? Orang tuaku yang sudah berusia lima puluhan itu hampir melakukan hal itu setiap malam. Aku sampai harus memakai penutup telinga untuk bisa tidur.

Entah dari mana datangnya semangat untuk mereka yang sudah berusia lima puluhan!

Perutku merasa nyeri lagi, itu tanda bahwa sudah waktunya menstruasi. Aku pun buru-buru ke kamar mandi.

Saat keluar, aku bertemu dengan ayahku yang baru saja pulang dari pasar, dia membawa sekantong daging dan telur.

"Ayah, kenapa wajahmu begitu pucat?"

Bibirnya tampak keunguan, napasnya tersengal-sengal, seperti suara sapi kehabisan napas.

Dia menundukkan badan, melambaikan tangan dan menjawab, "Nggak apa-apa, nak. Ayah hanya terburu-buru tadi. Cukup istirahat sebentar saja."

Namun, aku melihat sesuatu yang aneh di lehernya, ada luka kecil berwarna ungu kemerahan.

"Ayah, lehermu kenapa?" tanyaku, sambil mendekat untuk melihat lebih jelas.

Ayah tampak canggung, buru-buru menaikkan kerah bajunya.

"Oh ... ini nggak sengaja. Ibumu bercanda tadi pagi, terus nggak sengaja menggigitku. Bukan luka serius."

Gigitan ibuku?

Tapi terlihat jelas ada dua lubang kecil di luka itu, seperti bekas gigitan ular!

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi ayahku tiba-tiba terjatuh ke lantai. Tubuhnya kejang-kejang dan mulutnya berbisa.

Aku dan ibuku panik, langsung menelepon ambulans.

Di rumah sakit, setelah proses penyelamatan yang panjang, akhirnya dokter memberitahu bahwa ayahku selamat.

Karena harus dirawat di rumah sakit, ibuku pulang untuk mengambil barang-barang kebutuhan.

Diriku sebagai keluarga pasien, diajak dokter ke ruangannya. Wajah dokter tampak serius.

"Maaf, tapi kalian pelihara ular beracun di rumah, ya? Banyak anak muda yang suka memelihara hewan aneh seperti itu sekarang! Apa ular berbisa boleh sembarangan dipelihara?"

Aku terkejut dan segera menyangkal bahwa kami tidak memelihara hewan di rumah.

Dokter semakin marah, dia berkata, "Nggak pelihara? Kalau nggak, lalu bagaimana ayahmu bisa terkena racun bisa ular?! Untung saja segera ditangani, kalau nggak, dia bisa meninggal, kamu tahu nggak?!"

Setelah aku bertanya lagi, dokter akhirnya menjelaskan bahwa ayahku terkena bisa ular dari jenis viper hijau.

Ular jenis ini biasanya tidak ada di daerah kami tinggal. Itulah sebabnya dokter yakin ada orang yang memelihara ular itu di rumah.

Aku berjalan keluar dari ruangan dokter dengan pemikiran yang kacau balau.

Daerah ini sedang musim dingin, tidak mungkin ada ular. Bahkan jika ada pun, kami tinggal di apartemen, bagaimana bisa ular seperti itu muncul?

Aku langsung teringat patung ular yang dibawa ibuku dari Xaver.

Namun, bagaimana mungkin patung itu hidup dan menggigit ayahku?

Malam itu, aku duduk di samping ranjang ayah, memegang tangannya erat-erat. Seketika, aku merasa takut.

Jika terlambat sedikit, aku mungkin akan kehilangan ayah.

Sekitar pukul sepuluh malam, ibuku belum juga kembali ke rumah sakit. Aku mulai khawatir, setelah meminta perawat menjaga ayah, aku memutuskan untuk pulang.

Sampai di bawah apartemen, aku melihat semua jendela rumah gelap.

Apa ibu nggak ada di rumah?

Ke mana ibuku?

Rumahku di lantai 10 dan lift terjebak di lantai 26 karena renovasi. Aku tak sabar menunggu dan memutuskan untuk naik tangga ke lantai 10.

Saat membuka pintu, rumah gelap gulita, tetapi terdengar suara aneh dari dapur.

Aku mengambil sapu yang ada di dekat pintu, berjalan pelan menuju dapur.

Di bawah sinar bulan, aku melihat ibuku duduk di lantai dapur dan sedang mengunyah sesuatu.

Di sampingnya ada kantong plastik hitam dan suara krek-krek itu berasal dari dalam kantong tersebut.

Aku hendak mendekat untuk melihat lebih jelas, tetapi tiba-tiba sesuatu melayang ke arah wajahku. Aku pun menjerit terkejut.

Benda itu hampir mengenai wajahku, baunya amis dan terasa lengket.

Jeritanku menarik perhatian ibu dan dia berhenti mengunyah. Ibu pun mengambil seekor katak dari kantong plastik itu.

Aku berusaha menenangkan diriku sendiri dan memastikan bahwa benda itu adalah katak.

"Bu, kamu makan ini?!"

Suaraku bergetar dan hampir tidak percaya melihat ini.

Ibuku dengan enggan membuang katak itu. Mungkin karena terlalu erat digenggam, katak itu melompat dua kali sebelum akhirnya tak bergerak.

Ibu buru-buru mengelap tangannya di celemek dan berkata gugup,

"Jangan takut, Luna. Ibu hanya mau memasak sup katak. Katanya bagus untuk kesehatan. Ini semua dibeli di pasar tadi pagi."

Tapi aku melihat jelas, aku melihat dia memakan katak itu mentah-mentah.

Entah karena pengaruh gelap atau mataku yang salah lihat, aku sepertinya melihat pupil ibuku berubah menjadi vertikal seperti mata ular.

Namun begitu dia menyalakan lampu, pupilnya kembali normal.

"Ibu belum selesai masak, kamu bantu ibu ambil pakaian untuk dibawa ke rumah sakit, ya? Kita harus menemani ayahmu di rumah sakit beberapa hari ini."

Aku mengangguk dan meletakkan sapu, lalu masuk ke kamar mereka.

Ibuku sedang sibuk di dapur, jadi tidak memperhatikanku. Pikiranku terus kembali ke ucapan dokter di rumah sakit. Dengan hati-hati, aku mendekati patung ular itu.

Aku bahkan memberanikan diri untuk menyentuhnya.

Patung itu terasa dingin seperti logam, tapi ada sesuatu yang salah.

Wajah patung ular itu tampak berbeda dari sebelumnya, tetapi aku juga tak bisa menjelaskan dengan pasti apa yang berubah.

Sampai aku melihat foto pernikahan orang tuaku di dinding, aku baru sadar apa yang membuatku merasa aneh.

Wajah patung ular itu semakin lama semakin mirip dengan wajah ibuku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B24338" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B24338
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK
9.7
Pernikahan Nagita Wangi Kuncoro dan Rusdi Pratama Habsy yang harusnya bahagia justru berubah mencekam akibat teror gaib misterius. Penasaran dengan kejanggalan ini, sahabat Rusdi mulai menyelidiki dalang di balik gangguan mistis tersebut. Penyelidikan mengungkap bahwa pelaku kiriman santet mematikan ini adalah Listiowati Dewi, mantan karyawan yang sakit hati karena cintanya ditolak. Kini, nyawa pasangan pengantin baru ini terancam dan mereka harus berjuang bertahan hidup.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Sejak kecil, Alicia Lucero telah dijual oleh pamannya yang tamak kepada seorang pria bermata merah bernama Lucius Denovan. Setelah sekian lama diasingkan, Lucius kembali untuk mengambil Alicia yang kini telah dewasa. Kehidupan Alicia seketika berubah menjadi neraka penuh siksaan, karena Lucius sangat senang melihatnya menderita sebagai mainan. Namun, di balik segala kekejaman yang harus ia lalui, Alicia memilih bertahan demi menjaga sebuah rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.
Sampul Novel Malam Panjang di Bus Terakhir
9.2
Malam mencekam di dalam bus menjadi awal mimpi buruk bagi seorang wanita. Empat pria yang merupakan rekan kerja suaminya menyudutkan dan menyerangnya secara brutal di atas kursi kendaraan yang melaju. Di bawah ancaman kekerasan fisik yang keji, korban tidak berdaya menghadapi tindakan paksa dari para pelaku. Peristiwa traumatis ini memicu misteri kelam dan aksi bertahan hidup yang menegangkan, mengungkap sisi gelap dari orang-orang terdekat yang seharusnya bisa dipercaya.
Sampul Novel Santet Pengantin
9.1
Kematian tragis kembaran Rasti dan gangguan jiwa ibunya memicu dendam membara. Ia nekat mengorbankan sahabat kecilnya lewat ilmu pengasihan. Murka atas pengkhianatan itu, sang sahabat membalas dengan menjadi pengabdi setan. Saling serang teror ilmu hitam pun menghancurkan hidup mereka. Saat Rasti kehilangan calon bayinya, seluruh aibnya terbongkar di hadapan sang suami. Di titik hancur ini, mereka mencoba bertaubat demi ampunan Sang Pencipta.
Sampul Novel Sosok Teman Khayalan
9.7
Sikap aneh teman sebangku dan pengucilan tiba-tiba dari seluruh sekolah membuat seorang murid kebingungan. Saat didesak untuk menjelaskan alasan di balik aksi menjauh tersebut, sang teman justru menunjukkan ketakutan luar biasa sebelum akhirnya memutuskan pindah ke kelas reguler. Enggan membiarkan misteri ini menggantung, ia menyusul ke kelas baru tersebut demi menuntut jawaban. Namun, kehadirannya justru memicu histeria dan permohonan putus asa agar dirinya tidak pernah dicari lagi.
Sampul Novel WARUNG TENGAH MALAM
9.7
Setelah lulus kuliah dan kesulitan mendapat kerja, Ujang memilih pulang ke Kampung Sepuh demi menuruti keinginan ibunya. Di sana, ia ditugaskan mengelola warung kelontong peninggalan almarhum ayahnya. Awalnya semua tampak biasa, hingga serangkaian peristiwa ganjil mulai menerornya. Mulai dari mati lampu mendadak, suara-suara misterius, hingga kejadian mistis di luar akal sehat. Ujang pun mulai mempertanyakan apakah keanehan ini bersumber dari warung tersebut atau justru dari desanya sendiri.