
WARUNG TENGAH MALAM
WARUNG TENGAH MALAM Bab 1
1-PEMBELI DIMALAM HARI
Malam sangat sunyi di depan warung yang ku jaga ini hanya ada jalan yang sepi tidak ada lalu lalang kendaraan sama sekali di seberangnya hanya ada kebun milik warga tanpa diterangi oleh cahaya sedikitpun sehingga hanya lampu dari warung lah yang menerangi malam itu.
“Masih jam 23.00 malam.”
Aku melihat jam dinding di salah satu sudut warung, untuk mengusir sepi aku mengambil earphone di salah satu sudut etalase rokok yang ada di depanku untuk kupakai memutar musik di HP. Maklum di sini aku sendiri tidak bisa browsing internet karena terkendala sinyal, kalaupun ada harus ke bukit di ujung jalan dulu supaya bisa browsing atau W* sama temen-temen alumni tempat kuliah ku dulu sehingga hanya MP3-lah satu satunya menemani ku ketika jaga warung.
Tak
Lampu warung mendadak mati, suasana menjadi gelap gulita. Aku kaget dan reflek melepaskan earphoneku dan menyalakan senter di HP mencari-cari lilin seperti apa yang ditulis di catatan yang dibuat oleh Ibuku pada sore hari karena menurutnya listrik sering mendadak mati pada waktu waktu tertentu.
Lampu yang padam harus segera diganti dengan lilin dan jangan dibiarkan terlalu lama, aku tak paham sebenarnya apa maksud Ibuku mungkin karena hanya penerangan warung satu satunya. Makanya ketika mati lampu penerangan satu-satunya hanya dengan lilin, akupun mencari lilin di setiap sudut warung tetapi tak menemukan juga lilin yang dimaksud Ibu.
“Mana ya?” pikirku sambil mencari-cari dengan senter HP.
Dengan kegelapan total di waktu itu susana mendadak tidak enak, hawa yang sebelumnya normal-normal saja sekarang terasa aneh. Rasa takut pun perlahan muncul dan tak lama kemudian.
Sreeet, sreet, HEEEH HEEEEH
Tiba-tiba muncul suara dari seberang jalan suara yang berat dan arahnya mendekati warung.
***
Sebelumnya perkenalkan namaku Ujang Darsa panggil saja aku Ujang. Nama yang sangat familiar di tatar sunda. Aku hidup selama 18 tahun di salah satu kampung yang bernama Kampung Sepuh di selatan kota Bandung, meskipun begitu aku adalah satu dari sekian banyak orang di Kampung Sepuh yang bisa berkuliah di kota Bandung dan di tahun ini aku baru saja lulus di salah satu Universitas Negeri di kota Bandung.
“Jang, kamu masih belum punya kerjaan juga?" Ibuku menanyakan kabarku via telepon.
“Belum Bu di masa pandemi ini susah nyari kerja,Ujang sudah melamar kesana-kemari, tetapi belum ada panggilan, apalagi Ujang baru lulus tahun ini yang belum berpengalaman jadi semakin sudah Ujang cari kerja,” jawabku dengan sedikit murung.
"Ya sudah kalau Ujang belum dapat kerja, sambil nunggu panggilan kerja ujang sementara bisa tinggal dirumah dulu daripada di Bandung. kalau di sini kan Ujang tidak perlu khawatir masalah makan dan kebutuhan lainnya," jawab Ibuku yang mencoba menghiburku.
Aku menutup telepon dari Ibuku dan duduk di atas kasur di kosan. Sudah 3 bulan semenjak aku lulus, aku belum mendapatkan pekerjaan. Apalagi di masa pandemi ini lowongan kerja semakin sedikit.
Sudah melamar kesana kemari, tetapi belum ada hasil, Banyak pikiran yang membebaniku pada waktu itu. Dan beberapa hari setelah Ibu menanyakan kabar via telepon akhirnya aku memutuskan untuk pulang, setidaknya kalau pulang meskipun aku belum mendapatkan pekerjaan aku masih bisa bantu orang tua di kampung.
Kampungku jaraknya sekitar 100 km dari kota Bandung. Apabila kita berangkat dari kota Bandung lurus ke arah selatan melewati Kabupaten Bandung, melewati beberapa gunung dan beberapa hutan.
Hingga akhirnya ada tanda jalan kecil yang terbuat dari kayu yang menunjukkan arah ke Kampung Sepuh dengan jalan yang masih berbatu dan hutan yang lebat sehingga kampungku agak sulit diakses sehingga masih belum semodern di kota.
Mungkin untuk sebagian orang yang pertama kali ke kampungku akan menyebutnya hidden paradise. Karena letaknya diapit oleh dua tebing yang menjulang tinggi dengan air terjun di kedua sisinya membuatnya menjadi pelengkap keindahan kampungku ini.
Kampungku dari dulu hingga sekarang terkenal menjadi tempat persinggahan untuk orang-orang yang datang ke gunung sepuh. Salah satu gunung yang ada di ujung kampung yang dipercaya oleh beberapa orang menjadi tempat untuk mencari kekayaan dan mencari ilmu untuk mempermudah hidupnya.
Biasanya mereka berhenti di gunung Sepuh untuk beristirahat dan membeli perbekalan untuk bersemedi beberapa hari hingga beberapa bulan tergantung perjanjian dengan para makhluk gunung sepuh.
Aku naik motor dari Kota Bandung pagi hari dan tiba di kampung sore hari, sungguh perjalanan yang melelahkan. Tak jarang aku beberapa kali berhenti untuk sekadar ngopi dan beristirahat.
Mengingat ini bukan perjalanan yang bisa ditempuh satu atau dua jam dengan jalan yang berliku dan beberapa hutan dan gunung yang harus dilewati sehingga membutuhkan stamina dan tenaga yang terisi penuh.
Beberapa kali motorku tidak bisa jalan akibat terhalang batu besar di jalan atau terjebak di lumpur. Tak jarang aku pun turun dan mendorong motor supaya motor tersebut bisa keluar dari lumpur tersebut.
Akhirnya sekitar jam 4 sore aku sampai di gapura selamat datang di depan kampung. Dengan gapura kecil yang terbuat dari bambu dan di atasnya terdapat tulisan.
WILUJENG SUMPING DI KAMPUNG SEPUH (SELAMAT DATANG DI KAMPUNG SEPUH)
Akupun melewati gapura selamat datang itu dan masuk ke Kampung Sepuh, sejenak kulihat pemandangan kampung yang sudah kutinggalkan selama beberapa tahun karena aku kuliah di kota. Sebuah kampung asri di mana aku lahir dan hidup di sini hingga akhirnya aku merantau untuk kuliah di kota Bandung beberapa tahun yang lalu.
Jalan yang lurus, membentang melewati Kampung Sepuh dan berakhir ke gunung sepuh. Di kiri dan kanan jalannya berjajar rumah-rumah tradisional khas sunda, beberapa masih berbentuk rumah panggung dan beberapa lagi sudah modern. Penduduk Kampung Sepuh umumnya adalah petani dan beberapa dari mereka menjual hasil pertaniannya di sekitaran kampung atau menjualnya ke kampung tetangga.
Beberapa dari mereka juga sengaja merantau ke Kota untuk mendapatkan pekerjaan. Biasa para anak muda Kampung Sepuh yang lebih menginginkan bekerja di pabrik daripada menjadi petani, karena menurut mereka bekerja di pabrik lebih menjanjikan.
Kulihat dari kejauhan salah satu rumah panggung kecil di ujung jalan Kampung Sepuh, rumah dengan dinding berwarna putih yang sudah memudar. Di sana adalah tempatku tinggal sewaktu kecil hingga aku lulus SMA.
Tidak jauh dari rumah itu terdapat salah satu warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Warung satu-satunya di Kampung Sepuh dengan dagangan yang aku anggap cukup lengkap, dari mulai sayuran, alat mandi, alat makan, makanan, minuman hingga voucher pulsa dan bensin eceran.
Warung tersebut menjadi tempat untuk para warga membeli segala kebutuhanya, tak jarang para Ibu-ibu setiap pagi datang ke warung untuk membeli sayur mayur sekaligus bergosip ria dengan warga kampung yang lainya sehingga tiap hari warung itu sangat ramai oleh pembeli.
Aku pun memarkirkan motorku di sisi jalan tepat di depan rumahku. Perlahan-lahan aku menurunkan tas carrier yang berisi baju-bajuku dan perlengkapan yang kubawa dari kostan. tak lama kudengar suara teriakan yang samar-samar dari warung.
“Ujaaaaang sudah nyampe??” teriak Ibuku dari warung menghampiriku yang baru saja tiba.
Drap drap drap terdengar suara langkah kaki yang menghampiriku.
Ibuku dengan sedikit berlari datang menghampiriku, dengan sedikit tergesa-gesa karena ingin segera melihat anaknya yang baru pulang dari kota.
Ibuku seperti Ibu-ibu di kampung pada umumnya, memakai kebaya dengan rambut yang disanggul. Ibu memelukku dan kemudian membantuku untuk membawa tas berisi baju dan perlengkapan yang aku bawa di kost dari Bandung.
Setelah sedikit beristirahat kami pun berbincang tentang keadaanku saat ini.
“Iya, Bu, Ujang masih belum dapat kerja semenjak lulus, jadi ujang rasa ujang pulang terlebih dahulu sambil nunggu pandemi ini reda, Bu,” kataku sambil menghela napas.
“Yaudah gak apa-apa tinggal aja dulu di sini, Ibu dengar di Bandung banyak yang tertular jadi mendingan pulang aja di sini mah aman, agak bahaya Bandung sekarang,” jawab Ibuku dengan nada khasnya.
Aku hanyalah anak Ibu satu-satunya dan ketika aku kuliah 1 tahun yang lalu Bapak meninggal dunia dan akhirnya tinggallah Ibu sendirian di kampung, sehingga ketika aku kuliah 1 tahun terakhir Ibu hanya sendirian dirumah.
Setelah satu tahun meninggal aku belum pernah mengunjungi makam Bapak karena ada skripsi yang harus segera aku selesaikan. Sehingga tidak bisa pulang kampung untuk menemani Ibu dan dengan berat hati meninggalkan Ibu dirumah sendirian.
Penghasilan keluarga juga hingga saat ini hanya dari warung yang lokasinya di sebelah rumah yang dijaga oleh Bapak, meskipun awalnya aku merasa aneh karena warung itu tidak pernah tutup selama dua puluh empat jam, seminggu, sebulan bahkan setahun pun warung tetap saja buka.
Ibu dan Bapak bergantian menjaga warung. Ketika pagi hingga sore Ibu menjaga warung dan ketika malam tiba Bapak yang menjaga warung hingga pagi hari.
Sungguh aneh memang mengingat ini hanyalah kampung kecil yang ketika waktu magrib terlihat sepi, jarang sekali ada lalu lalang kendaraan apalagi di malam hari. Aku berpikir mungkin itu semua demi biaya kuliahku yang tidak sedikit sehingga hingga malam pun warung tersebut masih buka.
Meskipun ada satu hal yang dilarang oleh Bapak kepadaku sewaktu aku kecil. Aku dilarang untuk mengunjungi warung di malam hari. Aku hanya bisa mengunjungi warung siang hari dan ketika magrib tiba aku harus pulang dan diam di rumah hingga pagi tiba.
Aku membuka kamarku yang sudah lama ku tinggalkan. Serasa nostalgia melihat kamarku sekarang, setelah beberapa tahun hidup di kota ketika kuliah muncul lagi kenangan-kenangan semasa kecil setelah melihat kamar ini.
Kamar yang sederhana yang berukuran 4x2 meter dengan kasur yang masih terbuat dari kapuk dan meja belajar kecil di sudut kamar. Lalu ada kursi kecil tempat di mana dulu Ibu duduk setiap malam menceritakan dongeng-dongeng sebelum tidur saat aku kecil.
Tak jarang ketika aku bandel karena belum tidur di malam hari Ibu juga menakuti ku dengan cerita seperti, jurig jarian (hantu yang suka mengganggu dan suka tinggal di tempat sampah atau tempat yang kotor), lulun samak (hantu sungai yang suka menenggelamkan anak-anak yang bermain di sungai), aul (manusia serigala yang katanya tinggal di gunung sepuh dan dekat dengan kampung), serta genderuwo (makhluk yang tinggi besar berbulu yang suka menculik anak kecil). Ibu bercerita tentang hal yang menyeramkan dengan tujuan supaya aku cepat tidur dan tidak main terlalu malam di rumah.
Setelah mandi dan ganti baju aku pun bergegas ke warung, sebuah warung di sebelah rumah yang sekarang dijaga oleh Ibu tanpa henti setelah Bapak meninggal. Warung dengan dinding kayu dengan tempat duduk di depan tempat warga kampung membeli keperluan nya dan tempat untuk mengobrol dengan pembeli lain yang nongkrong di sana.
Didalamnya ada satu etalase besar yang terbuat dari kaca yang di dalamnya terdapat barang-barang yang didagangkan seperti sabun,sampo dan makanan-makanan. Lalu di sebelahnya terdapat kursi kecil tempat Ibu duduk menunggu pembeli dan rak kecil untuk menyimpan uang dan ada dua ruangan lagi di belakang yaitu gudang dan kamar mandi.
Aku duduk di depan warung menunggu Ibuku melayani pembeli di warung tersebut, tak berapa lama Ibu pun menghampiriku. Karena sudah lama tidak bertemu, aku pun mengobrol banyak hal dengan Ibu, aku bercerita tentang kuliahku hingga aku lulus.
Aku juga menceritakan kehidupanku selama kost di Bandung hingga rencanaku kedepan setelah aku mendapatkan pekerjaan. Banyak hal yang aku sampaikan ke Ibu, Ibu pun tak jarang memberikan nasihat supaya aku tidak menyerah untuk mencari pekerjaan dalam obrolan itu juga banyak petuah-petuah yang Ibu sampaikan apabila aku harus meninggalkan kampung lagi untuk bekerja di Kota.
Tak terasa waktupun sudah menunjukkan jam 18:00. Ibuku kemudian menyuruhku untuk pulang dan beristirahat karena Ibu harus melanjutkan berjaga warung di malam hari. kemudian Ibuku berdiri dan kembali ke dalam warung.
Terlihat tubuhnya yang tidak lagi muda pun kembali ke dalam warung dan duduk di sana. Akupun berdiri dan melihat Ibuku yang sendirian ini menjaga warung siang dan malam. Aku yakin Ibu pasti lelah, meskipun wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia kelelahan.
Timbul rasa ingin membantu Ibu untuk menggantikanya berjaga. Sebagai anak satu-satunya setidaknya bantuanku ini akan meringankan beban yang dipikul Ibuku. Aku pun berjalan ke dalam warung dan menghampiri Ibu, lalu aku pun berkata.
“Bu malam ini biar aku yang jaga warung, Ibu istirahat saja dirumah.”
Tetapi setelah aku berkata seperti itu, raut wajah Ibu sedikit berubah. Dari yang tadinya senang karena sudah bertemu dengan anaknya kembali setelah lama meninggalkan rumah. Kulihat wajahnya tampak berubah seakan-akan raut mukanya menyiratkan tidak menyetujui untuk aku jaga warung di malam hari.
Ibuku terdiam sebentar, lalu Ibuku berkata.
“Udah jang, Ujang aja yang istirahat. Ujang kan capek perjalanan jauh dari bandung, Ibu sudah biasa jaga di warung, Ujang istirahat aja kasian dari Bandung langsung begadang jaga warung” kata Ibuku yang menyarankan aku beristirahat.
Lalu aku pun duduk disamping Ibu dan kembali meyakinkan Ibu untuk menjaga warung itu. karena aku tidak tega melihat Ibuku berjaga seharian penuh tanpa ada yang menggantikannya.
“Ga apa-apa bu, sesekali Ibu istirahat dirumah mumpung ada aku malam ini biar aku aja yang jaga, tubuhku masih kuat nih di Bandung aja sering bergadang ngerjain tugas jadi ya cuman jaga warung mah bisa lah,” kataku sekali lagi meyakinkan Ibu.
Ibuku kembali terdiam, kali ini dia memandang wajahku dengan tatapan yang seolah-olah dia tidak setuju dengan ucapanku itu.
“Ujang yakin? ” Ibuku menanyakan keseriusan ku atas ucapanku barusan.
Kali ini tangan Ibuku memegang tanganku dengan erat, dia meyakinkanku lagi atas ucapanku barusan, seperti ada sesuatu yang tidak bisa tentang warung ini. Itu terlihat dari raut muka ibu yang khawatir apabila aku berjaga di warung di malam hari.
“Yakin Bu, mumpung Ujang dah di sini, Ibu jaga warung siang hari aja, biar pas malam aku aja yang jaga,” jawabku kembali menyakinkan Ibuku pada sore itu.
Ibuku terlihat aga aneh ketika aku menjawab itu, Ibuku terlihat bingung, seperti tidak mau membiarkan anaknya untuk menjaga warung di malam hari.
Ibu kembali duduk dan terdiam, Seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak ada tanda-tanda keanehan dalam raut wajah Ibu. Pikiranku pada saat itu hanya khawatir akan kesehatanku karena setelah menempuh perjalanan panjang, aku harus berjaga di warung hingga pagi hari, sehingga ibu ingin aku beristirahat.
Setelah berapa lama Ibu berdiri mengambil pulpen serta secarik kertas dari buku catatan warung. Ibu pun menulis sesuatu di atas kertas dan memasukkannya ke amplop dan memberikannya kepadaku.
“Kalau Ujang beneran yakin, ini adalah catatan yang dulu sempat ditulis oleh Bapak sebelum meninggal ketika Ibu jaga malam, dan ini Ibu tulis lagi buat Ujang, tetapi buka itu pada saat jam 21:00 malam ya?”
Ibuku menyerahkan amplop itu kepadaku, sebuah amplop yang berisi catatan yang harus dibuka pas jam 21:00 malam. Awalnya aku bingung dengan catatan itu,apakah itu adalah harga dari seluruh barang dagangan ini. atau hanya secarik kertas yang isinya sebuah catatan apabila ada yang datang untuk membeli sesuatu yang barangnya harus dicari terlebih dahulu di dalam gudang. Pikiranku mulai membayangkan apa yang ada dalam catatan itu karena ibu berkata catatan itu harus dibuka jam 21:00 malam.
“Emang kenapa bu harus jam 21.00 malam,” kataku yang tampak kebingungan
“Hmm, ini sebagai wasiat saja yang diturunkan oleh Bapak, Jang,” kata Ibuku dengan raut wajah yang khawatir.
“Owh ya sudah kalau gitu, Bu,” kataku.
“Ya sudah Ibu sekarang pulang aja ya, Ibu beristirahat dan datang lagi besok pagi,”
Ibuku mengangguk dan dia mengambil barang-barang di dalam warung untuk dia bawa pulang ke rumah. Ketika beberapa langkah berjalan keluar warung Ibu berbalik dan berpesan kepadaku.
"Ujang yang kuat ya jaga sampe pagi, memang berat untuk awal-awal Ibu juga seperti itu ketika ditinggal Bapak pertama kali, tetapi memang ini yang harus kita lakukan, Jang"
Tak lama Ibu bergegas pulang meninggalkanku sendirian di warung. Aku tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan Ibu, mungkin jaga malam harus mempunyai stamina yang kuat terutama untuk melawan kantuk karena jaga malam hari berbeda dengan siang hari.
Akupun melihat-lihat sekeliling warung, tak lupa aku juga melihat list catatan harga di dalam warung, mengingat-ingat harga dari setiap barang yang ada di warung supaya tidak ada kekeliruan harga ketika ada pembeli. Lalu aku pun duduk kembali di dalam warung dan memandang keluar warung di sore itu.
Memang Kampung Sepuh tidak seramai di kampung-kampung yang lain ketika magrib tiba, tidak seperti di tempat kostku dulu yang di Bandung yang banyak lalu lalang kendaraan, banyak mahasiswa yang nongkrong di depan kost mereka atau sekadar keluar mencari makanan.
Ketika malam Kampung Sepuh mendadak hening. Tidak ada kendaraan atau orang yang berlalu lalang di sekitaran kampung, kalaupun ada hanya beberapa saja yang mungkin kemalaman di jalan atau memang sedang ada keperluan di luar rumah.
Kecuali pada di waktu-waktu tertentu seperti ada yang nikahan atau sunatan, biasanya suka ada pertunjukan yang diadakan hingga malam hari, dan masyarakat pun tumpah ruah di sana menikmati pertunjukan di malam itu. Tak terasa jam 21:00 pun tiba. Selama aku berjaga hanya beberapa yang datang ke warung untuk membeli sesuatu. Dan aku pun ingat aku diberi catatan yang ditulis oleh ibuku sore itu.
Akupun mengambil amplop yang aku simpan di atas rak uang, pelan-pelan membuka amplop yang berisi catatan yang ditulis oleh Ibu.
“Apapun yang ujang baca Ujang harus turutin hal ini karena pembeli di malam hari berbeda dengan siang hari.
1. Jangan sekali-kali menuju rumah dari jam 9 malam hingga jam 5 pagi walaupun ingin ke toilet bisa ke toilet di belakang warung.
2. Jangan melamun atau pikiran kosong ketika jaga.
3. Jika listrik padam secara tiba, segeralah menghidupkan lilin.
4. Apabila terdengar suatu suara abaikan saja karena suara itu akan menghilang ketika lilin menyala.
5. Jangan sekali-kali mengecek sakelar tanpa menghidupkan lilin ketika lampu mati.
6. Jam 00:00 malam di malam-malam tertentu akan ada wanita yang datang dan duduk di kursi depan warung apabila memakai baju putih buatkan kopi hitam, apabila memakai baju merah, bilang kalau kopinya habis.
7. Ketika dia menengok jangan sekali-kali menatapnya.
8. Apabila ada yang datang dan menanyakan Bapak antar dia ke belakang warung dan disuruh tunggu di belakang apabila terjadi ketukan dari belakang, datang ke belakang, dengarkan apa yang dia ceritakan.
9. Dan jangan sekali-kali menatap wajahnya.
10. Di malam-malam tertentu akan ada suara yang ramai dan lampu yang terang seperti pasar dari arah kebun seberang jalan abaikan saja, dan apabila ada beberapa anak kecil datang ke warung kasih saja permen dan jangan sekali-kali mengomentari penampilanya.
11. Dan terakhir terimalah apapun yang mereka berikan.
“Apa sih ini,” pikirku aku menutup catatan itu dan menyimpanya lagi di atas rak kecil tempat menyimpan uang. Akupun menggelengkan kepala, mengingat catatan itu terasa tidak masuk akal. Seperti Ibu sedang menakut-nakutiku seperti aku kecil dulu.
“Ah mungkin Ibu nakut-nakutin lagi seperti dulu waktu aku kecil supaya tidur cepat, ah ga mempan bu, masa udah lama tinggal di kota masih takut ama beginian," akupun kembali duduk di kursi di dalam warung. Melihat keadaan sekitar warung yang semakin malam semakin sepi di malam itu.
“Masih jam 11 malam,” aku melihat jam dinding di salah satu sudut warung, untuk mengusir sepi aku mengambil earphone di salah satu sudut etalase rokok yang ada di depanku untuk kupakai memutar musik di HP.
Maklum disini aku sendiri tidak bisa browsing internet karena terkendala sinyal, kalaupun ada harus ke bukit di ujung jalan dulu supaya bisa browsing atau W* sama temen-temen alumni tempat kuliahku dulu sehingga hanya MP3 lah satu satunya menemani ku ketika jaga.
Tak
Lampu warung mendadak mati, suasana menjadi gelap gulita, aku kaget dan reflek melepaskan earphone ku dan menyalakan senter di HP mencari-cari lilin seperti apa yang ditulis di catatan yang dibuat oleh Ibuku pada sore hari karena menurutnya listrik sering mendadak mati lampu pada waktu waktu tertentu.
Lampu yang padam harus segera diganti dengan lilin dan jangan dibiarkan terlalu lama, aku tak paham sebenarnya apa maksud Ibuku mungkin karena hanya penerangan warung satu satunya. Makanya ketika mati penerangan satu-satunya hanya dengan lilin, akupun mencari lilin di setiap sudut warung tetapi tak menemukan juga lilin yang dimaksud Ibu.
“Mana ya?” pikirku sambil mencari-cari dengan senter HP.
Dengan kegelapan total di waktu itu susana mendadak tidak enak, hawa yang sebelumnya normal-normal saja sekarang terasa aneh. Rasa takut pun perlahan muncul dan tak lama kemudian.
Sreeet, sreet, HEEEH HEEEEH
Tiba-tiba muncul suara dari seberang jalan suara yang berat dan arahnya mendekati warung.
2-GENDEREWO
Tubuhku tiba-tiba langsung merinding, angin malam tiba-tiba berhembus ke dalam warung. Hawa dingin yang tidak biasa, yang membuatku bergidik merinding. Hawa yang tadinya tenang dan hanya terdengar suara binatang malam berubah menjadi hawa yang mencekam.
Suara tersebut semakin mendekat dan menjadi jelas dan mengusik keheningan di malam itu. Malam yang tadinya hening dalam sekejap berubah menjadi malam yang menyeramkan.
Senter di hp rupanya tidak terlalu membantu karena suara itu masih ada dan terdengar dengan jelas, suara sesosok makhluk yang seperti berjalan mendekat ke arah warung dengan nafas yang berat di seberang jalan.
“Duh mana ya lilinya ko ga ada,” pikirku dalam keadaan panik pada malam itu.
Sreeet, Sreeet, HEEEH, HEEEH
Suara tersebut semakin mendekat dan menjadi jelas dan mengusik keheningan di malam itu. Malam yang tadinya hening berubah menjadi malam yang menyeramkan. Senter di hp rupanya tidak terlalu membantu karena suara itu masih ada, suara sesosok makhluk yang seperti berjalan mendekat ke arah warung dengan nafas yang berat di seberang jalan.
Aku mencoba memberanikan diri menyenter asal suara tersebut, senter dari HP rupanya tidak sampai ke seberang jalan, tetapi samar-samar kulihat beberapa tanaman di kebun bergerak. Seperti ada seseorang yang mencoba melewatinya. Terlihat dari suara dedaunan yang jatuh dan suara ranting pohon yang patah.
Kresek, kresek
HEEEH, HEEEEEEEEEH
Suara itu masih mengganggu, konsentrasiku tiba-tiba pecah karena suara menyeramkan itu terus-terusan ada, dia seperti terus berjalan mendekat ke arah warung. Namun akhirnya aku mencoba berpikir jernih mencoba menghiraukan suara yang menyeramkan.
Di dalam kegelapan warung dengan senter HP yang menjadi satu-satunya penerangan pada waktu itu. Aku kembali mencari lilin. Kemudian aku ingat bahwa di belakang warung ada sebuah gudang tempat penyimpanan barang dagangan warung yang belum di pajang di etalase.
“Mungkin lilin ada di ruang belakang,”
Aku langsung berlari ke ruangan belakang, ruangan belakang adalah ruangan kecil di belakang warung. Sebuah ruangan kecil yang memanjang, tempat menyimpan barang dagangan yang ditumpuk memanjang.
Di sebelah kiri terdapat kamar mandi kecil dan di sebelahnya terdapat ruangan kecil tanpa pintu yang di dalamnya terdapat kompor kecil, panci untuk memasak air dan beberapa alat makan serta gelas. Biasanya tempat itu dipakai untuk memasak air ketika ada yang pesan kopi dan mie rebus.
Kulihat stok dagangan di ruangan belakang menumpuk dan rapi diurutkan sesuai jenisnya, ada tumpukan mie rebus, tumpukan rokok, dan ada juga beberapa tumpukan barang-barang lainya.
Karena kampung sepuh ini adalah kampung kecil jadi biasanya Ibu jarang untuk berbelanja, paling ketika stok menipis Ibu menyuruh seseorang untuk menyewa mobil bak terbuka untuk berbelanja ke pasar induk di untuk menyimpan stok dagangan di dalam gudang selama beberapa bulan.
Aku mencari-cari box lilin di tumpukan box yang ada di ruangan belakang, aku mencoba berpikir positif untuk menghiraukan suara yang mengganggu di seberang warung. Fokus utamaku pada saat itu hanya mendapatkan lilin, mengingat dari catatan yang Ibu kasih ketika lilin menyala semua suara itu akan hilang.
“Syukurlah, akhirnya ketemu juga,” kataku sambil menghela napas meskipun tubuhku masih dalam keadaan merinding. Kulihat ada box lilin yang bertumpuk di atas tumpukan box sabun di bawahnya. Aku pun mengambil box tersebut dan membukanya.
HEEEEH, HEEEH
Suara itu ternyata masih ada dan semakin jelas terdengar, sesudah membuka box lilin itu aku mencoba mencoba berlari kembali membawa lilin itu ke warung untuk dinyalakan. Dan ketika aku keluar aku terkejut.
"Astaga..!"
Jujur aku tiba-tiba tidak bisa bergerak, badanku terasa lemas. Di depan warung berdiri sesosok makhluk yang baru kali ini aku lihat, sesosok makhluk yang tinggi besar, berbulu, dengan rahang dan wajah yang menakutkan. Rambutnya panjang dan sebagian menutupi wajahnya.
Dengan badan yang penuh bulu lebat dari atas ke bawah. Kemudian, di tanganya itu seperti menyeret sesuatu yang dibungkus dengan kain kafan putih yang sudah kotor. Kain kafan yang biasa digunakan orang-orang untuk membungkus jenazah sebelum dikuburkan.
Kulihat bungkusan kain kafan yang dibawa makhluk itu menggeliat-menggeliat seperti hidup, seperti berusaha melepaskan diri dari genggaman makhluk itu. Sesekali makhluk itu memukul bungkusan kain kafan itu untuk membuatnya berhenti menggeliat. tetapi apa yang ada di dalamnya itu seperti berusaha untuk keluar dari dalam bungkusan itu.
Aku tiba-tiba terduduk di lantai tak percaya atas yang kulihat selama ini, karena selama ini makhluk seperti ini hanya ada pada cerita-cerita Ibu ketika aku kecil, apabila aku bandel untuk bisa lekas tidur di malam hari, Ibu akan bercerita makhluk yang menyeramkan, yang seringkali menculik anak kecil ketika malam tiba, makhluk yang Ibu ceritakan adalah genderuwo, sesosok makhluk yang tinggi besar, berbulu lebat, dan wajah yang menakutkan mirip dengan apa yang kulihat di depanku ini.
“Astaga..!! Ini memang Genderuwo yang sering Ibu ceritakan.”
Aku semakin takut untuk melangkahkan kaki ke depan meskipun lilin ada di tanganku pada saat itu, tetapi tubuhku seperti menolak melangkah ke depan warung apalagi ada makhluk yang seperti itu, aku hanya bisa duduk sambil ketakutan.
DUG, DUG, DUG
Tiba-tiba genderuwo tersebut memukul-mukul etalase warung, sambil menatapku yang duduk ketakutan, dan akupun masih belum berani mendekat karena sosok itu ada di depan warung. aku mencoba menenangkan diri, mencoba mengingat catatan yang Ibu tulis untukku. Di sana aku ingat aku harus mencoba menghidupkan lilin ini supaya gangguanya hilang, memang sedikit tidak masuk akal, tetapi sepertinya harus dicoba.
Aku pun berlari ke etalase mencari korek untuk menerangkan lilin, tanpa sedikitpun menoleh ke genderuwo tersebut, Aku hanya bisa menundukan muka dan tanpa melihatnya sedikitpun. Setelah aku dapat korek di etalase, aku berlari kembali ke ruang belakang.
Hah, hah, hah
Nafasku tiba-tiba berat aku duduk kembali menyender di box dagangan warung, tanganku masih belum berhenti bergetar, lilin yang aku pegang ini harus segera aku nyalakan seperti di catatan yang Ibu berikan. Ketika lampu padam, lilin harus segera di nyalakan sebagai pengganti cahaya listrik, dan aku yakin ketika lilin menyala makhluk itu akan hilang.
Trak, trak
Brrrrr
Akhirnya api di lilin sudah menyala, dengan terangnya lilin tersebut semoga dapat mengusir kegelapan di malam itu, meskipun cahayanya tidak seterang lampu tetapi setidaknya bisa menerangi warung di malam itu.
Lilin sudah menyala, tetapi aku masih takut untuk melangkah kembali ke depan warung, karena aku takut makhluk itu masih di sana.
Butuh beberapa menit untukku untuk bisa memberanikan diri supaya bisa melangkahkan kaki ke depan warung, aku berjalan perlahan ke arah depan dengan lilin di tangan. Dan ketika aku ke warung, warung serasa sepi kembali. Seperti tidak ada siapa-siapa di sana, padahal ketika lilin belum menyala aku yakin ada Genderuwo yang menyeramkan di depan warung sembari memukul-mukul etalase.
Malam kembali hening seperti sebelumnya warung yang sepi, kondisi warung juga kembali tenang, hanya sebatang lilin yang menyinari warung malam itu tetapi tidak tampak seperti habis di teror oleh genderuwo yang tadi muncul.
Aku mencoba memberanikan diri untuk memastikan bahwa genderuwo itu telah menghilang. Aku keluar warung dengan lilin di tanganku ini, mencoba melihat ke arah seberang jalan, kulihat hanya ada kebun yang gelap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sana.
Aku kembali ke warung dan mencoba menyalakan kembali saklar listrik dengan memindahkan tombol saklar yang ditempel di dinding depan warung, sehingga warung akhirnya bisa kembali terang seperti sebelumnya.
Catatan yang disimpan di atas rak aku buka kembali, kubaca kembali satu per satu poinnya dengan seksama. Seketika Ada perasaan marah pada saat itu, apa sebenarnya yang disembunyikan orang tuaku tentang ini. Aku kira ini hanya candaan saat Ibu menuliskan catatan yang seolah-olah menakut-nakutiku seperti saat aku kecil dulu.
Sebenarnya apa yang orang tuaku sembunyikan tentang warung ini, tentang mengapa aku tidak boleh bermain di warung di malam hari. Mereka tidak memberitahukan padaku tentang kebenaran warung ini. Sepertinya semuanya itu saling berkaitan, apalagi dengan catatan yang dituliskan oleh Ibu padaku.
Banyak pertanyaan yang muncul akan kejadian malam ini dan satu-satunya jawaban atas pertanyaan ini adalah aku harus menanyakan langsung kepada Ibuku.
“Aku harus meminta penjelasan Ibu, karena ini terlalu aneh untukku.”
Aku melihat jam dinding di malam itu yang masih menunjukkan pukul 12:30 malam. Tetapi karena terlalu banyak pertanyaan yang muncul setelah kejadian tadi aku pun bergegas keluar warung untuk pulang ke rumah.
Aku meninggalkan warung di malam itu, melangkahkan kaki keluar warung dan pulang ke rumah. Aku harus secepatnya bertemu Ibu untuk menceritakan tentang kejadian tadi dan menanyakan tentang apa sebenarnya yang terjadi tentang warung ini. Karena aku yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang tuaku tentang warung yang tidak pernah ditutup ini.
Aku melangkah ke arah jalan berbelok ke arah rumah dan meninggalkan warung dalam keadaan kosong tidak ada seorang pun yang jaga. Namun apa yang kulihat pada malam itu sungguh berbeda.
“Sepertinya ini bukan kampung yang aku kenal.”
3-KAMPUNG
Aku berhenti beberapa langkah setelah keluar dari warung, kemudian melihat sekelilingku yang nampak berbeda dari kampung yang aku kenal. Harusnya jarak antara warung dan rumah tak sampai 15 meter jaraknya. Hanya terpisah oleh pekarangan dan kebun kecil depan rumah, tapi apa yang kulihat ini seperti tempat yang asing.
Tempat yang seharusnya menjadi lokasi rumahku, terlihat hanya sebuah bangunan kosong yang sepertinya sudah lama ditinggalkan yang dimana dinding rumah tersebut sudah banyak yang lapuk dimakan usia, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya, atapnya sebagian sudah tidak ada bahkan sebagian sudah berlumut dan ditutupi oleh ilalang serta tumbuhan liar yang merambat melalui tembok.
“Ini dimana?” pikiranku kembali kacau setelah kejadian genderuwo tadi.
Kampung yang kulihat saat ini sungguh berbeda hanya ada jalan lurus yang tak tahu ujungnya, di sisi kanan dan kiri jalan hanya kebun dan hutan. Meskipun begitu cahaya bulan menyinari sehingga aku bisa melihat jelas di sekelilingku.
Aku pun melangkah perlahan menyusuri jalan malam itu. Aku berharap bisa menemukan orang untuk bertanya.
"Apakah ini benar kampungku?"
Tak lama aku berjalan dari kejauhan aku melihat beberapa rumah, yang diterangi oleh lampu minyak yang di gantung di dinding rumahnya. Akupun mempercepat langkahku menuju rumah itu, untuk mencoba sekedar bertanya apakah benar ini masih di kampung Sepuh. Karena pemandangan yang kulihat ini sungguh berbeda dengan pemandangan kampung ketika aku datang siang hari tadi.
Kulihat rumah tersebut berupa panggung yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan rumbia. Dengan tiang-tiang yang dibuat dari bambu dan diikat oleh tali yang terbuat dari kulit pohon dan diikatkan satu sama lain membentuk rangka rumah.
Rumah yang kulihat ini sudah jarang terlihat di kampung Sepuh. Karena rumah-rumah seperti ini adalah rumah-rumah zaman dahulu yang tidak seperti rumah berdinding kayu dan beratapkan genteng seperti rumahku.
Aku sangat yakin, bahwa ini bukan kampungku tempat dimana aku tinggal, karena bangunannya sangat berbeda. Meskipun di kampung Sepuh adalah kampung terpencil di lereng gunung Sepuh tapi kampungku saat ini sudah dialiri oleh listrik, sehingga tidak mungkin bahwa ada rumah yang masih memakai lampu minyak sebagai penerangnya.
Aku pun terdiam sesaat mencoba mengingat-ingat apakah ada rumah yang seperti ini di kampungku, aku pun mendekat ke arah rumah itu dengan harapan aku bisa bertemu pemilik rumah dan menanyakan tentang di mana sebenarnya tempatku berdiri saat ini.
Aku mendekati rumah itu dan mencoba mengetuk pintunya, kulihat rumah itu sepi sekali seperti para penghuni rumah sedang tertidur lelap. Aku pun pelan-pelan mengetuk pintu rumah itu berharap ada yang membukakan pintu untukku.
Tok tok tok
"Punteun (Permisi)."
Aku mengetuk pintu rumah itu tapi tidak ada tanda-tanda orang yang datang untuk membukakan pintu.
Tok tok tok
"Punteun, Pak, buuu? (Permisi, Pak , Buuu?) "
Aku mengetuk kembali pintu itu dan kali ini aku mengetuknya lebih keras. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam rumah.
"Sepertinya rumah ini kosong," pikirku. Tapi akupun melihat dinding rumah itu yang diterangi oleh lampu minyak, dan aku pun berpikir tidak mungkin lampu minyak itu akan menyala apabila tidak ada siapapun di dalam rumah.
"Ah mungkin, orang di dalam sedang tertidur lelap," aku pun berbalik dan kembali ke arah jalan, dan memutuskan untuk kembali lagi ke arah warung, tapi ketika aku berbalik ke arah yang sebelumnya terlihat hanya ada pemandangan kebun dan hutan di sepanjang jalan. Tidak terlihat cahaya lampu warung di ujung sana.
Aku mencoba melangkahkan kakiku kembali ke warung. Tapi yang kulihat hanya pepohonan di kiri dan kanan jalan. Tak lama aku berhenti, mencoba mengingat-ingat kembali catatan Ibuku, lalu aku pun teringat atas pesan Ibuku yang pertama ketika aku akan menjaga warung.
Jangan sekali-kali menuju rumah dari jam 21:00 malam hingga jam 05:00 pagi.
"Apa semua ini ada hubunganya dengan ini?"
Aku kembali berpikir dengan tenang mencoba mengingat kembali lebih dalam dengan cerita-cerita yang Ibu ceritakan sewaktu kecil, seperti genderuwo tadi yang sepertinya semuanya berkaitan.
"Apa mungkin ini adalah kampung bunian?"
Aku mengingat satu kisah yang diceritakan Ibuku ketika aku kecil. Disana Ibu pernah bercerita tentang sebuah kampung bunian, sebuah kampung dimana kampung tersebut diisi oleh makhluk yang bukan manusia biasanya kampung itu ada di waktu-waktu tertentu. Lalu kata Ibuku ketika kita sudah masuk ke kampung itu, kita tidak bisa kembali dan selamanya akan tetap tinggal di kampung itu selamanya.
"Apakah ini adalah kampung yang diceritakan Ibu?"
Aku mencoba menghubungkan cerita itu dengan keadaanku saat ini. Semuanya terlihat sangat persis, yang membedakan hanyalah suasana kampung ini yang terlihat sepi sekali, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Kalau ini memang kampung bunian. Aku harus kembali ke warung secepatnya."
Aku pun mulai berlari ke arah warung, dan berharap aku bisa keluar dari kampung ini, tapi semakin lama ku berlari keanehan pun semakin menjadi. Aneh sekali aku sendiri yakin, ketika aku keluar warung hanya berjalan kurang dari 5 menit, tapi ketika aku kembali dan berlari lebih dari 15 menit aku masih belum melihat warung, yang kulihat sepanjang berlari hanyalah pemandangan yang asing untukku.
Kulihat kiri kanan jalan yang tadinya kebun dan hutan perlahan-lahan menjadi banyak rumah, semakin lama aku berlari rumah yang berada di sisi jalan bertambah banyak, lampu-lampu minyak menyala dari kedua sisi, jalan yang selama ini gelap dan diterangi cahaya bulan perlahan digantikan oleh cahaya dari rumah-rumah.
Tapi tidak ada satupun dari rumah-rumah itu yang memakai listrik sebagai penerangnya. Yang kulihat disana hanya cahaya dari lampu minyak yang menyala dari rumah-rumah tersebut.
Langkahku sontak terhenti ketika aku melihat rumah besar di ujung jalan, rumah yang megah dengan pagar bambu yang membentang mengelilingi rumah tersebut. Sebuah gapura besar dengan atap rumbia menjadi pembatas antara jalan dan halaman rumah itu.
Rumah itu terlihat megah meskipun dibuat oleh bambu, dengan tiang-tiang bambu yang kokoh menancap ke tanah, menopang rumah itu dengan megahnya. Di setiap tiang-tiangnya terdapat banyak lampu minyak yang menyala semakin membuat rumah itu terang, sehingga rumah itu terlihat paling terang diantara rumah-rumah lainnya.
Aku rasa rumah itu adalah rumah yang terbesar yang kulihat di malam itu. Dengan rumah utama ditengah dan pendopo yang luas di sebelah kiri, serta ada beberapa bangunan kecil di sekitarnya yang biasanya dipakai untuk menyimpan beras pada zaman dahulu. Di depannya ada pekarangan yang luas dengan tiang-tiang besar yang berdiri dan di atasnya terdapat tempat untuk menyalakan obor.
Kulihat juga ada keramaian di area pendopo, banyak orang yang lalu lalang membawa sesuatu, seperti mempersiapkan hajatan besar, ada yang memasak, ada yang membawa daging untuk dimasak. Disusul banyaknya suara dan canda tawa Ibu-ibu yang saling mengobrol sambil memasak, tapi yang kulihat mereka seperti manusia pada umumnya, yang laki-laki memakai pakaian pangsi berwarna hitam dan wanita memakai pakaian kebaya dengan rambut yang disanggul.
Disana juga kulihat anak-anak yang berlarian yang sedang bermain dihalaman dengan teman sebayanya. Tidak ada kulihat di sana sesosok pocong, kuntilanak, atau genderuwo yang tinggal di kampung bunian seperti yang diceritakan oleh Ibu, semua terlihat normal seperti manusia pada umumnya. Bahkan genderuwo yang tadi datang ke warung pun tidak terlihat sama sekali.
“Ah ada orang,” pikirku
Pikiranku tentang kampung bunian pun sekejap sirna karena aku yakin yang kulihat ini adalah manusia. Aku melangkahkan kaki secara perlahan ke rumah tersebut berharap aku bisa bertanya, sebenarnya aku ada di mana, apakah aku tersesat ketika pulang. Dan ketika beberapa langkah aku berjalan tiba tiba ada suara yang memanggilku dari belakang.
“Jangg, jangg.”
Suara itu adalah suara wanita yang memanggil namaku, aku coba menghiraukan suara itu, karena aku tahu aku tidak mau melihat suara yang aneh, takut seperti genderuwo yang ada di warung dengan suara anehnya, Aku pun melanjutkan melangkahkan kakiku masuk ke rumah besar tersebut.
“Ujaaang.”
Suara wanita itu semakin keras disusul oleh langkah kaki yang mendekat.
Dan tak berapa lama.
Takk
Aku ditepuk dari belakang, reflek aku menengok ke belakang. Aku kaget karena melihat sesosok wanita yang ada di hadapanku berambut panjang, memakai kebaya warna putih dan jaraknya pun sangat dekat denganku.
“Kamu ujang kan?, ini aku Indah masa lupa,” kata wanita tersebut.
“Hah Indah?, ini Indah kelas 2D sewaktu SMP kan,” aku mencoba mengingat-ingat kembali dengan ingatan lamaku.
“Iya Indah, masa lupa.”
Akupun tersenyum malu karena sebenarnya aku sudah lupa dengan temanku sewaktu SMP. Indah yang kulihat dulu ketika SMP terlihat berbeda dengan wanita yang ada di hadapanku sekarang menjadi cantik, dengan rambut panjang di bawah punggung dan memakai kebaya warna putih menambah kecantikannya. Ya mungkin Indah sudah dewasa sekarang sehingga wajar penampilannya pun berubah seperti menjadi kembang desa yang tidak tersentuh oleh hingar-bingarnya perkotaan.
“Eh, Ujang sekarang jadi warga sini juga? ” tanya Indah.
“Jadi warga sini?" jawabku bingung.
“Bukanya kita dari kecil kita sudah tinggal disini, Ndah?” kataku.
Ku Melihat tatapan Indah mendadak berubah, dia seperti terlihat kaget atas jawaban yang aku jawab.
"Bukan, Jang ini beda kampung, kampung Sepuh yang dulu ada di ujung sana, baru 2 bulan ini aku pindah jadi warga kampung ini,” kata Indah sambil menunjuk ke salah satu jalan setapak kecil di tengah-tengah kebun.
“Oh begitu ya, ini berarti beda kampung."
"Berarti kalau aku ingin kembali ke kampungku aku hanya harus menyusuri kebun tersebut?” kataku bertanya pada Indah.
Indah pun mengangguk yang menandakan ini bukan kampung Sepuh tapi memang ada kampung lain dan tidak sengaja aku tersesat masuk kesana. Pantas ketika aku berlari hampir 15 menit aku belum sampai ke warung, sepertinya memang aku salah belok ketika berlari sehingga tersesat di kampung ini.
Indah pun mempersilahkan aku masuk, Tapi aku menolak karena takut mengganggu kegiatan yang ada di rumah besar itu, kemudian Indah mengajakku duduk di kursi di dekat gerbang rumah itu.
Akhirnya aku mengobrol dengan Indah di malam itu, ngobrol tentang kegiatan Indah sesudah SMP hingga akhirnya dia pindah kesini. Awalnya aku malu-malu karena sudah lama tidak bertemu dengan Indah terakhir semasa SMP.
Namun akhirnya aku tahu bahwa selepas SMP Indah tidak melanjutkan sekolahnya, dia lebih memilih untuk membantu kakaknya di kota dan bekerja di sana. Karena kakaknya mempunyai perusahaan yang terbilang sukses di kota dan hanya setiap sebulan sekali kakaknya itu pulang ke kampung Sepuh.
Selama beberapa tahun Indah membantu kakaknya di kota, 2 bulan yang lalu akhirnya Indah memutuskan untuk pindah ke kampung ini dan menetap di sini. Ketika aku tanya kenapa pindah ke kampung ini, Indah hanya menggelengkan kepala seakan tidak tahu kenapa ada di sini.
Tapi menurutnya dia merasa nyaman tinggal di sini karena orang-orang yang ada disini sangat baik kepada Indah. Sehingga tak ada niatan bagi Indah untuk kembali ke kampung Sepuh ataupun kembali membantu kakaknya ke kota.
Akhirnya aku terlarut dengan obrolan tentang masa sesudah SMP hingga aku kuliah di Bandung dan mengobrol tentang teman-teman yang kita kenal. Aku juga bercerita tentang kehidupanku selepas SMP hingga aku kuliah dan wisuda di kota Bandung.
Malam itu kami larut dengan obrolan tentang kenangan kita berdua, sehingga tak terasa 30 menit pun berlalu begitu cepat.
"Waduh malah keasikan ngobrol, maaf Indah sepertinya aku harus pulang," kataku mengakhiri obrolan di malam itu.
“Kenapa harus buru-buru pulang, mendingan masuk aja dulu ke dalam rumah dari tadi mengobrol di halaman rumah,” jawab Indah sambil memegang tangan mengajakku masuk ke dalam rumah besar tadi.
“Waduh Indah maaf, paling besok saya main deh ke rumah kamu, soalnya saya sedang jaga warung dan sudah dibiarkan lama, nanti kalau ada yang rampok gimana?” jawabku dengan bercanda sambil perlahan melepas tangan Indah yang sedang memegang tanganku.
“Oh ya sudah kalau begitu, cuman hati-hati ya di jalannya ya jang, soalnya gelap kalau jalan malam, terus kalau ujang melihat sesuatu jangan coba-coba mampir ya, ujang langsung pulang aja,” kata Indah.
“Ahsiaaap,” kataku sambil sesekali bercanda.
Aku pun pamit ke Indah dan aku janji aku akan mengunjunginya lagi besok, Indah pun tersenyum dan masuk ke rumah besar, akupun mulai berjalan ke arah kebun melewati jalan kecil di sela-sela kebun.
Aku menyalakan senter hp ku lagi untuk menyinari jalan di kebun. Tidak ada cahaya selain cahaya senter HP yang menerangi jalan itu, kulihat pohon-pohon besar di kiri dan kanan yang terlihat menyeramkan karena suasananya pun sangat gelap.
Apalagi jalanan setapak yang apabila terkena hujan jalanan itu akan menjadi becek dan berlumpur. Tak jarang suara-suara hewan malam menambah kengerian di jalan yang aku lewati.
Jujur aku takut, takut tiba tiba muncul lagi makhluk-makhluk yang menyeramkan seperti genderuwo tadi. Apalagi kondisi jalan setapak yang membuat ku susah untuk berlari, sehingga aku hanya bisa berharap keluar dari jalan ini dan segera kembali ke warung.
Akupun terus menelusuri kebun tersebut hingga aku dikejutkan oleh beberapa orang yang lewat sambil membawa obor dari sela sela kebun.
“Punteun (permisi),” ujar salah satu Bapak-bapak yang membawa obor.
“Ah mangga kang (ah silahkan kang),” ucapku.
Awalnya aku kaget, aku takut bahwa itu adalah makhluk-makhluk yang bukan manusia yang menyapaku. Tapi setelah aku melihatnya dengan seksama yang kulihat ini adalah manusia.
Aku mencoba meyakinkan bahwa itu memang manusia, aku sampai melihat sepatu mereka untuk memastikan bahwa mereka tidak melayang, dan memang kulihat mereka manusia, mereka memakai jaket dan memakai kupluk.
Beberapa dari mereka pergi sambil membawa istri serta anaknya yang masih kecil. Terlihat raut riang dari mata mereka seperti mereka telah mengunjungi tempat yang membuat hati mereka senang.
Semakin aku berjalan terlihat seperti ada keramaian seperti pasar malam, terlihat banyak stan-stan di kedua sisinya dengan banyaknya orang yang berlalu lalang yang membeli makanan atau hanya sekedar jalan-jalan di sana.
“Kok ada pasar malam di tempat ini?" aku pun heran.
4-PASAR MALAM
Pasar malam yang kulihat ini seperti pasar malam yang ada di waktu-waktu tertentu di kampung, di sisi kanan dan kiri jalan berjajar stan makanan yang menggugah selera sembari diterangi obor dan lampu minyak.
Stan makanan yang terbuat dari kayu dan beratapkan rumbia dengan bangku dan meja kecil tempat pengunjung stan duduk dan menikmati makanan di malam itu. Orang-orang yang hilir mudik kesana kemari menikmati suasana pasar malam, mereka saling bercengkrama satu sama lain dan di iringi oleh sesekali tawa senang dari pengunjung.
Di ujung deretan stan terdapat satu panggung kecil yang terbuat dari kayu dengan penerangan obor di kedua sisinya di atasnya terdapat satu panggung kecil yang tertutup oleh kain berwarna hitam dan batang pisang di atasnya, dan di belakangnya terdapat dalang yang sedang melakukan pagelaran wayang golek dan diiringi oleh gamelan khas Sunda.
“Daging bakar, daging bakar...”
“Buah, buah buah...”
“Yang haus yang haus yang haus...”
Suara-suara dari penjual stan saling bersahutan di malam itu, aku tidak berpikir aneh sama sekali meskipun waktu menunjukkan jam 02:00 pagi. Karena di kampung ku apabila ada hajatan yang menggelar wayang golek biasanya itu akan berlangsung hingga dini hari sekitar jam 05:00 pagi.
Aku perlahan mulai terhanyut dalam kemeriahan pada malam itu, aku mulai sadar tubuhku mulai terasa lapar karena melihat masakan yang dijual oleh stan-stan makanan sungguh menggugah selera. Kucoba mampir ke tukang sate untuk membeli beberapa porsi dari salah satu penjual di stan yang berjejer dekat panggung untuk sekedar mengganjal perutku yang mulai lapar.
“Bu, satenya satu porsi ya,” kataku kepada penjual stan sate.
Aku Pun duduk di meja kecil sembari menunggu sate yang sedang dibakar oleh penjual di stan, waktu itu aku seakan lupa dengan tujuan awalku untuk kembali ke warung, aku seperti terhipnotis untuk menikmati malam dan menonton pertunjukan wayang golek di panggung.
Sungguh apa yang kulihat ini adalah hal yang jarang aku temukan di kota besar dan hanya bisa kunikmati lagi sepulangnya aku kuliah dari Bandung, karena jarang aku menghadiri pasar malam dengan pertunjukan wayang di Bandung. Paling kalaupun ada itu hanya pertunjukan wayang di gedung dan menurutku feelnya kurang terasa seperti saat ini.
Perlahan-lahan pandanganku tertuju kepada pertunjukan wayang golek, wayang yang sedang menari di atas panggung yang digerakkan oleh dalang di belakangnya. Diiringi dengan gamelan yang senantiasa menyelaraskan gerakan tarian wayang yang ada di atasnya, di iringi suara sindennya yang sungguh merdu suaranya terdengar hingga ke seluruh pasar.
Jadi teringat masa lalu, masa di mana aku dan teman-temanku semasa sekolah sengaja begadang untuk menonton wayang apabila ada hajatan atau nikahan di kampungku atau di kampung sebelah.
Kita sengaja membawa perlengkapan tidur dan membawa bekal dari rumah masing-masing karena pertunjukan wayang biasanya sampe dini hari. Sehingga aku pun hafal beberapa tokoh wayang golek dari mulai keluarga Semar, Pandawa Lima, Kurawa, Hanoman dan tokoh lainya sampai ketika ada suatu adegan yang sedang ditunjukkan di panggung aku sering menebak-nebak cerita apa yang akan dalang bawakan.
Kulihat di panggung sesosok wayang yang rupanya seperti buta berdiri dengan tegap menari diiringi dengan suara gamelan dan lagu sinden. Sosoknya yang tegap dan tarianya yang gagah dia menari di atas panggung.
“Sepertinya saya hafal dengan cerita ini,” pikirku.
Suara gamelan dan sinden selesai mengiringi tarian dari sesosok wayang itu, dan tibalah sang dalang mengubah suaranya menjadi sosok yang ada di dalam wayang tersebut.
“Aing batara kala (saya batara kala),” ucap dalang dengan lantang
Tangan wayang tersebut bergerak dan menepuk dada nya dengan gagahnya.
“Mana jelema anu edek di dahar ku aing (mana manusia yang akan saya makan),”
Wayang itu memperkenalkan diri sebagai batara kala, dan di dalam ceritanya berniat untuk memakan manusia.
Aku sedikit kaget dengan apa yang diucapkan wayang tersebut. Karena batara kala jarang sekali muncul dalam cerita wayang. Hanya di cerita-cerita tertentu saja wayang itu muncul. Dan biasanya ketika ada pertunjukan wayang tidak ada batara kala yang muncul, hanya wayang-wayang seperti cepot, dawala, gareng, semar yang mencoba menghibur penonton.
Ada satu cerita yang di dalamnya ada batara kala, dan aku tidak yakin bahwa yang kulihat ini adalah cerita yang sedang aku pikirkan, karena cerita yang aku ingat itu adalah cerita khusus untuk ritual tertentu. Dan ketika ada pertunjukan wayang untuk di pasar malam seperti ini tidak pernah ada cerita yang menghadirkan batara kala sebagai pemainnya.
Aku kembali melihat pertunjukan wayang itu, namun lama-kelamaan aku semakin yakin bahwa yang aku pikirkan dengan pertunjukan di depanku ini ceritanya persis sama.
“Bentar, bentar, kalau gak salah ingat ini kan cerita murwakala yang suka ada di acara ruwatan.”
Aku sontak berdiri melihat sekeliling pasar malam itu karena aku ingat ada satu pertunjukan wayang yang berbeda dari pertunjukan wayang kebanyakan kita lihat di pertunjukan wayang.
Pertunjukan wayang ini terkenal mistis karena apabila menonton pertunjukan wayang ini, wajib hukum nya untuk menontonnya sampai selesai, karena kalau tidak biasanya ketika pulang akan terjadi sesuatu yang diluar nalar, dan itu dinamakan acara ruwatan.
Berbeda dengan pertunjungan biasa, Pertunjukan wayang di acara ruwatan biasanya ditunjukan sebagai sarana pemenuhan syarat untuk suatu ritual. Bahkan dalangnya pun tidak bisa sembarangan. Salah satu syaratnya harus menonton pertunjukannya hingga selesai. Karena konon ketika pertunjukan wayang itu lewat jam 12 malam.
Maka para makhluk-makhluk akan bermunculan dan masuk ke dalam wayang itu sehingga suara wayang yang sedang ada di panggung adalah suara asli dari para makhluk-makhluk yang datang.
Banyak sekali cerita dari orang-orang yang memaksakan untuk pulang di tengah acara ruwatan, biasanya mereka diikuti oleh sesosok makhluk yang mengerikan yang menakut-nakuti sepanjang jalan, bahkan yang lebih seram nya lagi orang tersebut akan diculik oleh buta.
Aku kembali teringat tulisan yang diberikan Ibu sore hari dan juga ucapan Indah sewaktu pamit tadi mungkin apa yang mereka berdua pesankan adalah apa yang terjadi sekarang.
Di malam-malam tertentu akan ada suara yang ramai dan lampu yang terang seperti pasar dari arah kebun seberang jalan abaikan saja.
Dan aku malah menikmati suasana yang ada di pasar ini sehingga lupa tujuanku untuk kembali ke warung. Aku berdiri dari kursi tempatku menunggu makanan dan aku kembali ke stan untuk mengatakan bahwa aku membatalkan pesananku karena aku harus segera kembali ke warung.
Aku melihat pemilik stan makanan itu tiba-tiba menatapku dengan tajam, dia seperti marah ketika aku membatalkan pesanan satenya, kulihat matanya tiba-tiba berubah menjadi merah dengan urat-urat yang muncul dari kulitnya. Aku yakin dia bukan marah akibat aku membatalkan makanan yang sudah dipesan, tapi ada hal yang lain yang membuatnya marah.
“Kenapa di batalkan?, sudah tahu ya kalau kita semua bukan manusia!!”
Hiiiiii hiiii hiiii......
Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang melengking dari stan tersebut, kulihat penjaga stan yang awalnya manusia perlahan kulitnya memudar. Kulitnya perlahan mengelupas menyisakan tubuh dengan daging tanpa kulit, rambutnya yang tadinya hitam berubah jadi putih, wajahnya muncul beberapa kerutan, benjolan bernanah dan mata yang menatapku berubah jadi merah.
Para pengunjung yang ada pun perlahan-lahan berubah dengan sendirinya mereka berubah menjadi bentuk yang menyeramkan, dengan gigi taring yang keluar dan rambut yang memanjang, badannya bongkok dengan kulit yang terkelupas menjadi warna hijau.
Hahaha... Hahahaha...
Terdengar beberapa tawa seperti sedang menertawakanku pada malam itu, tawa seperti mengejekku dan mencoba mempermainkanku. Tiba-tiba suara gamelan kembali terdengar, kali ini Sinden menyanyikan lagu yang nampak tidak asing. Lagu yang dipercaya oleh masyarakat sunda adalah lagu yang dipakai untuk memanggil makhluk halus.
Bambung hideung
Bara-bara teuing diri
Leuheung bari dianggo ka suka galih
Situ pinuh balong jero
Mungkin bagi masyarakat jawa ada lagu lingsir wengi untuk memanggil makhluk halus. Sedangkan di masyarakat sunda, ada juga lagu yang menurut beberapa kepercayaan lagu ini dipakai untuk memanggil makhluk halus. Lagu itu namanya Bambung Hideung dan sekarang lagu tersebut dinyanyikan oleh sinden yang berada di atas panggung.
Suasana jadi berubah total. Awalnya hingar bingar yang terjadi pada malam itu berubah menjadi menyeramkan. Auranya tiba-tiba mencekam para pengunjung dan pemilik stan berubah menjadi sangat menakutkan.
Suara tawa mereka yang menyeramkan dan wujud mereka berubah jadi menambah kengerian. Lalu makanan yang dipajang di depan stan yang awalnya terasa enak berubah menjadi menjijikan, buah-buah yang dijual berubah jadi buah-buahan yang busuk.
Aku panik, bulu kuduk pun berdiri, keringat dingin bercucuran dari badanku, tubuhku merinding aku ingin berlari tapi seakan badan ini tidak bisa bergerak aku seperti terbujur kaku di dalam kondisi ini.
Di depanku pemilik stan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil tersenyum dengan rambut yang putih yang menutupi sebagian wajahnya dan badan yang tidak tertutup oleh kulit hanya daging dan urat nadi di sekujur tubuh membuatku terasa ngeri dan jijik melihatnya.
“Mau kemana? Bukanya tadi pesen makanan, hihihihihi,” dia tertawa sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.
Perlahan aku pun bisa menggerakkan kakiku, aku pun berbalik meninggalkan stan tersebut berharap aku bisa berlari dan keluar dari pasar malam itu, tapi aku seolah-olah seperti sengaja dibuat untuk tidak bisa keluar dari pasar malam.
Aku terus berlari dengan kondisi panik di pasar malam yang kini dipenuhi makhluk-makhluk yang menyeramkan. Mereka menengok ke arahku sembari tertawa menyeramkan seperti mengejek bahwa aku tidak akan bisa keluar dari pasar malam ini.
Tiba tiba ketika aku berlari tubuhku tiba-tiba ditarik ke salah satu stan makanan yang ada di sana, dan anehnya tubuhku menembus stan tersebut sehingga aku terjatuh di tanah.
Aku sontak kaget karena sesuatu yang menarikku begitu cepat aku dengan cepat berdiri dan melihat siapa yang menarikku keluar dari pasar malam tersebut, dan ketika aku melihat sosok yang menarik itu ternyata.
“Indah?”
5-KEMBALI KE WARUNG
“Ujang tidak kenapa-kenapa kan?” tanya Indah.
“Hmmm, iya, Ndah tidak kenapa-kenapa kok,” jawabku.
Aku berbalik melihat ke pasar malam tadi, tiba-tiba yang kulihat malah pemandangan yang berbeda. Yang di hadapanku ini hanyalah sebuah lahan kosong yang membentang luas disertai pohon-pohon besar di kedua sisinya, tidak ada tanda-tanda bahwa tempat tersebut adalah pasar malam yang ramai dikunjungi oleh banyak orang. Hanya lahan kosong dengan ilalang yang dikelilingi pohon besar.
“Bukanya tadi di sini ada pasar malam Indah?” tanyaku kepada Indah.
“Itu memang pasar malam jang, tapi bukan pasar malam untuk manusia.”
Jawaban Indah begitu tenang, seperti sudah terbiasa dengan pasar malam yang menyeramkan itu, dan sepertinya dia pun sengaja datang untuk menjemputku keluar dari pasar malam karena dia tau aku akan terjebak di dalamnya.
“Ga baik membicarakan sesuatu hal yang tabu di tempatnya langsung, Jang, biar aku antar Ujang pulang ya, sambil aku beritahu tentang apa yang sebenarnya dengan pasar itu,”
Indah kemudian memegang tanganku dan mengajakku untuk pergi dari tempat itu. Aku Pun mengangguk berjalan bersama Indah. Berjalan melewati jalan setapak bersama dengan diterangi oleh sinar cahaya bulan purnama yang muncul di antara pepohonan yang rindang di kedua sisi jalan.
Meskipun jalan setapak itu disinari oleh sinar bulan tapi aku tetap menyalakan senter dari hp sebagai penerang jalan. Mengingat jalan setapak yang kulalui itu berbatu dan tak jarang berlumpur.
Aku berjalan bersama indah pada malam itu, tapi ada perasaan aneh ketika ku berjalan. Hatiku seperti tenang kali ini, tidak ada rasa takut yang muncul, tidak ada pikiran yang aneh yang mengganggu di kepala. Semuanya terasa tenang seolah-olah ada yang sedang menjagaku malam itu yang bisa membuatku tidak ketakutan lagi.
Meskipun aku merasa dibelakangku seperti ada yang mengikutiku terlihat beberapa kali aku melihat beberapa pasang mata dari sela sela pepohonan. Tapi makhluk itu seolah-olah tidak berani mendekat kepadaku.
Apakah karena ada Indah? atau mereka tidak mau menampakan diri di dekatku malam itu. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi, hanya yang aku ketahui aku merasa tenang meskipun jalan yang kulalui dengan Indah adalah jalan setapak dengan pohon besar dari kedua sisinya.
“Ujang pernah dengar, sewaktu kecil orang tua kita melarang buat kita main di kebun seberang warung ketika sore menjelang magrib, Jang?” tanya Indah kepadaku.
“Iya aku ingat Indah, tiap kita main dengan teman-teman sekampung jam 3 atau jam 4 kita pasti harus pulang, ketika jam 5 masih bermain terutama di kebun pasti orang tua kita datang dan mengajak kita untuk pulang,” jawabku.
“Aku pernah diceritakan suatu kisah dari Bapak, Jang,kenapa kita tidak boleh bermain hingga magrib jang dan itu ada hubunganya dengan pasar malam itu,”
Kemudian Indah Pun bercerita tentang Pasar malam itu.
PASAR JURIG
Adalah sebutan untuk orang kampung sepuh tentang pasar itu, yang berarti pasar hantu. Sebuah pasar Gaib yang muncul di waktu-waktu tertentu di sekitaran kampung sepuh. Pasar itu sengaja dibuat oleh para makhluk halus di sekitar kampung dan biasanya akan didatangi oleh para makhluk halus yang ada di gunung sepuh.
Mereka sengaja membuka pasar itu untuk pertukaran satu sama lain, karena banyak persembahan dan sesajen yang diberikan kepada manusia kepada para makhluk halus yang ada di hutan ketika para manusia mencari ilmu atau mencari kekayaan di gunung sepuh.
Sedangkan para makhluk di sekitaran kampung tidak mendapatkan itu mereka hanya bisa berkeliaran di sekitaran kampung. Hingga akhirnya ketika pasar itu ada terjadilah pertukaran antara para makhluk sekitaran kampung dan makhluk gunung sepuh sehingga menjadi pasar jurig.
Untuk masyarakat kampung sepuh. Sebagian dari mereka sudah mengetahui tentang adanya pasar malam itu, sehingga tak jarang samar-samar terdengar suara yang ramai dibarengi dengan suara pagelaran wayang.
Pada zaman dahulu masyarakat kampung sepuh mengira bahwa itu pasar malam itu adalah pasar malam yang muncul apabila ada yang sedang hajatan nikahan atau sunatan. Tapi ketika mereka masuk ke pasar malam itu, mereka akan tahu bahwa ada sesuatu yang aneh.
Mereka sengaja disesatkan terjebak di dalam pasar itu dan tidak bisa keluar. Biasanya warga yang terjebak akan hilang selama beberapa hari, hingga para warga kampung mencarinya.
Tak jarang mereka menemukan manusia yang hilang itu dalam keadaan linglung seperti tanpa jiwa. Karena jiwanya sendiri terjebak di pasar tersebut dan tidak bisa keluar, dan perlahan-lahan mereka jadi bagian dari pasar itu.
"Terus biasanya kalau ada yang hilang para warga kampung mencari kemana, Indah?" tanyaku.
"Biasanya para warga akan mencari di sekitaran kebun tak jarang mereka akan mencari hingga ke hutan gunung sepuh jang. Dan tak jarang, apabila ada yang terjebak masyarakat kampung suka meminta bantuan Bapak Ujang di warung untuk membantunya mengembalikan jiwanya, karena semakin lama dia terjebak semakin sulit mengembalikan jiwanya. Karena jiwanya seperti menyatu dalam pasar itu," jawab Indah
“Oleh Bapak,” jawabku kaget.
“Kenapa oleh Bapak, Ndah?" yang aku tau Bapak hanya orang yang punya usaha warung aja.
Indah terdiam sebenar mendengar jawabanku lalu dia pun melanjutkan bercerita.
“Sepertinya Ujang tidak tau pekerjaan Bapak selain di warung ya jang. Aku sebenarnya tidak berhak bercerita tentang Bapak Ujang, nanti saja kalau Ujang sudah sampai rumah Ujang bisa tanya ke Ibu jang. Karena perasaan seluruh kampung sudah tau apa pekerjaan Bapak Ujang,” jawab Indah.
Indah Pun melanjutkan bercerita.
“Mungkin Ujang pernah tau kejadian yang menimpa si Dasim anak kang Darman yang rumahnya dekat pos kamling, dia sewaktu SMA pernah hilang dan ketika ditemukan mendadak linglung karena mencari jamur hingga malam hari,” kata Indah.
Aku pun mengangguk tanpa memberikan jawaban. “Nah ternyata selama dia linglung jiwa dia terjebak dalam pasar itu jang.”
Aku Pun berpikir sejenak, berpikir tentang Bapak yang dahulu suka melarangku untuk bermain-main sekitaran kebun depan warung. Bapak berkata apabila main di kebun dan berjalan terlalu jauh ke dalam maka takut akan tembus ke hutan, dan terjebak di dalam hutan.
Mungkin ini yang tujuanya Bapak melarangku pada waktu kecil. Bukan semata-mata melarangku main karena takut terjebak di hutan tapi dia melarangku. Tapi karena Bapak tidak ingin aku tidak terjebak di pasar malam tadi.
Angin dingin mulai menusuk kepada sela-sela kulit pada malam itu, ditambah pepohonan yang lebat di kedua sisi dan suara-suara binatang malam yang tidak biasa aku dengar. Mungkin karena selama lebih dari 4 tahun aku hidup di kota Bandung, jadi aku belum terbiasa lagi berjalan di situasi yang sangat sepi seperti sekarang. Karena dulu sewaktu di Bandung selalu penuh dengan orang yang berlalu lalang dan tidak peduli semalam apapun itu.
Setelah berjalan akhirnya aku keluar dari kebun dan melihat warungku kembali yang dalam keadaan kosong. Aku Pun mengajak Indah ke warung untuk sekedar membawakanya memakan atau meminum sesuatu sebagai tanda terima kasih.
“Ndah, yu mampir dulu ke warung, pasti capek nganterin, tanggung tunggu aja sampe agak pagian ndah di warung. Takutnya kenapa-kenapa di jalan kalau pulang sendirian,” kataku sambil ku memegang tangan Indah. Indah hanya tersenyum dan pelan-pelan melepaskan tanganku.
“Ga bisa, Jang aku ga bisa ke warung, aku hanya bisa mengantarkan Ujang sampe sini,” jawab Indah.
“Bener nih ga akan tunggu pagi dulu,” kataku menyakinkan Indah.
Indah mengangguk menyakinkanku bahwa dia akan kembali lagi tanpa menunggu pagi.
Lalu aku pun berterima kasih kepada Indah karena sudah membantuku keluar dari pasar malam yang menakutkan itu dan dijawab oleh senyuman dari Indah. Akupun melangkahkan kaki menuju warung.
“Ah aku lupa, aku belum minta nomor HP nya dia,” pikirku.
Baru beberapa langkah aku berbalik dengan tujuan meminta nomor HP supaya bisa ku hubungi lagi tapi ketika aku berbalik. Sudah tidak ada jejak Indah di sana, walaupun dia pulang harusnya aku mendengar jejak kaki dan suara ranting-ranting pohon di kebun ketika Indah melangkah. Tapi tiba-tiba Indah seperti kehilangan jejaknya.
Aku hanya berpikiran positif pada saat itu. Mungkin Indah terburu-buru apalagi ketika melewati jalan itu lagi suasananya sangat menyeramkan apalagi Indah kembali sendirian.
“Ya sudah besok aja aku kembali lagi kesana,” pikirku. Akupun melangkahkan kaki kembali ke arah warung dan ketika kutiba.
Seluruh jajanan di etalase atas berantakan, dan kebanyakan jajanan anak-anak, permen, makanan ringan, lolipop semua berhamburan di sekitaran warung. Seperti dibawa oleh seseorang, dimakan serta dibuang begitu saja di sekitar warung.
Tapi anehnya selain bekas-bekas jajanan yang berantakan di bawahnya terdapat beberapa uang lembaran lima puluh ribu dan seratus ribuan yang berserakan juga yang tak terhitung jumlahnya.
“Ya tuhan kenapa lagi ini.”
6-TUYUL
Kondisi warung tampak tidak karuan, seluruh dagangan di atas etalase yang awalnya tertata rapi terlihat berantakan. Semua jajanan telah hilang dan berhamburan hingga keluar warung, seperti ada sesuatu yang datang dan memakan makanan yang ada di warung hingga dibawa keluar.
Tetapi ada hal aneh, di lantai banyak berserakan uang pecahan lima puluh ribu dan seratus ribuan. Uang tersebut berserakan di sekitaran warung.
Aku mengambil salah satu uang yang tercecer di lantai tersebut.
“Apa ada perampok yang mencoba mencuri warung?” pikirku.
Aku pun berlari ke dalam warung dan mengecek rak uang, aku membuka perlahan rak tersebut untuk melihat dalamnya. Karena ditakutkan bahwa uang yang berserakan adalah uang yang ada di dalam rak. Dan ketika aku buka laci uang di rak, terlihat uang yang ada di dalam rak masih utuh bahkan terlihat belum tersentuh sama sekali.
“Ini jadi uang siapa?”
Semakin malam warung yang ku jaga ini semakin aneh dan bertambah aneh dari mulai kemunculan makhluk genderuwo, aku tersesat dan terjebak di pasar malam, hingga melihat keadaan warung yang kacau yang disertai uang yang berserakan di lantai.
Aku mencoba membereskan kembali semua kekacauan yang ada di warung. Uang yang tercecer aku kumpulkan kembali dan menyimpanya dengan amplop, karena takut ada yang datang dan membawa uang tersebut, karena itu bukan uang yang ada di warung.
Aku mengambil barang-barang yang berserakan di lantai, mengembalikanya barang-barang dagangan itu ke tempat semula. Nampaknya yang membuat warung berantakan kali ini hanya mengambil jajanan anak-anak, karena seperti rokok atau kebutuhan mandi bahkan rak uang di dalam warung tidak tersentuh sekalipun.
Aku mengambil sapu yang disimpan di pojokan warung, mencoba membersihkan sisa sisa bekas makanan yang tercecer di sekitar warung, membawa dus-dus kosong yang ada di lantai dan membuangnya ke tempat sampah.
Aku duduk di kursi depan warung setelah membersihkan dagangan yang tercecer di lantai dan membuang dus-dus kosong yang isinya habis dimakan, tak sengaja aku melihat bungkus-bungkus makanan anak-anak yang sudah dibuang berserakan di jalan sepertinya mereka datang ke warung membawa makanan, memakanya dan membuang bungkusnya sepanjang jalan.
Karena kulihat bungkus kosong itu mengarah ke jalan kecil di pinggir warung. Jalan setapak menuju sawah di belakang perkampungan.
Awalnya aku akan ingin menyusuri jalan setapak untuk mengetahui siapa yang membuat warung berantakan. Tapi aku mengurungkan niat karena aku tahu apabila aku meninggalkan warung lagi, aku takut ada hal yang aneh akan terjadi lagi sehingga aku lebih baik menunggu hingga dini hari dan mencari tahu ketika pagi datang.
Aku pun kembali ke dalam warung dan duduk di sana. Melihat ke arah luar warung yang kembali hening seperti tidak terjadi apa-apa. Badanku menyender ke arah tembok karena rasa kantuk mulai menyerang.
Mata ini sepertinya sudah lelah dengan keadaan pada malam itu, tubuhku juga sudah mulai merasa kecapean dan aku pun berpikir mungkin sedikit memejamkan mata menjadi obat atas rasa kantuk ini.
“Hahahahahaha, ahahahahaha!!!!”
Trak, trak ,trak
“Hayu kadieu hayu kadieu (yu kesini yu kesini),”
“Hayu urang neangan duit deui (ayo kita cari uang lagi),”
Aku yang terlelap tidur di warung kembali terbangun, mendengar suara gaduh dari luar warung. Seperti suara anak-anak yang sedang berlarian kesana kemari dan bermain dengan teman sebayanya. Mereka berlari sambil tertawa riang dan sesekali mengobrol dengan bahasa sunda.
Suaranya sangat berisik itu sangat menggangguku. Mereka berlarian kesana kemari dengan tertawa riangnya. Aku mencoba menghiraukanya karena rasa kantuk yang begitu kuat, akhirnya mencoba tidur kembali. Tapi itu tidak berhasil, karena suara anak-anak itu sangat berisik membuatku tidak bisa tidur.
Salah satu dari mereka mencoba mendekati warung melihat lihat dari jalan ke arah warung.
“Ah geus euweuh jajanan na (ah sudah tidak ada jajanan nya),”
“Aya dijero, hayu geura (ada di dalam, yuk ikutin cepet),”
Aku mendengar mereka berbicara tentang warung. Seketika aku berpikir, mungkin anak-anak ini yang menyebabkan warungku berantakan. Aku yang masih ngantuk waktu itu mencoba berdiri dan melihat ke arah luar warung.
Dengan tubuhku yang masih lemas karena dibangukan secara mendadak, aku mencoba membuka mataku dan melihat ke arah luar warung. Tapi aku seakan tidak percaya apa yang kulihat ini.
"Astaga..." aku seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Kulihat ternyata yang membuat warung berantakan adalah sosok makhluk kecil berjumlah lima makhluk yang berlarian di sekitar warung, dengan tubuh setengah dari tubuh bagian atas seperti orang dewasa berwarna putih, botak dan bertaring, serta memakai sempak warna putih yang sudah kotor dan bagian bawah seperti anak-anak pada umum nya dengan tinggi yang menyerupai anak-anak pula.
Mereka berlari-lari riang seperti sedang bermain dan dua diantaranya menuju ke arah warung, kulihat mereka tertawa-tertawa di ikuti oleh teman-temannya.
“Ahahahahahahaaha.”
“Tuh tinggali warungna aya anu ngajagaan ayeuna mah (tuh lihat warungnya ada yang jaga sekarang),” ujar salah satu dari mereka menunjuk tepat ke arahku yang sedang berdiri melihat mereka dari dalam warung.
Dengan muka yang buruk rupa mereka menunjuk tepat ke arahku, aku pun sontak kaget dan reflek untuk jongkok di bawah etalase. Aku langsung duduk dan berdiam di sudut etalase dekat rak uang mencoba menyembunyikan diri berharap mereka tidak mendekat dan melihatku.
“Itu tuyul kan, beneran itu tuyul kan?” pikiranku langsung membayangkan sosok makhluk yang diceritakan Ibu, tentang makhluk kecil yang suka mencuri uang yang deskripsinya cocok dengan apa yang Ibu ceritakan ketika aku kecil.
Badanku kembali merinding, ketakutanku kembali muncul. Aku duduk di sudut etalase berharap makhluk itu tidak menemukan ku yang sedang bersembunyi ini.
Sudah cukup aku melewati malam yang tidak aku perkirakan sebelumnya dengan kejadian menyeramkan sepanjang malam, sekarang di depan warung muncul sosok tuyul pula, sungguh malam ini terasa berat sekali rasanya ingin sekali segera dini hari.
Dua dari mereka mulai mendekati warung dengan tawa riang.
“Ahahahahaha, ahahahaha!!!”
“Jajan... Jajan.”
Rasa takutku semakin besar ketika mereka mendekat, keberanian ku sepertinya habis setelah bertemu banyak makhluk di malam ini. Tidak ada keberanian yang tersisa seperti kejadian yang sebelumnya.
Aku hanya bisa diam. Berharap mereka tidak menemukanku.
krotak, krotak
Makhluk itu sudah di depan etalase mencoba mengambil barang di atas etalase, kulihat dari sela-sela barang yang ditumpuk di dalam etalase mereka berusaha meraih barang dengan tubuh kecilnya, kulihat tubuhnya yang putih kusam dengan pusar yang menonjol dan wajah yang buruk rupa serta taring di mulutnya.
Membuatku tambah ketakutan, aku pun berpaling dan tidak ingin melihat mereka, aku hanya duduk diam di pojokan etalase berharap mereka tidak menemukanku.
Lalu tiba-tiba
Suara itu mendadak hilang, Hening seperti sebelumnya. Suara yang ketawa itu mendadak hilang. Aku mencoba melihat lagi dari dalam etalase dan mereka semua mendadak menghilang.
Aku menarik nafas panjang dan bersyukur mereka sudah hilang. Aku duduk dipojok dengan rasa kantuk yang menyerang tapi tubuhku ini menolak untuk tidur karena terganggu suara seram oleh tuyul tadi.
"Sepertinya sudah tidak ada," pikirku
Aku pada saat itu hanya ingin tidur dan berharap bangun pada dini hari karena sudah cukup malam ini banyak kejadian aneh yang menimpa diriku.
Tubuhku yang sedang duduk pun ku coba angkat tuk berdiri. Dan ketika ku berdiri dari kursi di depan warung kulihat ada sesosok wanita yang berbaju putih sedang duduk di sana.
7-WANITA BERBAJU PUTIH DAN MERAH
“Kang pesen kopi hideung (kang pesan kopi hitam).”
Tiba-tiba terdengar suara wanita itu memesan kopi kepadaku.
“Kang pesen kopi hideung (kang pesan kopi hitam).”
Wanita itu mengulang ucapannya kepadaku, tapi ketika wanita itu berbicara tiba-tiba badanku merinding. Seakan-akan ada aura mistis yang menakutkan terpancar dari wanita itu.
Wanita duduk dan menghadap ke arah jalan sehingga aku hanya melihat punggung nya dengan rambut panjang yang hampir menyentuh lantai. Dengan baju putih yang lusuh dan rambut panjang yang kusut terlihat beberapa daun kering yang menempel di rambutnya semakin membuatku semakin yakin bahwa wanita itu bukan manusia.
Wanita itu duduk terdiam tanpa sesekali menggerakan tanganya, sesekali wanita itu memainkan rambutnya yang panjang dengan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
Badanku merinding kembali, ketakutan yang tadi hilang kembali muncul. Tapi aku mencoba memberanikan diri kali ini untuk menjawab apa yang dipesankan oleh makhluk yang duduk di depan warung itu. Mengingat dalam pesan Ibu apabila ada sesosok wanita yang datang harus dibuatkan kopi.
“Kang pesen kopi hideung (kang pesan kopi hitam),” wanita itu kembali berbicara kepadaku dengan nada yang menyeramkan.
“Hihihihihihi.......”
Kali ini dia mulai tertawa, tertawa yang khas yang membuat suasana semakin menakutkan.
“Muhun teh, di antos nya teh (iya teh, ditunggu ya teh),” aku menjawab dengan bahasa Sunda untuk menunggu karena akan aku buatkan pesanan wanita itu.
Badanku masih merinding ketika menjawab pesanan itu. Lalu wanita itu tiba-tiba mengangguk dan kembali tertawa.
“Hihihihihihi”
Akupun segera mengambil kopi sachet dari etalase depan dan membawanya ke belakang warung sambil berlari. Aku mengambil air dan memanaskanya di atas kompor kecil. Meskipun aku sudah memberanikan diri tapi tetap saja jantungku berdetak kencang badanku merinding dan tidak bisa menghilangkan ketakutanku saat ini.
Badanku menyender ke tembok di belakang warung, Sambil ku menunggu air mendidih. Sesekali mendengar suara ketawa wanita itu lagi, suara yang menyeramkan yang membuat aku ingin lari menjauh, tapi karena aku bertanggung jawab untuk menjaga warung ini. Aku mau tidak mau harus melayani wanita itu untuk dibuatkan kopi seperti yang dipesankan Ibuku sore hari.
“Hihihihihi”
"Hihihihihi"
"HIHIHIHIHI!!!!!!!!"
Suara tertawa itu kembali terdengar, semakin lama kudengar semakin menyeramkan. Tapi anehnya kali ini suara ketawa wanita itu sepertinya dekat sekali. Seperti beberapa langkah dari tempatku berdiri.
Aku melihat sekelilingku dan di sana hanya ada tumpukan barang-barang dagangan tidak ada tanda-tanda wanita itu. Aku takut apabila wanita itu mendekat dari depan warung ke belakang, karena menurut pesan Ibu. Aku tidak boleh melihat wajahnya, Kulihat ruangan belakang tampak tidak ada tanda-tanda makhluk itu mendekat.
Tapi mengapa suara itu malah sangat dekat terdengar, ya?
Aku pun melangkah menuju ke warung. Memastikan bahwa wanita itu masih duduk di sana. Aku berjalan dan tiba-tiba.
“Kang pesen kopi.”
Terdengar ada suara dari arah kamar mandi. Akupun reflek menengok ke arah kamar mandi, dan ternyata aku melihat sesuatu yang lebih menyeramkan dari wanita yang ada di depan.
Di kamar mandi terdapat sosok wanita yang sedang menatapku dengan senyum, wajahnya terlihat pucat, kusam, dengan mata yang melotot dan rambut panjang serta baju yang berwarna merah.
Iya. Berwarna merah bukan warna putih seperti sosok yang ada di depan warung. Dia tertawa dengan menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Kulihat tangannya yang keriput dengan kuku yang panjang seperti yang siap menerkam apabila aku di dekatnya.
Wanita itu tertawa. Tertawa yang lebih jahat dan lebih menakutkan.
“Hahahahahaa, hihihihihihi....... kang pesen kopi, hihihihihi”
Aku tiba-tiba tidak bisa bergerak. Badanku seperti menolak untuk berjalan lagi, aku seperti terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu terus menerus tertawa dan menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Aku ingat apabila yang datang adalah wanita yang berbaju merah. Aku harus bilang bahwa kopinya habis. Tapi mulutku saat ini seakan susah untuk berbicara karena sosok itu sangat dekat denganku tempatku berdiri.
“Hahahahaha.., hihihi..., hihihihihi”
Wanita itu kembali tertawa. Dan tiba-tiba wanita baju merah itu perlahan mundur ke arah tembok sambil tertawa dan kemudian menghilang.
Sesaat setelah wanita berbaju merah itu menghilang tubuhku kembali bisa di gerakan, suaraku bisa lagi berbicara. Dan ku dengar kali ini adalah suara dari air yang mendidih dari arah dapur.
Blub.blub.blub
Aku pun kembali ke dapur melanjutkan membuat kopi untuk wanita baju putih yang sedang menunggu di depan warung, seperti yang dipesankan Ibu. Ku buka sachet kopi dan ku masukan ke atas gelas lalu air yang sudah mendidih ku masukan ke gelas berisi kopi, dan aku aduk supaya air dan kopinya tercampur.
Kopi yang sudah selesai ku buat. Kubawa kembali kopi tersebut ke depan warung, dan ketika ku sampai ke warung. Yang aku lihat bukanlah sosok wanita berbaju putih yang sedang duduk di sana. Melainkan sesosok wanita yang berbaju merah.
Kepala wanita itu kemudian berbalik ke arahku, dengan wajah yang menyeramkan dia pun berkata.
“Kang pesen kopi?” dia pun kembali bertanya dengan disertai tawa yang menyeramkan
“Hihihihihihi”
Badanku kembali bergerak. Kopi yang ada di tanganku tidak bisa digerakkan. Aku hanya bisa memandang wajahnya yang menyeramkan di depan warung. Karena aku ingat pesan dari Ibu
Apabila yang memakai baju merah memesan kopi, bilang kalau kopinya habis
Aku pun mencoba menjawab meskipun dengan terbata-bata.
“Euh... euh... kopinya habis teh,” jawabku.
Tiba-tiba setelah aku berbicara seperti itu. Aura dari luar warung tiba-tiba mencekam, kali ini bahkan udara yang masuk dari luar seperti menusuk kulit. Angin mendadak bertiup kencang hingga bisa menggoyangkan beberapa barang dari etalase warung.
Wanita berbaju merah itu sepertinya menjadi marah atas jawabanku yang mengatakan kopinya habis. Dia pun berdiri dan menatap ke arahku dari kejauhan.
Kulihat rambut yang terurai ke bawah perlahan terangkat, ada aura hitam kecil di sela-sela rambutnya, matanya kian melotot ke arahku. Dan tidak ada tertawaan lagi yang muncul dari mulutnya kali ini.
“Eta kopi jang saha (itu kopi buat siapa),” wanita itu berbicara dengan nada marah sambil menunjuk kepada kopi yang dia pegang.
Dia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan urat-urat yang muncul di wajahnya. Kuku yang ada di tangannya malah semakin memanjang.
“ETA KOPI JANG SAHAAAAAAAAA??????” wanita itu berbicara lagi kali ini dia berteriak dengan tangan yang menunjuk kepadaku.
Aku hanya bisa diam tubuhku tidak bisa digerakan, kakiku terasa berat untuk berlari. Tanganku hanya bisa bergetar sambil memegang kopi. Wajahku hanya bisa menatap makhluk itu tanpa bisa memalingkan wajahku.
Wanita itu perlahan terbang ke arahku sambil menunjuk ke arah kopi yang aku buat. Angin dari luar warung semakin kencang kali ini kulihat jelas wajahnya yang benar-benar tampak marah. Dan aku hanya bisa terdiam.
Tiba-tiba wanita itu berada tepat di depan wajahku, kulihat sangat jelas wajahnya yang putih dan keriput, mata yang melototi ku dengan tatapan yang marah dan kuku yang panjang dari tanganya yang seolah-olah akan menerkamku.
Badanku tiba-tiba lemas, gelas berisi kopi yang kupegang pun jatuh. Aku pun tersungkur di lantai karena tidak kuat menahan aura yang dikeluarkan oleh wanita itu. Sehingga aku pun pingsan di dalam warung di malam itu.
Daftar Isi WARUNG TENGAH MALAM
Novel Rilisan Baru











