APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MENYUSUI TUYUL

MENYUSUI TUYUL

Tuduhan pesugihan kerap menyasar warga desa yang sukses. Hal ini dialami pasangan Alisha dan Bintang setelah mereka menetap di Jawa Timur demi pekerjaan Bintang sebagai polisi. Akibat berbagai kejadian aneh di lingkungan sekitar, warga setempat menuduh mereka memelihara dan menyusui tuyul. Kecurigaan masyarakat kian memuncak ketika keduanya membeli rumah baru di luar area desa. Kini, mereka harus berjuang mengungkap kebenaran demi membersihkan nama dari fitnah mistis tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah berdiskusi dengan suaminya, Alisha menjadi lebih tenang. Seperti biasa, wanita muda berparas ayu itu, juga tersenyum ramah pada para ibu-ibu yang mengerubuti tukang sayur keliling. Seketika, mereka menghentikan bisik-bisik itu ketika dari kejauhan melihat Alisha berjalan mendekat.

"Selamat pagi, Ibu-Ibu," sapanya sopan.

Dari beberapa ibu-ibu yang berada di situ, hanya satu orang ibu yang sejak tadi hanya memilih menjadi pendengar. Dia berkali-kali menggelengkan kepala mendengar pembicaraan mengenai uang Bu Siti, pemilik warung yang hilang tadi malam. Wanita paruh baya dengan hijab lebar itu lebih fokus pada apa yang akan dibelinya daripada menyahuti ucapan para tukang ghibah kampung.

"Mbak Alisha mau masak apa, Mbak?" tanyanya pada Alisha yang masih mengedarkan pandangan pada isi gerobak sayur.

"Belum tahu Bu, masih bingung."

"Mas Bintang dinas to Mbak?" tanyanya lagi dengan ramah.

Sedangkan tiga orang ibu-ibu yang tadi membicarakan pesugihan dan uang hilang hanya melirik-lirik ke arah Alisha dan Bu Halimah yang terlihat akrab.

"Hari ini libur, Bu."

"Enak ya jadi Mbak Alisha, punya suami polisi tiap bulan gajinya gede!" sahut si ibu dari grup gossip.

Alisha hanya tersenyum. "Alhamdulillah, Bu," ujarnya santun lalu memutuskan membeli sedikit sayuran dan lauk seadanya karena dia berencana akan pergi ke danau pagi ini.

Setelah membayar, Alisha memilih pamit lebih dahulu. Dia ingat akan suaminya yang masih lari pagi, jadi dia tidak ingin telat membuat sarapan. Sepeninggal Alisha, para tukang gossip kembali beradu argumen.

"Heran saja, padahal kata suamiku, tadi malam uang dari Pak Bintang sudah diludahi, kok masih saja hilang ya?"

"Eeh, Yu. Kan uang dari Pak Bintang dua puluh ribu, yang hilang seratus ribu, katanya Yu Siti.''

"Iya, tuyul tuh kalau ngambil bukan yang kecil Bu, yang besar, tapi satu lembar. Eeh, tadi Mbak Alisha belanja pakai uang seratusan. Coba Kang nanti dilihat barangkali uangnya ikut hilang."

Si tukang sayur dan Bu Halimah hanya menggelengkan kepala. Akhirnya, wanita berwajah ayu itu pun tak tahan untuk bersuara. "Ibu-Ibu, kalau menuduh orang tanpa bukti itu jatuhnya fitnah, lho. Memangnya, Ibu-Ibu nggak takut diibaratkan memakan bangkai daging saudaranya sendiri? Jangan sampai Mas Bintang tahu istrinya difitnah," nasihatnya dengan sabar dan bijak.

"Tapi, Bu Haji, bagaimana bisa kita membuktikan kalau mereka nggak melihara tuyul atau cari pesugihan? Gaji polisi kan nggak besar Bu kalau seperti Mas Bintang. Kita bisa lihat sendiri bajunya Alisha nggak ada yang beli di pasar, Bu. Bajunya mahal-mahal."

"Semua itu wang sinawang Mbak," sahut Bapak Tukang Sayur sambil menghitung belanjaan Bu Halimah.

"Justru, karena nggak tahu kebenarannya, jadi kita nggak bisa menuduh mereka kan Ibu-Ibu? Mari Bu, mau masak dulu," pamitnya sembari tersenyum ramah.

"Belanja banyak banget Budhe Halimah?" tanya seorang perempuan muda yang tengah menggendong anaknya menuju ke tukang sayur.

"Iya Fit, mau buat ngirim orang metik cengkeh."

*

Sementara itu ... laki-laki bertubuh tegap dengan setelan kaos pendek dan celana sebatas lutut tengah berlari-lari di lapangan desa. Kulit kecoklatannya yang basah oleh keringat tampak mengkilat terkena sinar matahari pagi. Sedangkan di satu sisi telinganya terpasang wireless handsfree untuk mendengarkan musik.

"Olahraga, Mas Bin?" sapa bapak-bapak yang tengah mengendarai motor dan memelankan motornya ketika dekat dengan Bintang.

"Nggih Pak, mau ke kebun?" tanya balik Bintang ketika memperhatikan jok motornya ada beberapa karung yang digulung.

"Iya, Mas Bin."

"Panen nggih, Pak?" tanya Bintang lagi.

"Iya, cengkehnya Pak Haji Imran, Mas Bin. Kerja Mas Bin," jawabnya yang diangguki oleh Bintang.

"Nggih Pak, yang penting halal nggih."

"Nah, yang penting itu Mas. Ya sudah Mas, itu teman-temannya sudah pada datang."

Bintang menatap ke arah dua buah motor butut yang ditumpangi 4 orang. Mereka hanya mengangguk sekilas pada Bintang yang berdiri di bibir jalan.

"Monggo Mas Bin."

"Mari Pak, monggo hati-hati Pak, kerja, habis hujan pohon licin."

"Terima kasih, Mas."

Bintang menatap ketiga motor yang menjauh. Dia tersenyum sekilas, udara di desa ini memang terasa sangat sejuk. Suasana desa yang asri jauh dibandingkan dengan kota tempat asalnya yang cenderung panas. Surabaya.

Beberapa belalang kecil melompat dari rumput ketika rumput itu terinjak. Harum rumput bercampur tanah basah semakin menenangkan hati laki-laki itu.

Bintang melangkahkan kakinya menuju ke rumah yang jaraknya sekitar satu kilometer. Sesekali dia menyapa orang yang ditemuinya di jalan.

"Assalamu'alaikum," sapanya saat memasuki halaman rumah yang agak luas dengan tanaman berbagai macam bunga dan cabai di dalam pot.

"Waalaikumsalam, Mas. Ayo cuci tangan terus sarapan Mas," ujar Alisha sambil menenteng wadah kecil yang terisi cabai hijau.

"Hm, masak apa Dik? Cabe masih ijo kok dipetik?"

"Aku buat tahu isi, Mas."

Bintang tersenyum, dia mengusap kepala istrinya yang tertutup hijab itu dengan sayang. Kemudian keduanya memasuki rumah untuk sarapan. Setelah itu, mereka bersiap menemani sang istri ke danau yang berada di utara kota ini.

"Selalu saja ya Mas kalau aku belanja itu disindir-sindir." Alisha kembali mengeluh sambil merapikan hijabnya di depan cermin.

"Yang sabar, jangan terpancing sama omongan orang yang nggak suka lihat orang lain maju. Aku malah bangga sama kamu. Hanya bermodalkan laptop atau ponsel, kamu bisa jadi jutawan."

"Tapi, kupingku panas juga, Mas!" sahut Alisha masih kesal.

Lagi-lagi, Bintang hanya tersenyum lalu menarik tangan istrinya menuju ke teras samping rumah mereka yang berfungsi sebagai garasi.

"Mas nggak bawa motor saja? Nanti pasti kalau ada tetangga lihat nyinyir lagi deh."

"Sayang, jarak danau lumayan jauh kalau kehujanan di jalan bagaimana? Biarkan saja mereka nyinyir. Mobil kita sendiri ini. Lagian Ayah ngasih mobil untuk hadiah pernikahan kita bukan buat pajangan kan?" Alisha mengangguk membenarkan, lalu mengikuti suaminya masuk ke dalam mobil.

"Tuh kan, baju bagus-bagus belinya di toko semua. Mobilnya bagus. Paling kalau nggak cari pesugihan ya korupsi," cibir seorang ibu bertubuh tambun sambil menjemur padi di halaman rumahnya yang luas.

Dia mengangguk dan tersenyum manis saat Bintang membunyikan klakson lirih untuk menyapanya. Benar-benar mirip orang munafik ulung.

Sedangkan perempuan yang berbadan agak kurus itu, hanya bisa mengangguk menyetujui asumsi si perempuan bertubuh tambun.

Mereka menatap ke arah Honda City warna hitam itu yang semakin menjauh. Si ibu bertubuh tambun kembali sibuk menjemur padi, meratakan dengan kakinya sambil menautkan kedua sisi telapak tangannya di belakang pinggang.

*

Danau dengan dikelilingi hutan pinus itu tampak lumayan ramai. Ya, masyarakat dalam kota atau dari kota lain sering menghabiskan waktu mereka di tepi danau yang menjadi destinasi wisata Kota Reog ini. Apalagi, dengan adanya Mloko Sewu, maka para pengunjung bisa melihat dari ketinggian, danau dengan airnya yang hijau.

Setelah puas menikmati keindahan alam Telaga Ngebel dan makanan khas pinggir telaga, seperti nasi thiwul goreng dan ikan bakar, maka Bintang mengajak istrinya itu menuju ke Mloko Sewu. Tak henti-hentinya pasangan yang baru satu tahun menikah itu pun mengabadikan momen langka itu dengan kamera handphone.

"Jadi, ini ceritanya bulan madu tipis-tipis ya, Dik? Bagus banget."

Alifa mengangguk membenarkan. "Iya benar, tempatnya keren banget, Mas."

"Kamu berdiri di situ, aku fotoin dekat pohon pinus, madep sini. Jadi, biar kelihatan danaunya."

Alisha menurut, puluhan kali Bintang dan Alisha bergantian mengabadikan momen itu. Bintang tampak mendekat ke arah sepasang kekasih yang duduk tak jauh dari mereka untuk meminta tolong di foto. Dengan senang hati gadis itu memfoto bintang bersama Alisha.

"Sekali lagi ya, Mas. Mbaknya agak begini!" perintahnya sambil memberi instruksi yang langsung dituruti oleh Alisha.

"Kurang mesra Masnya," celetuk gadis itu yang membuat Bintang dan Alisha tertawa.

Saat hendak mengambil foto terakhir, handphone Bintang berdering tanda ada panggilan masuk. Sontak gadis itu mengulurkan handphone ke arah Bintang.

"Ada telepon Mas."

"Oh iya, terima kasih banyak Mbak."

Bintang segera mengangkat telepon tersebut dengan raut wajah terkejut. Dia menatap istrinya sekilas. "Baik. Siap, saya segera ke sana."

"Ada apa, Mas?" tanya Alisha yang melihat raut wajah tak terbaca dari suaminya.

"Pak Duki, katanya jatuh dari pohon cengkehnya Pak Haji Imran dan meninggal. Maaf Sayang, ayo kita pulang aku harus ke TKP, " jawabnya lirih.

* * *

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Enggan tenggelam dalam kepedihan setelah mendapati suaminya berselingkuh, seorang wanita memilih bangkit. Ia merancang pembalasan keji untuk menyiksa balik orang-orang yang mengkhianatinya. Di tengah rencana tersebut, hidupnya terusik oleh kehadiran pria misterius yang tidak diduga. Lelaki itu rupanya seorang psikopat berdarah dingin yang sangat terobsesi dan mencintainya. Akankah pertemuan ini memperlancar aksi balas dendamnya, atau justru membawa kehancuran?
Sampul Novel Kak, Kalian Sungguh Kejam
8.9
Akibat tuduhan palsu sang adik tiri tentang alergi makanan, seorang protagonis dihukum oleh ketiga kakak laki-lakinya—seorang pebisnis, penyanyi terkenal, dan pelukis genius. Mereka mengurungnya di ruang bawah tanah yang kedap tanpa memedulikan permohonannya. Sementara mereka pergi ke rumah sakit untuk merawat sang adik tiri, protagonis perlahan kehabisan oksigen hingga akhirnya tewas mengenaskan. Tiga hari kemudian, saat mereka kembali dan baru teringat untuk membukakan pintu, semua sudah terlambat.
Sampul Novel Malam Panjang di Bus Terakhir
9.2
Malam mencekam di dalam bus menjadi awal mimpi buruk bagi seorang wanita. Empat pria yang merupakan rekan kerja suaminya menyudutkan dan menyerangnya secara brutal di atas kursi kendaraan yang melaju. Di bawah ancaman kekerasan fisik yang keji, korban tidak berdaya menghadapi tindakan paksa dari para pelaku. Peristiwa traumatis ini memicu misteri kelam dan aksi bertahan hidup yang menegangkan, mengungkap sisi gelap dari orang-orang terdekat yang seharusnya bisa dipercaya.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Tersesat saat menjelajah, seorang pria terjebak dalam keanehan Hutan Gondoriyo setelah kendaraannya hilang secara misterius. Di sebuah pondok sunyi, sepasang lansia misterius memberinya peringatan keras. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran menuntunnya kembali ke sana, namun hutan itu telah lenyap. Rahasia kelam tentang kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terungkap, memaksanya bertaruh nyawa demi membongkar kebenaran yang meneror.
Sampul Novel My Ghost
8.4
Syafira akhirnya paham mengapa apartemennya disewakan dengan harga miring. Di balik ketakutan para tetangga, hunian itu dihuni hantu tampan yang justru memikat hatinya. Alih-alih lari, fantasi romantis Syafira malah membuncah saat merasakan dekapan dingin sang arwah. Namun, benturan logika dua dunia perlahan mulai mengusik pikirannya. Akankah jalinan asmara beda alam ini berujung bahagia seperti kisah-kisah fiksi yang kerap ia tulis?
Sampul Novel Pelajaran Pijat Khusus
9.0
Menyamar sebagai terapis pijat tunanetra profesional membawa petaka mengerikan bagi sang protagonis dalam novel modern bergenre horor ini. Berniat memberikan layanan panggil ke rumah seorang nyonya muda, ia justru terjebak dalam situasi sadis. Memanfaatkan kondisi matanya yang dikira buta, sang klien malah mengurung dan menyiksanya tanpa henti selama tiga hari tiga malam. Pengalaman traumatis yang penuh misteri dan rasa sakit mendalam tersebut terus membekas dalam ingatannya selamanya.