APKDock Logo
Sampul Novel MENYUSUI TUYUL

MENYUSUI TUYUL

7.8 / 10.0
Tuduhan pesugihan kerap menyasar warga desa yang sukses. Hal ini dialami pasangan Alisha dan Bintang setelah mereka menetap di Jawa Timur demi pekerjaan Bintang sebagai polisi. Akibat berbagai kejadian aneh di lingkungan sekitar, warga setempat menuduh mereka memelihara dan menyusui tuyul. Kecurigaan masyarakat kian memuncak ketika keduanya membeli rumah baru di luar area desa. Kini, mereka harus berjuang mengungkap kebenaran demi membersihkan nama dari fitnah mistis tersebut.

MENYUSUI TUYUL Bab 1

"Iya, Kang, aku juga heran, kampung kita yang dulu adem ayem, kok sekarang sering ada yang ngeluh kehilangan uang."

"Apa mungkin, dugaan beberapa orang itu benar kalau Pak Bintang ngingu, (melihara) ya? Rasanya kok aneh. Padahal, setiap Jum'at dia rajin ke masjid kalau pas nggak dinas."

"Lha, Kang, ora kabeh ( tidak semua) orang yang melihara begituan nggak shalat, lah." 

Kedua laki-laki yang tengah menyeruput kopi hitam dari cangkir keramik kecil itu mengangguk menanggapi pendapat temannya.

Begitulah, warung kopi di pojok gang Desa Karanglor itu selalu ramai pengunjung setiap malamnya. Beberapa laki-laki, seperti sudah menjadikan tradisi, selalu berkumpul di situ. Hanya sekadar minum secangkir kopi, menikmati sebatang rokok, dan sepiring gorengan sudah menjadi modal untuk membicarakan banyak hal hingga berjam-jam.

"Iya, kemarin Mbok Wedok (istriku) yo sambat (mengeluh) duitnya hilang lima puluh ribu. Katanya, mau buat arisan, malah amblas uangnya," celetuk seorang laki-laki bertubuh agak tambun sambil mengunyah tempe goreng.

"Barangkali, buat jajan anakmu, Kang? Kasihan tuyulnya kalau nggak ambil dituduh terus, fitnah itu!" sahut seorang pemuda dengan potongan rambut nyentrik berwarna biru, yang sedari tadi duduk di atas motor bersama beberapa teman sebayanya.

Laki-laki bertubuh tambun itu pun melemparkan sisa potongan tempe goreng ke arah pemuda yang hanya cengengesan.

"Hei, Farrel! Anakku nggak mungkin jajan, sehari habis lima puluh ribu," balasnya tak mau kalah.

Pemuda ganteng dengan tindikan di telinga kirinya itu hanya menggaruk pelipis.

"Ya, mana buktinya coba, duitnya Kang Sukir diambil tuyul? Nggak usah percaya begituan, Kang. Percaya tuh sama Allah dan Rasul-Nya." 

Tak!

Sebuah jitakan mendarat di dahi pemuda yang sebenarnya berwajah tampan, yang sayangnya tengah tersesat itu.

Dia hanya meringis sambil melotot ke arah sahabatnya. "Celeng, sakit woi!" protesnya.

Temannya mencibir. "Lagian, sok agamis. Shalat saja cuma tiap Jum'at. Itu pun, karena malu kamu anaknya Pak Ustadz."

"Sialan, nggak usah bawa-bawa bapak aku, lah. Bapak ya Bapak, aku ya aku."

"Farrel, Farrel. Temanmu sudah pada gendong anak, lah kamu, masih saja menghabiskan malam keluyuran kayak gini tho, Le." 

Farrel menoleh pada perempuan paruh baya berdaster batik, si pemilik warung yang membawa dua cangkir kopi di kedua tangannya.

"Iya, Budhe, nanti bikin anak dulu," sahut pemuda 24 tahun itu dengan asal yang membuat si pemilik warung malah memelototinya. 

Suasana warung hening sejenak, ketika mendengar deru motor yang semakin mendekat. Beberapa lelaki berumur yang masih asyik membicarakan tuyul dan pesugihan atau sejenisnya, mendadak bungkam. Mereka saling melirik ke arah motor yang semakin mendekati teras warung.

Sedangkan, Farrel dan teman-temannya yang seperti umumnya anak muda, tak terpengaruh dengan isu mistis. Mereka memilih melanjutkan pembicaraan mengenai klub sepakbola favorit masing-masing yang tengah minim prestasi.

"Anjir, memang pelatihnya sampah, makanya jeblok."

"Begitulah, klub kalau berisi mafia," ejek salah satu dari mereka.

"Sok tahu!" seru Farrel tak terima.

"Ngomongin apa to Mas Din, Mas Farrel, serius banget?" tanya laki-laki yang turun dari motor maticnya sambil melepaskan helm. 

"He he he biasa, Pak Bin, si Farrel lagi PMS," jawab Dino yang dibalas tinjuan gemas dari Farrel.

"Sialan, mulutmu!"

Laki-laki yang mengenakan jaket hitam itu pun, melangkah menuju ke pintu warung setelah menepuk pelan pundak Farrel yang mengangguk sopan padanya.Tatapan beberapa orang yang tadi membicarakan pesugihan dan sejenisnya, langsung tertuju pada laki-laki berwajah rupawan bernama Bintang yang berdiri di pintu warung.

"Assalamu'alaikum, Budhe. Masih ada gorengannya?" tanyanya santun.

"Waalaikumsalam, masih Mas. Mau apa ya, Mas?"

"Bakwan sama pisang goreng saja, Budhe."

"Ngopi, Pak Bin." 

"Monggo, Pak."

Setelah membayar gorengan yang dibelinya, laki-laki itu pun pergi diiringi tatapan curiga beberapa pengunjung warung. Bahkan, ada yang mencebikkan bibir dan mengayunkan telapak tangan pada pemilik warung, yang hendak meletakkan uang dari Bintang ke dalam kaleng.

"Mbak, diludahi dulu uangnya biar nggak diambil lagi sama tuyulnya," bisiknya sambil melirik ke arah motor Bintang yang menjauh.

"Budhe aku bayar, tuh sama kopinya monyet-monyet tiga. Iih, tapi kembaliannya jangan uang itu kena air liur!" seru Farrel tanpa basa-basi.

Pemilik warung yang kepergok meludahi uang dari Bintang hanya bisa salah tingkah menghadapi ucapan Farrel. Sedangkan laki-laki bertubuh kurus yang memberikan saran pada pemilik warung menatap tak suka pada sikap Farrel.

Tetapi, bukan Farrel si ketua geng desa namanya kalau tidak bersikap tak acuh.

**

Bintang memelankan laju motornya, ketika memasuki gang menuju ke rumahnya. Mata lelaki itu menyipit, saat melihat seorang perempuan paruh baya bertubuh agak tambun mondar-mandir di halaman rumah.

Bintang membunyikan klakson lirih sambil mengangguk sopan, yang dibalas dengan anggukan kepala dari perempuan tersebut.

"Baru pulang, Mas Bin?"

"Nggih Bu, olahraga to, Bu?"

"Iya Mas, di dalam gerah."

"Oh iya, monggo, Bu.

"Mari, Mas Bin."

Bintang hanya menggeleng samar. Udara di desa ini memang terkadang cukup panas jika di saat musim kemarau atau mendekati musim penghujan. Tetapi, untuk malam ini, udara di Desa Karanglor tidaklah dikategorikan panas. Justru cenderung dingin karena seharian tadi diguyur hujan deras.

"Assalamu'alaikum," ucap Bintang sambil membuka pintu depan rumahnya setelah mencabut kembali kunci cadangan yang selalu dia bawa.

"Waalaikumsalam, Mas."

"Belum tidur, Dik?" tanyanya sambil menatap wajah ayu di depannya. 

Wanita itu menggeleng pelan kemudian meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan laki-laki bertubuh tegap itu. Bintang membalasnya dengan mencium kening sang istri.

Setelah berganti pakaian dan membersihkan diri, Bintang mendekat ke arah Alisha, istrinya. Tatapan mata lelaki itu tertuju ke layar laptop yang masih menyala di atas meja ruang keluarga.

"Sudah malam jangan begadang, dilanjutkan besok saja."

"Besok katanya mau ajak aku jalan-jalan, Mas," sahutnya sambil menyiapkan makan malam sang suami.

Bintang hanya tersenyum dan mengangguk. Rasanya, memenuhi keinginan istrinya untuk jalan-jalan, merupakan hal yang sangat menyenangkan. Walaupun hanya ke danau atau makan nasi pecel di pinggir danau. Mengingat kesibukannya, menjadi abdi negara yang tidak mempunyai waktu libur tetap.

Alisha mengambil sepotong pisang goreng kesukaannya dan mengunyah sambil kembali menatap layar laptop. Sedangkan Bintang duduk di sampingnya tengah menikmati makan malam sederhana buatan sang istri.

"Tadi sewaktu arisan di rumah Bu RT, ramai bicara duit ilang, duit ilang begitu, Mas."

Bintang menghentikan kunyahannya. Perhatian laki-laki itu dari layar televisi kini berganti pada Alisha yang masih fokus ke layar laptop.

"Duit ilang?" tanyanya dengan kening berkerut.

Alisha mengangguk lemah. "Hmm, katanya di desa ini ada yang melihara pesugihan, Mas. Dan sepertinya, mereka ada yang curiga sama kita," jawab Alisha dengan raut wajah sedih.

****

Lanjut Membaca

Daftar Isi MENYUSUI TUYUL

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Alexa
9.2
Alexandra Delacroix Adams, gadis tomboy dari keluarga terpandang, harus menjalani hukuman setahun di Desa Pelem sebagai Jamilah. Ia terpaksa memakai kebaya dan berusaha mendobrak patriarki di sana. Langkahnya ditentang oleh Jenggala Buana Sagara, petani modern yang menganggap remeh perempuan kota. Meski dituduh memicu kekacauan, Alexa tidak menyerah untuk memandirikan ekonomi para wanita desa.
Sampul Novel Dua Hati, Satu Kehancuran
8.0
Hanya dua minggu menjelang hari pernikahan, sebuah pertengkaran hebat meretakkan hubungan kami. Radit secara sepihak meminta izin untuk menjalani program bayi tabung bersama Lisa, putri dari profesornya yang sedang sekarat, demi memberikan masa depan yang aman bagi wanita itu. Bagi Radit, hal ini hanyalah bantuan medis tanpa perasaan, namun bagiku ini adalah pengkhianatan nyata. Setelah dia pergi dan membanting pintu, aku yang merasa hancur segera mengambil keputusan nekat. Lewat sebuah unggahan di media sosial, aku mengumumkan pencarian pengantin pria baru untuk menggantikannya.
Sampul Novel Fantasi Gilaku
8.0
Alice, istri yang selama tujuh tahun pernikahannya belum pernah merasakan kepuasan dari David, suaminya yang diam-diam ternyata gay dan berselingkuh dengan mantan pacarnya. Alih-alih marah, Alice justru menikmati melihat suaminya bersama pria lain. Pertemuannya dengan Jane, wanita yang trauma karena pernah dilecehkan dan diperkosa oleh pria, membuat keduanya menemukan kecocokan yang tak terduga. Mereka menjalin hubungan terlarang yang menggetarkan, hingga Alice memutuskan menceraikan David demi Jane. Namun, hadirnya Steve membuat Alice jatuh cinta lagi, memicu kecemburuan Jane. Bisakah tiga hati menemukan bahagia? Sebuah kisah tentang tabu, hasrat, dan cinta yang tak biasa.
Sampul Novel Gairah Liar Nayla
7.8
Nayla meyakini bahwa akhir bahagia selalu ada di balik badai kehidupan. Namun, keteguhan hatinya benar-benar diuji ketika ia tak sadarkan diri di sofa rumah akibat kelelahan ekstrem. Saat ia tak berdaya, seorang lelaki misterius yang telah menyusun rencana matang datang mendekat. Niat terselubung membimbing tangan pria itu menyentuh tubuh Nayla yang terlelap. Suasana kian menegangkan ketika sentuhan di dadanya memicu reaksi bawah sadar dari Nayla yang tertidur.
Sampul Novel HASRAT, CINTA, DAN PENGORBANAN
9.1
Inara, seorang office girl di perusahaan migas Dhananjaya, terpaksa menjadi asisten pribadi Raka yang angkuh akibat kesalahannya. Di tengah hancurnya persahabatan Inara karena cinta segitiga antara Bara dan Alexa, Raka hadir mendekatinya. Namun, asmara mereka terhalang oleh kembalinya mantan istri Raka serta tekanan dari sang ibu tiri. Situasi kian rumit saat Daniel, kakak Raka yang difabel, mulai memanfaatkan Inara untuk agenda pribadinya.
Sampul Novel Ipar Posesifku
8.3
Takdir membawaku ke situasi tak terduga saat harus menikahi adik dari mendiang suamiku. Pria dingin yang selama ini menunjukkan kebencian mendalam padaku itu justru menerima perjodohan kami tanpa penolakan sedikit pun. Di balik kebungkamannya, ada rahasia besar yang tersembunyi. Mengapa ia rela terikat dalam pernikahan penuh ketegangan misterius ini denganku? Apa sebenarnya rencana yang ia simpan rapat-rapat?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan