
Menutup Pintu Masa Lalu
Bab 4
Lina menarikku duduk dan mulai bergosip di meja kerja, “Kak Aurel, kamu sudah lihat, ‘kan? Barusan itu tunangannya Pak Peter?!”
“Kalung berlian di lehernya itu hadiah dari Pak Peter kemarin, katanya harganya sampai miliaran!”
“Tapi, cara Pak Peter menempatkan orang itu terlalu terang-terangan! Kamu sudah kerja di perusahaan ini lima tahun, semua orang tahu kemampuanmu. Dia malah dengan enteng kasih posisi yang seharusnya jadi milikmu ke orang lain!”
Aku hanya mengangguk tanpa semangat. Memang dari awal aku sudah berniat mengundurkan diri dan kedatangan Rosa hari ini hanya membuatku semakin cepat sadar akan posisiku di hati Peter.
Aku mengambil berkas-berkas dan surat pengunduran diri, lalu mengetuk pintu kantor Peter.
“Masuk,” jawab Peter dengan dingin.
Aku meletakkan semua dokumen, termasuk berkas-berkas untuk serah terima pekerjaan setelah keluar nanti.
Peter membolak-balik berkas-berkas itu, semakin dilihat wajahnya semakin muram.
Akhirnya, dia mengangkat pandangan, menatapku dengan senyuman tipis yang penuh ejekan.
“Aurel, aku kira kamu sudah berubah baik kemarin dan nggak akan sembarangan melampiaskan emosi. Ternyata hari ini sifat aslimu muncul lagi?”
Usai bicara, dia langsung melemparkan berkas-berkas itu ke arahku.
Aku cepat-cepat menghindar, lalu menunduk, memunguti satu per satu berkas yang berserakan di lantai.
Peter masih saja bicara, “Bukannya hanya masalah promosi jabatan? Bidang Rosa itu sama denganku, aku percaya kemampuannya, makanya posisi direktur teknik kuberikan padanya. Kamu punya hak apa untuk marah-marah?!”
Aku menumpuk berkas dengan rapi, meletakkannya di hadapannya, lalu dengan tenang berkata, “Aku nggak sedang marah, hanya mau mengajukan pengunduran diri.”
Rosa memang satu jurusan denganmu, kamu tahu kemampuannya, lalu bagaimana denganku?
Aku kuliah jurusan desain perhiasan, tapi demi Peter, aku sampai ambil kuliah tambahan lintas jurusan. Bertahun-tahun aku kerja keras siang malam demi bisa mengikuti langkahnya.
Ternyata, semua usahaku tidak ada harganya sama sekali di matanya.
Peter menatapku dari atas, merendahkan, “Kamu sendiri nggak tahu batas kemampuanmu sampai mana? Aku sudah menempatkanmu di bawah Rosa. Mulai sekarang belajarlah baik-baik dengannya.”
Aku tersenyum, “Waktuku juga berharga. Aku nggak akan belajar hal yang nggak kusukai lagi.”
“Bagus! Kalau begitu pergi saja! Aku mau lihat perusahaan mana yang mau menerimamu!” ujar Peter sambil bangkit dari kursinya, menatapku seperti iblis yang siap menerkam.
Sedangkan aku hanya berbalik dan langsung keluar dari ruangannya.
Waktu enam tahun bersamanya, anggap saja sudah terbuang sia-sia.
Aku tidak akan lagi hidup mengitari dirinya, apalagi dia malah mau aku berputar mengelilingi Rosa.
Anda Mungkin Juga Suka





