APKDock Logo
Sampul Novel Pemuas Nafsu Keponakan

Pemuas Nafsu Keponakan

9.0 / 10.0
Kehidupan Rina, wanita berusia 30 tahun, berubah rumit saat menumpang di rumah sang kakak karena suaminya bekerja di kapal pesiar. Alih-alih mendapat ketenangan, ia justru menghadapi paksaan nafsu terlarang dari keponakannya yang baru berumur 17 tahun, Aldi. Tanpa sepengetahuan kakaknya, Rina harus menanggung beban batin yang sangat menyiksa. Setiap malam ia terjebak dalam pergulatan batin antara rasa bersalah dan hasrat kuat untuk lepas dari obsesi gelap pemuda tersebut.

Pemuas Nafsu Keponakan Bab 1

Hari ini aku baru saja tiba di rumah Maya setelah perjalanan panjang. Aku mengenakan gamis panjang berwarna pastel, dan berusaha merasa nyaman di tempat baru ini. Suamiku bekerja di kapal pesiar, jadi aku memutuskan untuk tinggal sementara dengan keluargaku.

Kakakku, Maya, adalah seorang single parent berusia 39 tahun, sembilan tahun lebih tua dariku. Sejak bercerai dua tahun lalu, dia harus merawat anaknya seorang diri. Meskipun menjalani hidup yang tidak mudah, Maya selalu menunjukkan ketangguhan dan kemandirian yang mengagumkan.

"Oh, Aldi! Sini sayang, ada yang ingin Ibu kenalkan," Maya dengan senyum cerah ketika seorang remaja lelaki memasuki rumah.

Aldi mengangkat bahu dan berjalan mendekat dengan tatapan penasaran. "Ada apa, Bu?"

"Ini Tante Rina, adik Ibu. Suaminya bekerja di kapal pesiar, jadi sekarang dia akan tinggal bersama kita untuk sementara waktu," jelas Maya.

Aku menoleh dan tersenyum. "Hai, Aldi. Kamu sudah besar sekarang. Terakhir kali kita bertemu, kamu masih berusia lima tahun." Kini, Aldi adalah remaja 17 tahun dengan penampilan khas. Tingginya sekitar 170 cm, sedikit lebih tinggi dariku yang 165 cm. Tubuhnya tidak atletis, namun berisi..

Aldi mengangguk, berusaha mengingatku. "Selamat datang, Tante Rina," katanya sambil mencoba tersenyum. "Aku ke kamar dulu, Bu," lanjutnya sebelum bergegas menuju kamarnya.

Aku menatap Maya dan tersenyum. "Dia tampak lelah ya? Bagaimana di sekolah?"

Maya mengangguk. "Hari ini ada ujian matematika. Aldi memang sering merasa tertekan dengan pelajaran itu."

Aku menghela napas. "Semoga dia bisa lebih santai setelah ini."

Aku menatap Maya dan memberanikan diri untuk mulai pembicaraan yang lebih serius. "Ka, aku tidak berencana tinggal lama di sini. Hanya sampai aku menemukan tempat yang cocok," kataku dengan hati-hati.

Maya memelukku erat dan tersenyum lembut. "Rina, jangan khawatir. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu butuhkan. Sebenarnya, aku lebih senang jika kamu tinggal sampai suamimu, selesai kontrak 5 tahun di kapal pesiar. Aku dan Aldi hanya berdua di rumah ini, dan kehadiranmu sangat berarti buat kami."

Aku terkejut dengan tawarannya. "Tapi, Ka... 5 tahun itu waktu yang lama. Aku tidak ingin merepotkanmu terlalu lama."

Maya menggelengkan kepalanya dan menatapku dengan penuh kasih. "Kamu tidak merepotkan, Rina. Justru aku merasa lebih baik ada kamu di sini. Rumah ini terlalu besar untuk kami berdua saja. Dan Aldi juga akan merasa lebih baik dengan adanya kamu. Lagi pula, aku kadang harus keluar kota dan meninggalkan Aldi sendirian di rumah."

Aku tersentuh oleh kata-katanya dan merasa beban di pundakku mulai berkurang. "Terima kasih, Ka Maya. Kamu benar-benar kakak yang luar biasa. Aku akan memikirkan tawaranmu."

Maya tersenyum lebar. "Tidak perlu dipikirkan lagi. Kamu bagian dari keluarga ini, dan rumah ini selalu terbuka untukmu."

Kamipun berbincang hingga sore hari, mengenang masa kecil, menceritakan pengalaman dan berita terbaru. Tawa dan candaan yang kunikmati bersama Maya menghangatkan hati. Rasanya seperti menghidupkan kembali kenangan manis yang sudah lama terkubur oleh kesibukan masing-masing.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏🖊️

Malam itu, setelah beraktivitas seharian, aku memutuskan untuk mandi. Aku berjalan menuju kamar mandi di ujung koridor. Tanpa berpikir untuk mengunci pintu, aku mulai mengeringkan rambut setelah mandi. Tiba-tiba, pintu terbuka keras.

"Astaga!" seruku, terkejut melihat Aldi berdiri di sana, membeku di tempatnya. Matanya tak bisa lepas dari tubuhku yang tanpa sehelai benang pun.

"Aldi!" jeritku panik, berusaha menutupi tubuhku dengan handuk.

Aldi segera menutup pintu dengan keras. "Maaf, Tante! Aku tidak tahu kalau ada orang di dalam," teriaknya dari balik pintu.

Aku berdiri di sana, jantungku berdegup kencang. "Kenapa pintunya tidak aku kunci tadi? Ya Allah, semoga Aldi tidak berpikir macam-macam," pikirku dengan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. Cepat-cepat aku mengenakan handuk dan keluar dari kamar mandi, merasa malu dan khawatir.

Saat aku kembali ke kamarku, pikiran tentang kejadian tadi membuatku gelisah. "Kenapa ini harus terjadi?" bisikku pada diri sendiri sambil berbaring di tempat tidur. "Aku tidak boleh memikirkannya, ini salah," lanjutku mencoba menenangkan diri.

Namun, bayangan tubuh Aldi yang terkejut dan tatapan tak sengajanya terus muncul di benakku. "Ya Allah, beri aku kekuatan," doaku dalam hati, berharap kejadian ini tidak berdampak buruk pada Aldi. Aku berusaha memejamkan mata, tetapi rasa cemas dan malu terus menggangguku.

Ketika akhirnya aku terlelap, tidurnya tak nyenyak. Bayangan kejadian di kamar mandi terus menghantuiku, membuatku sering terbangun. "Aku harus bicara dengan Aldi besok," pikirku dalam hati, berharap bisa menjelaskan semuanya dan menghapus rasa canggung di antara kami.

﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏🖊️

Keesokan paginya, aku duduk di meja makan, mencoba menenangkan diri dengan secangkir teh hangat. Ada ketegangan yang menggantung di udara sejak kejadian tadi malam. Aku tahu aku harus berbicara dengan Aldi, tapi bagaimana caranya?

"Selamat pagi, Tante," suara Aldi terdengar pelan saat ia duduk di kursi berhadapan denganku.

"Selamat pagi, Aldi. Tidur nyenyak?" tanyaku dengan suara lembut, berusaha memecahkan kebekuan di antara kami.

"Ya, lumayan," jawabnya singkat. Aku bisa melihat dari matanya bahwa dia juga tidak tidur nyenyak.

"Rin, tehmu masih hangat?" tanya Maya dari dapur sambil menyiapkan cangkir teh tambahan.

"Masih, terima kasih," jawabku singkat, mencoba tetap tenang.

"Ayo makan, nanti keburu dingin," seru Maya sambil meletakkan cangkir teh di meja.

Aldi mengambil roti bakar di depannya, tetapi ia hanya menggigitnya sedikit. "Aku harus pergi sekarang, Bu. Ada tugas yang belum selesai di sekolah," katanya buru-buru, berusaha menghindari situasi yang tidak nyaman.

"Baiklah, hati-hati di jalan," jawab Maya sambil tersenyum.

Setelah Aldi pergi, aku menghela napas panjang. "Ya Allah, beri aku kekuatan," gumamku dalam hati. Aku tahu aku harus bicara dengan Aldi saat dia pulang nanti.

Hari itu terasa panjang. Aku mencoba sibuk dengan berbagai hal di rumah, tetapi pikiranku terus kembali ke kejadian malam itu. Bagaimana cara bicara dengan Aldi? Bagaimana agar hubungan kami kembali normal?

Ketika Aldi kembali dari sekolah, aku mendengar langkah kakinya menuju kamarnya. "Ini saatnya," pikirku. Aku berjalan pelan menuju kamarnya, hatiku berdebar kencang. Dengan suara cemas, aku mengetuk pintu kamarnya. "Aldi, boleh Tante masuk?"

"Ya, Tante. Masuk saja," jawabnya dengan suara yang sedikit gemetar.

Aku membuka pintu dan masuk dengan langkah pelan. Wajahnya tampak tegang, dan aku duduk di kursi dekat tempat tidurnya. "Kita perlu bicara," kataku dengan suara yang hampir berbisik.

"Tentang apa, Tante?" tanyanya meskipun ia sudah tahu jawabannya.

Aku menarik napas panjang sebelum berbicara. "Tentang kejadian semalam. Tante ingin kamu tahu bahwa Tante tidak marah. Itu hanya kecelakaan," kataku, suaraku bergetar sedikit di akhir kalimat.

"Maaf, Tante. Aku benar-benar tidak sengaja," ucapnya dengan nada penuh penyesalan, matanya menatap lantai.

"Tante tahu, Aldi. Tapi..." aku terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Tante juga minta maaf kalau itu membuat kamu tidak nyaman," lanjutku, mencoba tetap tenang meskipun jantungku berdebar kencang.

Ada jeda panjang yang penuh dengan keheningan yang canggung. "Aku akan berusaha melupakan kejadian itu," katanya pelan, meskipun dalam hatinya ia tahu bahwa itu tidak akan mudah.

Aku mengangguk perlahan, mencoba tersenyum meskipun senyumnya tampak dipaksakan. "Bagus. Kita harus tetap seperti biasa. Jangan biarkan ini mengganggu hubungan kita," jawabku, tetapi kata-kataku terdengar kurang meyakinkan, bahkan bagi diriku sendiri.

Setelah keluar dari kamar Aldi, aku merasa sedikit lega tetapi tetap khawatir. "Semoga ini tidak mengubah apa pun antara aku dan Aldi," pikirku, berharap hubungan kami tetap seperti biasa.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Pemuas Nafsu Keponakan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea, kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta bantuan gurunya. Insiden tak terduga di ruang guru tersebut mengubah segalanya. Rahasia ini menjadi awal mula hubungan asmara mereka yang rumit, menantang, dan penuh risiko.
Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun membina rumah tangga, Jessica hanya mendapatkan kepedihan dari Aaron. Usai perceraian mereka, ia memilih mandiri dan sukses membangun karier sebagai desainer terkemuka serta pengusaha tanpa sokongan kekayaan keluarganya. Namun, di tengah keberhasilan dan kemandirian yang kini ia nikmati, Aaron mendadak muncul kembali. Sang mantan suami didera penyesalan mendalam dan memohon dimaafkan. Akankah Jessica luluh atau memilih menutup rapat pintu hatinya?
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra hancur saat kesuciannya dirampas di depan kekasihnya akibat rencana jahat kakek pria itu. Bukannya melindungi, sang kekasih justru mencampakkannya dan menikahi wanita lain. Di tengah keputusasaan, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama keluarga aslinya, ia menyusun rencana pembalasan dendam untuk menghancurkan mantan kekasih dan keluarganya. Namun, akankah kehancuran mereka membawa kedamaian yang ia cari?
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan kampus Bunga mendadak gempar setelah ia mengetahui kebenaran yang mengejutkan. Ezza, pria yang dijodohkan dengannya dan kini sah menjadi suaminya, tiba-tiba hadir sebagai dosen baru di sana. Kemunculan Ezza yang tidak disangka-sangka ini langsung memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai menyangsikan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada rencana rahasia yang disembunyikan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi kesembuhan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang rela menjadi donor sumsum tulang belakang. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun sepakat dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik. Kini, Alicia menjalani hari-harinya sebagai istri yang tersembunyi layaknya seorang simpanan. Akankah pernikahan kontrak ini menumbuhkan cinta tulus, atau justru berujung luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki sangat geram setelah lamaran perjodohannya ditolak mentah-mentah. Alasan pria itu sungguh klasik, yaitu karena mereka belum saling mengenal. Sambil menggerutu dan mencap calon suaminya sebagai lelaki tua yang menjengkelkan, sebuah ide licik tiba-tiba muncul di benak Yuki. Senyum penuh arti pun tersungging di bibirnya. Ia kini menyusun sebuah rencana cerdik untuk memberi pelajaran berharga bagi pria sombong tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan