APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menuntut Balas

Menuntut Balas

Hidup Xavier hancur seketika saat ia melihat ayahnya dibunuh secara kejam oleh sindikat mafia. Peristiwa tragis itu meninggalkan duka mendalam sekaligus memicu kemarahan besar dalam dirinya. Menolak tinggal diam melihat para pembunuh bebas, Xavier bersumpah untuk membalas dendam. Ia pun mulai melatih kemampuan bela dirinya dengan sangat keras demi bersiap menghadapi organisasi kriminal keji tersebut dan menuntaskan tuntutan balasnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Dor !

Xavier mencari sumber tembakan itu. Dengan berlari kecil ia menuju tempat tinggalnya. Dari balik pintu ia mendengar suara dua orang pria yang tidak di kenalnya. Dengan berhati-hati, ia mencoba melihat dari celah jendela sambil berjongkok.

"Bos. Xander sudah kami habis," ungkap salah satu pria bertubuh tegap yang sedang berada di dalam rumah sambil menghubungi seseorang melalui ponselnya.

Xavier membulatkan matanya tanda ia terkejut saat melihat ayahnya telah terbujur kaku di lantai. Seketika ia teringat adiknya yang masih kecil. Matanya mencari-cari keberadaan adiknya namun tidak ia temui.

"Ayo, kita segera keluar dari rumah ini sebelum orang lain melihat !," seru pria asing itu.

Xavier bergegas untuk bersembunyi agar ia tidak menjadi korban selanjutnya dari pria asing itu.

Dengan perlahan ia berjalan menuju belakang rumahnya dan masuk melalui pintu belakang.

Pria-pria yang bertubuh tegap itu sudah meninggalkan tempat tinggal keluarga Xavier barulah ia memberanikan diri menuju jasad ayahnya.

Air mata Xavier membasahi pipinya. Karena ayahnya lah yang selama ini banyak berkorban untuk mereka sedangkan ibunya pergi meninggalkan mereka setelah melahirkan adiknya yang bernama Xaviera yang pada saat itu perekonomian keluarganya sedang sulit.

Ia melihat luka di dada kanan ayahnya kemudian menyentuhnya dan bersumpah akan membalaskan dendam atas kematian ayahnya.

"Kakak! Apakah kamu sudah pulang?," tanya seorang gadis mungil pada Xavier.

Xavier memeluk adiknya. Ia bersyukur adiknya selamat.

"Mengapa ayah tidur di lantai, kak?" tanyanya polos.

"Ayah kelelahan. Sebentar lagi kakak akan membangunkan ayah," sengaja Xavier tidak memberitahukan pada adiknya bahwa ayah mereka telah tiada.

Xavier memberitahukan kepada tetangganya perihal kematian ayahnya. Para tetangganya pun berbondong-bondong membantu Xavier dan juga melaporkan ke pihak kepolisian mengenai kematian Xander.

Xavier ingin merahasiakan kematian ayahnya dari adiknya. Ia meminta tolong pada tetangganya selama proses pemakaman, adiknya berada di rumah tetangga mereka. Tetangga mereka pun setuju.

Proses pemakaman telah selesai. Xavier pun menjemput adiknya dari rumah tetangga.

"Kakak darimana saja? Mengapa lama sekali menjemput ku?" tanya adiknya yang pada saat itu berada di punggungnya.

Sambil berjalan Xavier pun menjawab, "Kakak harus kembali bekerja."

"Apakah ayah sudah bangun?" tanya adiknya dengan polos.

"Ayah sudah pergi ke luar negeri untuk bekerja," jawab Xavier.

Dengan hati yang teriris, Xavier terpaksa berbohong pada adiknya. Ia tak ingin ada kesedihan di wajah ceria adiknya.

"Kakak, mari kita bernyanyi !" pinta Xaviera.

"Baiklah,"

Xavier yang pada saat itu masih menggendong Xaviera di punggungnya pun menuruti permintaan adiknya. Bait demi bait lagu ia nyanyikan untuk menghibur hati adiknya walau air matanya masih ingin menetes. Perlahan suara Xavier berubah menjadi parau. Adiknya pun heran dengan perubahan suara kakaknya.

"Kakak kenapa? Apakah kakak sedang bersedih? Mengapa suara kakak seperti itu?" tanya Xaviera heran.

"Kakak tidak apa-apa. Hanya saja tadi kakak terlalu banyak makan gorengan sehingga suara kakak seperti ini," jawab Xavier sambil menyeka air matanya yang sempat terjatuh.

Walaupun Xavier memberi banyak alasan, Xaviera tetap merasa curiga dengan apa yang terjadi pada kakaknya tetapi Xaviera memilih diam dan pura-pura tidak tahu.

Sesampainya di rumah, rumah sudah kembali bersih seperti tidak terjadi apa-apa di rumah mereka. Xaviera pun turun dari gendongan Xavier.

"Segera cuci kaki kamu dan lekas lah tidur," pesan Xavier yang pada saat itu sedang berjalan menuju kamarnya.

"Iya, kak."

Xaviera memperhatikan setiap gerakan kakaknya yang hendak memasuki kamar. Ia melihat raut wajah sedih terlukis di wajah kakaknya. Ia tidak ingin menanyakan karena tidak ingin menambah beban kakaknya.

Xaviera bergegas melaksanakan apa yang di katakan kakaknya. Selesai membersihkan diri, ia pun segera menuju tempat tidurnya. Terdengar suara langkah kaki, ia pun segera menutup matanya. Ia tahu itu langkah kaki kakaknya yang akan memastikan jika dirinya sudah tertidur.

Xavier membuka pintu kamar adiknya. Lampu kamar masih terang. Ia melihat adiknya sudah memejamkan mata. Kemudian ia menarik selimut untuk membungkus tubuh adiknya yang saat itu ia kira sudah tertidur. Dengan lembut ia mengusap puncak kepala adiknya.

"Jadilah anak yang baik dan pandai menjaga diri," ucap Xavier lirih.

Xaviera masih mendengar ucapan Xavier karena pada saat itu Xaviera sedang pura-pura tidur.

Setelah Xavier mengira jika adiknya sudah terlelap, ia pun mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur kemudian menutup kembali pintu kamar adiknya.

Xaviera merasa ada yang aneh dengan kakaknya. Setelah kakaknya keluar dari kamarnya, ia pun kembali membuka matanya. Ada rasa gelisah yang ia rasakan. Tiba-tiba saja ia teringat ketika ayahnya meminta ia sembunyi di dalam ruang bawah tanah dan tak lama terdengar suara ayahnya yang berdebat dengan beberapa orang pria, selanjutnya terdengarlah suara letusan tembakan.

Pikiran Xaviera terlalu bising dengan peristiwa ayahnya meminta agar ia sembunyi dan juga suara tembakan yang sempat ia dengar di siang itu. Tetapi berkat kakaknya mengatakan jika ayahnya telah bangun dan pergi ke luar negeri untuk bekerja, membuat perasaan gelisah nya sedikit mereda. Walaupun demikian, malam ini tetaplah ia tidak bisa memejamkan matanya.

Setelah memeriksa rumah sudah terkunci, Xavier kembali ke kamarnya. Tubuhnya yang sudah berada di atas ranjang tampak gelisah. Berulang kali ia berpindah posisinya tetapi ia tetap merasa tidak nyaman. Ia pun berjalan menuju meja belajarnya dan membuka laptopnya. Sebuah file yang berisi kenangan bersama ayahnya pun ia buka. Walaupun mereka hanya bertiga, terlihat ekspresi bahagia diantara merek bertiga. Kembali hatinya di hujani rasa sedih. Tak ingin berlarut, ia pun menutup kembali laptopnya.

Pikirannya berkelana ke masa depan adiknya. Dengan kondisi seperti ini, ia tidak mungkin meninggalkan adiknya untuk bekerja. Akhirnya terlintas di pikiran Xavier untuk menitipkan adiknya ke panti asuhan agar ia merasa tenang saat bekerja dan juga saat ia akan membalaskan dendam atas kematian ayahnya.

Keesokan harinya, Xavier sudah mengemasi barang-barang adiknya. Xaviera yang melihat kakaknya yang pada saat itu mengemasi barang miliknya pun merasa heran karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

"Kakak sedang apa?. Mengapa barang-barang aku kakak masukan ke koper?"

"Oh iya, kakak lupa memberitahukan kamu jika hari ini kakak akan menyusul ayah untuk bekerja diluar negeri. Jadi kakak ingin menitipkan kamu ke rumah orang baik dan kamu akan menemukan banyak teman di sana," jawab Xavier.

Xaviera yang mendengar jawaban kakaknya pun membalas dengan ekspresi datar. Sepertinya ada rasa ingin memprotes dengan sikap kakaknya itu.

"Aku saja yang mengemasi barang-barang ku."

Xavier menoleh ke arah adiknya dengan rasa bersalah tetapi ini harus ia lakukan demi keselamatan adiknya.

"Nanti ketika sampai di sana katakan pada mereka nama kamu adalah Grizelle jangan katakan Xaviera," pinta Xavier.

"Mengapa begitu?"

"Grizelle itu juga kan nama kamu. Xaviera Grizelle Werner. Tetapi kamu cukup katakan nama kamu Grizelle dan jangan katakan nama depan kamu dan juga nama belakang kamu yang merupakan nama keluarga kita," pesan Xavier.

Xavier ingin menyembunyikan identitas adiknya. Agar para mafia tidak melacak keberadaan adiknya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Dendam lama dari musuh masa lalu membayangi hidup Devano Lauder. Selama dua puluh tahun, ia berjuang keras menuntaskan perselisihan panjang yang penuh pertumpahan darah. Di tengah kekacauan itu, Devano sempat terjebak dalam cinta segitiga semasa remaja. Kini, setelah dewasa, ia rela mempertaruhkan nyawanya demi memikul tanggung jawab dan mengakhiri konflik. Meski bahaya terus mengintai, takdir akan menuntun perjuangannya menuju titik akhir yang adil.
Sampul Novel Dewa Alkemis
8.9
Tian Fan, pemuda berbakat dari keluarga bangsawan rendah, bercita-cita menjadi alkemis hebat. Namun, kejeniusannya memicu kebencian para tuan muda kelas atas yang terus menekannya. Di tengah intimidasi tersebut, sebuah peristiwa besar mengubah segalanya. Kejadian tak terduga ini membuka jalan baru yang memperbesar peluang Tian Fan untuk mewujudkan ambisinya menjadi Grandmaster Alkemis.
Sampul Novel I Choose The Villain Crown Prince
8.6
Seorang pembunuh bayaran terlahir kembali sebagai Athea Dominic, putri bangsawan klan Api yang dibenci. Usai tewas tragis akibat mencintai Pangeran Alexander di masa lalu, ia bangkit menjadi prajurit elite demi membalas dendam atas pembantaian keluarganya. Athea lalu bersekutu dengan Azrael, sosok misterius yang merupakan Putra Mahkota Klan Api. Bersama-sama, mereka berjuang merebut takhta dari pangeran kejam itu demi menuntut keadilan bagi klan mereka.
Sampul Novel Karma sang pelakor
8.2
Murka akibat pengkhianatan suami demi wanita muda, keluarga Christian bersaudara merancang aksi pembunuhan rahasia. Namun, tindakan nekat ini justru memicu kecurigaan mendalam dari Nathan bersaudara. Didorong rasa kehilangan, mereka mulai menyelidiki petunjuk misterius guna membongkar fakta sebenarnya di balik kematian tragis sang adik bungsu. Ketegangan pun meledak menjadi pertikaian sengit antar-keluarga yang penuh aksi dan teka-teki.
Sampul Novel Less Than Evil
9.6
Di dunia yang kejam ini, seni menjilat dan kepalsuan menjadi senjata utama demi meraih kekuasaan. Hubungan antarmanusia tak lebih dari alat untuk saling memanfaatkan demi ambisi pribadi, tanpa menyisakan ketulusan sedikit pun. Kehidupan bertransformasi menjadi arena pertempuran bagi mereka yang pandai bersandiwara dan berganti topeng. Pada akhirnya, hanya sosok paling licik yang mampu bertahan di tengah persaingan hidup yang penuh tipu daya ini.
Sampul Novel Pengorbanan Cinta Sang Letnan
9.6
Dua tentara elit Kopassus berlatar intelijen, Rey dan Alex, telah menjalin persahabatan sejak masa kecil. Namun, hubungan erat mereka kini diuji oleh perasaan cinta pada wanita yang sama. Di sela-sela perjuangan dan pengabdian besar mereka untuk negara, konflik batin yang sengit pun mulai membayangi. Takdir menuntut mereka menentukan pilihan sulit antara loyalitas pada tugas negara atau ego pribadi. Akankah cinta yang menang, atau justru persahabatan mereka yang hancur?