
Menjaga Jodoh Orang
Bab 5
"Ada orang jatuh dari tangga! Cepat panggil bantuan!"
Teriakan seseorang terdengar di telinga Candice, disusul dengan kerumunan yang segera berkumpul di sekitarnya.
Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia melihat Terry dan teman-temannya berlalu pergi dari sisi kerumunan. Mereka hanya melirik sekilas tanpa sedikit pun rasa peduli. Bagaimana mereka tahu bahwa orang yang tergeletak di lantai dan dikelilingi kerumunan adalah Candice yang telah mereka khianati?
....
Candice terbangun di rumah sakit.
Seorang perawat sedang mengganti perbannya. "Kamu sudah sadar?" tanya perawat itu dengan ramah.
"Kenapa aku ada di sini?" tanya Candice dengan suara lemah.
"Oh, kamu pingsan karena gula darah rendah. Ada seseorang yang menemukanmu dan membawamu ke sini, tapi dia sudah pergi. Ada nomor keluarga yang bisa kuhubungi?"
"Nggak usah," Candice menggeleng pelan. Mendengar nama Terry saja sudah membuatnya merasa mual.
Dia berjalan perlahan meninggalkan ruang perawatan untuk menuju loket pembayaran. Langkahnya masih berat, tubuhnya lemah, tetapi telinganya menangkap percakapan beberapa perawat.
"Kamu dengar, nggak? Tadi malam ada pasangan yang dibawa ke sini dari bar. Katanya mereka jatuh dari sofa saat sedang, ya tahu lah, terus menabrak botol bir. Tubuh mereka penuh dengan pecahan kaca."
"Iya, aku lihat juga tadi! Situasinya kelihatan parah banget. Nggak nyangka anak muda zaman sekarang bisa se-ekstrem itu."
"Dan si cowoknya kayaknya terkenal, loh. Kayak pernah lihat dia di TV!"
"Benar juga, aku merasa wajahnya nggak asing. Namanya siapa, ya? Kayaknya Terry ...."
Langkah Candice terhenti. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, dia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya berjalan dari kejauhan.
Para perawat langsung menunduk dan menjauh sambil berbisik, "Itu mereka! Wajah mereka bagus, tapi kelakuannya parah banget."
Candice terpaku di tempat. Kakinya terasa seberat timah hingga tidak mampu bergerak.
Di saat yang sama, Terry juga melihatnya. Ekspresi Terry berubah, dia langsung melepaskan tangan yang tadi menopang lengan Vivian.
"Candice, kenapa kamu di sini?" Terry segera berlari ke arahnya, matanya dipenuhi rasa cemas saat dia mengamati Candice dari atas ke bawah. "Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Kenapa nggak ngasih tahu aku?"
"Kamu sendiri? Lagi ngapain sama wanita ini?" Candice menghindari sentuhan Terry dengan tenang.
Vivian dengan santai mengulurkan tangan ke arah Candice. "Halo, aku Vivian, aku adalah ...." Dia sengaja memperpanjang akhir kalimatnya, tetapi tidak melanjutkannya.
Terry buru-buru menambahkan, "Cuma teman baik."
Wajah Vivian berubah, tapi dia tidak menyerah. "Senang bertemu denganmu. Aku akan menikah tanggal satu bulan depan. Aku harap kamu bisa datang."
Mendengar ucapannya, wajah Terry langsung muram. Tatapannya tajam seperti elang yang memelototi Vivian.
"Vivian, dia nggak dekat sama kamu. Untuk apa kamu mengundangnya ke pernikahanmu?"
"Dia mungkin nggak dekat sama aku, tapi dia sangat dekat denganmu. Dan aku juga dekat denganmu. Jadi, bukankah kita semua saling kenal?"
Mendengar provokasinya yang terang-terangan, Candice tersenyum tipis, lalu menoleh ke Terry. Dengan suara lembut, dia bertanya, "Terry, bukankah tanggal satu bulan depan itu adalah jadwal pernikahan kita? Kamu bilang ada urusan hari itu. Jangan-jangan, kamu mau menghadiri pernikahannya?"
Terry langsung panik, seluruh tubuhnya terlihat gelisah. Dia buru-buru menggeleng. "Tentu saja bukan! Hari itu aku ada urusan perusahaan, aku harus keluar negeri. Jangan mikir macam-macam."
"Oh, begitu?" Kebohongan yang tergambar jelas di wajahnya tidak luput dari Candice. Namun, dia tidak ingin berdebat lebih lanjut. "Maaf, aku nggak bisa datang. Aku sibuk hari itu."
"Serius? Pas sekali?" tanya Vivian dengan tersenyum penuh arti.
"Ya, kebetulan sekali. Karena aku juga akan menikah di hari itu."
Begitu Candice selesai berbicara, Terry langsung menatapnya dengan cemas. "Apa maksudmu, Candice? Bukankah pernikahan kita ditunda?"
Anda Mungkin Juga Suka





