APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menjadi Korban Manipulasi Kekasih Kakakku

Menjadi Korban Manipulasi Kekasih Kakakku

Akibat fitnah kejam dari wanita pilihan kakaknya, Nadia dituduh melakukan perundungan. Sang kakak yang murka mengirimnya ke sekolah perempuan demi memperbaiki moralnya. Sejak itu, Nadia berubah menjadi adik yang penurut dan tidak pernah menuntut apa pun. Namun, kepatuhan dingin ini menyembunyikan luka luar biasa. Begitu sang kakak membaca laporan medis Nadia, ia kehilangan kendali dan memohon dengan sangat agar adik yang telah ia sia-siakan itu bersedia memanggilnya "Kakak" sekali lagi.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Rumah sakit menagih biaya, tapi Kakak nggak bisa dihubungi ...."

"Apa?" Kakak mengernyit. Belum sempat berkata lebih jauh, Merry sudah berjalan mendekat.

"Nadia, cepat masuk. Sudah agak baikan? Harus bayar, 'kan? Biar aku yang transfer untukmu."

"Biar aku saja," ujar Kakak, lalu langsung mentransfer 200 juta ke rekeningku. "Cukup, 'kan?"

Aku mengangguk, lalu bersiap keluar untuk menebus kalungku.

"Kamu mau ke mana lagi?"

"Ambil kalungku, aku jadikan jaminan di rumah sakit."

Baru melangkah beberapa langkah, Merry menahanku. "Di luar sebentar lagi hujan, kamu baru keluar dari rumah sakit, jangan sembarangan. Biar sopir yang ambilkan."

Aku tidak ingin menyetujuinya, tetapi tatapan Kakak membuatku terdiam. Aku tahu, begitu aku menolak Merry, Kakak pasti marah.

Namun, sopir pergi lama dan kembali tanpa membawa kalungku. Perawat mengatakan kalung itu hilang.

"Gimana bisa hilang? Kok bisa? Baru dua jam, kenapa bisa hilang? Aku jelas sudah bilang akan menebusnya dengan uang!"

"Orang di rumah sakit banyak, kami juga nggak tahu. Palingan, biaya pengobatanmu kami anggap lunas saja."

Aku meraih tangan perawat itu, terus memohon, terus bertanya.

"Cukup! Jangan bikin malu! Itu kalung peninggalan Ibu! Gimana bisa kamu sembarangan menitipkannya? Sekarang hilang, salah siapa?" Kakak menarikku, lalu meminta maaf pada perawat dan menyeretku pulang.

"Aku akan suruh orang cari. Jangan keluar lagi, buat aku malu saja. Ngapain teriak-teriak di tempat umum?"

Bentakannya membuatku tidak bisa lagi berkata apa pun.

Aku mengurung diri di kamar, semalaman tak bisa tidur. Entah kenapa, kehilangan kalung itu membuatku begitu takut dan panik.

Mungkin karena itu satu-satunya peninggalan yang masih menjadi milikku, tetapi aku tetap tak mampu menjaganya.

Malam itu aku bermimpi. Aku bermimpi bertemu Ibu. Dia mengelus wajahku, senyumannya lembut penuh kasih. "Sayangku, kenapa jadi kurus begini? Kakakmu nggak menjagamu dengan baik ya?"

Aku menahan tangis, memeluk Ibu sambil menangis tersedu-sedu. "Siapa yang berani menyakiti putriku? Ibu akan menegurnya. Kakakmu ya?"

"Bukan, Ibu. Kakak sangat baik padaku." Namun, air mataku tak berhenti jatuh. "Ibu, aku kangen sekali. Aku sangat lelah. Aku kehilangan kalung yang Ibu berikan padaku. Aku benar-benar nggak berguna."

Seharian penuh aku bersembunyi di kamar, tidak ingin bertemu siapa pun. Kakak tidak datang menanyakan keadaanku, tetapi Merry justru mendatangiku.

Melihat itu adalah Merry, aku ingin menutup pintu. Namun, Merry malah mengangkat dagunya, memperlihatkan kalung yang hilang itu.

"Itu ... kenapa ada padamu?" Saat aku tertegun, dia langsung mendorong pintu masuk.

"Kembalikan kalungku!"

"Kenapa harus kukembalikan? Kakakmu sudah memberikannya padaku. Dia bilang, kamu nggak pantas memakainya. Hanya aku yang layak." Merry menghindar dari tanganku, lalu dengan penuh kebanggaan memamerkannya.

"Itu peninggalan ibuku! Kembalikan padaku!"

Segala hal bisa kuabaikan, tetapi hanya kalung itu tidak bisa. Aku hendak meraih, tetapi dia terus mundur. Ketika aku menerjang, dia sigap menghindar lagi. Melihatku jatuh tersungkur dengan memalukan, dia tertawa puas.

"Hahaha! Lihat dirimu sekarang, apa masih seperti primadona sekolah dulu? Sekarang kamu cuma jadi bahan tertawaan. Kamu seperti seekor anjing."

Saat aku mencoba bangkit, dia menendang punggungku, lalu menginjak tanganku yang berusaha meraih.

"Apa bedanya hidupmu ini dengan kematian? Nadia, kakakmu sudah nggak menginginkanmu. Di rumah ini, kamu hanyalah orang yang paling nggak berguna!"

Dia membawa kalung itu ke jendela, perlahan melepaskan genggaman. "Kamu mau kalung ini ya? Hahaha, aku nggak akan memberikannya."

"Ah!" Aku meraih kakinya, lalu mendorongnya sekuat tenaga, seperti orang gila yang menerjang. "Merry! Kamu sudah merebut Kakak dariku! Rumah ini pun sudah kamu rebut! Kenapa masih nggak mau melepaskanku?"

Aku tidak tahu bagaimana semua itu terjadi. Saat sadar, Merry sudah terkapar di lantai, menangis menahan perutnya.

"Merry!" Kakak berdiri di pintu, wajahnya dipenuhi kejutan dan kemarahan. Dia berteriak memanggil nama Merry.

"Perutku sakit ...." Merry menangis, menatapku. "Nadia, kenapa kamu mendorongku ...."

Tamparan Kakak menghantam wajahku dengan keras. Aku terjatuh, kepalaku berdengung.

"Nadia! Kamu terlalu jahat! Sudah sekian lama kuhukum, tapi kamu masih nggak bertobat! Aku nggak ingin melihatmu lagi!"

Dia menggendong Merry dan buru-buru pergi. Aku menutupi wajah, melihat tatapan penuh kebencian dari Merry. Bibirnya tanpa suara berkata, riwayatmu sudah tamat.

Pemandangan itu persis dengan malam pesta kelulusan dulu. Rasa takut yang tak terucapkan menyembul dari dalam hatiku.

Aku akan dikirim kembali ke tempat gelap itu! Kakak tidak menginginkanku lagi! Tidak! Aku tidak mau kembali ke sana!

Ketakutan besar membuatku menangis. Aku berlari mengejar, memegang lengan Kakak. "Aku nggak mendorongnya! Kakak! Tolong percaya aku!"

"Lepaskan! Merry lagi hamil! Yang kamu lakukan itu pembunuhan! Seharusnya aku nggak pernah mengizinkanmu keluar dari sekolah itu! Nadia, gimana aku bisa punya adik sejahat kamu? Kenapa kamu nggak mati saja?"

Dia menepis tanganku, lalu seperti dulu, pergi tanpa menoleh.

Wajahku sakit, tetapi di kepalaku terus terngiang satu kalimat. "Kenapa kamu nggak mati saja?"

Kalimat itu tumpang tindih dengan hari-hari menyiksa di sekolah.

"Kakak, kamu nggak tahu ... aku sudah lama berpikir untuk mati ...." Aku menggulung lengan baju. Lengan itu penuh bekas luka, bukti bahwa aku pernah beberapa kali tak sanggup bertahan hidup.

Aku berdiri di jendela, menatap ke bawah, ke arah tempat kalung itu jatuh. Kemudian, aku menghubungi nomor Kakak.

"Kak, kalau aku mati, apa saat itu kamu akan percaya padaku? Aku nggak mendorongnya ... dia yang mengambil kalung Ibu."

"Kalau begitu, kamu mati saja!" Suara Kakak di seberang telepon penuh amarah.

Aku duduk di jendela, melemparkan ponselku, lalu tersenyum putus asa. Perlahan-lahan, aku memejamkan mata dan menjatuhkan tubuhku ke belakang.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B22863" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B22863
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Istri Pajangan
8.2
Kehidupan Riana hancur setelah kesuciannya direnggut oleh Danis, anak dari dosennya. Walau Danis mau bertanggung jawab dengan menikahinya, Riana justru merasa diabaikan bagai istri pajangan tanpa kehangatan. Kepedihan Riana kian memuncak saat memergoki Danis bersama mantan kekasihnya yang tengah hamil besar. Di tengah luka pengkhianatan ini, Riana kini terdesak di antara pilihan sulit: bertahan demi anak mereka atau melepas sang suami demi perempuan lain.
Sampul Novel Istri Rahasia Tuan CEO Dingin
8.0
Pasca kepergian orang tuanya, dunia Deana runtuh. Ia kini terhimpit utang besar dan dikejar-kejar preman yang mengancam nyawanya. Di tengah keputusasaan, Deana berniat menjual kesuciannya kepada Marvin, seorang pria asing. Tak disangka, Marvin malah menyodorkan kesepakatan lain demi melunasi semua utang tersebut: Deana harus mengandung dan melahirkan anaknya. Solusi instan ini justru menyeret Deana masuk ke dalam lingkaran konflik baru yang jauh lebih pelik.
Sampul Novel OH MY EDWARD : ATASANKU GEBETANKU
8.9
CEO sukses Edward Kenneth menutup rapat hatinya akibat trauma masa lalu. Demi mengubah sang cucu, Opa Bram melunasi utang keluarga Zuri Agnesa dengan syarat ia harus memikat Edward. Misi rahasia ini membawa Zuri masuk ke kehidupan Edward hingga pernikahan kontrak pun terjadi. Akankah ketulusan Zuri mampu mencairkan dinginnya hati sang atasan, ataukah rahasia besar di balik pernikahan mereka justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan segalanya saat terungkap?
Sampul Novel Rumah Tanggaku Hancur Karena Ibu Mertua
9.5
Lima tahun menikah, Zahra memilih mengaku mandul demi menjaga harga diri suaminya, Roni. Namun, pengorbanan ini justru membuat sang ibu mertua, Fatimah, sangat membencinya. Kehilangan rasa hormat, Fatimah berniat merusak rumah tangga mereka dengan mencarikan istri baru untuk Roni. Kini, pernikahan mereka di ujung tanduk saat Roni didesak menceraikan Zahra akibat campur tangan keluarga yang toksik.
Sampul Novel Terpaksa Menikah dengan Tuan Keenan
8.8
Dikhianati kekasih hingga menjadi ibu tunggal membuat Emily menghadapi gunjingan. Demi menutupi aib, orang tuanya menjodohkan Emily dengan Keenan Derrel Ferano. Pengusaha sukses itu butuh istri demi menepis rumor miring tentang dirinya. Emily sempat menolak, tetapi kedekatan putranya dengan Keenan membuatnya luluh pada pernikahan kontrak ini. Namun, saat pernikahan dimulai, sosok masa lalu yang dinantinya justru kembali hadir.
Sampul Novel Tiada Lagi Pengganti, Sang Ratu Kembali
9.7
Lima tahun mendampingi Adipati sebagai tunangan tak membuatku berarti saat kembaranku, Hapsari, kembali membawa kebohongan. Hanya dalam lima menit, Adipati berpaling dan menikahinya. Bahkan, kakak-kakak kandungku tega menyiksaku demi membela fitnahnya. Dianggap sebagai pengganti tak berharga, aku dibuang ke jurang. Namun, maut tak menjemputku. Setelah selamat, aku memilih memalsukan kematian dan menghilang, bersiap kembali sebagai hantu yang akan meneror hidup mereka.