APKDock Logo
Sampul Novel Akibat Salah Pergaulan

Akibat Salah Pergaulan

9.4 / 10.0
Dunia indah Arabella Raveen hancur tanpa sisa karena perbuatan kejam Oscar. Di tengah masa sulit yang penuh penderitaan, Louise Saveero datang dan perlahan mengembalikan senyum serta kedamaian di hidup Arabella. Sayangnya, ketenangan tersebut kembali terusik tatkala Oscar tiba-tiba muncul lagi di depan matanya. Mampukah Arabella menjaga hubungan cintanya dengan Louise, atau ia akan jatuh ke jurang nestapa yang sama? Ikuti kisah perjuangan mereka demi melindungi kebahagiaan.

Akibat Salah Pergaulan Bab 1

“ARAAA!!!!!!” terdengar teriakan keras dari belakang.

“Araa Ara Araaa!!!! Tungguin dong, Ra!” seru Yasti sembari berlari mengejar sahabatnya, Ara.

“Apaan sih, Yas?” tanya Ara kesal. Karena teriakan Yasti terlalu kencang, semua orang yang ada di sekitar mereka memandangi dengan heran.

“Lu tuh kebangetan ya, Ra! Gue panggil, tapi lu cuekin aja,” protes Yasti.

“Sudahlah, Yas. Lu teriaknya kaya lagi kejar maling, bikin malu aja,” celetuk Ara kesal sambil menggelengkan kepala dan menampar pelan kepala Yasti.

“Hehehe. Biar rame gitu dong, Ra. Hari pertama masuk SMA harus seru, kan. Lu mah udah kaya apa gitu," ujar Yasti dengan santai, mengabaikan omelan Ara.

“Iya, seru sih seru. Tapi nggak usah sampe bikin malu juga dong. Lihat aja, orang-orang jadi nengok-nengok gitu,” ucap Ara sedikit kesal.

"Sudah, cepat. Nanti kita terlambat," ajak Ara sambil mempercepat langkah. Waktu yang tersisa sudah sangat sedikit, dan Ara tidak ingin terlambat di hari pertama mereka masuk SMA.

“Ra, semoga kita sekelas lagi ya. Katanya SMA itu menyeramkan, gue takut nih,” kata Yasti dengan wajah cemas.

“Hahaha, malu sama sabuk hitam, Yas," terkekeh Ara saat mendengar perkataan sahabatnya. Yasti adalah pemegang sabuk hitam dan pernah menjadi juara pertama dalam kejuaraan Taekwondo.

“Ih, Ra! Lu ngeselin tau,” protes Yasti.

"Lagian, nggak usah takut-takut. Kita kan berdua. Sabuk hitam kayak lu, kok takut sih," balas Ara sambil tersenyum.

Lima menit telah berlalu dan mereka akhirnya tiba di gerbang sekolah. Meskipun terlambat, beruntung mereka tidak dikenai hukuman apa pun. Terlihat di depan gerbang bahwa para murid telah berbaris di tengah lapangan, jadi keduanya berlari menuju barisan.

"Tess, Tess. 1,2,3," terdengar suara mikrofon.

Di depan mereka, seorang wanita dewasa siap memberikan arahan pada para siswa yang berbaris rapi di lapangan.

"Halo semuanya! Selamat pagi bagi para siswa dan siswi baru yang bergabung di sini. Saya adalah Rita, Kepala Sekolah Oakmont."

Setelah memberi sapaan dan sambutan pada para siswa baru, kegiatan orientasi dimulai dengan bantuan kakak osis yang bertanggung jawab. Mereka membagi para murid baru menjadi empat kelompok, masing-masing terdiri dari lima belas orang dan didampingi oleh dua anggota osis.

Mengapa begitu sedikit?

Alasannya karena tes masuk ke sekolah ini cukup sulit dan rumit. Biayanya juga cukup mahal, dan persyaratan serta ketentuannya sangat rumit. Tidak semua orang bisa masuk ke sekolah ini. Untuk mendapatkan beasiswa saja, siswa harus mencapai nilai tertentu dalam setiap mata pelajaran dan nilai keseluruhan juga harus dipertimbangkan. Jika nilai di mata pelajaran tertentu kurang, maka nilai keseluruhan akan dipertimbangkan sebelum diputuskan apakah siswa tersebut layak diterima atau tidak. Masuk ke sekolah ini membutuhkan perjuangan yang keras.

Dan, Arabella Raveen berhasil! Semua itu terjadi berkat kerja kerasnya belajar siang dan malam.

"Wooohooo!! Ra, kita satu tim!" teriak Yasti sambil melompat kegirangan. Meskipun Ara masih kesal padanya, tapi Yasti tak kehilangan semangat.

"Seriusan? Baguslah," jawab Ara dengan tak terlalu antusias.

"Hah! Mulai sombong nih!" komentar Yasti.

"Jangan marah lagi, Ra. Gue kan sudah minta maaf," kata Yasti dengan suara penuh permohonan.

"Iya, iya. Tapi jalannya jangan kayak kura-kura. Coba berjalan lebih cepat. Untungnya kita tidak kena hukuman, kalau tidak bagaimana?" keluh Ara pada Yasti yang hanya tertawa. Dia tahu bahwa sahabatnya itu tidak akan benar-benar kesal padanya.

"Iya, Bu Ketua!" seru Yasti dengan lantang, tanpa sadar menarik perhatian orang sekitar.

"Eh, kamu dengan rambut kuda! Jangan berisik! Perhatikan dan dengarkan arahan Ketua OSIS," tegur kakak kelas, membuat mereka di sekitar mulai menatap mereka.

"Rambut gue kayak kuda?! Apa-apaan itu?!" terkejut Yasti, namun juga merasa kesal.

"Diam-diam sedikit, Yas. Nanti lu lagi-lagi ditegur," pintanya Ara pada Yasti yang tampak tidak senang disebut seperti itu. Memang suara Yasti terlalu keras sehingga terdengar oleh orang di sekitar mereka dan membuat mereka mendapatkan teguran.

Setelah pengarahan, semua peserta mulai berkumpul dengan grup masing-masing untuk memulai kegiatan orientasi.

“Halo, salam kenal sekali lagi. Jika ada yang lupa atau tidak memperhatikan, saya Reas Navarro. Tadi sudah diinfokan secara garis besar, jadi sekarang saya hanya akan menambahkan beberapa hal yang perlu kita lakukan hari ini.” Reas Navarro memperkenalkan dirinya dengan ramah di hadapan grup yang berisi Ara dan Yasti.

Menurut Ara, tampaknya Reas sedikit menyindir mereka berdua, terutama Yasti. Karena suara Yasti terdengar sangat kencang pada saat itu. Ara sendiri tidak pernah membuat suaranya bekerja keras seperti Yasti.

Terlihat seperti orientasi yang melelahkan, meskipun kegiatan yang diadakan bermanfaat bagi Ara, Yasti, dan peserta lainnya.

“Hah! Gila! Capek banget, deh!” gerutu Yasti dengan marah. “Ini orientasi apa neraka? Kenapa cuma gue yang disiksa?!” Terus-terusan mengeluh dan meluapkan kekesalannya, seakan-akan masih belum cukup.

“Maafkan gua, Yas. Sepertinya mereka sudah menandai lu karena kejadian tadi. Jadi, mereka sengaja menumpahkan semua tugas kepada lu. Padahal, gua juga bersuara saat itu. Gua sangat menyesal,” jelas Ara dengan penuh rasa bersalah.

“Mereka yang salah, Ra. Kenapa lu yang minta maaf sih! Kebiasaanmu banget, suka menggantikan orang meminta maaf,” gerutu Yasti pada Ara.

“Bukan begitu, Yas. Gua merasa tidak enak dan bersalah pada lu. Lu jadi kesulitan sendiri,” ujar Ara dengan suara lirih.

“Tidak apa-apa. Selain itu, lu juga membantu gue dan ini bukan salah lu. Mereka yang merasa tersinggung pada gue. Awas saja kalau uuph…” Ara cepat-cepat menutup mulut Yasti ketika melihat Ketua Osis dan Wakilnya mendekat ke arah mereka.

“Sssttt! Diam saja, Yas. Ketua Osis dan Wakilnya datang ke sini,” bisik Ara pada Yasti sambil menunjuk dengan wajahnya ke arah kedua orang itu.

“Ishh! Mau apa lagi coba mereka datang ke sini. Gue benar-benar tidak suka, apalagi dengan wakilnya,” ujar Yasti dengan rasa tidak suka.

“Sabarlah dan tahan saja,” Ara mencoba menenangkan Yasti karena dia tahu betul sifat sahabatnya itu. Dia berani mengambil tindakan dan tidak kenal takut selama dia tidak melakukan kesalahan.

“Halo, kalian sudah bekerja keras, terutama kamu. Nama kamu siapa?” sapa Ketua Osis dengan ramah.

“…,” Yasti diam dan menunjukkan rasa tidak suka. Ara mencubit pinggang Yasti pelan agar dia mau menjawab.

“Yasti,” jawabnya singkat.

“Baik, Yasti Radinka. Lalu, kamu siapa?” balas Ketua Osis dengan sopan.

Ara diam dan memikirkan apapun yang dia ingin katakan. Sudah diketahui nama mereka, mengapa masih harus bertanya? Ara memilih untuk diam saja.

“Saya, Arabella Raveen, Kak,” ujar Ara dengan sopan.

“Baik, kalian berdua melakukan tugas yang sangat baik tadi. Saya datang untuk meminta maaf karena salah satu anggota kami melakukan hal yang tidak adil pada kalian, terutama pada Yasti. Orang tersebut adalah wakil saya. Jadi, maafkan saya karena tidak dapat mengatur anggota kami. Teman saya juga ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Silakan, Lesti,” jelas Reas pada mereka berdua.

“….”

Menurut Ara, Ketua Osis yang bernama Reas Navvaro terlihat keren karena ia memiliki keberanian untuk meminta maaf, meskipun bukan ia yang melakukan kesalahan. Lebih dari itu, Reas juga meminta temannya untuk meminta maaf kepada Yasti.

Ara memandang ke arah Yasti, dan melihat ekspresinya yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. "Lesti, bisakah kamu mengatakan apa yang telah kita diskusikan sebelumnya, terutama kepada Yasti?" dengan sopan meminta Lesti untuk bertindak.

Dengan enggan dan terpaksa, Wakil Ketua Osis meminta maaf kepada Yasti, ''Maaf, saya meminta maaf atas kejadian tadi.'' Kalau bukan karena Reas yang meminta, Lesti tidak akan mungkin melakukannya, gumam Lesti dengan raut muka yang kurang senang. Sebenarnya, Lesti sangat memperhatikan harga dirinya, terlebih lagi ia menyukai Reas yang tidak pernah memberikan respon. Namun Lesti tak bisa menahan perasaannya ketika melihat Reas tertarik pada Ara, seorang anak baru di sekolah yang juga merupakan teman dari si pembuat onar yang mereka kerjai.

Tentu saja, mereka tidak hanya mengejek Yasti, tapi juga Ara. Hanya saja, porsi ejekan yang diterima Ara tidak sebanyak Yasti.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Akibat Salah Pergaulan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai dari Laurence Andrews untuk ke-99 kalinya. Bukannya peduli, Laurence malah mengusir Josie dari mobil demi menerima telepon dari sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan pernah pergi. Namun, ia tidak sadar bahwa kesabaran Josie telah habis akibat terus diabaikan. Di saat yang sama, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera bercerai dan pergi dari negara itu selamanya.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.4
Di hari pernikahannya, seorang wanita dikhianati oleh keluarganya sendiri. Orang tua dan tunangannya, James, mendesak agar posisi pengantin digantikan oleh sang kakak yang sekarat demi memenuhi keinginan terakhirnya. Karena menolak, ia diikat paksa di rumah dengan janji akan dibebaskan setelah upacara selesai. Malangnya, saat ditinggal sendirian, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawanya dengan kejam. Ketika keluarganya akhirnya kembali, mereka hanya mendapati jasadnya yang telah membusuk.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Demi melindungi kehormatan ibu angkatnya, Gadis rela menjadi pengantin pengganti. Namun, kesalahpahaman fatal membuat Alex sangat membenci dan memperlakukannya dengan buruk. Tidak tinggal diam, Gadis berani melawan kekejaman tersebut sambil terus menyembunyikan rahasia besar tentang identitas aslinya. Akankah Alex mampu membongkar misteri yang tersimpan rapat ini? Temukan kelanjutan kisah penuh ketegangan dan luapan emosi mereka selengkapnya di Bakisah.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa terus mendampingi pria yang dahulu hidupnya telah ia hancurkan. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, akankah ketulusan Nada mampu meluluhkan amarah di hati Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf hanya akan berujung sia-sia?
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan