APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menghamili Istri sang Pewaris

Menghamili Istri sang Pewaris

Demi ambisi pribadi, Fayre menjebak cinta pertamanya, Bramasta, ke dalam pernikahan dingin tanpa cinta. Bukannya kasih sayang, ia justru harus menerima kebencian dan rasa jijik dari sang suami. Saat terabaikan dan putus asa, takdir mempertemukannya dengan Aliando Xavier yang merenggut kesuciannya. Kini Fayre terjebak dilema besar, mempertahankan rumah tangga dengan suami yang mencintai wanita lain, sambil menyembunyikan sebuah rahasia kelam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Masih di hotel sama, tempat berbeda, Fayre berlari terbirit-birit meninggalkan kamar mengerikan itu. Dia sempat menabrak seorang lelaki saat membuka pintu, tanpa meminta maaf gadis itu berlalu. Sungguh tidak ingin dia berlama-lama terlibat bersama lelaki mesum menyebalkan tersebut. Fayre merasa sedikit lega walau tubuh masih gemetar. Ponsel berdering, dia berhenti berlari. Fayre merogoh ke dalam tas selempang kecil yang sedari dibawa, tertera nama Mariane di benda pipih yang dipegang. Dia menenangkan diri, mengatur napas yang terputus-putus, sebelum mengangkat panggilan.

“Darling, kau di mana? Kami sudah berada di depan kamar Bramasta?" berondong Ludwig dari saluran ponsel.

“Aku tersesat, aku lupa nomor kamar yang kalian beritahukan,” keluh Fayre.

“Oh, astaga maafkan kami meninggalkan dirimu sendiri." Suara berganti milik Mariane. "Tadi aku dan Ludwig pergi ke pos keamanan, berkatnya tadi kita memiliki bukti perselingkuhan saat Bram mengajak wanita ke kamar hotel dan yeah, kami juga mengantongi hasil CCTV dari sudut berbeda!” beber Mariane bangga.

“Baiklah, kamar berapa Bram membawa wanitanya?” Suara Fayre bergetar.

Mendadak emosi jiwa seketika, gadis itu menutup panggilan ponsel usai mendapat jawaban diinginkan. ‘Salahkah aku mencintaimu, Bramasta. Mengapa kau memilih memadu kasih dengan wanita lain daripada aku, istrimu,’ keluh Fayre menghapus buliran air mata yang sempat menetes di pipi.

Fayre masuk ke dalam lift kali ini keadaan sepi, beruntung tidak ada orang melihat, tubuhnya sempoyongan mengan sakit yang tidak nampak, sungguh nelangsa rasanya. Tangan kanan memukul-mukul dada menahan nyeri bak dirajam. Tring! Pintu lift terbuka, Fayre mengepalkan tangan, menahan emosi bercampur duka lara. Dia menghapus lelehan air bening menggunakan punggung tangan. Dihela napas panjang, langkah tegap menyusuri ruangan, di ujung lorong.

Terlihat Mariane yang langsung berlari menghambur ke pelukan Fayre. Sungguh Mariane paham benar sakit hati sahabatnya tersebut walau sang sahabat memperlihatkan diri pura-pura kuat. Dia tahu cinta Fayre tulus untuk Bramasta. Hanya saja perbuatan lelaki tersebut saat meninggalkan Fayre sendirian usai pernikahan, membuat Mariane benci.

‘Lelaki kejam, tega menyakiti gadis sebaik Fayre, kurang ajar!’ umpat Mariane. “Kau siap untuk memberi peringatan pada pasangan brengsek itu, Darling?” tanyanya.

“Yeah, ayo. Sudah sampai sini aku juga harus melihat wanita sialan itu, bukan?” sahut Fayre.

“Kau harus kuat ada kami, Sayang,” lontar Ludwig.

“Emm, kalian terbaik ayo kita lakukan.” Tatapan Fayre menajam, dalam kubangan amarah dia mendorong pintu dengan sangat keras. Brak! Suara pintu terkantuk dinding.

Terlihat ruangan nan luas, dinding bercat putih bersih. Di atas ranjang king size terdapat sepasang kekasih memadu cinta. Erangan keduanya terhenti, mereka terlihat terkejut menoleh arah pintu bersamaan Fayre masuk ke dalam. Netra Fayre memanas, jantung berdegup kencang, gadis itu mengepalkan tangan menguatkan hati.

'Tenangkan dirimu, Fayre.' Gadis itu menguatkan diri sendiri, bibirnya terkatup rapat.

Dengan mata kepala sendiri Fayre melihat Bramasta, tunangannya bergerak naik turun di atas tubuh wanita lain. Menjengkelkan lagi tanpa canggung Bramasta menyisih dari tubuh wanita yang ditindihnya. Lelaki tersebut meraih mantel tidur sedang sang wanita menutup tubuh telanjang dengan selimut. Fayre melirik sekilas tubuh mungil wanita itu.

“Jadi seleramu demikian?” Tanpa basa-basi Fayre berucap, ah hanya itu yang mampu terucap. Amarah tadi mendadak lebur saat dirinya bersua lelaki pujaan hati, sungguh lemah, bukan. “Kau meninggalkan acara pertunangan kita hanya untuk wanita itu Bramasta?” cicit Fayre, terlihat semakin bodoh.

“Memangnya kenapa?” Suara bariton Bramasta terdengar.

Fayre melangkah mendekati Bramasta, dia melihat tanda merah di bagian dada yang tidak tertutup mantel tidur warna putih itu. “Kau bilang kenapa? Tidakkah kau tahu, Ibu Natalie menangis menunggumu dari tadi, tidakkah kau tahu aku ….” Mendadak mulut Fayre kelu, sungguh dia terlihat mengemis cinta saat ini, sial memang.

Namun, itu kenyataan sedang terjadi. Fayre luluh begitu saja tanpa daya, melihat bola mata Bramasta saat keduanya bersitatap, seolah semua kebencian, amarah membuncah tadi lenyap seketika entah ke mana rimbanya. Cinta membumbung tinggi membuat Fayre kalah pada perasaan sendiri, memang tidak ada orang segila dirinya dalam mencintai.

Bramasta tertawa, menunjuk ke arah wajah Fayre, “Aku tidak menginginkan pernikahan ini, kau yang menjebakku. Jika bukan karena sokongan dana sialan ayahmu untuk perusahaan yang membuat ibu menekanku!" pekiknya. "Apa yang terjadi sekarang, semua salahmu, nikmati pertunangan yang kau inginkan!” Suara Bramasta semakin meninggi, dia menuding, menatap sang tunangan jijik seperti sampah kotor. “Pergilah, kau membuatku semakin membencimu,” cemoohnya.

Dada Fayre berdenyut mendengar, tidak pernah sekali pun gadis tersebut dihina sedemikian rupa. Dia menutup mata menahan gejolak bertumpuk dalam benak, dia mengaku salah menginginkan pernikahan. Beberapa tetes butir air mata meleleh. Oh, saat ini yang dapat Fayre lakukan hanya bersabar sejenak dalam waktu kurang sebulan mereka akan menikah.

“Pulanglah Bramasta, mari kita mulai hidup baru, ok. Aku tidak akan mengadukan apa yang kau lakukan pada keluarga kita,” mohon Fayre sekali lagi, mencoba mengorek hati nurani Bramasta.

Gadis itu merasa mungkin Bramasta membutuhkan waktu untuk berpikir sejenak, bermain sebentar lalu pulang. Dia menganggap Bramasta akan luruh hati akan ketulusan cinta yang Fayre beri.

"Kau benar-benar tidak tahu malu atau bagaimana? Bramasta menyuruh pergi." Wanita yang baru beberapa detik lalu mengerang di bawah kungkungan Bramasta turun dari ranjang, masih mengenakan selimut menutupi tubuh polosnya. 'Kau pikir dapat meluluhkan hati Bramasta dengan menyebut nama ibunya, huh! Tidak akan kubiarkan,' ucap wanita itu dalam hati. Dia tidak ingin Bramasta bersimpati pada sang istri.

"Ini urusanku dengan calon suamiku, jalang. Kau siapa berani ikut campur?" pekik Fayre meneriaki wanita itu.

"Kau, mengumpat diriku? Sungguh keterlaluan," cebik wanita tadi, "Sayang, kau dengar apa yang tunangan tidak tahu malumu itu katakan?" lapornya pada Bramasta, menambah amarah lelaki itu. "Atau mungkin memang seharusnya aku pergi saja jauh ketika mendapatkan kabar kau akan menikah," tambahnya dengan suara terisak. 'Kurang ajar sekali, siapa kau mengumpat diriku?' cebik dalam benak.

"Apa yang kau katakan, Sayang? Adinda, kau tahu, dirimu satu-satunya wanita yang aku cintai, percayalah," ujar Bramasta dengan suara lembut.

Lelaki tersebut membalikkan badan, mengelus wajah wanitanya dengan sayang. Dada Fayre naik turun menyaksikan Bramasta mesra pada wanita bernama Adinda tersebut. Dia memijat kening yang mendadak ikut berdenyut. Tidak pernah sekali pun Bramasta bertutur kata penuh kasih sayang seperti itu padanya.

"Bramasta, mari kita pulang, aku mohon." Suara Fayre lirih putus asa.

Sayang, itu hanya membuat Bramasta terprovokasi, amarahnya meledak. Masih ingat bagaimana sang ibu memohon agar dirinya mau menikahi Fayre. Satu hal yang menjadi pertimbangan Bramasta, bagaimana jika gadis itu melakukan hal sembrono, apa yang akan terjadi pada sang ibu kelak? Frustrasi, dia mengacak-acak rambut, perilaku Fayre justru dianggap menjijikkan, Bramasta beranggapan Fayre gadis tidak tahu malu.

“Kau mengganggu kesenangaku, jalang!” teriak Bramasta. Memutar tubuh menghadap Fayre.

Matanya memerah, melebar, tangan kanan Bramasta mencekal pipi Fayre. Gadis itu menahan napas saat tubuhnya dihempaskan ke tembok. Ingin berteriak tetapi tangan Bramasta sudah mencengkeram leher Fayre, mencekiknya.

“Sayang, apa yang kau lakukan, dia bisa mati?” teriak wanita Bramasta mulai panik.

Fayre memukul-mukul lengan Bramasta tanpa arti, lelaki itu bergeming, masih kokoh dan semakin mencekik kuat. Tubuh Fayre mulai lemas, sesak, sulit bernapas. ‘Apakah aku akan mati di tangan orang yang aku cintai?’ keluh Fayre kehabisan tenaga, kedua tangan yang melawan luruh.

Bersambung….

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel Jangan Pernah Menyentuh Anakku
9.5
Demi masa depan sang putra, Aurora Elenna terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Kaelan Dirgantara. CEO dingin itu dahulu telah menghancurkan hidupnya, tanpa tahu bahwa Ravi adalah anak kandungnya sendiri. Kini, Aurora yang cerdas kembali memakai identitas baru untuk melawan ancaman Selina Pramudya. Di tengah intrik perebutan harta dan rahasia besar, ia dilema antara membalas dendam atau jujur saat Kaelan mulai mencurigai jati diri asli istri kontraknya.
Sampul Novel Kembar Manis: Memuaskan Diri dalam Cinta Ayah
8.1
Ningsih terpaksa menjadi ibu pengganti demi membiayai pengobatan ibunya. Lima tahun berlalu, ia telah sukses menjadi dokter anak dan dipertemukan kembali dengan Charles, pria misterius masa lalu yang mengasuh seorang putra. Konflik kian rumit saat lelaki lain hadir membawa bayi perempuan yang diakui sebagai anak kandung Ningsih. Di tengah misteri masa lalu yang perlahan terbongkar, sanggupkah Ningsih menghadapi takdir berliku ini?
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder
9.2
Hubungan intim semalam membawa Raina ke dalam asmara serius dengan miliarder Felix. Sayangnya, Felix mencampakkannya demi cinta pertama yang kembali, meninggalkan Raina dengan selembar cek. Tanpa air mata, Raina pergi membawa senyum. Saat mereka bertemu lagi, Raina telah menggandeng pria baru. Felix yang kini terbakar cemburu setengah mati berbalik mengejarnya, bahkan rela mengantre demi mendapatkan kembali hati sang mantan yang dulu ia sia-siakan.
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Ayahnya, Tuan Anggoro, adalah sosok yang sangat baik, namun kesibukan bisnis membuatnya jarang berada di rumah. Praktis, Naldo hanya dirawat oleh asisten rumah tangganya sejak bayi. Ketika sang ayah memintanya memilih ibu baru, Naldo justru teringat sosok wanita misterius dari mimpinya. Begitu takdir mempertemukan mereka di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski terhalang perbedaan usia.
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Demi membalas budi, Melanie rela menikahi Ashton. Namun, ia hanya mendapat derita, bahkan sang suami tega berniat memeras darahnya tanpa empati. Kecewa dengan kekejaman itu, Melanie pun menuntut cerai demi harga diri. Di tengah proses perpisahan, rahasia besar terbongkar; Melanie ternyata seorang miliarder, memicu kehebohan publik. Saat situasi memanas, ia baru menyadari bahwa paman Ashton, Derek, selalu melindunginya secara diam-diam.