APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menghamili Istri sang Pewaris

Menghamili Istri sang Pewaris

Demi ambisi pribadi, Fayre menjebak cinta pertamanya, Bramasta, ke dalam pernikahan dingin tanpa cinta. Bukannya kasih sayang, ia justru harus menerima kebencian dan rasa jijik dari sang suami. Saat terabaikan dan putus asa, takdir mempertemukannya dengan Aliando Xavier yang merenggut kesuciannya. Kini Fayre terjebak dilema besar, mempertahankan rumah tangga dengan suami yang mencintai wanita lain, sambil menyembunyikan sebuah rahasia kelam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebelum kejadian naas tersebut, di kota Sun Flower, bunga mawar menghias indah tertata rapi di dinding juga ranjang sebuah kamar hotel. Kelopak bunga bertebaran di sprei, lilin aromaterapi dinyalakan untuk menambah harum. Semua fasilitas mewah disediakan keluarga Wicaksono peraduan makan malam romantis sebagai hadiah pertunangan. Bramasta Adijaya baru saja menyematkan cincin di jari manis Fayre Wicaksono. Pernikahan akan dilangsungkan kurang dari sebulan, acara yang bagi sebagian orang menjadi peristiwa bersejarah bahagia. Bertepatan akhir dari musim panas, gerimis pertama membasahi kota Sun Flower. Ah, seharusnya malam itu membahagiakan. Namun, tidak dengan Fayre, calon tunangan yang baru saja mengikatnya pergi entah ke mana. Meninggalkan Fayre seorang diri menyambut tamu, hanya ada keluarga mempelai putri dan Natalie, ibu dari Bramasta menangis sesengukan, meminta maaf atas tindakan sembrono Bramasta.

Meski demikian Fayre tetap bahagia, mengingat sudah dua tahun lebih memendam cinta pada Bramasta. Cinta yang membuat Fayre seperti orang gila, meski tahu benar Bramasta sudah memiliki pujaan hati, pastinya bukan dirinya. Fayre tidak peduli, dia tuli dan buta akan hal sekitar. Fokus hanya pada rasa membelenggu dalam atma. Berpikir jika suatu hari nanti Bramasta berpindah hati, menerima setelah menikah. Sayang dia tidak tahu bencana apa menghadang di hadapan. Mariane Zulfikar dan Ludwig sahabat karibnya mendatangi Fayre yang masih menunggu sang suami. Dia duduk mengulas senyum, tangan mulus itu menyentuh kelopak bunga mawar merah yang ada di kamar.

Suara pintu kamar terbuka, gadis itu beranjak bangun, mengedarkan pandang di sekitar melihat betapa megah kamar hotel yang disediakan kedua orang tuanya. Ruangan luas, bercat putih, kontras dengan ranjang juga gorden berwarna gold. Fayre melepas jubah lingerie, menyisakan dress bagian dalam dengan tali menggantung di lengan. Menampilkan lekuk tubuh tinggi semampai.

“Kalian,” sapa Fayre terkejut, senyumnya lenyap melihat kedua orang sahabatnya masuk ke dalam kamar. Awalnya dia mengira calon suami yang masuk. Fayre menundukkan kepala, menahan malu, menyembunyikan pipi merahnya.

“Kau kira siapa, hem? Calon suami brengsekmu yang datang?” cebik gadis berambut ikal panjang itu.

“Mariane,” panggil Fayre menatap sang sahabat yang baru saja mengumpat calonnya.

“Kau menunggu si brengsek itu? Dia sedang memadu kasih dengan jalangnya,” ejek Ludwig, lelaki berhidung mancung dan bertubuh tinggi itu nampak gagah dalam balutan kemeja warna putih yang sejak tadi dia kenakan.

“Apa maksud ….” Fayre mengerutkan kening hendak memarahi mulut pedas Ludwig.

Mariane menyodorkan ponsel miliknya, di sana berputar video Bramasta menggandeng mesra seorang wanita masuk ke dalam sebuah kamar hotel. Bahkan di depan kamar mereka tidak tahu malu berciuman panas. Dada Fayre bergemuruh, sesak seketika sulit bernapas menyaksikan adegan dalam tayangan ponsel tersebut. Mata berkunang membuat dia limbung, Ludwig cepat meraih Fayre agar tidak jatuh. Tubuh wanita itu bergetar hebat tidak percaya akan tindakan lelaki yang dia cinta.

"Apa semua ini?" lirih Fayre.

Dalam kesempitan, tidak sengaja Ludwig melihat belahan dada membusung Fayre. Sangat kenyal saat tidak sengaja tersentuh lengannya. ‘Tuhan, mengapa sahabatku ini sangat menggoda, kuatkan imanku,’ keluh Ludwig dalam hati. Susah payah dia menelan saliva, menetralisir pikiran agar tetap waras. “Oh, ayolah, Sayang jangan demikian. Bangkit aku mohon. Kita harus segera menangkap bajingan itu. Berhenti menangisi lelaki macam dirinya.” Ludwig menguatkan Fayre yang mulai terisak.

“Pakailah,” ucap Mariane menutup tubuh sahabatnya dengan mantel lingerie yang sempat dilepas Fayre tadi.

“Kau mau bersusah hati di sini, atau kita kejar si gila Bramasta itu ke kota Amarillys?” tanya Ludwig.

“Aku harus tahu kekasih Bramasta,” jawab Fayre pada akhirnya.

"Kami akan mendukung apa pun yang kau lakukan, Dear." Mariane menyemangati.

“Baiklah, aku tidak sabar untuk membuat perhitungan padanya,” cibir Ludwig.

Pada malam hari, saat hujan pertama turun pertanda berakhir musim panas. Mereka memutuskan pergi ke kota Amarillys menemui Bramasta dan wanitanya.

Baik Ludwig maupun Mariane sama sekali tidak berpikir akan ada insiden mengerikan. Tepat setelah mereka menemukan kamar hotel Bramasta, keduanya menyesal membiarkan Fayre masuk ke dalam sendiri. Terdengar kegaduhan juga teriakan membuat Ludwig, Mariane saling pandang, mereka gegas masuk melewati pintu yang sedikit terbuka. Marianae menutup mulut dengan kedua tangan, mata melotot ke arah sudut ruang di mana Bramasta mencekik sahabatnya. Ludwig bergerak cepat mendekati.

Bugh!

"Aaa!" teriak Adinda melihat Bramasta dipukul.

Pukulan Ludwig mengenai pipi Bramasta, cekalan tangan terlepas, Fayre luruh terduduk lemas. Mariane berlari mendekat lalu memeluk sang sahabat. Bramasta sendiri sempoyongan jatuh ke lantai.

“Kau iblis, Bramasta!” pekik Mariane menuding. “Oh Tuhan, Fayre kau ok?” tanya Mariane melihat gadis dalam pelukannya terbatuk-batuk. “Harusnya tadi kami tidak mengizinkan dirimu masuk sendirian,” sesalnya.

“Kau bajingan, Bramasta, apa yang kau pikirkan? Membunuh wanita yang mencintaimu?” pekik Ludwig masih mengepalkan tangan.

“Bajingan kau bilang, heh! Tahu apa kau hah?” cecar Bramasta, terhuyung dia bangkit berdiri dibantu Adinda yang masih berbalut selimut tebal.

Ludwig menatap nanar ke arah Bramasta dan pasangannya, terlihat jelas tanda merah di area dada juga leher wanita itu, bisa dibayangkan adegan panas berpeluh keduanya sebelum mereka datang. “Dasar pasangan mesum menjijikkan!” umpat Ludwig. Cuih! Dia membuang ludah ke samping. Bramasta mengepalkan tangan siap menyerang Ludwig, keduanya hampir adu tinju.

“Ludwig, kita pergi!” Suara Fayre terdengar lantang, dia sudah berdiri dengan dipapah Mariane. Gadis itu meraih jemari Ludwig, membuat lelaki tersebut menoleh, “Please,” lanjutnya.

Melihat tatapan menyedihkan sang sahabat rasanya Ludwig benar-benar ikut hancur, “Ok,” jawabnya lalu merangkul Fayre, membawa keluar.

Entah apa yang terjadi dari luar terdengar suara mirip kaca pecah, mereka tidak memperdulikan lagi hal tersebut.

Fayre tidak mampu lagi menahan tangis, dia tersedu-sedu. Mereka sekarang duduk di area lobi hotel. Baik Mariane mau pun Ludwig tidak ada yang mereka berbicara, mereka memberikan waktu untuk Fayre meluapkan rasa sedih. Paham benar saat ini Fayre hanya ingin ditemani juga didengar keluh kesah, bukan untuk dibantah apalagi disalahkan.

“Kalian berdua kembali dulu ke kota Sun Flower, aku ingin sendirian sebentar di kota ini,” keluh Fayre mulai tenang, air mata tidak lagi mengalir, tersisa sesengukan mengganggu kala berucap.

“Oh Sayang, ayolah jangan gila. Apa yang akan kau lakukan, menemui bajingan sialan itu?” cicit Ludwig.

“Kalian pikir setelah apa yang dia lakukan aku akan diam?” keluh Fayre menyodorkan ponsel ke arah kedua sahabatnya. Tertera di sana chat Fayre dengan orang diduga pengacara, isi chat tersebut membahas surat pembatalan pernikahan.

“Good.” Ludwig mengangkat ibu jari.

“Kau yakin, Dear?” tanya Mariane, tahu benar Fayre berada di posisi sulit.

Fayre menghapus air mata kemudian mengangguk, dia bangkit berdiri membuat kursi berderit. “Aku akan jalan-jalan sebentar di kota ini. Kalian pulang duluan, sopir sudah dalam perjalanan menjemputku,” ucap Fayre.

“Aku temani kau,” pinta Mariane.

“Please, aku mohon, biarkan aku sendiri untuk saat ini. Aku janji tidak akan menemui Bramasta. Kalian pulang dahulu!” mohon Fayre.

“Baiklah, kita pulang, ayo Mariane,” kata Ludwing menggandeng sahabatnya yang nampak meronta keberatan.

“Aku ….” Mariane tidak bisa melanjutkan kalimat lantaran Ludwig menutup mulutnya.

“Kau nikmati harimu, Darling. Kami pergi,” ucap Ludwig seraya menyeret Mariane.

“Kau gila Ludwig mau meninggalkan sahabat kita sendiri?”

Pekikan Mariane terdengar Fayre. Namun, dia tidak mempedulikan. Sakit hati atas pengkhianatan dan perlakuan tidak manusiawi Bramasta membayang di pikiran. Ingin rasanya dia pergi sejauh mungkin, menghilang.

Fayre mengelus lehernya masih terasa sakit bekas cekikan sang calon suami. "Kau sungguh bajingan, Bramasta. Akan aku balas semua perbuatanmu padaku berkali lipat!" geram Fayre.

Bersambung….

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CUKUP SETAHUN AKU DI SISIMU, MAS
9.0
Menjadi istri siri kedua sangatlah berat, apalagi setelah aku tahu bahwa istri sah suamiku ternyata sahabat dekatku sendiri. Di tengah situasi rumit ini, aku terpaksa bersandiwara dan menutupi jati diriku yang sebenarnya agar tetap bisa bertahan bersamanya. Selama satu tahun penuh konflik dan kepalsuan ini, sanggupkah aku terus menyembunyikan kebenaran besar tersebut tanpa merusak ikatan persahabatan yang kami miliki?
Sampul Novel Dive In You
9.2
Maryam dan Alaska menghadapi ujian berat saat cinta tulus mereka terbentur perbedaan keyakinan. Jurang iman yang membentang luas ini menjadi rintangan menyakitkan di antara keduanya. Situasi kian rumit ketika mereka terpaksa menerima rencana perjodohan dari keluarga masing-masing. Walau mencoba pasrah pada garis takdir dan simbol agama masing-masing, perasaan mereka tidak begitu saja padam. Akankah ada celah bagi cinta mereka untuk bersatu kembali di tengah tuntutan bakti dan konflik batin?
Sampul Novel Hancur Karena Cinta yang Berkhianat
9.5
Di puncak kesuksesan kariernya setelah tiga tahun menikah, Aluna siap menanti kehadiran buah hati. Namun, kebahagiaan saat ingin membagikan kabar kehamilannya sirna seketika. Di kantor, ia memergoki Raka bersama wanita lain dan seorang anak kecil. Tanpa penyesalan, sang suami justru dingin meminta cerai demi mereka yang tak sedarah. Akankah Raka menyesal nanti setelah sadar telah membuang darah dagingnya sendiri?
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Menjebak Ivander dalam pernikahan paksa rupanya menjadi penyesalan terbesar bagi Nada. Meski begitu, cara ini adalah satu-satunya jalan agar ia bisa terus mendampingi pria yang dahulu hidupnya telah ia hancurkan. Terbelenggu rasa bersalah, Nada kini bertekad menebus dosa masa lalu lewat pengabdiannya sebagai istri. Namun, akankah ketulusan Nada mampu meluluhkan amarah di hati Ivander, ataukah perjuangannya meraih maaf hanya akan berujung sia-sia?
Sampul Novel Rahasia Kelam Suamiku
8.8
Mimpi burukku dimulai di sebuah vila Puncak. Di sana, aku mendapati adik Baskara yang dikira telah tiada rupanya masih hidup. Suami dan orang tuaku bahkan merawat anak hasil hubungan gelap mereka. Lima tahun lamanya aku diperalat demi menutupi skandal keji ini. Kini, Baskara berniat menjebloskanku ke rumah sakit jiwa. Usai membakar vila itu untuk kabur, aku terpaksa bersekutu dengan rival terbesar suamiku demi membalas pengkhianatan mereka.
Sampul Novel Terjebak Dalam Mantra Istriku
8.8
Demi membalas dendam pada keluarga Evans, Lena yang lahir dari perselingkuhan terpaksa berpura-pura menjadi putri mereka untuk menikahi Dylan karena diancam. Lena sengaja memikat Dylan hingga pria itu mencintainya dengan sangat obsesif, lalu memakai perasaan tersebut untuk merusak nama baik Evans. Namun, di tengah aksi balas dendamnya, Dylan mulai menaruh curiga pada identitas asli istrinya yang menyembunyikan rahasia gelap di balik daya pikatnya.