APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel MENGEJAR CINTA ANAK KYAI

MENGEJAR CINTA ANAK KYAI

Andre, putra konglomerat yang putus asa akibat paksaan nikah orang tuanya, batal mengakhiri hidup setelah diselamatkan oleh Amira, seorang anak kyai. Peristiwa itu mendorong Andre untuk hijrah dan memperdalam agama demi memikat hati Amira. Sayangnya, impiannya runtuh seketika saat melihat Amira bertunangan dengan Adam. Andre kini dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit berjuang mendapatkan cintanya atau menyerah dan kembali terpuruk dalam depresi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Matahari pagi mulai menyinari kamar villa tempat Andre menginap, sinar mentari tersebut menyentuh wajahnya dan membuatnya terbangun dari tidur. Seakan tubuhnya merasakan energi yang mendalam, ia segera menyadari bahwa ini adalah hari yang sangat penting. Tanpa ragu, ia bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap menghadapi tantangan yang menunggu di depan.

Hari ini, Andre memiliki janji untuk menemui Amira, putri Kyai di kampung ini, yang akan membantu mencarikan kontrakan rumah baginya. "Apa yang akan terjadi jika Amira tidak bisa membantuku? Apakah aku akan bisa bertahan hidup di kampung ini saat hatiku sedang gelisah?" bisik hati kecil Andre. Setelah mandi dan berpakaian rapi, Andre melangkah keluar dari penginapan dengan langkah pasti. Rasa percaya diri memenuhi pikirannya, karena hari ini adalah awal dari babak baru dalam kehidupannya.

Perjalanan menuju rumah Amira adalah suatu pengalaman tersendiri, sekitar lima kilometer di tengah suasana kampung yang indah dan tenang. Jalanan yang dipenuhi oleh pohon-pohon hijau dan suara burung yang berkicau membuat suasana pagi di kampung ini begitu mengesankan. Andre merasa bahagia dengan keputusan yang telah diambilnya, bahwa ia siap menjalani petualangan dan menjelajahi tempat baru. "Sekarang semua bergantung pada pertemuan dengan Amira. Semoga dia mampu membantu menuntaskan masalahku saat ini," gumam Andre sambil melangkah semakin dekat ke rumah Amira.

Kali ini, ia tidak ingin gagal lagi seperti masa lalu yang pernah dihadapinya. Tetapi ia yakin, selama ada niat baik dan kerja keras, pasti ada jalan keluar. Tak lama kemudian, Andre tiba di rumah Amira yang terlihat megah dan indah, dengan pagar tinggi yang melindungi area sekitar rumah. Ia mengetuk pintu rumah dan disambut oleh seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya.

"Maaf mau ketemu dengan siapa?" Ucap Fikri yang merupakan seorang abdi kyai.

"Saya Andre, mau bertemu dengan Amira, pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih, karena Amira telah menolong saya. Kedua saya ingin mencari sebuah rumah yang di kontrakan atau di jual, untuk tempat tinggal saya di sini." Jawab Andre.

Andre kemudian diperkenankan menemui Amira yang sedang duduk di teras sambil membaca Al-Qur'an.

"Selamat pagi, Amira. Saya Andre, masih ingatkan laki-laki yang kamu selamatkan semalam? Saya ingin menanyakan mengenai kontrakan rumah yang ingin saya sewa," ujar Andre dengan sopan.

"Hssssssttt....mas ucapkan Assalamualaikum.... begitu, ini rumah pak kyai bukan selamat pagi yang mas ucapkan." Ucap Fikri memberi tau pada Andre.

Amira tersenyum ramah dan menutup Al-Qur'an yang ia baca, "Oh, ya. Silahkan masuk dan duduk dulu, Andre. Nanti kita akan bicarakan mengenai kontrakan rumahnya, karena yang tau masalah itu Nurjanah." Mereka pun duduk bersama di teras rumah Amira, sambil menikmati secangkir teh hangat yang telah disediakan oleh pelayan. Amira menunggu  Nurjanah datang.

Tak lama kemudian, Nurjanah sampai di rumah Amira. "Assalamualaikum....! Nurjanah mengucapkan salam saat masuk ke halaman rumah Amira.

"Waalaikum salam warahmatullahi wabarrakatuh." Jawab Amira yang langsung berdiri menyambut Nurjanah, sahabatnya.

"Nah.... kalau datang kemari, mas ucapkan salam seperti itu yah..!" Bisik Fikri yang mulai akrab dengan Andre.

"Oh....ok deh kalau begitu.. terimakasih yah." Sahut Andre lirih.

Setelah mereka semua duduk, Nurjanah mulai menjelaskan beberapa pilihan kontrakan rumah yang ada di kampung ini, lengkap dengan harga dan fasilitas yang ditawarkan. Andre merasa bersyukur bisa bertemu dengan Amira dan Nurjanah yang begitu ramah dan membantu. "Mereka benar-benar orang baik, aku beruntung sekali bisa bertemu dengan mereka di saat yang sulit ini," batin Andre. Setelah berdiskusi cukup lama, Andre akhirnya memutuskan untuk menyewa sebuah rumah kontrakan yang sekiranya nyaman. "Apakah rumah ini akan cocok untukku? Apakah lingkungannya nyaman dan aman?" gumam Andre dalam hati.

Nurjanah pun menawarkan untuk mengantar Andre ke rumah kontrakan tersebut agar bisa melihat kondisinya secara langsung. Dengan rasa senang karena menemukan kenyamanan dalam hidupnya, Andre berkata dalam hati, "Aku berharap ini menjadi awal yang baik dalam kehidupanku yang baru. Terima kasih, Amira dan Nurjanah. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."

"Terima kasih banyak, Amira, Nurjanah. Saya sangat berterima kasih atas bantuan kalian," ucap Andre tulus.

Nurjanah tersenyum, "Sama-sama, mas. Semoga kamu betah tinggal di kampung ini dan semoga kontrakan rumahnya sesuai dengan keinginan kamu."

"Iya mas, kalau ada perlu apa-apa panggil Fikri saja, dia Ajan membantu mas jika di perlukan." Sahut Amira.

"Ok.... sekali lagi aku ucapkan banyak terimakasih buat kalian, oh...ya ini ada sesuatu buat kalian tolong di terima." Ucap Andre sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih pada mereka.

"Tidak usah mas, kita semua iklhas membantu kamu." Amira menolak secara halus pemberian dari Andre.

"Baiklah kalau begitu aku mau beres-beres dulu." Andre menyimpan kembali amplop tersebut, dalam hatinya berkata. "Kalian memang gadis yang sangat baik, baru kali ini aku bertemu gadis seperti kalian, aku akan gunakan uang ini untuk membeli sesuatu untuk kalian."

"Mas Fikri, tolong bantu mas Andre beres-beres rumah." Ucap Amira menyuruh Fikri untuk membantunya.

"Baik mbak, saya akan bantu mas Andre hingga selesai." Jawab Fikri yang langsung memegang sapu untuk bersih-bersih.

"Ya sudah, kita berdua pamit dulu, assalamualaikum.." ucap Amira yang langsung pergi bersama Nurjanah.

Andre dan Fikri bersemangat membersihkan rumah yang baru saja akan mereka kontrak. Andre telah sepakat untuk tinggal di rumah ini karena dia ingin menenangkan pikiran, akibat tekanan dari kedua orangtuanya. Sekarang, Andre telah siap untuk mulai membersihkan serta mengatur rumah agar siap ditempati.

"Kita mulai dari mana, mas?" tanya Fikri sambil menatap ke sekeliling rumah yang masih berdebu dan berantakan.

"Kita mulai dari ruang tamu dulu, nanti kita lanjut ke kamar dan dapur," jawab Andre sambil mengambil sapu dan kain lap dari kotak yang mereka bawa.

Mereka mulai bekerja sama membersihkan ruang tamu. Fikri menyapu lantai, sementara Andre mengelap jendela dan perabot yang ada di ruang tersebut. Setelah selesai, mereka melanjutkan ke kamar tidur yang juga memerlukan perhatian ekstra karena debu menumpuk di setiap sudut ruangan.

"Kamu fokus mengatur kasur dan lemari, nanti aku bersihkan kamar mandinya," ucap Andre kepada Fikri yang mengangguk setuju.

Setelah beberapa jam bekerja keras, rumah kontrakan tersebut mulai terlihat rapi dan bersih. Keduanya merasa puas dengan hasil kerja mereka dan tidak sabar untuk segera menempati rumah baru ini.

"Bagaimana apa sudah bersih, mas? Kita berhasil membersihkan rumah ini dengan cepat," ujar Fikri sambil menepuk pundak Andre. Mereka sekarang makin akrab walaupun baru kenal.

"Tidak masalah, Bro. Terimakasih sudah mau membantuku untuk membersihkan rumah ini bersama, sekarang aku ingin membeli beberapa barang yang aku butuhkan, aku minta kamu anterin aku ke pasar, karena aku belum paham daerah sini bro." Andre mengajak Fikri untuk menemaninya membeli barang yang dia butuhkan.

"Baik mas, mari aku antarkan mas ke pasar." Jawab Fikri. Mereka berdua berboncengan. Fikri yang baru saja merasakan di bonceng pakai moge, dia merasa senang .

Sesampainya di pasar, Andre membeli berbagai macam barang yang di butuhkan, agar dia merasa nyaman dan tenang selama berada di sini. Dia juga ke minimarket untuk membeli makanan serta minuman sebagai stok, karena lokasi pasar cukup lumayan jauh. Setelah cukup Andre menyewa kendaraan untuk mengangkut barang yang dia beli. Beberapa lama kemudian mobil yang membawa barang dari pasar tiba di depan rumah yang di kontrak Andre.

Mereka mulai mengangkut barang-barang mereka ke dalam rumah, menata perabot dan menghias ruangan agar terasa lebih nyaman dan hangat. Setelah selesai, keduanya duduk di sofa ruang tamu, menikmati hasil kerja keras mereka sepanjang hari itu.

"Bro, makan dulu nih, kamu pasti sudah lapar kan?" Ucap Andre sambil menyodorkan kotak makanan yang berisi, nasi lengkap dengan lauk pauk yang dia beli saat mereka di kota.

"Wah.... terimakasih mas, kelihatannya enak ini." sahut Fikri yang langsung menyantap makanan tersebut

Tanpa terasa, waktu sudah sore, Fikri pamit untuk kembali ke rumah Amira, karena disana Fikri bekerja sebagai penjaga rumah Amira. "Mas, aku pamit dulu yah soalnya sudah sore, nanti di cariin sama Abi dan Umi kalau aku belum balik."

"Abi sama Umi itu siapa bro?" Tanya Andre yang masih belum paham.

"Abi itu bapaknya mbak Amira, dan Umi itu ibunya. Oh....ya kalau ada butuh sesuatu mas hubungi nomer aku saja yah." Sahut Fikri yang langsung menyebutkan nomor ponsel yang dia miliki.

"Ok... baik bro, sekali lagi terima kasih, dan ini buat kamu bro, sebagai tanda terima kasih." Andreas memberikan uang untuk Fikri sebagai tanda terima kasih.

"Terimakasih mas, ya sudah aku pulang. Assalamualaikum!" Fikri langsung pergi meninggalkan Andre seorang diri di rumah kontrakan yang dia tempati.

Andre merasa seolah menemukan ketenangan di tengah kehidupan yang penuh kebisingan dan kesibukan. Kampung yang baru ia singgahi ini sungguh membuat hatinya merasa damai. Setiap pagi, ia menikmati udara segar dan suara burung-burung yang berkicau riang. Ia bahkan tidak merasa terbebani untuk membantu penduduk kampung menyelesaikan pekerjaan mereka sehari-hari. "Sungguh, tempat ini begitu berbeda dari tempat asalku. Aku merasa semuanya serba lengkap di sini.

Kampung yang seolah terlupakan oleh waktu, namun memberikan kedamaian yang sulit kudapatkan di kota yang ramai," batin Andre dengan senyuman. Namun di balik kedamaian itu, hati Andre terus terbayang wajah Amira yang selalu hadir dalam pikirannya. Sejak dia bertemu Amira saat itu, Andre merasa ada yang berbeda dalam dirinya. "Aku selalu merindukan senyum Amira dan saat-saat kami saling menatap mata. Sejak pertama kali bertemu dengannya, entah mengapa aku selalu ingin ada di dekatnya," gumam Andre pada diri sendiri. Dia berharap suatu saat bisa lebih dekat dengan Amira. Meskipun belum ada kata-kata yang terucap, namun Andre merasa ada benih-benih cinta yang mulai tumbuh di hati keduanya.

Setiap hari Andre mejalani hidup berbaur bersama penduduk kampung, perasaannya terhadap Amira semakin menguat. "Tak bisa kulupakan momen indah itu. Dalam setiap embun pagi, dalam setiap hembusan angin, di tengah kesunyian malam, aku merasa begitu dekat dengan Amira. Aku ingin memegang tangannya, mengajaknya berbicara, menenangkan hatinya. Namun, bisakah aku meraih cintanya? Bisakah aku menjadi sosok yang ia butuhkan, sosok yang bisa menemani hidupnya?" desah Andre dalam hati, mencoba menyelami kedalaman perasaannya. Andre tahu tak ada yang pasti dalam kehidupan. Namun, setiap kali tatapannya bersua dengan Amira, keyakinan itu tumbuh subur di dalam hatinya; keyakinan bahwa ia pantas mendapatkan cinta Amira dan bersama-sama membangun masa depan yang indah di kampung yang damai itu.

Di malam yang sunyi, saat ia terjaga sambil memandangi langit berbintang, perasaan Andre mulai kacau. Andre merenungi kehidupan yang telah ia jalani dan bagaimana kehadiran Amira telah membuatnya merasa lebih hidup. "Apakah ini cinta yang membuatku begitu merasa lengkap?" gumam Andre pelan. Dia mulai merasakan ketenangan yang ia cari selama ini. Keputusannya untuk berhenti sejenak dari kesibukan kota dan menyepi di kampung ini ternyata menghadirkan kebahagiaan tak terduga.

Kini, Andre semakin yakin bahwa ia ingin tinggal lebih lama di kampung ini. Bukan hanya karena ketenangan yang ia dapatkan, namun juga karena hatinya yang telah terikat erat oleh cinta pada Amira. "Apakah dia juga merasakan hal yang sama, ataukah ini hanya perasaanku saja?" kekhawatiran itu mulai menyelinap, tetapi perasaan bahagia membayangi dirinya saat ia membayangkan kehidupan bersama Amira di kampung yang indah ini. Andre berharap suatu hari nanti, dia bisa mengungkapkan perasaannya, membangun masa depan bersama Amira, dan menciptakan kebahagiaan bersama di kampung ini yang penuh kedamaian.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA
8.8
Adinda terpaksa menikahi Alvin demi membiayai pengobatan Alvaro yang sedang koma. Namun, masalah rumit muncul saat ia mengetahui bahwa Alvin sebenarnya belum melajang. Tugas Adinda adalah membuat pria itu melupakan istrinya. Ketika ia berhasil memikat hati Alvin, Alvaro justru terbangun dari komanya. Adinda pun terjebak dilema besar: bertahan menjadi yang kedua bagi Alvin, atau kembali kepada Alvaro namun menghadapi penolakan keras dari pihak keluarganya.
Sampul Novel Kursi Panas di Kantor
8.9
Giselle Putri Natapradja, konsultan senior ambisius di The Converge, harus merelakan posisi partner impiannya direbut oleh Akira Hangga Aryanto, pria kompeten dari firma ternama. Keadaan kian pelik karena Akira adalah sosok dari masa lalu yang pernah terlibat cinta satu malam dengannya. Kini, di tengah rivalitas kerja yang sengit untuk membuktikan kapasitas diri, mereka juga harus berjuang keras menahan kembali gejolak asmara lama yang perlahan mulai membara.
Sampul Novel Memilih Untuk Mencintai Diriku
9.5
Sepuluh tahun berpacaran, Kennedy akhirnya setuju menikah. Namun, ia menolak berciuman saat foto prewedding dengan alasan misofobia dan pergi begitu saja. Setibanya di rumah baru, sang wanita justru mendapati Kennedy bermesraan dengan cinta sejatinya, Winona, bahkan berjanji membatalkan pernikahan. Sadar pengabdiannya sia-sia, ia memilih kabur lebih dulu. Kini, putra bungsu Keluarga Harath itu justru keliling dunia demi memohon agar mantan tunangannya bersedia kembali.
Sampul Novel Mengejar cinta Kayana
8.5
Rafandra Wirautama, pewaris tunggal konglomerat berusia 30 tahun, memilih menolak perjodohan keluarga demi mencari cinta sejati. Takdir lalu mempertemukannya dengan Kayana Tantri, perempuan cerdas berumur 28 tahun yang berwatak ketus. Walau awalnya kerap berdebat sengit, pesona Kayana justru memikat hati Rafandra. Ia pun nekat menyamar sebagai pria biasa demi mendekatinya. Jika rahasia ini terbongkar, Rafandra harus menyerah dan menikahi wanita pilihan orang tuanya.
Sampul Novel MOLLY, She Will Be Love
8.9
Molly merasa jenuh dengan rutinitas kuliah yang monoton dan sikap protektif sang kakak. Demi mengubah hidupnya sebelum lulus, ia menyusun rencana nekat untuk mendekati seorang dosen muda. Namun, langkah ini justru membawanya ke dalam situasi rumit. Molly kini terjebak di antara dua pria yang bersaing ketat demi memenangkan hatinya. Kedua lelaki tersebut sama-sama terpikat oleh pesona unik Molly, memicu perebutan cinta yang penuh dengan lika-liku tak terduga.
Sampul Novel Saat Hati Tertusuk Duri Cinta
9.2
Bagi Gina, asmara membawa petaka yang mengubah hidup indahnya menjadi mimpi buruk. Sejak Evan hadir, seluruh dunianya hancur tanpa sisa. Gina harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan calon bayinya, menderita cacat fisik pada wajah, serta melihat karier dan nama baiknya hancur lebur. Evan tanpa belas kasih meremukkan perasaannya. Kini, batin Gina tersiksa dan terluka sangat dalam, tertusuk duri tajam dari cinta yang begitu menyesakkan dada.