APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Melayani Hasrat Mertua Dan Ipar

Kehadiran ibu mertua dan adik ipar yang ingin menumpang tinggal membuat Galang cemas. Rumahnya yang kecil memicu kekhawatiran akan konflik dan sempitnya ruang. Namun, penjelasan tulus dari Gaby mengenai nasib malang keluarganya di desa berhasil menyentuh hati Galang. Atas dasar cinta pada sang istri, ia pun memberi izin. Kini, Galang harus bersiap menghadapi babak baru yang menantang demi menjaga keharmonisan rumah tangga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Galang dengan sigap menunggangi motornya lagi ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi keras dari dalam saku jaketnya. Dengan gerak cepat, ia mengambil ponselnya, tapi begitu ia melihat nama ayahnya muncul di layar, dia langsung menekan tombol merah. Sesaat, matanya terlihat gelisah sebelum dia mengaktifkan mode pesawat. 

"Siapa yang nelpon, Kak?" tanya Amel dengan nada penasaran. Galang memandang Amel, matanya mengeras, 

"Bukan urusanmu," ujarnya, suaranya terdengar begitu dingin hingga Amel terperanjat dan wajahnya muram.

Melihat ekspresi Amel berubah, Galang hanya mengangkat bahu, tanpa rasa bersalah. "Mau naik atau gimana?" tanyanya, suaranya masih menyisakan ketegangan.

Sejenak mata Galang terarah tajam ke jalan raya, mencoba berpikir jernih. Tangan kanannya menggenggam kuat stang motor, sementara tangan kiri masih memegang ponsel yang baru saja dimatikan.

Amel, yang masih terkejut dengan respons mendadak Galang, memperhatikan lekukan ketegangan di wajah kakak Iparnya itu. Keningnya berkerut, dan ada semburat kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Dia menarik napas, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya lagi, namun melihat tatapan tajam Galang, ia urungkan niatnya.

"Naik atau tidak?" ulang Galang, suaranya lebih keras kali ini, seakan ingin segera meninggalkan tempat itu. Amel hanya mengangguk pelan, hatinya masih diliputi kebingungan. Dengan perasaan yang campur aduk, ia naik ke belakang motor, memegang pinggang Galang dengan ragu.

Motor pun melaju kencang, meninggalkan keheningan yang belum terpecahkan, sementara pikiran Amel melayang, mencoba menebak-nebak apa yang sedang terjadi.

Tak lama kemudian, motor berderu pelan, dan Galang dengan hati-hati mengarahkan kendaraannya menuju lokasi pusat perbelanjaan. Wajahnya serius, seolah-olah membawa beban yang berat.

"Maaf dek," katanya akhirnya, suaranya terdengar berat.

"Ini urusan keluargaku, kamu nggak perlu ikut campur. Maaf ya, tadi aku nggak sengaja keras sama kamu." Ucapannya selesai diiringi tatapan penuh penyesalan.

Amel, dengan hati yang remuk, segera melompat turun dari motor, kemudian melangkah meninggalkan Galang tanpa sepatah kata pun. Seolah kata-katanya terkunci rapat di dalam dada. Sementara Amel sibuk menghilangkan kekecewaan dan rasa penasarannya dengan berbelanja keperluan ospek, Galang memilih untuk menunggu di tempat yang sama, diliputi kebingungan dan ketidakyakinan. Setelah menyelesaikan belanjanya, Amel kembali ke tempat semula, namun Galang tak ada di mana-mana.

"Dia kemana sih?" gumam Amel dalam kepanikan yang mulai menggelepar di dada, rasa kesalnya pada Galang semakin menjadi.

Amel merasa gelisah, matahari telah tenggelam dan langit mulai gelap. Dia berdiri di pinggir jalan menunggu Galang yang tak kunjung datang. Beberapa kali dia melirik ke arah jalan, berharap melihat sosok Galang muncul dari kejauhan. Namun, yang ada hanya hampa dan kekecewaan yang semakin membesar di hatinya.

"Oke, aku akan pulang sendiri," ucapnya dengan nada sedih, menelan kekecewaan yang berkecamuk.

Tiba-tiba, suara motor terdengar mendekat dan sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Galang berhenti tepat di samping Amel, napasnya agak terengah-engah seolah baru berlari.

"Maaf, yah," kata Galang, seraya mengulurkan sesuatu ke arah Amel. Sebuah boneka kecil yang lucu dengan pita merah di lehernya.

Amel mendongak, matanya menatap Galang dengan ekspresi kesal. "Kamu kira aku anak kecil?" tanyanya, suaranya bergetar karena campuran emosi yang sulit dijelaskan.

"Iya, soalnya belum nikah," jawab Galang dengan senyum menggoda.

Amel hanya bisa menghela napas, hatinya bergetar hebat dan pipinya memerah, bukan karena marah, melainkan karena terkejut dengan kepedulian yang ditunjukkan Galang. Meski kesal, dia tidak bisa menahan senyum yang merekah di wajahnya. Ada rasa lega yang mengalir dalam dada, mengetahui bahwa Galang belum benar-benar meninggalkannya.

*******

Malam harinya, Galang sedang menikmati acara TV favoritnya di ruang keluarga yang hanya diterangi lampu remang-remang. Udara malam itu terasa panas, membuat Galang hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek. Tengah larut dalam tayangan, tiba-tiba bayangan seseorang menghalangi cahaya televisi.

Dari arah belakang sofa, Amira muncul dengan langkah yang hampir tidak terdengar. Dengan gerakan yang lambat, ia duduk tepat di depan televisi, menghalangi pandangan Galang. Amira hanya mengenakan tanktop tipis dan celana pendek, pemandangan yang tidak biasa dan cukup membuat Galang terkejut.

"Maaf yah, Galang, soalnya gerah banget, jadi sengaja duduk di depan, biar bisa kena kipas," ujar Amira, sambil menoleh memberikan senyuman yang canggung. Suaranya terdengar lembut, berusaha menjelaskan situasi tanpa membuat Galang merasa tidak nyaman.

Galang yang tadinya ingin memprotes, justru terdiam sesaat. Matanya yang semula terfokus pada layar kini malah tertuju pada sosok Amira yang duduk menghadapnya. Kulitnya yang terlihat berkilauan karena keringat, dan cara dia membenarkan rambut yang menempel di lehernya, semuanya terekam jelas dalam pandangan Galang.

Ketika mata mereka bertemu, ada desiran aneh yang melintas di antara mereka. Galang merasakan perasaan yang sulit dijelaskan; campuran antara keberatan dan ketertarikan. Wajahnya yang awalnya tampak kesal perlahan melunak, dan dia menarik nafas dalam, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba muncul.

"Ngga enak banget jadi Janda Lang," keluhnya tanpa memandang Galang, suaranya terdengar lelah.

Galang menangkap getar dalam suara Amira, hatinya tergerak oleh rasa ingin tahu yang mendalam. 

"Kenapa nggak menikah lagi, Bu?" tanyanya, suaranya mengandung harap yang tersembunyi. 

 Amira menoleh, matanya bertemu Galang sesaat-ada luka yang tersimpan di sana. 

"Udah ada calonnya, sih," jawabnya perlahan, "Tapi... Lang, duduk sini dulu, aku mau curhat." Jantung Galang berdegup kencang. 

Campuran hangat dan dingin bergulung di dada, memaksa ia menggeser duduk lebih dekat tanpa menghilangkan jarak antara mereka. 

 Matanya menatap tangan Amira yang gemetar kecil, jemari-jemarinya seperti menari tanpa irama. "Sulit, Galang..." suara Amira pecah, penuh dengan kepedihan yang tak tersampaikan. 

"Pacarku... dia bilang sayang. Tapi dia takut. Tak mau melangkah lebih jauh. Semua kata-katanya hanyalah janji-janji kosong, tentang menikmati hari ini tanpa harus terikat esok." Ada hampa dalam suaranya, laksana malam kelam yang menyelimuti jiwa yang sedang rapuh. Galang hanya mampu diam, merasakan beban hati Amira yang tak terucap, terperangkap dalam ketidakpastian yang menggigit.

Galang mengangguk perlahan, mencoba mencerna setiap kata. "Tapi Ibu ingin lebih dari itu, ya, Bu?" tanyanya, suara hati-hatinya mencoba tidak terdengar menghakimi.

Amira menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin kepastian, Galang. Aku ingin rumah yang bisa kusebut milik, bukan sekedar tempat berteduh sesaat. Aku ingin keluarga, bukan sekedar teman berbagi cerita."

"Dia mungkin takut, Bu," Galang berusaha memberi sudut pandang lain, meski hatinya sendiri merasa gusar.

"Takut kehilangan kebebasannya, atau mungkin, takut tidak bisa menjadi seperti yang Ibu harapkan."

Amira tersenyum pahit, mengangguk pelan. "Mungkin," katanya, suaranya semakin lirih. "Tapi mungkin juga aku yang harus belajar menerima kenyataan, bahwa tidak semua cinta berakhir di pelaminan."

Galang hanya bisa menawarkan senyum simpul, hatinya terasa dipilin. Ia menyadari betapa rumitnya jalan yang harus dilalui Amira. Dalam hening, mereka berdua terdiam, masing-masing tenggelam dalam labirin pikiran dan perasaan masing-masing.

Amira, dengan suara lembut yang penuh arti, bertanya kepada Galang apakah istrinya sudah tidur. Galang, dengan nada santai, mengonfirmasi bahwa istrinya memang sudah tidur karena tidak bisa menahan kantuk setelah jam delapan malam.

Sesaat kemudian, Amira tersenyum tipis, seolah ada makna tersembunyi di balik kata-katanya.

 Dia mendekatkan kepalanya ke bahu Galang, bertanya dengan nada yang lebih menggoda, "Heheh, Amel juga gitu kok, sekarang dia juga udah tidur. Tapi kok aku merasa, malam ini seolah merestui kita berdua yah?" Suara Amira yang lembut itu seakan membawa pesan yang lebih dari sekadar pertanyaan biasa.

Galang yang semula terkejut dengan kedekatan fisik yang tiba-tiba itu, lambat laun merasa sebuah emosi yang tak terduga mengalir dalam dirinya. Dia mulai merespons dengan mengelus lembut kepala Amira, tangannya bergerak secara instingtif menunjukkan kenyamanan yang mulai terjalin di antara mereka. Keduanya kini tenggelam dalam suasana romantis yang diciptakan oleh film dan kedekatan mereka, seolah dunia luar tidak lagi berarti.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balada Sang Pemuas
9.3
Di balik citra santun yang mereka tunjukkan pada dunia, Andre dan Nadia diam-diam memendam gairah serta fantasi intim yang begitu membara. Pernikahan mereka pun beralih fungsi menjadi wadah rahasia untuk membebaskan segala hasrat terlarang yang selama ini terkekang oleh norma sosial masyarakat. Kisah ini menyoroti perjuangan sepasang kekasih dalam menjelajahi sisi terdalam diri mereka demi meraih kepuasan sejati, tanpa harus merusak batasan moral yang ada.
Sampul Novel Dua Hati, Satu Kehancuran
8.0
Hanya dua minggu menjelang hari pernikahan, sebuah pertengkaran hebat meretakkan hubungan kami. Radit secara sepihak meminta izin untuk menjalani program bayi tabung bersama Lisa, putri dari profesornya yang sedang sekarat, demi memberikan masa depan yang aman bagi wanita itu. Bagi Radit, hal ini hanyalah bantuan medis tanpa perasaan, namun bagiku ini adalah pengkhianatan nyata. Setelah dia pergi dan membanting pintu, aku yang merasa hancur segera mengambil keputusan nekat. Lewat sebuah unggahan di media sosial, aku mengumumkan pencarian pengantin pria baru untuk menggantikannya.
Sampul Novel Gairah Terpendam Suami Kontrak
8.4
Kavita rela menikahi bosnya, Ezra, secara kontrak selama setahun demi melunasi utang Deryl, suaminya. Namun, pengorbanan itu sia-sia setelah Deryl diam-diam berkhianat dan menikahi Yura. Kecewa, Kavita memperpanjang masa kontrak dengan Ezra untuk menghancurkan Deryl dan merebut seluruh kekayaannya. Saat misi balas dendamnya sukses dan masa perjanjian habis, Ezra justru enggan melepaskan Kavita dari dekapannya.
Sampul Novel Ketika Hati Mulai Mendua
7.9
Pernikahan harmonis Anis dan Affandy Nugraha hancur saat mantan kekasih suaminya kembali datang. Terpikat pesona masa lalu, Affandy kehilangan akal sehatnya hingga mengkhianati sang istri, meski Anis telah memperingatkan untuk melupakan masa lalu. Di tengah badai ini, putra sulung mereka, Angga, menjadi pelindung ibunya. Angga memotivasi Anis agar bangkit menjadi sosok yang kuat demi masa depannya dan Anggi, sekaligus membuktikan harga diri mereka di hadapan para pengkhianat.
Sampul Novel Kutukan Cinta Pertama
9.7
Kehidupan damai Lara Ayunda hancur seketika setelah Arkan tiba-tiba menjatuhkan talak kepadanya. Badai rumah tangga ini bermula sejak hadirnya serangkaian mimpi misterius yang terus mengusik tidur Lara. Keadaan kian memburuk saat sebuah pertemuan tak terduga justru mendatangkan petaka bagi pernikahan mereka. Kini, Lara terseret dalam pusaran konflik membingungkan, menyisakan ketidakpastian mendalam atas nasib hubungan serta masa depan cintanya.
Sampul Novel Menjadi Istri Pengganti
8.7
Demi menjaga nama baik keluarga karena pengantin wanita kabur, Satya harus menikahi Arabella Sky, anak sahabat orang tuanya. Bella yang baru lulus kuliah menerima pernikahan ini demi membalas budi. Namun, pernikahan tanpa cinta mereka diuji saat mantan kekasih Satya datang kembali untuk merebut posisinya, sementara mantan kekasih Bella juga terus mengejarnya. Akankah mereka goyah atau justru bertahan demi menjaga janji suci tersebut?