APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Setahun menikah, Hilda dihadapkan pada kenyataan pahit saat Marsel, suaminya, mendesak untuk menjual rumah warisan peninggalan orang tuanya demi investasi masa depan. Bagi Hilda, bangunan itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari mendiang ayah dan ibunya. Sikap Marsel yang pragmatis memicu perselisihan hebat di antara mereka. Hilda yang bersikeras mempertahankan aset berharga tersebut kini mulai meragukan ketulusan serta sosok pria yang telah ia nikahi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku tidak tidur malam itu.

Lampu kamar sudah kupadamkan sejak dua jam lalu, tapi mataku tetap terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Di sebelahku, ranjang masih terasa dingin. Marsel tidak masuk kamar setelah perdebatan kami sore tadi. Aku tak tahu dia tidur di mana, dan jujur saja... aku juga tidak ingin tahu.

Bukan karena aku marah. Tapi karena aku kecewa.

Saat kami menikah setahun lalu, aku pikir pernikahan adalah tentang saling menjaga. Saling memahami. Aku tahu Marsel bukan tipe romantis. Dia bukan pria yang pandai menunjukkan kasih sayang lewat kata-kata. Tapi dia punya ambisi, kerja keras, dan dulu-aku percaya-dia mencintaiku.

Tapi sekarang, semuanya terasa seperti transaksi.

Pagi harinya, aku bangun lebih dulu. Mata masih sembab, kepala berat karena kurang tidur. Tapi aku tetap turun ke dapur, menyiapkan kopi, bukan untuknya-melainkan untuk diriku sendiri. Aku butuh sesuatu yang bisa menahanku untuk tidak hancur di depan suamiku sendiri.

Aku sedang menuang air panas ketika kudengar suara langkah kaki di tangga. Marsel.

Dia muncul di ambang pintu dapur, masih mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin. Wajahnya kusut. Tapi yang paling menyakitkan, bukan karena dia terlihat lelah-melainkan karena dia sama sekali tidak tampak bersalah.

"Kita perlu bicara," katanya tanpa basa-basi.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menarik napas panjang, lalu menyeruput kopiku.

Marsel berjalan pelan ke arah meja makan dan duduk di kursi yang biasa ia tempati. Hening menyelimuti ruangan, sampai akhirnya dia bicara lagi.

"Aku sudah bicara dengan pengembang properti. Mereka bersedia membeli rumah itu dengan harga yang cukup tinggi."

Gelas kopiku nyaris terlepas dari genggaman. Aku membalikkan badan, menatapnya lekat-lekat.

"Kau bicara seolah rumah itu milik kita berdua."

Marsel menatapku datar. "Kita sudah menikah, Hil. Segala sesuatu yang kita miliki harusnya jadi milik bersama."

"Rumah itu bukan milik bersama," sahutku cepat. "Itu warisan orang tuaku. Aku tak pernah menuliskannya sebagai harta gono-gini. Kau tahu itu."

Dia mendengus pelan, dan aku melihat dengan jelas bagaimana ia mulai kehilangan kesabaran.

"Kenapa kau selalu membiarkan perasaan menguasai logika? Ini hanya rumah, Hil-bangunan tua yang bahkan tak layak huni. Kita bisa beli rumah baru yang lebih bagus suatu hari nanti."

Aku tidak bisa menahan tawa getirku. "Kau benar, ini cuma rumah. Tapi kalau kau bisa berkata seperti itu tanpa berpikir dua kali, aku mulai ragu apakah hatimu pernah benar-benar memilikiku."

Marsel bangkit dari kursinya, mendorongnya kasar hingga kaki kursi bergesek keras dengan lantai.

"Aku capek, Hil. Capek terus merasa harus jadi satu-satunya orang yang berpikir ke depan di pernikahan ini. Kau terlalu terikat pada masa lalu. Sampai kapan kau akan terus hidup dari bayang-bayang orang tuamu?"

Aku membeku.

Kata-katanya seperti tamparan yang menghancurkan segalanya. Mata ini kembali panas, tapi aku menolak air mata itu jatuh. Tidak kali ini. Tidak di hadapan pria yang bahkan tak lagi peduli pada luka-lukaku.

"Aku tumbuh tanpa siapa-siapa, Marsel," suaraku serak, rendah, tapi penuh luka. "Mereka satu-satunya keluarga yang kumiliki. Rumah itu satu-satunya tempat di dunia yang masih membuatku merasa aman. Dan kau... kau ingin merenggutnya dariku. Demi uang."

Marsel menatapku, dan untuk sesaat aku pikir dia akan mengalah. Tapi dia hanya menghela napas, mengusap wajahnya, lalu melangkah ke arah pintu.

"Aku akan ke toko. Kita bicara lagi nanti."

Aku mengangguk pelan, meski dadaku bergetar hebat. Ketika pintu tertutup dan suara mobilnya menjauh, barulah aku runtuh.

Aku menangis, duduk di lantai dapur yang dingin. Isak tangisku tertahan, tapi luka di dada ini terasa terlalu dalam untuk sekadar disebut sakit hati. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat benar-benar kumiliki.

Aku menikah karena cinta. Tapi cinta rupanya tidak cukup untuk menghadapi dunia.

Siangnya, aku pergi ke rumah peninggalan orang tuaku. Letaknya di pinggiran kota, agak jauh dari hiruk pikuk jalan utama. Rumah itu memang sudah lama kosong, tapi aku selalu menyempatkan datang sebulan sekali untuk membersihkannya. Hanya... dua bulan terakhir aku terlalu sibuk dengan toko dan urusan Marsel.

Ketika aku membuka pintu kayu tua itu dan menghirup aroma khas ruangan yang lama tak dihuni, ada sesuatu yang berdenyut dalam dadaku. Seperti luka lama yang terbuka, tapi juga hangat... karena aku kembali ke tempat di mana semuanya bermula.

Aku berjalan menyusuri ruang tamu. Menyentuh rak buku peninggalan Papa. Duduk di sofa tua yang masih ada bekas jahitan Mama. Setiap sudut rumah ini menyimpan cerita. Setiap lantai yang berderit, setiap cahaya yang menembus tirai tipis, semua adalah potongan hidup yang tak tergantikan.

Di atas meja kecil di dekat jendela, aku menemukan bingkai foto-foto keluargaku. Mama, Papa, dan aku kecil. Kami bertiga tersenyum, berdiri di depan rumah ini.

Aku mendekap foto itu erat. Dan dalam diam, aku bersumpah.

Aku tidak akan menjual rumah ini.

Tidak untuk Marsel. Tidak untuk uang. Tidak untuk siapa pun.

Kalau pernikahan ini menuntut aku menghapus masa laluku... mungkin sudah saatnya aku bertanya, siapa yang sebenarnya kupilih saat kutinggalkan rumah ini dulu-Marsel, atau diriku sendiri?

Dan untuk pertama kalinya... aku mulai merasa, aku sedang menikahi orang yang salah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel LOVE FROM LA
9.7
Hubungan unik terjalin antara Kim dan Diki lewat media sosial. Kim, seorang sersan satu militer Amerika Serikat berdarah Indo-Cina, terbiasa hidup mandiri sejak yatim piatu di usia delapan tahun. Walau terhalang jarak jauh dan perbedaan bahasa, rasa nyaman mendorong Diki memberanikan diri menembak Kim. Tak diduga, cintanya bersambut. Akankah hubungan asmara virtual lintas negara ini sanggup bertahan hingga mereka akhirnya saling bertemu langsung?
Sampul Novel Not A Perfect Marriage
9.5
Ivy Marionet menjalani pernikahan rumit yang penuh rahasia dengan seorang ksatria kerajaan. Ia harus berjuang keras demi menyembunyikan identitas aslinya yang misterius. Keadaan kian genting saat campur tangan Putra Mahkota Winter membuat Ivy terancam hukuman mati di tangan suaminya sendiri. Siapa sebenarnya sosok Ivy? Di tengah intrik dan bahaya yang mengintai, mampukah ia mengungkap kebenaran sekaligus menyelamatkan diri dari eksekusi yang membayangi hidupnya?
Sampul Novel Pancaroba
8.8
Kehidupan tenang Aretha mendadak berubah total setelah ia mengenal seorang pemuda yang dicap aneh oleh teman-teman sekolahnya. Sosok misterius dengan pola pikir unik ini ternyata menyimpan banyak rahasia hidup yang tak terduga. Pertemuan tersebut menyeret Aretha ke dalam situasi penuh tanda tanya. Ia pun kini berusaha keras untuk menyelami dan memahami sisi lain dari lelaki yang sangat sulit ditebak tersebut.
Sampul Novel Pasangan Rahasia
8.1
Demi menyelamatkan kariernya, Erin terpaksa menyembunyikan status pernikahan dari publik. Situasi kian rumit karena suaminya sendiri merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Di tengah lingkungan kantor, keduanya harus bersandiwara dan menjaga rapat hubungan rahasia mereka dari kecurigaan rekan kerja. Akankah pernikahan rahasia ini bertahan demi target mereka, ataukah tekanan dunia kerja yang berat justru akan mengungkap kebenaran sebelum waktunya?
Sampul Novel Suamiku Selingkuh Di Kala Aku Mengandung
9.3
Memasuki usia kandungan sembilan bulan, kehidupan rumah tangga sang protagonis diuji oleh kedatangan Stella, wanita idaman suaminya. Stella tiba-tiba menumpang tinggal di rumah mereka dengan alasan tertentu. Setiap kali berpapasan, Stella selalu berakting seolah tertekan dan tersiksa oleh masa lalu. Bukannya melindungi sang istri yang hamil tua, sang suami malah menuduhnya sengaja memamerkan perut buncitnya demi menyakiti perasaan Stella. Konflik rumah tangga yang penuh misteri dan pengkhianatan ini pun dimulai.
Sampul Novel Wanita Gendut, Dicerai Suami Dinikahi CEO Tampan
9.5
Pernikahan lima tahun Sofia Storia hancur setelah Alvian berselingkuh dengan Clara, seorang pemandu karaoke. Alvian menceraikannya hanya karena penampilan Sofia kini berubah gemuk. Di masa sulitnya, Sofia bertemu Reyfaldi, CEO kaya yang tertutup. Pria itu menawari pernikahan dengan kesepakatan khusus. Dibantu Reyfaldi, Sofia bertekad mengubah penampilannya demi membalas dendam kepada mantan suami dan selingkuhannya. Berhasilkah Sofia membalaskan sakit hatinya?