APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Setahun menikah, Hilda dihadapkan pada kenyataan pahit saat Marsel, suaminya, mendesak untuk menjual rumah warisan peninggalan orang tuanya demi investasi masa depan. Bagi Hilda, bangunan itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari mendiang ayah dan ibunya. Sikap Marsel yang pragmatis memicu perselisihan hebat di antara mereka. Hilda yang bersikeras mempertahankan aset berharga tersebut kini mulai meragukan ketulusan serta sosok pria yang telah ia nikahi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah tiga hari sejak pertengkaran itu, dan Marsel belum kembali ke rumah. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Hanya sunyi, seperti biasanya. Dan seperti biasanya, aku masih berusaha bertahan.

Aku tak tahu kenapa aku masih berharap ia akan mengetuk pintu dan meminta maaf. Tapi yang datang justru bukan Marsel-melainkan seseorang yang sama sekali tidak kuharapkan.

Pagi itu, ketika aku sedang menyiram bunga di teras, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Seorang pria turun, mengenakan jas rapi, wajahnya tak asing-meski aku tak bisa segera mengingat dari mana aku mengenalnya.

Dia berjalan mendekat. Wajahnya tenang, tapi tatapannya tajam. Seolah dia tahu sesuatu yang tak kuketahui.

"Hilda?" tanyanya.

Aku mengangguk pelan. "Maaf, Anda siapa?"

Dia tersenyum tipis. "Saya Arvino. Dulu pernah kerja sama dengan Marsel, di proyek perumahan Green Heights."

Nama itu membuatku langsung siaga. Green Heights. Itu proyek pengembang yang sempat dibicarakan Marsel... tempat dia ingin menjual rumah peninggalan orang tuaku.

"Boleh saya bicara sebentar? Ini tentang suami Anda," katanya sopan, tapi nadanya menyiratkan hal serius.

Kami duduk di ruang tamu. Tanganku dingin, dan ada rasa tak enak di perutku yang sejak awal sudah menolak kehadirannya.

"Ada apa sebenarnya?" tanyaku akhirnya, tak tahan dengan ketegangan.

Arvino mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya, lalu meletakkannya di meja.

"Saya minta maaf sebelumnya. Tapi saya rasa Anda berhak tahu. Marsel... dia sedang terlilit utang cukup besar. Dan rumah yang ingin dia jual-rumah warisan orang tua Anda-satu-satunya aset yang bisa dia jaminkan sekarang."

Aku membeku.

"Apa maksud Anda? Utang dari bisnis?"

Arvino mengangguk. "Sejak tahun lalu, proyek Green Heights gagal. Banyak dana investor lenyap, dan Marsel harus menutup lubang dengan pinjaman dari pihak ketiga. Termasuk dari orang-orang yang... bukan tipe yang bisa Anda ajak duduk santai seperti ini."

Aku menatap map itu. Di dalamnya ada fotokopi dokumen pinjaman, tanda tangan Marsel, dan bahkan beberapa email permohonan dana. Hatiku berdegup kencang. Rasanya seperti menyaksikan hidupku sendiri terlepas dari kendali.

"Kenapa Anda memberi tahu saya semua ini?"

Dia diam sejenak, lalu menatapku lurus.

"Karena saya tahu, kalau Marsel tidak bisa bayar, mereka akan datang mencari keluarganya. Dan saya pernah berutang budi pada orang tua Anda. Pak Armand dulu pernah bantu saya keluar dari masalah hukum yang hampir menghancurkan hidup saya."

Aku menutup wajahku dengan tangan. Nafasku tercekat.

"Jadi selama ini... Marsel berbohong padaku. Tentang keuangan, tentang alasannya ingin menjual rumah."

Arvino bangkit, meletakkan kartu namanya di meja.

"Saya tidak tahu apa rencana dia selanjutnya. Tapi hati-hati, Bu Hilda. Orang-orang itu tidak main-main."

Setelah Arvino pergi, aku duduk diam dalam gelap. Guncangan itu terasa lebih besar dari sebelumnya. Ini bukan lagi tentang rumah. Ini tentang kebohongan. Tentang bagaimana aku menikah dengan seseorang yang menyimpan sisi gelapnya rapat-rapat, bahkan dari istrinya sendiri.

Aku mencoba menelepon Marsel. Tidak aktif.

Malamnya, aku memberanikan diri pergi ke toko tempat kami biasa berjualan barang dekorasi rumah. Saat masuk, toko itu sepi. Beberapa rak kosong. Stok barang tidak seperti biasanya. Aku tahu kami memang sempat menurun penjualannya, tapi aku tidak pernah tahu kondisinya separah ini.

Seorang pegawai lama kami, Rina, menyapaku pelan.

"Bu Hilda... maaf ya, saya mau pamit kerja. Pak Marsel bilang tokonya mau tutup sementara. Katanya banyak urusan pribadi."

Darahku berdesir dingin. "Tutup?"

Rina mengangguk. "Saya juga bingung, Bu. Tapi beberapa vendor juga belum dibayar. Sudah dua bulan."

Aku berterima kasih dan keluar dari toko dengan kepala berdenyut. Mataku mulai menangkap tanda-tanda yang selama ini kupikir hanyalah kepadatan kerja. Tapi ternyata, Marsel bukan hanya sibuk. Dia tenggelam dalam kebohongan.

Sesampainya di rumah, aku duduk di meja makan. Map cokelat itu masih di sana, menatapku seperti hantu. Lalu, tanpa sadar, aku mengambil ponsel dan mulai mencari informasi lain. Aku mencoba mengakses email pribadi Marsel yang dulu pernah ia gunakan di laptop kami.

Kata sandinya belum berubah.

Saat masuk, kotak masuknya penuh dengan pesan dari nama-nama yang tak kukenal-beberapa dengan subjek: "Deadline Pembayaran," "Perpanjangan Jaminan," bahkan "Ancaman Hukum."

Lalu aku menemukan satu email dengan lampiran kontrak yang membuat tanganku gemetar.

Sebuah surat perjanjian-menjual rumah warisan orang tuaku atas nama Marsel, lengkap dengan tanda tangan palsu... yang seolah-olah milikku.

Aku terduduk. Tangisku pecah begitu saja.

Dia tidak hanya menyembunyikan. Dia mencoba menipuku. Dia mencoba menjual rumah itu tanpa sepengetahuanku-dengan memalsukan tanda tanganku.

Dan saat itu, sesuatu dalam diriku mati. Atau mungkin, justru baru lahir.

Bukan rasa cinta. Tapi kehendak untuk bertahan. Untuk melindungi diriku sendiri.

Aku menghapus air mata, lalu membuka laci meja. Aku mengambil amplop surat yang berisi sertifikat rumah itu-yang selama ini kusimpan jauh dari tangan siapa pun, bahkan Marsel tak tahu tempatnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam pernikahan ini, aku tidak merasa takut kehilangan suamiku.

Aku takut kehilangan diriku sendiri... jika aku terus bertahan di sisi pria yang bahkan tak segan mengkhianatiku demi menyelamatkan dirinya.

Hilda akhirnya menemukan bahwa Marsel tak hanya berbohong, tapi juga mencoba memalsukan dokumennya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 10 Miliar Menjadi Pelakor
8.3
Demi membiayai operasi ginjal sang ayah, Calla terpaksa mendatangi sebuah klub malam. Di sana, ia bertemu Lucian Donovan yang menawarkan uang 10 miliar rupiah. Syaratnya, Calla harus merusak pernikahan Caspian Hawthorne. Calla terkejut saat tahu Caspian adalah pria culun yang dulu ia abaikan sewaktu SMP. Kini, Caspian telah menjelma menjadi miliarder dingin yang berkuasa. Terdesak kemiskinan, Calla pun bimbang memilih antara harga diri atau menjadi pelakor demi bertahan hidup.
Sampul Novel Bucinnya Cowok Temprament
9.2
Lima tahun berpisah akibat amnesia pasca-kecelakaan, takdir mempertemukan kembali Bastian Theo Raymond dan Liliana Mahendra. Theo, yang kini jatuh cinta pada Lili sang dokter, rela membayar sepuluh miliar kepada ayah Lili demi menikahinya. Meski terkenal temperamental, Theo berubah menjadi sangat bucin. Di sisi lain, Lili berusaha mempertahankan pernikahan rumit ini dengan merangkai kembali ingatan masa lalunya yang hilang melalui setiap sentuhan Theo.
Sampul Novel Janda Dua Anak Untuk Arjuna
9.6
Dibuang oleh Ricky dalam kondisi mengandung, Raisa berjuang menghidupi bayi kembarnya sendirian. Nasib membawanya bekerja sebagai sekretaris Samuel Tirta. Meski sempat ditolak, kepolosan Raisa berhasil memikat Samuel, sebelum pria itu berpaling pada Lidya—sosok yang dahulu merusak pernikahan Raisa. Kini, Raisa berpindah tugas mendampingi Arjuna, adik Samuel. Lamaran Arjuna membuatnya bimbang karena bayang-bayang Lidya kembali mengintai. Namun, Raisa akhirnya mantap menikahi Arjuna Desta Mahendra Tirta.
Sampul Novel Pesona Nona Khana
8.4
Pesona Khana yang memikat justru membawanya ke dalam petaka. Ia jatuh cinta pada pria berkuasa yang telah beristri. Hubungan gelap ini menyulut murka sang istri sah, Areta. Demi melampiaskan dendam dan menghancurkan Khana, Areta menjelma menjadi sosok yang sangat mengerikan. Kini, keselamatan Khana benar-benar terancam. Ia harus mempertaruhkan nyawanya akibat konsekuensi fatal dari keputusan mencintai lelaki yang salah.
Sampul Novel Pria Kedua (Ayah Untuk Anakku)
9.2
Divonis kanker payudara membuat Risa pergi ke Kanada dan menjalin kasih singkat dengan Jaya. Saat kembali ke Prancis, ia terkejut karena vonis itu salah dan dirinya kini hamil. Risa pun pergi ke Indonesia untuk mencari Jaya. Namun, pria yang ditemuinya justru membantah identitas tersebut dan mengaku bernama Danu Atmawijaya. Mengapa sosoknya begitu berbeda? Risa kini terjebak dalam misteri besar untuk mengungkap siapa sebenarnya ayah dari anak di kandungannya.
Sampul Novel Terjebak Nafsu Dua CEO
8.9
Demi menyelamatkan bisnis ayahnya dan menjaga kemitraan korporat, Karine mengambil keputusan berat. Sebagai duta perusahaan, ia terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada dua CEO, Bilang dan Arum. Dua tahun lamanya Karine bertahan menjadi wanita simpanan mereka, mengabaikan fakta bahwa kedua pria itu telah beristri demi profesionalitas dan ambisi. Kini, rahasia gelap tersebut terancam terbongkar saat para istri mulai mencurigai adanya perselingkuhan.