APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Suamiku

Mantan Suamiku

Dua tahun berpisah, Aurora kembali berhadapan dengan Henry. Sang mantan suami rupanya enggan merelakan hubungan mereka kandas begitu saja. Lewat beragam strategi cerdik, Henry berambisi merebut kembali hati Aurora seutuhnya. Di tengah deburan ombak, getaran asmara yang membara menyeret keduanya ke dalam momen keintiman yang mendalam. Walau rintangan menghadang, Henry tiada henti memikat Aurora agar kembali terjerat dalam dekapan cintanya yang tak mungkin terhindarkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aurora masih mematung. Suaranya masih tertahan di tenggorokan. Dua tahun pernikahannya dengan laki-laki itu berakhir dengan perceraian. Aurora menatap dengan sorot mata penuh amarah, kecewa, kesal, dan berbagai macam emosi  yang membuat sekujur tubuhnya seakan dilumat kuat-kuat. 

Aurora memperhatikan setiap detail lelaki itu. Lekuk senyumnya dihiasi rahang yang kuat. Henry Wilmington memang memiliki daya pikat yang kuat dengan hidung bertulang tinggi dan lekuk bibir yang seimbang. Tipe pekerja keras yang memiliki banyak obsesi dan menganggap sesuatu yang diinginkannya pasti menjadi miliknya. Bagi Aurora, hari-harinya dengan Henry tetap indah, meski tanpa ada tangis bayi di rumah mereka. 

Kebahagiaan yang dirasakan Aurora ternyata tidak cukup dirasakannya. Henry lebih jarang memperhatikannya bukan karena lelaki itu berselingkuh, tapi selalu sibuk dengan pekerjaannya dan yang lebih parah Henry sampai melupakan hari pernikahan mereka. Itu tidak bisa dimaafkan olehnya, tapi laki-laki itu tidak pernah berusaha untuk meminta maaf. 

Ternyata, Aurora memang benar-benar keliru melihat sosok suaminya selama ini. Ia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa pernikahan mereka berada di sebuah persimpangan yang mengharuskannya mencari jalurnya sendiri. Hatinya terlanjur hancur dan harapan-harapan yang sudah dibangunnya menguap tanpa bersisa. Sakit dan nyeri merambati sekujur tubuhnya. 

"Kenapa kamu diam di situ saja? Ayo mendekatlah!" pinta Henry. 

Dengan ragu, Aurora berjalan mendekat. 

"Aku senang akhirnya kamu mau datang ke sini menemuiku." Henry mengembangkan senyumannya. 

Aurora berdeham. "Aku datang ke sini untuk...." 

"Menerima tawaranku, bukan?" 

"Iya," jawab Aurora dengan suara lirih. 

Hati Henry bersorak senang. Rencananya berhasil. Ia menyandarkan punggungnya di kursi menatap mantan istrinya yang masih terlihat cantik seperti dulu, begitu menarik. Pinggangnya ramping, lekuk bibirnya yang tipis, dan aroma bunga begitu khas dari  tubuhnya. Aurora tidak sama dengan wanita lain bukan tipe wanita yang rela menyenangkannya demi mendapatkan hal yang diinginkannya. 

Kesalahan masa lalunya membuatnya kehilangan sosok Aurora dalam hidupnya. Sekarang ia hampir kehabisan akal mendapatkan Aurora lagi. Sejak bercerai darinya tidak pernah ia merasa begitu penasaran dan tergila-gila kepada seorang wanita yang membuatnya semakin tertantang memikirkan cara-cara yang mungkin bisa menaklukan hatinya lagi. 

Henry ingin memilikinya lagi seperti dulu. Tidak ada wanita yang tidak bertekuk lutut kepadanya, karena ia mempunyai segala apa yang diinginkan wanita. 

"Bagus. Akhirnya kamu mau menerima bantuanku juga, tapi sebelumnya ada syaratnya?" 

Dahi Aurora mengernyit. Wanita itu sudah menduga Henry tidak akan mudah memberikan bantuan secara gratis. 

"Apa syaratnya?" 

"Aku ingin kita makan malam romantis." 

"Baiklah." Aurora bernapas lega, karena lelaki itu tidak mengajukan persyaratan yang aneh-aneh. 

"Sekarang kamu boleh pulang atau kembali ke kantormu nanti aku jemput. Atau kamu lebih suka menunggu di sini bersamaku?" Senyuman kecil tersungging di sudut bibir Henry. 

"Lebih baik aku kembali ke kantorku saja." 

Tanpa menunggu lagi, Aurora terburu-buru pergi dengan langkah-langkah lebar. Henry masih tersenyum saat memandangi punggung Aurora menghilang dibalik pintu. 

*** 

Henry menjemput Aurora di kantornya dan senyuman lelaki itu kembali mengembang. Ia menjulurkan tangannya untuk meraih tangan Aurora. Wanita itu tidak protes saat Henry mengenggam tangannya, karena kalah dengan debaran jantungnya dan sempat melirik laki-laki itu sambil berjalan masuk ke mobil. 

"Bagaimana dengan mobilku?" 

"Aku akan menyuruh seseorang untuk mengambilkan mobilmu dan diantarkan ke rumahmu." Henry berkata tanpa mengalihkan perhatian pada jalanan di depan. 

Akhirnya mereka tiba di sebuah villa dekat pantai setelah melakukan perjalanan kurang dari dua puluh menit. Henry turun terlebih dahulu dan membukakan pintu penumpang untuk Aurora. 

"Kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" protes Aurora. "Bukannya kita akan malam di restoran?" 

"Aku kan tidak bilang akan malam di restoran. Kita akan makan malam di villa ini." 

"Aku pulang saja." Bola mata Aurora berkilat menahan kekesalan. 

Henry berhasil mengejarnya dan meraih sikunya. 

"Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Ingat kamu sudah berjanji akan makan malam bersamaku malam ini untuk memenuhi syarat atas bantuanku." Henry kembali mengingatkan. 

Aurora dengan perasaan kesal melepaskan sikunya dari tangan Henry. "Baiklah." 

"Nah begitu, ayo!" 

Rasa kesal di hati Aurora masih belum juga hilang dan dengan terpaksa ia mengikuti Henry masuk ke dalam villa. Mereka menuju halaman belakang yang pemandangannya ke pantai langsung. Di sana sudah disiapkan makan malam untuk mereka berdua yang dipenuhi oleh lilin-lilin yang menyala. Henry sangat puas dengan dekorasinya dan malam ini alam pun sangat bersahabat. Sejauh pandangan mata tajamnya, langit yang menaungi pantai berpasir putih ini begitu jernih bertaburan bintang memberikan harmoni tersendiri di gelapnya langit malam. 

Sejenak Aurora merasa takjub dengan suasana makan malam yang disiapkan oleh Henry, tapi Aurora berpura-pura tidak terkesan dengan usaha mantan suaminya itu. 

Henry mendorongkan kursi untuk Aurora dan menyuruhnya duduk. Lelaki itu menuangkan wine ke dalam masing-masing gelas mereka. Aurora duduk dengan gelisah, pikirannya benar-benar tak bisa berkonsentrasi saat berdekatan dengan lelaki itu. 

Setelah selesai makan, Aurora menangih janji bantuan Henry. "Jadi apa kamu mau berinvestasi di perusahaan keluargaku?" 

"Ya tentu saja. Apa yang kamu inginkan akan kupenuhi." 

Henry seketika terpana. Ekspresi Aurora tampak begitu menggairahkan. Ditingkahi cahaya remang-remang dengan bibir basah setengah terbuka. Akhirnya Henry menyerah. Ia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya sehingga jaraknya hanya sejengkal membuat Aurora tersentak kaget. Hembusan hangat napasnya membelai wajah Aurora. 

"Apa kamu mau berdansa denganku?" Henry berdiri dan mengulurkan tangannya. Ragu-ragu Aurora menyambutnya dan meletakkan telapak tangannya yang dingin dan gemetar. Entah hanya perasaannya saja atau bukan, karena tangannya merasakan genggaman Henry begitu erat yang menularkan perasaan hangat yang segera menjalari seluruh tubuhnya. 

"Malam ini kamu sangat cantik." Suara Henry terdengar serak. 

Wajah Aurora merona mendengar pujian itu, membuat wanita itu tampak begitu menggemaskan di mata Henry. Mereka pun terdiam, menyelaraskan langkah dengan alunan musik. Tanpa bisa dicegah, suhu di antara mereka berdua meningkat menciptakan atmosfer sensual yang terasa kental di udara. Hati Henry semakin tertawan melebihi perasaannya pada Aurora dua tahun lalu dan hasratnya kembali terbangkitkan dengan kedekatan mereka saat ini. 

Aurora pun tak kalah gugupnya. Ini kedekatan mereka yang pertama kali sejak mereka berpisah dan bahkan Henry tampak lebih menawan dengan kematangannya. Sementara alunan musik semakin melambat temponya, berbanding terbalik dengan aliran darah dan denyut jantung Aurora yang meningkat drastis. 

Aurora menghirup udara sebanyak yang ia mampu. Namun, itu justru memperburuk kendali dirinya, karena sekarang indra penciumannya dikuasai sepenuhnya oleh aroma maskulin lelaki yang mendekapnya erat. 

Aurora serasa melayang. Kombinasi kehangatan tubuh Henry yang merapat erat dengan dirinya ditambah keharuman pria matang yang sepenuhnya bergairah yang terbukti dari tumbukan hangat dari balik kain yang menempel erat di perut Aurora, benar-benar melenakannya dan tanpa sadar Aurora merapatkan diri dalam dekapan Henry.

"Aku merindukanmu." Henry berkata dengan lirih, membelai lembut daun telinga Aurora dengan aroma after shave. 

Belum sempat Aurora berkata-kata ternyata tubuhnya mempunyai bahasanya sendiri. Bibirnya mendesah ketika tangan besar Henry berkelana di sepanjang kulit punggungnya yang terbuka. Panasnya begitu nyata, membangkitkan gelenyar yang tidak asing di sekujur tubuhnya. 

Dengan wajah merona, Aurora mendongak dan mendapati sepasang mata yang dengan serta merta memenjarakan miliknya, memasung pandangannya dengan tatapan misterius sekaligus penuh gairah menyala-nyala.

"Aku senang kita bisa bersama lagi malam ini." 

Suaranya yang penuh kerinduan membawa bibir Henry ingin menciumnya. Sementara tangannya masih menjelajah setiap lekuk tubuh Aurora, merasakan kefeminimannya. 

Aurora terhenyak dan hampir menjerit ketika Henry telah mengangkatnya dan  menggendongnya. Aurora mengalungkan kedua lengannya di leher lelaki itu. Ia pun merapatkan tubuh lebih erat dalam dekapannya, menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu, mendengarkan dengan seksama detak jantung Henry dan helaan napasnya. 

Henry sengaja menghempaskan mereka berdua ke tempat tidur dan sekarang Aurora terperangkap di bawah tubuh besar Henry yang kini menatapnya penuh hasrat. 

Pandangan mereka berdua terkunci satu sama lain.  Bukan rasa takut yang dirasakan Aurora dalam menghadapi  cengkeraman Henry, melainkan lebih pada perasaan terpesona pada wujud keindahan yang memanjakan pandangannya. 

Wajah Henry bergerak mendekati wajahnya menghilangkan jarak. Kali ini hidung mancungnya berkelana di sepanjang kulit leher Aurora yang terbuka. Tangan besarnya mulai menjelajahi tubuh wanita itu, mengelus naik turun di kedua sisi pinggangnya. 

Wajah Henry yang semakin gelap dan keruh, mencengkeram kedua tangannya, membelenggu keduanya di atas kepalanya dengan tangannya yang kokoh dan besar. Sementara bibirnya semakin rakus menjelajah, melumat, mengecup, dan mengigit setiap bagian yang mampu diraihnya tidak memberikan ruang untuknya bersuara bahkan untuk bernapas dan tanpa ampun Henry memenjarakan bibir Aurora.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ah! Mantap Mas Ramli
8.4
Demi menghidupi tiga anaknya, Ramli bekerja pada pasangan CEO kaya yang belum dikaruniai keturunan setelah lima tahun menikah. Demi uang, duda asal desa ini terpaksa menerima tawaran gila sang majikan pria untuk menghamili istrinya, Vina. Namun, kerja sama ini berubah menjadi hubungan rumit saat Vina mulai nyaman dengannya, terlebih setelah perselingkuhan suaminya terbongkar. Di balik statusnya yang tampak sederhana, Ramli ternyata menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya.
Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya meregang nyawa akibat pengkhianatan keluarga dan tunangannya yang tega merampas organ hatinya. Saat mendapat kesempatan hidup kedua, ia bertekad merebut kembali segalanya dan membalas dendam. Namun, takdir mempertemukannya dengan Randy Logan, seorang CEO dingin yang tiba-tiba terobsesi padanya. Di sela rencana pembalasan, sang miliarder justru menjerat Viona dengan kasih sayang posesif yang membuatnya tersudut.
Sampul Novel Duda Pilihan Papa
9.6
Anwar Mahendra terhimpit utang besar hingga nyaris kehilangan putri tunggalnya, Ashiqa, yang diincar rentenir. Demi menyelamatkan sang anak, Anwar meminta Rama, seorang duda kaya yang berutang budi padanya, untuk menikahi Ashiqa. Ashiqa terpaksa menerima pernikahan mendadak ini. Di sisi lain, Rama kini terjebak dalam dilema besar: mencoba mencintai istri mudanya atau justru merelakan Ashiqa pergi demi mengejar kebahagiaan sejati wanita itu sendiri.
Sampul Novel IDOL
8.6
IDOL
Raelyn Agatha harus bertahan hidup dengan menumpang dari satu kerabat ke kerabat lain. Di tengah keputusasaan itu, ia bertemu Min Ho, idola terkenal yang memberi warna baru dalam hidupnya. Namun, hubungan mereka menghadapi rintangan berat saat publik dan orang-orang terdekat Min Ho menentang keras kedekatan mereka. Kini, Raelyn harus berjuang mempertahankan cintanya di tengah tekanan dan penolakan dari seluruh dunia.
Sampul Novel menikah lagi
9.1
Kini aku tinggal di sebuah rumah besar milikku sendiri bersama lima orang penyewa. Walau bangunan ini sudah lama kubeli dan kuperbaiki untuk dijadikan kos, aku selalu menjauhinya selama bertahun-tahun. Masa lalu kelam di sana menyisakan luka mendalam yang memicu amarah dan kesedihan setiap kali teringat. Namun sekarang, aku terpaksa menempati kamar utama di lantai bawah dan harus kembali menghadapi kenangan buruk yang tersimpan rapat di rumah ini.
Sampul Novel TETANGGAN DENGAN KONGLEMERAT
9.6
Desainer terkenal, Krystal, diam-diam gemar mengintai tetangga barunya setiap hari. Setelah sebulan, Ray, seorang pengusaha tambang kaya, menyadari pengawasan tersebut dan menyelidikinya hingga mengetahui sosok Krystal. Ketegangan memuncak saat Ray memergoki Krystal sengaja berpose seksi di jendela tanpa tirai. Ray yang kesal langsung melabraknya untuk meminta penjelasan, namun konfrontasi panas ini justru menumbuhkan benih cinta tak terduga di antara mereka.