APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Suamiku

Mantan Suamiku

Dua tahun berpisah, Aurora kembali berhadapan dengan Henry. Sang mantan suami rupanya enggan merelakan hubungan mereka kandas begitu saja. Lewat beragam strategi cerdik, Henry berambisi merebut kembali hati Aurora seutuhnya. Di tengah deburan ombak, getaran asmara yang membara menyeret keduanya ke dalam momen keintiman yang mendalam. Walau rintangan menghadang, Henry tiada henti memikat Aurora agar kembali terjerat dalam dekapan cintanya yang tak mungkin terhindarkan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pukul tujuh pagi, Aurora Stockwell mengantri di depan konter kedai kopi.  

Perusahaan tempatnya bekerja yang juga merupakan perusahaan milik  kakaknya kini berada di ambang kebangkrutan. Itu berarti dirinya mungkin akan kehilangan  pekerjaan dan kakaknya akan kehilangan mata pencaharian yang menghidupi banyak keluarga.  

"Ini adalah salah Henry," gumamnya yang hanya terdengar oleh batinnya sendiri.  

Bagaimana tidak? Aurora dulu adalah seorang staf ahli keuangan dengan karier yang bisa dibilang bagus dan stabil. Tetapi, semua berubah setelah tidak sengaja bertemu dengan putra pemilik perusahaan yang ditabraknya di depan pintu lift. Sialnya saat itu Aurora membuat kopi di tangannya mengenai setelah jas mahal yang dikenakan Henry.  

Bukannya marah Henry Wilmington  justru jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia menyukai mata Aurora yang tajam dan berwarna biru cerah.  

Aurora teringat dengan semua bualan dan rayuan Henry.  Pria itu menikahinya hanya setelah beberapa pekan Aurora menerima cinta pria itu. Mendadak menjadi istri seorang miliarder ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Kehidupan mewah justru menjadi penghalang cinta mereka, bahkan mendorong mereka ke dalam jurang perpisahan. 

Aurora menyangka kehidupan rumah tangganya akan manis seperti yang ia inginkan. Ia akan bangun dan menikmati sarapan bersama suaminya, kemudian di malam hari mereka akan berbincang-bincang tentang hari yang telah mereka lewati, lalu di akhir pekan dapat memanfaatkan waktu luang bersama.  

Namun, pada kenyataannya hanya beberapa pekan Aurora merasakan manisnya kehidupannya rumah tangga, karena suaminya tidak seperti yang diinginkannya. Saat Aurora membuka mata di pagi hari, suaminya telah pergi ke kantornya dan ketika malam suaminya pulang dengan keadaan lelah. Saat ia tidur sengaja membelakangi Henry. Suaminya itu tidak berusaha memeluknya dari belakang ataupun berusaha membalikkan tubuhnya apa lagi bertanya. 

"Ah, panas!" pekik Aurora, kulit tangannya tersiram kopi panas. "Bisakah kau ber....," tanyanya ketus seraya mendongak.  

Aurora bahkan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Orang yang menumpahkan kopi ke kulitnya adalah Henry. Jadi, sejak tadi ia berdiri di belakang orang yang sedang dipikirkannya? 

"Kau baik-baik saja?" tanya pria tinggi berambut cokelat setinggi 190 cm. 

"Bukan masalah. Ini bisa diatasi dengan salep luka bakar." Mungkin itu jawaban yang masuk akal pikir Aurora. "Hai, lama tidak berjumpa." Atau mungkin jawaban itu lebih tepat.  

Tidak. Aurora tidak ingin memulai percakapan, ia ingin menjauh secepatnya. Tetapi, ia benar-benar menginginkan kopi sehingga kakinya tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya. 

"Senang bertubrukan denganmu," ucap Aurora dengan sinis.  

"Cantik, sedang apa kau di sini?" tanya Henry dengan suara beratnya yang seksi dan matanya yang berwarna cokelat terang seperti lelehan cokelat panas yang lezat menatap Aurora seperti tidak kalah terkejutnya dengan Aurora.  

Aurora mengernyit. Apa dia tidak lihat bahwa dirinya akan membeli kopi bukan untuk menguntit mantan suaminya yang sudah dua tahun tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Terakhir mereka bertemu adalah saat Aurora memutuskan meninggalkan rumah Henry.  

Rasa kecewa melingkupi batin Aurora mengingat Henry tidak pernah mengejarnya. Pria itu juga tidak datang pada mediasi perceraian mereka. Bahkan tidak menghadiri saat hakim membacakan putusan perceraian mereka, selalu saja Henry hanya mengirimkan pengacaranya.  

Aurora dengan jengkel mendengus. "Bisa kau menyingkir? Aku mau memesan kopi."  

Henry tersenyum miring. "Seingatku kau tidak pernah minum kopi."  

Memang tidak, tetapi beberapa bulan ini semuanya berubah, karena kakak laki-lakinya membuatnya sakit kepala dengan memberikan tumpukan berkas yang tidak ada habisnya dan membuatnya mulai ketergantungan pada kopi.  

"Seleraku sudah berubah," kata Aurora kemudian mendekati konter barista. "Satu caramel macchiato panas," ucapnya pada barista.  

"Cukup mengejutkan," ucap Henry terdengar menggoda. "Kudengar perusahaan kakakmu kini mengalami defisit keuangan."  

Aurora melotot ke arah Henry yang mengucapkannya dengan sangat santai dan suaranya tidaklah pelan. Cukup bisa didengar oleh orang-orang di sekitar mereka.  

"Kurasa kau akan segera kehilangan pekerjaan jika perusahaan itu benar-benar bangkrut," lanjut Henry. 

Aurora melemparkannya senyum sinis. "Henry Wilmington, kau rupanya punya waktu ya untuk memata-matai perusahan kami?"  

Henry tersenyum miring dan berucap, "Di Liverpool, semua orang sudah tahu kalau Blue Sea Corps bahkan menjual murah saham mereka dan peminatnya tidak ada."  

Ucapan Henry memang benar adanya. Aurora seharusnya tidak marah. Tetapi, cara Henry berbicara yang sombong seolah-olah  meremehkan kemampuan kakak laki-lakinya membuat Aurora jengkel.  

"Kurasa kau sudah terlalu banyak mengomentari perusahaan tempatku bekerja."  

Henry  tersenyum. "Terakhir saat kita bercerai, aku memberikan kau saham perusahaan dan kau menolaknya. Begitu juga rumah dan...."  

Aurora menyipitkan matanya menatap Henry dan pria itu tidak melanjutkan ucapannya. Ia memang melakukan itu, karena tidak ingin menerima apa pun dari Henry, kedengarannya  bodoh, tetapi yang ia lakukan  adalah semata-mata,  karena ingin memberitahu jika yang ia inginkan adalah Henry bukan harta pria itu.  

Henry berdehem lalu berkata, "Aku bisa saja membantu perusahaan itu." 

"Aku tidak  perlu bantuanmu," ucap Aurora seraya menatap mata Henry dengan tatapan dingin, tetapi jantungnya berdesir hebat manakala tatapannya beradu dengan tatapan Henry. 

"Ya. Aurora yang kukenal tidak perlu bantuan siapa pun," ucap Henry disertai senyum manis yang mampu meluruhkan seluruh hati Aurora.  

Senyum Henry masih manis seperti dulu. Wajahnya semakin tampan dan tidak ada tanda-tanda penyesalan bahwa mereka kini tidak lagi bersama. Memikirkan itu membuat jantung Aurora seperti tertusuk jarum.  

Aurora mendengus pelan. Ia mengulurkan kartu bank untuk membayar kopinya kemudian mengambil gelas kopinya kemudian berjalan melewati Henry. Secepatnya ia ingin segera menghindari mantan suaminya atau jika tidak ia mungkin akan menyesali jika dirinya pernah membuat keputusan untuk bercerai. Namun, Henry mengejarnya dan berhasil meraih sikunya.  

"Cantik, aku serius ingin menolong perusahaan peninggalan ayahmu."  

Aurora diam-diam menelan ludah. Perusahaan itu memang peninggalan ayahnya yang sangat berharga dan kakak lelaki satu-satunya Aurora-lah yang kini meneruskan perusahaan peninggalan mendiang ayahnya.  

"Pertimbangkan tawaranku," lanjut Henry. "Jika kau bersedia, kau tahu di mana kau harus menemuiku." 

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AZAB SUAMI YANG DZOLIM
9.7
Kalina, seorang pengusaha wanita yang sangat sukses, membangun rumah tangga bersama Adit yang hanya bekerja sebagai pegawai bank biasa. Di balik pernikahan mereka, Adit ternyata hanya memanfaatkan kekayaan istrinya. Pengkhianatan itu terasa kian menyakitkan saat Kalina mengetahui bahwa sang suami telah menikah lagi secara diam-diam. Tidak tinggal diam begitu saja, Kalina pun menyusun sebuah rencana elegan untuk membalas semua perbuatan dzolim suaminya tersebut.
Sampul Novel Bukan yang Pertama
8.4
Zaina Rahayu kehilangan orang tuanya akibat kelalaian seorang sosialita, yang kemudian menjanjikannya menjadi menantu sebagai bentuk penebusan dosa. Namun, sikap dingin sang calon suami dan bayang-bayang masa lalunya yang belum selesai membuat Zaina memilih mundur dari perjodohan ini. Zaina mencoba menjauh, tetapi takdir terus mendekatkannya kembali dengan pria galak itu. Mampukah gadis polos ini bertahan saat benih cinta mulai tumbuh di tengah rumitnya masa lalu sang pria?
Sampul Novel GAIRAH PRIA IMPOTEN
9.8
Mela, wanita malang yang diusir ibu tirinya dan menjadi korban pelecehan, terpaksa bekerja sebagai wanita penghibur. Di sana, ia mendapat misi khusus untuk memikat seorang pria impoten yang penuh misteri. Hubungan tak terduga ini justru membuat Mela hamil anak dari pria tersebut. Kini, ia terjebak dalam dilema besar mengenai masa depan janinnya, di tengah pusaran rahasia besar yang menyelimuti kehidupan mereka berdua.
Sampul Novel GAIRAH TERLARANG KAKAK IPAR
8.4
Renata Adinda menjalani pernikahan dingin tanpa kasih sayang dari suaminya, Adi Sanjaya, yang selalu mengabaikan kewajiban batinnya. Di tengah kehampaan hidup tersebut, Ryota Anggara hadir. Kakak kandung Adi itu menyadari keretakan hubungan mereka dan mulai mendekati Renata. Ketertarikan Rio memicu jalinan asmara terlarang yang membara di antara keduanya. Akankah cinta rahasia ini terus bertahan atau justru membawa kehancuran bagi mereka?
Sampul Novel Intermezzo ( Antologi Cerpen )
9.0
Antologi cerita pendek ini mengisahkan bagaimana cinta dapat tumbuh dari situasi yang tak pernah disangka. Tanpa aba-aba dan tak mengenal waktu, perasaan kasih sayang bisa hadir mengetuk hati siapa saja. Lewat untaian kisah romansa modern, buku ini memperlihatkan keunikan momen saat dua insan saling jatuh hati, menegaskan bahwa cinta sejati kerap kali menampakkan dirinya di sela-sela keseharian yang tampak biasa saja.
Sampul Novel Kakak Kelas Jahat itu Suamiku
8.0
Demi menyelamatkan ekonomi keluarganya, Piona, mahasiswi sastra 21 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan mendadak yang menyimpan rahasia besar. Keadaan menjadi rumit karena calon suaminya adalah musuh bebuyutan masa SMA yang sangat ia benci. Pria tampan yang dulu selalu memicu pertengkaran dengannya kini harus menjadi pendamping hidupnya. Takdir pun memaksa dua orang yang saling bermusuhan ini bersatu dalam ikatan pernikahan penuh ketegangan.