APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Kekasihku CEO Psikopat

Mantan Kekasihku CEO Psikopat

Demi mengejar mimpi, Alya Rahayu pindah ke Jakarta. Sialnya, ia justru kehilangan segalanya hingga terpuruk. Di masa sulit ini, ia kembali dipertemukan dengan sang mantan kekasih, Dira Pratama. Namun, Dira telah berubah menjadi CEO dingin yang penuh rahasia kelam. Setelah lima tahun berpisah, sosok lembutnya sirna, berganti menjadi pria obsesif yang menyimpan dendam. Kini, sebagai bawahan Dira, Alya terjebak dalam trauma dan kebenaran pahit masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu, Alya merasa seperti hari-harinya di Jakarta mulai memiliki arti. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, mencoba menepis kelelahan yang melanda tubuhnya. Matahari yang mulai muncul dari balik gedung-gedung tinggi seakan memberi sinyal bahwa hari ini adalah hari baru, sebuah awal yang bisa membawa harapan. Namun, perasaan ragu tetap melingkupi dirinya, seperti kabut yang sulit diusir. Meskipun semangatnya untuk bekerja tak pernah surut, ada bayang-bayang Dira yang tak pernah pergi.

Pagi itu, Alya mengenakan blus putih sederhana dan rok hitam, dengan rambut diikat rapi di belakang. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh apartemennya, menatap foto-foto keluarga yang terpasang di dinding. Wajah Mama, ayah, dan adiknya, Rina, mengingatkannya pada semua yang telah diperjuangkannya. Aku tidak bisa kalah, aku tidak boleh menyerah, pikirnya, menguatkan hatinya untuk hari ini.

Setelah sarapan cepat, Alya menyusuri jalanan Jakarta yang sibuk, kali ini dengan lebih percaya diri. Gedung Pratama Industries yang megah terlihat lebih menantang dari hari sebelumnya. Namun, kali ini, Alya memutuskan untuk tidak membiarkan ketakutan merayap masuk. Ia melangkah masuk ke dalam gedung, di mana udara dingin dan suasana formal menyambutnya. Para pegawai yang sibuk berjalan melewatinya, dengan tatapan yang tidak terlalu memperhatikan kehadirannya.

"Selamat pagi, Alya," sapa Rina, rekan kerja yang duduk di meja dekat pintu masuk. Rina, seorang wanita muda dengan senyum lebar dan semangat yang tak pernah pudar, merupakan orang pertama yang mengajaknya berbicara sejak ia mulai bekerja di perusahaan itu. "Sudah siap untuk presentasi siang ini?"

Alya mengangguk, meskipun napasnya masih sedikit terengah-engah dari perjalanan pagi itu. "Siap, Rina. Semoga semuanya berjalan lancar."

Rina mengangkat alis, menyadari ada yang berbeda dari Alya pagi ini. "Kamu oke, kan? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu."

Alya melirik Rina, sedikit ragu. Rina sudah menjadi sahabat baiknya di sini, seseorang yang bisa diandalkan. Namun, mengungkapkan perasaannya tentang Dira bukanlah hal yang mudah. Alya tahu bahwa Dira bukan sekadar atasan biasa-dia adalah pria yang pernah mengisi hatinya, dan kini, setelah lima tahun, semua itu kembali hadir dalam hidupnya dengan cara yang tak terduga.

"Saya hanya sedikit lelah, Rina. Mungkin hanya butuh waktu untuk beradaptasi," jawab Alya, mencoba tersenyum. Rina mengangguk, tetapi ekspresinya tetap penuh perhatian. "Apapun yang kamu butuhkan, aku di sini untukmu," kata Rina dengan tulus. Alya merasakan hangatnya perhatian itu, seakan memberinya kekuatan untuk bertahan.

Waktu berjalan begitu lambat ketika Alya berada di ruangan kantor. Presentasinya berjalan dengan cukup lancar, meskipun matanya terus melirik ke arah pintu ruang rapat, seolah berharap Dira tak akan muncul. Namun, saat ia mulai merasakan sedikit ketenangan, pintu itu terbuka, dan langkah Dira yang tegap memecah suasana. Pandangan mereka bertemu sejenak, dan jantung Alya terasa seperti terhenti. Dira, dengan jas hitam yang terpasang sempurna, berjalan ke arah meja rapat.

"Maaf jika saya terlambat," suara Dira bergema, menyapukan pandangan tajamnya ke arah Alya dan rekan-rekannya. Ia duduk di kursi di ujung meja, matanya tetap terfokus pada layar presentasi. Alya berusaha mengalihkan perhatian, namun rasa cemas yang menyesakkan membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Dia tahu bahwa Dira selalu memiliki cara untuk membuat orang lain merasa seperti sedang diadili, meskipun tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Baiklah, kita mulai," ujar Dira, menatap Alya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya. Alya merasa seolah sedang diuji, dan semua mata di ruangan itu terasa seperti tajam, seolah ingin menembus isi pikirannya. Ia merasakan peluh di keningnya, meskipun ruangan itu terasa cukup sejuk. Setiap kalimat yang diucapkannya terasa lebih berat daripada yang seharusnya, dan suara Dira yang menyela di tengah presentasi semakin membuatnya terperangkap dalam ketakutan.

"Apakah ada saran atau masukan, Pak Dira?" Alya bertanya, suaranya sedikit bergetar. Dira menatapnya, mata cokelat gelapnya yang tajam seperti mencari tahu, seperti sedang menguji sesuatu yang lebih dalam.

"Saya rasa presentasi ini cukup informatif, tetapi detail yang Anda sampaikan masih bisa diperbaiki. Perhatikan angka-angka ini," Dira berkata, menunjuk ke layar. Suaranya mengandung nada serius, namun Alya bisa merasakan ada sesuatu di dalam tatapan matanya, seolah ada perasaan lain yang tak bisa diungkapkan.

"Terima kasih, Pak Dira," Alya menjawab, mencoba tetap profesional meskipun jantungnya terasa berdetak semakin cepat. Ruangan itu mulai terasa semakin sesak, dan saat Dira berdiri dan meninggalkan ruangan, perasaan lega yang sempat hadir kini digantikan oleh kekosongan.

Setelah rapat berakhir, Alya duduk di mejanya, mencoba menenangkan diri. Rina datang menghampirinya dengan ekspresi khawatir. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya, duduk di kursi di sebelah Alya.

Alya memaksakan senyum. "Aku hanya butuh waktu, Rina. Ini semua... sulit."

"Dira bukan pria yang mudah dilawan, aku tahu. Tapi kamu bukan lagi gadis yang dulu, Alya. Kamu bisa menghadapinya," ujar Rina, memegang tangan Alya dengan penuh keyakinan. Alya menatap Rina, mata mereka bertemu, dan Alya merasa seperti mendapat semangat baru. Dia tahu, meskipun Dira membawa banyak kenangan dan rasa takut, ia masih memiliki alasan untuk terus bertahan.

Pagi itu, Alya memutuskan untuk kembali menguatkan dirinya. Hatinya mungkin masih terombang-ambing, tapi ia tak akan membiarkan masa lalu menguasainya. Dira mungkin masih menjadi bayangan yang menakutkan, namun Alya tahu bahwa setiap kali dia memutuskan untuk tetap berdiri, bayangan itu semakin redup.

Petang tiba, dan Jakarta mulai menampakkan wajahnya yang berbeda. Lampu-lampu jalanan menyala, menerangi suasana malam yang mulai mendingin. Alya memutuskan untuk berjalan pulang, menyusuri trotoar yang penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka. Ia berhenti sejenak di kafe kecil, tempat di mana Dira pernah membawanya dahulu, tempat mereka tertawa dan berbagi impian. Ia duduk di sudut yang sama, mengenang bagaimana Dira dulu mengajaknya bermimpi tentang masa depan.

"Alya, kamu kuat. Ingat itu," bisiknya pada dirinya sendiri, sambil menatap cangkir kopi yang kini kosong. Mungkin masa lalu itu sudah terlalu lama meninggalkannya, tetapi Alya tahu bahwa jika ia ingin melangkah ke depan, ia harus memaafkan, bukan hanya Dira, tapi juga dirinya sendiri. Ia harus melepaskan rasa sakit itu dan mengembalikan kekuatannya.

Dan malam itu, saat angin lembut berhembus, Alya merasakan secercah harapan baru. Dira mungkin masih menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan, tetapi Alya berjanji pada dirinya sendiri-dia tidak akan membiarkan pria itu, atau kenangan mereka, menghalangi masa depannya. Di dalam hatinya, Alya tahu bahwa ia berhak mendapatkan kebahagiaan, dan tidak ada siapa pun yang bisa mengambilnya darinya.

Bab 3 ini menggambarkan bagaimana Alya berusaha mengatasi ketakutannya dan menghadapi kenyataan bahwa Dira ada dalam hidupnya, meskipun sulit dan penuh emosi.**Bab 3: Ujian Hati**

Pagi itu, Alya merasa seperti hari-harinya di Jakarta mulai memiliki arti. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, mencoba menepis kelelahan yang melanda tubuhnya. Matahari yang mulai muncul dari balik gedung-gedung tinggi seakan memberi sinyal bahwa hari ini adalah hari baru, sebuah awal yang bisa membawa harapan. Namun, perasaan ragu tetap melingkupi dirinya, seperti kabut yang sulit diusir. Meskipun semangatnya untuk bekerja tak pernah surut, ada bayang-bayang Dira yang tak pernah pergi.

Pagi itu, Alya mengenakan blus putih sederhana dan rok hitam, dengan rambut diikat rapi di belakang. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh apartemennya, menatap foto-foto keluarga yang terpasang di dinding. Wajah Mama, ayah, dan adiknya, Rina, mengingatkannya pada semua yang telah diperjuangkannya. *Aku tidak bisa kalah, aku tidak boleh menyerah,* pikirnya, menguatkan hatinya untuk hari ini.

Setelah sarapan cepat, Alya menyusuri jalanan Jakarta yang sibuk, kali ini dengan lebih percaya diri. Gedung Pratama Industries yang megah terlihat lebih menantang dari hari sebelumnya. Namun, kali ini, Alya memutuskan untuk tidak membiarkan ketakutan merayap masuk. Ia melangkah masuk ke dalam gedung, di mana udara dingin dan suasana formal menyambutnya. Para pegawai yang sibuk berjalan melewatinya, dengan tatapan yang tidak terlalu memperhatikan kehadirannya.

"Selamat pagi, Alya," sapa Rina, rekan kerja yang duduk di meja dekat pintu masuk. Rina, seorang wanita muda dengan senyum lebar dan semangat yang tak pernah pudar, merupakan orang pertama yang mengajaknya berbicara sejak ia mulai bekerja di perusahaan itu. "Sudah siap untuk presentasi siang ini?"

Alya mengangguk, meskipun napasnya masih sedikit terengah-engah dari perjalanan pagi itu. "Siap, Rina. Semoga semuanya berjalan lancar."

Rina mengangkat alis, menyadari ada yang berbeda dari Alya pagi ini. "Kamu oke, kan? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu."

Alya melirik Rina, sedikit ragu. Rina sudah menjadi sahabat baiknya di sini, seseorang yang bisa diandalkan. Namun, mengungkapkan perasaannya tentang Dira bukanlah hal yang mudah. Alya tahu bahwa Dira bukan sekadar atasan biasa-dia adalah pria yang pernah mengisi hatinya, dan kini, setelah lima tahun, semua itu kembali hadir dalam hidupnya dengan cara yang tak terduga.

"Saya hanya sedikit lelah, Rina. Mungkin hanya butuh waktu untuk beradaptasi," jawab Alya, mencoba tersenyum. Rina mengangguk, tetapi ekspresinya tetap penuh perhatian. "Apapun yang kamu butuhkan, aku di sini untukmu," kata Rina dengan tulus. Alya merasakan hangatnya perhatian itu, seakan memberinya kekuatan untuk bertahan.

***

Waktu berjalan begitu lambat ketika Alya berada di ruangan kantor. Presentasinya berjalan dengan cukup lancar, meskipun matanya terus melirik ke arah pintu ruang rapat, seolah berharap Dira tak akan muncul. Namun, saat ia mulai merasakan sedikit ketenangan, pintu itu terbuka, dan langkah Dira yang tegap memecah suasana. Pandangan mereka bertemu sejenak, dan jantung Alya terasa seperti terhenti. Dira, dengan jas hitam yang terpasang sempurna, berjalan ke arah meja rapat.

"Maaf jika saya terlambat," suara Dira bergema, menyapukan pandangan tajamnya ke arah Alya dan rekan-rekannya. Ia duduk di kursi di ujung meja, matanya tetap terfokus pada layar presentasi. Alya berusaha mengalihkan perhatian, namun rasa cemas yang menyesakkan membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Dia tahu bahwa Dira selalu memiliki cara untuk membuat orang lain merasa seperti sedang diadili, meskipun tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Baiklah, kita mulai," ujar Dira, menatap Alya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya. Alya merasa seolah sedang diuji, dan semua mata di ruangan itu terasa seperti tajam, seolah ingin menembus isi pikirannya. Ia merasakan peluh di keningnya, meskipun ruangan itu terasa cukup sejuk. Setiap kalimat yang diucapkannya terasa lebih berat daripada yang seharusnya, dan suara Dira yang menyela di tengah presentasi semakin membuatnya terperangkap dalam ketakutan.

"Apakah ada saran atau masukan, Pak Dira?" Alya bertanya, suaranya sedikit bergetar. Dira menatapnya, mata cokelat gelapnya yang tajam seperti mencari tahu, seperti sedang menguji sesuatu yang lebih dalam.

"Saya rasa presentasi ini cukup informatif, tetapi detail yang Anda sampaikan masih bisa diperbaiki. Perhatikan angka-angka ini," Dira berkata, menunjuk ke layar. Suaranya mengandung nada serius, namun Alya bisa merasakan ada sesuatu di dalam tatapan matanya, seolah ada perasaan lain yang tak bisa diungkapkan.

"Terima kasih, Pak Dira," Alya menjawab, mencoba tetap profesional meskipun jantungnya terasa berdetak semakin cepat. Ruangan itu mulai terasa semakin sesak, dan saat Dira berdiri dan meninggalkan ruangan, perasaan lega yang sempat hadir kini digantikan oleh kekosongan.

***

Setelah rapat berakhir, Alya duduk di mejanya, mencoba menenangkan diri. Rina datang menghampirinya dengan ekspresi khawatir. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya, duduk di kursi di sebelah Alya.

Alya memaksakan senyum. "Aku hanya butuh waktu, Rina. Ini semua... sulit."

"Dira bukan pria yang mudah dilawan, aku tahu. Tapi kamu bukan lagi gadis yang dulu, Alya. Kamu bisa menghadapinya," ujar Rina, memegang tangan Alya dengan penuh keyakinan. Alya menatap Rina, mata mereka bertemu, dan Alya merasa seperti mendapat semangat baru. Dia tahu, meskipun Dira membawa banyak kenangan dan rasa takut, ia masih memiliki alasan untuk terus bertahan.

Pagi itu, Alya memutuskan untuk kembali menguatkan dirinya. Hatinya mungkin masih terombang-ambing, tapi ia tak akan membiarkan masa lalu menguasainya. Dira mungkin masih menjadi bayangan yang menakutkan, namun Alya tahu bahwa setiap kali dia memutuskan untuk tetap berdiri, bayangan itu semakin redup.

***

Petang tiba, dan Jakarta mulai menampakkan wajahnya yang berbeda. Lampu-lampu jalanan menyala, menerangi suasana malam yang mulai mendingin. Alya memutuskan untuk berjalan pulang, menyusuri trotoar yang penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka. Ia berhenti sejenak di kafe kecil, tempat di mana Dira pernah membawanya dahulu, tempat mereka tertawa dan berbagi impian. Ia duduk di sudut yang sama, mengenang bagaimana Dira dulu mengajaknya bermimpi tentang masa depan.

"Alya, kamu kuat. Ingat itu," bisiknya pada dirinya sendiri, sambil menatap cangkir kopi yang kini kosong. Mungkin masa lalu itu sudah terlalu lama meninggalkannya, tetapi Alya tahu bahwa jika ia ingin melangkah ke depan, ia harus memaafkan, bukan hanya Dira, tapi juga dirinya sendiri. Ia harus melepaskan rasa sakit itu dan mengembalikan kekuatannya.

Dan malam itu, saat angin lembut berhembus, Alya merasakan secercah harapan baru. Dira mungkin masih menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan, tetapi Alya berjanji pada dirinya sendiri-dia tidak akan membiarkan pria itu, atau kenangan mereka, menghalangi masa depannya. Di dalam hatinya, Alya tahu bahwa ia berhak mendapatkan kebahagiaan Alya tahu bahwa ia berhak mendapatkan kebahagiaan, dan tidak ada siapa pun yang bisa mengambilnya darinya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil membawa pulang patung beruang yang ia temukan di jalan tanpa tahu rahasia di baliknya. Benda mati itu sebenarnya adalah wujud lain dari seorang pria muda yang sangat kuat. Melinda terus merawatnya dengan tulus hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang menawan. Keadaan mulai berubah saat ketegangan melanda hubungan mereka yang tidak biasa ini. Akankah kisah cinta unik antara manusia biasa dan sang dewa dapat bersatu dalam kebahagiaan?
Sampul Novel Intelijen Tampan
9.7
Carlo Bandarez, agen rahasia Rusia berparas menawan, selalu menutup hati dari wanita walau banyak yang memujanya. Namun, hatinya goyah setelah bertemu kembali dengan sahabat kecilnya, Claudia Rodriguez. Meski Carlo berusaha meredam gejolak asmara tersebut, cinta di antara mereka justru semakin membara. Kini, ia menghadapi dilema pelik ketika diperintahkan menyelidiki kasus kejahatan ayah Claudia, Samuel Rodriguez. Carlo pun harus memilih antara loyalitas tugas atau perasaan cintanya.
Sampul Novel Mekar dan Pudar pada Bunga Matahari
8.4
Demi mengubur masa lalu yang kelam, Kenia Watson memutuskan menjadi sukarelawan Dokter Lintas Batas di Otresh. Di tengah perjuangannya melawan penyakit kanker yang mematikan, ia dikhianati oleh Hobson, suaminya yang berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Kenia pun memilih bercerai dan pergi diam-diam. Namun, saat kondisi Kenia kritis, Hobson justru datang bersimpuh di samping ranjangnya, memohon dengan sangat agar wanita itu tidak menyerah pada kematian.
Sampul Novel PERNIKAHAN PENUH KEBENCIAN
8.3
Setelah sepuluh tahun, Rina Wibowo kembali ke kehidupan Aditya Harsono sebagai guru privat anaknya. Perubahan fisik membuat Adit tidak mengenali Rina dan jatuh cinta lagi padanya. Namun, begitu identitas asli Rina terbongkar, cinta Adit berubah menjadi dendam membara. Ia pun menikahi Rina hanya untuk menyiksanya demi membalas luka masa lalu. Di tengah siksaan itu, sanggupkah Adit bertahan dengan kebenciannya saat Rina memilih menyerah dan meminta cerai untuk selamanya?
Sampul Novel Rantai Hasrat
9.3
Nicole Tristan hancur setelah dikhianati Oliver Maxton, cinta pertamanya yang memperlakukannya bagai mainan tidak berharga. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk menyembuhkan luka batin tersebut. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali secara tak terduga saat Oliver hadir sebagai calon suami adik tirinya. Di antara rasa benci dan cinta yang membingungkan, Nicole kini terjebak dilema. Akankah masa lalu ini berakhir damai atau justru merusak hidupnya lagi?
Sampul Novel Tuan CEO, Aku ingin Bercerai
9.0
Tiga tahun pernikahan bagai penjara dingin bagi Annika Chandra karena suaminya, Zakki Ruslan, mencintai wanita lain. Puncaknya, Zakki tega meninggalkan Annika yang sedang hamil dan terluka demi menyusul kekasihnya ke luar negeri. Kecewa berat, Annika menandatangani surat cerai lalu menghilang. Dua tahun berlalu, ia kembali dan didekati banyak pria. Namun, Zakki justru muncul menghadangnya, menolak menandatangani perceraian, dan menuntut Annika kembali ke pelukannya demi sumpah pernikahan mereka.