APKDock Logo
Sampul Novel Sayap-sayap Patah

Sayap-sayap Patah

8.6 / 10.0
Inara Subrata memilih New York untuk memulihkan diri dari masa lalu kelamnya. Tak disangka, pertemuannya dengan Fabio, seorang CEO kaya di Brooklyn, malah membuka kembali luka lama yang berusaha ia lupakan. Ara kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dalam ikatan tanpa kepastian yang menyiksa batin, atau menyaksikan usaha sang kakak hancur tanpa sisa. Di tengah situasi pelik ini, sanggupkah Ara meraih kebahagiaan dan cinta sejati yang ia dambakan di negeri orang?

Sayap-sayap Patah Bab 1

Semburat cahaya mentari sore menelisik masuk melalui kisi-kisi jendela kamar yang terbuka. Seorang gadis berwajah murung yang dipenuhi kesedihan sedang terduduk menatap jauh ke lautan lepas tepat di depan jendela kamarnya.

Ara, nama gadis itu Inara Subrata. Ia sama sekali tidak berniat beranjak dari duduknya kalau saja, Bi Nani, asisten rumah tangga disana tidak menyadarkannya dari lamunan.

"Coklat panasnya sudah dingin, Non...", ucap Bi Nani singkat.

Ara menoleh. Bi Nani benar, ia sudah melupakan coklat panasnya (yang kini sudah menjadi dingin) sedari tadi.

"Oh, Ara lupa bi..", gadis itu segera meminum coklatnya. Coklat selalu memperbaiki suasana hatinya.

"Bi, Ara akan keluar jam 4 nanti. Ada janji sama temen dari Jakarta. Apa bibi mau nitip sesuatu? Nanti sekalian Ara belikan...", Bi Nani tersenyum dan menggeleng.

"Tidak ada, Non. Buat bibi, Non sudah mau berkumpul lagi dengan teman-teman Non saja, Bibi sudah senang. Apa Non akan pulang untuk makan malam?"

"Ara tidak tau, Bi. Tapi bibi siapkan saja", Bi Nani mengangguk lalu meninggalkan gadis itu.

Enam bulan yang lalu, Ara sangat hancur karena kehilangan kedua orangtuanya akibat kecelakaan pesawat. Sampai saat ini, Ara bahkan tidak tahu kondisi dan keberadaan jenazah keduanya. Sejak saat itu, Ara benar-benar menutup diri. Menenggelamkan hidupnya di dalam kesedihan yang sangat dalam.

Ara tidak pernah lagi keluar rumah, bahkan untuk melihat pekaranganpun sangat jarang. Ia menolak semua ajakan teman-teman dan sahabatnya untuk sekedar berkumpul di cafe atau club. Ia juga mengabaikan undangan para rekan, colega, dan teman-teman sekolahnya dulu.

Ara sempurna bersedih dan menyendiri. Bi Nani sudah berulang kali memintanya untuk keluar rumah, mencari udara segar. Namun gadis itu menolaknya dengan alasan apapun.

Hari itu, Ara memutuskan untuk menemui sahabatnya. Semoga merupakan awal yang baik, pikirnya dalam hati.

"Bi, Ara pergi ya...", Bi Nani mengangguk dan tersenyum.

"Hati-hati, Non...", Ara mengucapkan salam lalu segera masuk kedalam chevrolete putihnya.

Ara segera menuju cafe di Jimbaran. Sesaat setelah Ara keluar dari mobilnya, seseorang melambai dari kejauhan. Ara tersenyum dan segera menghampiri gadis itu.

"My Ara. Im glad to see you here, my darling. Soo miss you", keduanya berpelukan lama. Ara tersenyum.

"Kamu udah lama nunggunya, Nggun?", gadis itu menggeleng.

Anggun Dwimora, sahabat Ara sejak ia SMP. Keduanya berpisah justru saat Ara mendapatkan kabar kematian orangtuanya. Saat itu Anggun harus pergi ke London, meneruskan kuliahnya.

"Aku turut berduka ya, Ra. Maafkan aku yang ga bisa dampingin kamu...", Anggun memegang tangan sahabatnya itu. Ara mengangguk dan mencoba tersenyum.

Ara sebenarnya tidak suka saat seseorang mengungkit kembali kenangan buruk itu. Tapi Anggun nampak tulus mengucapkan itu. Sehingga Ara tidak ingin larut dalam kesedihan itu lagi. Wajahnya langsung berubah ceria.

"Kamu ngapain di Bali, Nggun. Ayo menginap kerumahku...", Anggun menyadari bahwa Ara ingin mengalihkan pembicaraan. Ia kemudian tersenyum.

"Cuma sampe besok, Ra. Ada tugas kampus, jadi harus bertemu teman untuk mengurus penelitian kecilku", Ara mengangguk, "Oh ya, kenapa kita ga jalan-jalan dipantai? Udah mau sunset sebentar lagi. Hayok...", Ara tertawa lalu mengangguk.

Ara langsung membuka sepatu dan menentengnya sambil terus berjalan dipinggiran pantai.

"Oh ya, kenapa kamu ga datang bareng Niko? Bukannya dia sedang ada disini??", Deggg. Ara tiba-tiba terdiam. Niko ada di Bali?

"Bareng Niko? Maksudnya, Nggun?", Anggun menatap Ara bingung.

"Kemarin aku menelponnya, karena aku mendapatkan kabar bahwa kamu tidak lagi tinggal di Jakarta. Dia bilang kalian sudah tinggal di Bali sekarang. Makanya ku pikir, kalian akan datang bersama...", Ara nampak gusar. Ia sangat tidak nyaman ketika mendengar nama itu.

"Hai, Nggun...", sebuah suara mengagetkan Ara dan Anggun. Tubuh Ara membeku. Ia mengenali suara berintonasi tenang itu. Anggun menoleh.

"Oh, hai, Nik. Kita baru aja ngomongin kamu...", Niko tersenyum. Ia melihat kearah Ara yang sama sekali tidak menoleh kepadanya, "Ra, ini ada Niko...", Anggun menoleh lagi kepada Ara. Gadis itu sama sekali tidak berniat menatap laki-laki dibelakangnya, "Ara, kalian t...idak sedang b...ertengkar, kan??", tanya Anggun dengan hati-hati. Namun Ara segera menatapnya.

"Nggun, aku rasa aku harus pulang sekarang. Aku ada janji makan malam bersama saudaraku. Kamu berkunjunglah kerumahku jika ada waktu, okey?", Ara segera memeluk sahabatnya itu cepat. Lalu pergi meninggalkannya.

Anggun hendak memanggil Ara namun gadis itu sudah berlalu dengan buru-buru.

"Ara, tunggu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan...", Ara mengenali suara itu. Niko mengejarnya, namun Ara tidak berniat sedikitpun untuk berhenti, "Ara...", langkah kaki Ara terhenti. Bukan karena ia yang meminta, tapi karena seseorang mencekal tangannya, "Aku mohon dengarkan aku sebentar saja...", Ara berbalik cepat.

"Lepaskan tanganku, Bang", Ara berusaha melepaskan cengkeraman tangan Niko, "Aww, sakit. Kamu menyakitiku...", Ara meringis karena nyeri dilengannya. Niko buru-buru melapaskan tangan gadis itu.

"Maaf, Ara, maafkan aku. Aku tidak berniat...", Niko menyesali perbuatannya mencengkram tangan gadis itu. Niko hanya tak ingin Ara pergi, karena itu tangannya tanpa sadar mencengkram lebih kuat.

"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, bang. Semua sudah selesai...", ucap Ara dingin.

"Ara, aku mohon. Tolong dengarkan sedikit saja penjelasanku...", Ara tertawa hambar.

"Penjelasan apa, Bang? Abang ingin menjelaskan apa? Semua sudah jelas, abang ingin pergi dari kehidupanku. Dan sekarang aku sudah merelakannya...", Niko menggeleng.

"Tidak Ara, kamu salah paham. Abang...", ucapan Niko terhenti karena Ara tiba-tiba mengangkat tangannya.

"Tidak ada yang salah paham, bang. Aku sudah mengerti. Dan tidak perlu ada penjelasan lagi...", Niko ingin berbicara lagi namun Ara menggeleng keras. Menolak penjelasan Niko, "Dulu, sewaktu abang ingin pergi, kemana penjelasan abang? Bahkan saat Ara datang ke bandara meminta penjelasan abang dan memohon abang untuk tidak pergi, apa abang berniat sedikit saja bicara kepada Ara????", dua bulir air mata mengembang di kelopak mata Ara.

"Ara, aku...", Niko sangat terluka melihat gadis itu menangis.

"Saat Ara benar-benar membutuhkan kehadiran abang, Abang justru pergi tanpa penjelasan. Abang bahkan tidak perduli, sedikit saja mengerti, bahwa Ara membutuhkan penjelasan. Kenapa abang tidak mau bicara dulu? Jika abang menjelaskan alasan abang pergi saat itu, mungkin Ara akan mengerti. Sekalipun abang pergi karena ada gadis lain, jika abang bicara dengan jelas padaku, itu lebih baik daripada meninggalkan Ara tanpa alasan sedikitpun..."

Gadis lain?? Tidak!! Itu tidak ada! Batin Niko protes. Ia sangat mencintai Ara dan kepergiannya saat itu bukan karena gadis lain.

"Selama enam bulan, Ara merangkai sendiri, menerka-nerka alasan abang meninggalkanku. Terus tenggelam sendiri, dan meyakinkan diri bahwa Tuhan sangat tidak adil pada hidupku", air mata Ara sudah membanjiri pipinya sedari tadi.

"Tapi kini semua sudah berlalu. Bagi Ara, semua yang terjadi sudah menjadi masa lalu yang harus Ara lupakan. Ara tidak ingin mendengar alasan atau penjelasan apapun dari abang, bahkan dari Tuhan. Ara akan melanjutkan semuanya. Dan kenangan kita, Ara kubur bersama dengan kepergian ayah dan bunda. Semua sudah berakhir, bang. Tidak perlu ada penjelasan lagi...", Ara menghela nafas. Ia menyeka air matanya dan bersiap pergi.

"Tapi, Ra. Abang inginkan Ara...", Niko berkata dengan penuh pemohonan. Ara menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk jantungnya. Ara kembali menoleh.

"Tidak, Bang. Semua sudah terlambat. Lupakan Ara, karna Arapun akan melakukan hal yang sama. Dan satu lagi, Ara mohon. Jangan pernah muncul lagi dikehidupanku, bang. Aku mohon...", Ara segera berlari meninggalkan Niko. Ia buru-buru masuk kedalam mobilnya dan melajukannya cepat meninggalkan halaman cafe.

Hati Ara sangat terluka. Kehadiran Niko sama saja membuka luka lama. Ia kembali merasakan hancurnya kekuatannya saat Niko meninggalkannya dulu. Laki-laki itu pergi justru saat ia sangat membutuhkan kehadirannya. Ara sangat kesepian dan bersedih, namun Niko justru meninggalkannya tanpa penjelasan apapun. Bahkan saat Ara memohon padanya, berlutut agar laki-laki itu tidak pergi, Niko tetap bergeming.

Tidak. Ara tidak akan pernah mau menemuinya lagi. Kehadiran Niko hanya membawa sesak di dadanya dan mengembalikan kenangan buruk kepergian orangtuanya.

Ara segera berlari menemui Bi Nani sesampainya dirumah. Gadis itu langsung memeluk dan menangis dipelukan Bi Nani.

"Non, ada apa?", tanya Bi Nani keheranan karena melihat Ara menangis.

"Bi, Ara tidak tahan disini. Ara ingin pergi..."

Bi Nani terkejut. Ia tahu, Ara pasti bertemu dengan Niko. Ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat gadis itu memutuskan untuk PERGI...

Lanjut Membaca

Daftar Isi Sayap-sayap Patah

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Pasca panggilan video terakhir, suami Kayra lenyap tanpa jejak, meruntuhkan dunianya dan memaksanya membesarkan dua anak sendirian. Di tengah perjuangan berat ini, ia dipertemukan kembali dengan Damar, adik ipar yang menaruh dendam padanya akibat skandal masa lalu yang melibatkan saudari kembar Kayra. Sempat menolak mengakui sang keponakan, kemiripan fisik bayi tersebut akhirnya meluluhkan kerasnya hati Damar. Mampukah takdir baru ini mengembalikan kebahagiaan Kayra yang sempat sirna?
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam bagi sang wanita. Apakah pernikahan ini berjalan atas dasar cinta lama yang tersisa, ataukah sang suami tengah menyusun rencana balas dendam demi membalas luka masa lalunya? Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, pasangan suami istri ini harus berkomitmen di tengah bayang-bayang masa lalu. Kini, rahasia serta konflik mulai menguji kesetiaan dan keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra hancur saat kesuciannya dirampas di depan kekasihnya akibat rencana jahat kakek pria itu. Bukannya melindungi, sang kekasih justru mencampakkannya dan menikahi wanita lain. Di tengah keputusasaan, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama keluarga aslinya, ia menyusun rencana pembalasan dendam untuk menghancurkan mantan kekasih dan keluarganya. Namun, akankah kehancuran mereka membawa kedamaian yang ia cari?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Menjadi Orang Ketiga Dipernikahan
7.9
Pernikahan hasil perjodohan Mira Aditya dengan Rafiq Jaya berujung pilu. Di balik ikatan tersebut, Rafiq rupanya telah menikahi Elena Faris, cinta masa lalunya, secara diam-diam. Terasing di rumah sendiri dan terus didera kepedihan mendalam membuat Mira berada di titik nadir. Di tengah kekecewaan serta hampa yang kian menyiksa, ia pun kini harus menentukan pilihan sulit: tetap bertahan dalam kepalsuan atau melangkah pergi demi meraih kebebasannya.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Kehidupan Cyra Alesha, mahasiswi berumur dua puluh tahun yang bekerja paruh waktu di kota besar, berubah drastis akibat kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam sekaligus pewaris tunggal tersebut tega menyiksa dan menginjak harga diri Cyra. Di tengah penderitaan itu, Cyra justru terpikat oleh pesona sang miliarder. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan menghadapi kekejaman Felix atau memilih berontak untuk membebaskan dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan