
Luka Yang Kutinggalkan
Bab 2
Menyadari aku tak menyentuh makanan di piring, Willy buru-buru menggunakan bahasa isyarat dan bertanya,
[Joice, kok nggak makan?]
Aku menatap pria di depanku yang tampak penuh perhatian, lalu memaksakan senyuman kecil.
[Kalian lagi bicarakan apa? Kelihatannya seru sekali.]
Willy mengusap kepalaku dengan lembut, lalu memberi isyarat,
[Aku lagi cerita tentang kisah cinta kita. Mereka semua iri sama hubungan kita.]
Usai bicara, dia menggenggam tanganku dan mengecup punggungku.
Tamu-tamu di pesta mulai saling bertukar pandang penuh sindiran. Sementara itu, dadaku terasa seperti terbakar, perih dan panas.
Baru saja dia membicarakan bagaimana dirinya tidur dengan Anna di ruangan yang hanya dipisahkan satu dinding denganku, tapi sekarang bilang ke aku kalau dia sedang memuji kisah cinta kami? Dengan begitu lancarnya dia berbohong, bisa jadi selama ini dia memang selalu begitu.
[Aku capek, mau pulang.]
Aku ingin segera meninggalkan tempat menjijikkan ini, jauh dari orang-orang yang melihatku sebagai bahan lelucon.
Usai mengatakannya, aku tak peduli lagi dengan apapun yang Willy katakan. Aku langsung berbalik pergi dari pesta dan mengirim pesan pada sopir untuk menjemputku.
Mobil melaju sampai ke Park Avenue, lalu sopir menginjak rem. Begitu aku menoleh ke atas, aku melihat tulisan yang bergulir di layar besar dua gedung mal perbelanjaan.
“Joice, menikahlah denganku!”
Orang-orang di sekitar langsung berhenti dan memotret, lalu membagikannya. Setiap dari mereka berseru penuh kekaguman,
“Itu pasti mahal sekali. Willy memang kaya raya, beruntung sekali Joice, bisa dicintai dia.”
“Katanya Joice itu tuna rungu, nggak bisa mendengar. Makanya Pak Willy pakai cara ini untuk melamarnya. Bukan hanya di Park Avenue, tapi di semua layar besar gedung-gedung Kota A memutarkan video lamaran mereka di setiap malam selama sebulan penuh. Romantis sekali!”
Semua orang iri padaku, tapi aku hanya bisa menajamkan sudut bibir, tersenyum pahit dan berkata pelan pada sopir sambil menutup jendela,
“Ayo jalan.”
Seminggu lalu, aku masih merasa bahagia seperti mereka. Setiap malam, aku meminta sopir membawaku melewati jalan ini, hanya untuk melihat video lamaran dari Willy.
Aku dan Willy tumbuh bersama sejak kecil. Dari dulu, dia bilang akan menikahiku. Setelah dia pergi keluar negeri untuk belajar dan kembali menjadi direktur Grup Wilton, aku masih tetap jadi gadis biasa dengan latar belakang keluarga yang kacau.
Ayahku kasar dan sering memukuli ibuku, hingga ibu pergi meninggalkan rumah. Ibu tiri membenciku dan setelah melahirkan adik tiriku, aku nyaris menjadi pembantu di rumah sendiri. Aku sering merasa seperti Cinderella dan Willy itu pangeranku.
Saat dia kembali, dia membawaku keluar dari rumah itu. Dia memberikan sejumlah uang pada ayahku agar mengizinkan kami menikah.
Jadi, ketika terjadi kecelakaan, aku rela mendorong Willy menjauh dan membiarkan diriku yang tertabrak mobil. Kakiku patah, tubuhku kehilangan rasa dan pendengaranku hilang karena kerusakan pada koklea.
Willy memang sempat mencarikan dokter, aku pun ikut menjalani berbagai pengobatan, tapi tak ada hasil.
Sebulan yang lalu, sahabatku pulang dari luar negeri. Dia membawa seorang dokter spesialis ternama dari luar negeri.
Dia memberitahuku bahwa aku sebenarnya hanya mengalami kerusakan pada koklea dan itu bisa dipulihkan. Tulang kakiku pun sebenarnya belum tersambung dengan benar. Asal dioperasi ulang, aku bisa sembuh.
Aku senang bukan main, tapi juga terkejut. Karena selama ini, Willy tak pernah bilang seperti itu padaku.
Waktu itu, aku masih percaya dia benar-benar mencintaiku. Tapi ternyata, dia memang tak mau aku jadi lebih baik.
Tiga minggu setelah menjalani operasi ulang, pendengaranku kembali dan aku sudah bisa berdiri, serta mulai belajar berjalan pelan-pelan.
Aku pikir, aku bisa memberi kejutan di hari pernikahan, berjalan sendiri ke arahnya, menuju kebahagiaan yang selama ini kutunggu.
Berkali-kali aku membayangkan betapa indahnya momen saat aku bisa dengar Willy mengatakan, “Selamat pagi, sayang.”
Namun kenyataannya, di hari pertama aku bangun dengan pendengaran yang pulih, suara pertama yang kudengar justru adalah desahan mesra dari kamar sebelah, suara Willy dan Anna sedang bermesraan.
Ternyata, Willy dan Anna, asistennya sudah menjalin hubungan sejak lama. Selama bertahun-tahun aku kehilangan pendengaran, mereka terus terang-terangan bermesraan di depanku dan aku tidak pernah tahu.
Rasa sakit di dadaku begitu menusuk, sampai aku harus membungkuk dan memeluk tubuhku sendiri.
Teringat lagi kata-kata Willy di pesta tadi, bahkan setelah menikah, dia tak berniat mengakhiri hubungannya dengan Anna.
Demi menutupi semua ini, Willy bahkan rela membuatku jadi orang cacat seumur hidup.
Angin musim dingin menusuk kulit, tapi dinginnya justru membuatku sadar sepenuhnya.
Dulu, aku mencintainya sampai rela mati demi dia.
Sekarang aku sudah tidak mencintainya lagi. Aku akan membuktikan lewat tindakan nyata bahwa kebohongan pada akhirnya pasti akan terbongkar.
Dan aku tidak akan pernah memaafkan pengkhianatannya.
Anda Mungkin Juga Suka





