APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel LUKA DI ANTARA KITA

LUKA DI ANTARA KITA

Kehancuran melanda rumah tangga seorang istri setia setelah mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabat dekatnya sendiri. Menghadapi pengkhianatan ganda yang menyakitkan ini, seluruh kepercayaannya kini telah runtuh tak bersisa. Di tengah kepedihan yang mendalam, ia harus segera menentukan sikap. Haruskah ia tetap bertahan menyelamatkan sisa pernikahan mereka, atau melangkah pergi selamanya untuk menyembuhkan diri?
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, Raka pulang lebih larut dari biasanya. Alya sudah menunggunya di ruang tamu, membaca novel yang entah sudah berapa kali ia baca ulang tanpa benar-benar memperhatikan jalan ceritanya. Pikirannya melayang pada pertemuan siang tadi dengan Dina. Ada sesuatu yang terasa begitu salah dalam kata-kata sahabatnya, sesuatu yang membuat hatinya gelisah sepanjang hari.

Pintu depan akhirnya berderit, menandakan kedatangan Raka. Suaminya tampak lelah, dengan tas kerja yang disampirkan di bahu dan dasi yang sudah sedikit longgar. Ia melempar senyum tipis pada Alya sebelum duduk di sampingnya di sofa, mencium pipinya sekilas.

"Maaf ya, sayang, hari ini panjang banget," kata Raka sambil merentangkan badannya di sofa. "Kamu gimana?"

Alya menatapnya dengan senyum datar. "Aku baik. Kerjaan di kantor lancar?"

"Lumayan," jawab Raka. Ia menyalakan TV dan mulai mencari-cari saluran tanpa benar-benar menonton.

Seiring dengan berjalannya malam, Alya tak bisa mengabaikan perasaan tidak tenang yang menggantung di hatinya. Saat Raka akhirnya masuk ke kamar untuk mandi, Alya mengambil ponselnya dan mulai memeriksa pesan-pesan yang belum ia buka. Ada beberapa pesan dari teman dan grup chat, tapi yang membuatnya tertegun adalah satu pesan dari Dina yang masuk tadi sore. Pesan itu berbunyi:

"Kamu jadi ketemu besok, kan? Aku tunggu di tempat biasa."

Alya merasakan sesuatu di dadanya seolah terhimpit. Pesan itu jelas bukan untuknya. Dina mengirimkannya ke nomor yang salah-seharusnya pesan itu untuk Raka. Tempat biasa? Ketemu besok? Hati Alya mulai berdegup kencang, dan tanpa sadar tangannya sedikit gemetar saat membaca pesan itu.

Perlahan, Alya menekan tombol "balas" di ponsel dan mengetikkan pesan singkat.

"Jadi. Jam berapa?"

Ia menekan tombol kirim, berharap Dina tidak menyadari bahwa ia sedang membalas sebagai Raka. Detik-detik berlalu dalam keheningan, terasa seperti selamanya, sampai akhirnya balasan dari Dina muncul.

"Jam 7 malam. Jangan telat ya."

Alya terpaku menatap layar. Jantungnya berdebar semakin kencang. Pertemuannya dengan Dina siang tadi, cara sahabatnya memuji Raka, pesan singkat ini-semuanya mulai terasa seperti kepingan puzzle yang membentuk gambaran yang tidak ingin ia lihat.

Setelah mandi, Raka kembali ke ruang tamu dengan handuk di lehernya, mengeringkan rambutnya yang basah. Ia tampak santai, sama sekali tidak menyadari kecurigaan yang mulai membakar dalam diri Alya.

"Kamu ada rencana besok malam?" tanya Alya dengan suara tenang, meskipun hatinya bergejolak.

Raka berhenti sejenak, menatapnya sambil mengangkat alis. "Besok? Kayaknya nggak ada. Kenapa tanya?"

Alya tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. "Nggak apa-apa, cuma pengen tahu."

Raka kembali fokus pada TV tanpa banyak bicara. Namun, pikiran Alya tak bisa berhenti berputar. Ia tak ingin terlalu cepat berasumsi, tapi fakta bahwa Dina berencana bertemu Raka tanpa sepengetahuannya membuatnya semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Keesokan harinya, Alya mencoba menjalani rutinitasnya seperti biasa. Tapi di balik wajahnya yang tenang, ada badai yang mengamuk. Ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun dulu, membiarkan semuanya berjalan hingga ia mendapatkan bukti yang cukup. Jika memang ada sesuatu di antara Raka dan Dina, Alya perlu mengetahuinya secara pasti, meskipun hatinya terasa hancur setiap kali ia memikirkan kemungkinan itu.

Malam tiba lebih cepat dari yang Alya kira. Pukul 7, ia sudah bersiap. Raka mengucapkan pamit dari ruang tamu dengan alasan harus keluar untuk menemui teman kantor, yang tentu saja, Alya tahu itu bohong.

"Jangan lama-lama ya," kata Alya dengan senyum penuh arti, meskipun hatinya hancur.

Raka hanya tersenyum dan mencium keningnya sebelum pergi. Setelah pintu tertutup, Alya mengambil kunci mobil dan mengikutinya dari kejauhan.

Alya mengikuti mobil Raka tanpa suara, menjaga jarak cukup jauh agar tidak ketahuan. Mobil Raka berhenti di sebuah kafe kecil di sudut kota-tempat yang Dina sebut sebagai "tempat biasa." Ia melihat Raka turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe dengan langkah cepat. Hatinya berdegup kencang saat menunggu, menahan napas untuk momen yang tak terhindarkan.

Tak lama kemudian, Alya melihat seseorang yang sangat ia kenal melangkah masuk ke kafe. Dina. Sahabatnya, seseorang yang ia percaya selama bertahun-tahun, duduk di meja yang sama dengan suaminya, tersenyum dengan cara yang hanya bisa dijelaskan sebagai keintiman. Alya merasakan darahnya berdesir dingin.

Malam yang tenang itu seketika berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.

Alya tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Dari dalam mobil, ia menyaksikan Raka dan Dina berbincang sambil tersenyum-senyum yang seharusnya hanya untuknya. Seiring waktu berlalu, mereka terlihat semakin akrab. Tangannya gemetar saat memegang setir, matanya tetap terpaku pada pasangan itu.

Pikiran Alya berkecamuk, hatinya terasa hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin sahabat yang ia percaya, dan suami yang ia cintai, bisa melakukan ini di belakangnya? Di depannya, Raka mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya begitu dekat dengan Dina, dan mereka tertawa ringan. Pemandangan itu membuat dada Alya sesak.

"Kenapa mereka melakukan ini? Apa yang salah denganku?" pikir Alya.

Alya ingin langsung masuk ke kafe, ingin menuntut penjelasan di hadapan mereka berdua. Tapi kakinya terasa kaku, tidak mampu bergerak. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan-apakah ia harus mengonfrontasi mereka sekarang, atau menunggu hingga semuanya terbuka dengan sendirinya?

Alya terus mengamati dari dalam mobil, mencoba menahan emosinya yang berkecamuk. Ia melihat Raka dan Dina semakin tenggelam dalam percakapan, bahkan di beberapa momen, tangan Raka dan Dina saling menyentuh di atas meja. Seketika itu juga, perasaan marah bercampur sedih menyelimuti dirinya.

Waktu terasa begitu lambat. Setiap detik yang berlalu seolah menambah beban di hatinya. Akhirnya, setelah hampir satu jam, Alya melihat mereka berdua berdiri dan meninggalkan kafe. Ia terus memperhatikan dari kejauhan saat Raka mengantar Dina menuju mobilnya. Dina tersenyum, dan sebelum masuk ke mobil, Raka mengecup pipi Dina, sebuah momen yang terlihat begitu akrab, begitu intim.

Itu lebih dari cukup bagi Alya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia tak bisa menahan rasa sakit yang mengoyak hatinya. Tanpa suara, ia menghidupkan mobil dan melaju pulang, meninggalkan tempat itu sebelum mereka menyadari kehadirannya.

Di sepanjang perjalanan, pikiran Alya penuh dengan kecurigaan, penyangkalan, dan keputusasaan. Perasaan ditikam dari belakang oleh dua orang yang paling ia percayai membuat seluruh hidupnya terasa runtuh. Sesampainya di rumah, Alya tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya duduk di ruang tamu yang sepi, menatap dinding kosong sambil memikirkan langkah selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, pintu depan terdengar berderit. Raka pulang dengan wajah tenang, seolah tidak ada yang terjadi. Ia menanggalkan jaketnya dan melemparkannya ke sofa, lalu berjalan menuju Alya yang masih duduk diam di ruang tamu.

"Kamu belum tidur, sayang?" tanya Raka dengan nada santai.

Alya menatap suaminya dengan pandangan kosong. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, begitu banyak amarah dan kekecewaan yang ingin ia luapkan, tapi tenggorokannya terasa tersumbat. Ia hanya mampu mengangguk kecil, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku... cuma nggak bisa tidur," jawabnya lirih.

Raka duduk di sebelahnya, menatap Alya dengan pandangan lembut yang biasanya menenangkan, tapi malam ini terasa seperti kebohongan. "Kamu kelihatan capek. Mungkin besok kamu bisa istirahat lebih lama."

Alya memaksakan senyum kecil. "Ya, mungkin."

Malam itu, Alya tidak bisa tidur. Ia terus terjaga di samping Raka yang tertidur pulas, mendengar setiap helaan napas suaminya yang terdengar begitu damai, sementara pikirannya terus berkutat pada pengkhianatan yang baru saja ia saksikan.

Alya tahu bahwa ini baru permulaan. Kecurigaan yang kini berubah menjadi kenyataan adalah luka yang tak bisa disembunyikan lagi. Tapi apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus menuntut jawaban dari Raka dan Dina? Atau diam, berharap semuanya akan terungkap dengan sendirinya?

Di tengah kegelapan malam, Alya menatap langit-langit kamar, bertanya-tanya bagaimana pernikahan yang dulu terasa begitu sempurna bisa hancur dalam sekejap.

Dan di dalam dirinya, amarah serta kesedihan mulai bercampur menjadi satu. Pertanyaan terbesar yang terus bergema di benaknya adalah: apakah ia siap menghadapi kebenaran yang lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan?

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masuk Tiga Besar Daftar Orang Terkaya di Negara Ini
7.9
Divonis tumor otak saat suaminya, Ethan Wood, berselingkuh dengan manajernya membuat dunia wanita ini runtuh. Menolak diam demi menutupi skandal itu, ia memilih bercerai demi mengejar impiannya. Tak disangka, investasi impulsif dan galeri seninya sukses besar hingga ia masuk daftar tiga orang terkaya di Preayork. Di tengah ejekan Ethan tentang sisa umurnya, sebuah keajaiban datang: diagnosis tumor itu ternyata salah. Kini, ia siap bangkit berkuasa.
Sampul Novel Genius Liar
9.5
Indira Gianina mulai mencurigai Raefal Shahreza, suaminya yang pandai bersilat lidah. Ketika pengkhianatan Raefal terbongkar, Indira menghadapi pilihan sulit: bertahan demi sang buah hati atau mengakhiri pernikahan mereka. Sebagai istri yang kuat, ia enggan tinggal diam. Indira bertekad menyingkap seluruh kepalsuan suaminya dan menunjukkan harga dirinya di depan selingkuhan sang suami. Inilah kisah perjuangan seorang istri demi menjaga kehormatan keluarganya.
Sampul Novel Hurt Wife
9.4
Farida menghadapi kepedihan luar biasa setelah suaminya tega berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri. Pengkhianatan ganda ini mengoyak hatinya hingga ia terpuruk dalam kehampaan. Di tengah keputusasaan yang mendalam, Farida justru terjerumus ke dalam jerat hasrat dan gairah yang tak terduga. Kisah romansa dewasa ini menyoroti luka batin serta pelarian emosional yang seketika mengubah arah hidup sang istri selamanya.
Sampul Novel ID-PD76
9.0
Tiga tahun Evelyn tulus merawat Aidan yang amnesia sekaligus menjadi kekasih rahasianya. Namun, semua hancur saat ia tahu Aidan hanya pura-pura hilang ingatan. Lebih kejam lagi, Aidan dan masa lalunya terlibat dalam kematian ayah Evelyn. Tak tinggal diam, Evelyn mengumpulkan bukti demi menjebloskan mereka ke penjara di hari pernikahan mereka. Saat Aidan akhirnya sadar siapa cinta sejatinya, Evelyn telah menutup rapat hatinya dan memilih pergi selamanya.
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin
9.4
Demi melunasi utang keluarganya yang menumpuk, Hana terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Ray, seorang CEO dingin yang ingin mempertahankan reputasinya. Walau sepakat menjaga jarak secara emosional, kebersamaan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Namun, ikatan palsu ini mulai diuji ketika masa lalu kelam Ray terkuak dan ancaman dari rival bisnisnya datang menyerang. Akankah ketulusan sejati berhasil lahir dari sebuah kebohongan yang rumit?
Sampul Novel PAK DOSEN
8.7
Ayumi Larasati dan dosennya, Reza Syahrial, terpaksa menjalani pernikahan rahasia demi memenuhi perjodohan keluarga. Kehidupan kampus mereka menjadi penuh tekanan karena harus menyembunyikan status sebagai suami istri. Terlebih lagi, Ayumi dilarang berpacaran oleh orang tuanya, sedangkan Reza masih dibayangi trauma masa lalu. Di tengah konflik pribadi dan tuntutan profesionalitas, mampukah keduanya menjaga rahasia besar ini agar tidak terbongkar ke publik?