APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Lelaki Itu Membeliku Bukan Mencintaiku

Lelaki Itu Membeliku Bukan Mencintaiku

Demi masa depan sang adik dan jeratan utang keluarga, Vania terpaksa bekerja di dunia malam. Langkah ini membawanya bertemu Reza, konglomerat yang dipenuhi trauma masa lalu. Awalnya, Reza hanya memandang Vania sebagai barang transaksi. Namun lambat laun, interaksi dingin mereka berubah menjadi ikatan emosi yang kompleks. Terjebak di antara kebencian, candu, dan status sosial, mampukah benih asmara tumbuh tulus di atas luka serta pengorbanan harga diri mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana di dalam kelas terasa sangat mencekam. Reza berdiri di depan, menjelaskan materi Ekonomi Moneter dengan nada datar dan dingin, tetapi mata Vania tidak bisa fokus. Otaknya seperti dipenuhi kabut. Suara Reza yang seharusnya terdengar profesional malah mengingatkannya pada desahan dan bisikan liar semalam. Setiap kali Reza melangkah, setiap kali ia menoleh, Vania merasa panik. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada teori-teori ekonomi yang rumit. Pikirannya terus melayang pada sentuhan kasar, kata-kata menusuk, dan amplop tebal di dalam tasnya.

Reza menyadari ada yang tidak beres. Mata tajamnya menyapu seluruh kelas, dan ia menangkap Vania yang menunduk, tidak mencatat, dan terlihat linglung. Ia berhenti berbicara. Keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan. Semua mahasiswa menatapnya, bingung.

"Saudari Vania," suara Reza menggema, dingin dan tegas.

Vania terkejut, mendongak, dan matanya membelalak. Ia merasa seluruh perhatian kelas tertuju padanya. Wajahnya memerah karena malu.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Reza, suaranya penuh nada mengejek. "Apakah materi saya terlalu sulit untuk dipahami?"

Vania mencoba berbicara, tetapi suaranya tercekat. "Maaf, Pak. Saya... saya hanya sedang tidak enak badan."

"Oh, tidak enak badan?" Reza mengangkat salah satu alisnya. "Saya pikir kamu terlalu sibuk melamun. Maju ke depan. Jelaskan materi yang baru saja saya sampaikan."

Perintah itu terdengar seperti hukuman. Vania merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak bisa. Ia tidak mendengar apa pun. Dengan wajah yang pucat pasi, ia berdiri. Matanya berkaca-kaca. Ia melihat ke arah Lia yang memberinya tatapan kasihan.

"Maaf, Pak. Saya... saya tidak tahu," bisik Vania, menundukkan kepala. "Saya minta maaf."

"Tidak tahu?" Reza mendengus. "Seorang mahasiswi dengan IPK tertinggi di angkatan ini tidak tahu materi dasar? Saya rasa ada yang salah dengan gosip yang beredar."

Kata-kata itu membuat semua mahasiswa saling berbisik. Vania merasa dihina di depan teman-temannya sendiri. Ia mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membara. Ia tahu, Reza sengaja melakukannya. Pria itu sengaja merendahkannya.

"Duduk," perintah Reza datar. "Saya tidak punya waktu untuk drama. Setelah jam kuliah selesai, datang ke ruangan saya. Jangan sampai terlambat."

Vania kembali ke kursinya dengan tubuh gemetar. Ia tahu ia tidak bisa melawan. Reza adalah dosen, dan ia hanyalah mahasiswi. Ia harus menuruti perintah pria itu, atau nilai yang ia butuhkan untuk masa depannya akan terancam. Sisa jam kuliah terasa seperti neraka. Ia tidak lagi peduli dengan materi, hanya menunggu waktu untuk segera berakhir.

Begitu jam kuliah selesai, Vania langsung bergegas menuju ruangan Reza. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia akan bersikap profesional. Ia akan menjawab semua pertanyaan pria itu. Ia akan berani.

Ia mengetuk pintu ruangan Reza. Suara yang sama, dingin dan datar, mengizinkannya masuk. Vania membuka pintu dan melihat Reza duduk di kursinya. Ruangan itu terlihat rapi, dengan tumpukan buku tebal dan laptop yang terbuka. Pemandangan itu sangat kontras dengan gambaran pria liar yang merobek gaunnya semalam.

"Masuk," kata Reza tanpa menoleh. Ia masih fokus pada layar laptopnya.

Vania melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri di hadapan meja pria itu, gugup. Reza akhirnya menoleh, menatapnya dengan pandangan dingin yang sama. "Kenapa kamu melamun di kelas?" tanyanya, suaranya sangat rendah. "Apa yang ada di dalam pikiranmu?"

Vania mengepalkan tangannya. Ia harus berani. "Saya sudah bilang, Pak. Saya sedang tidak enak badan."

Reza menyeringai, senyum sinis yang sama seperti semalam. "Jangan berbohong. Apakah kamu memikirkan tentang kejadian semalam?"

Pertanyaan itu membuat Vania marah. Ia mengangkat wajahnya, menatap Reza dengan tatapan tajam. "Tentu tidak! Saya tidak memikirkan kejadian itu. Saya hanya memikirkan masalah keluarga saya."

"Masalah keluarga?" Reza memiringkan kepalanya. "Soal uang? Bukankah saya sudah memberikan seratus juta? Apakah itu tidak cukup?"

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk jantung Vania. Ia tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Bapak tidak tahu masalah keluarga saya!" teriaknya, suaranya bergetar. "Bapak pikir yang seratus juta cukup untuk melunasi semua hutang almarhum orang tua saya?! Bapak pikir uang itu bisa membayar harga diri yang bapak robek semalam?!"

Reza terkejut, ekspresinya berubah. Datar, tetapi ada sedikit keterkejutan di matanya. Ia tidak menyangka Vania akan berani melawannya. Namun, keterkejutan itu dengan cepat digantikan oleh ejekan yang kejam. Ia tertawa kecil, suara tawa yang hampa.

"Hutang?" Reza mengejek. "Coba hitung, Vania. Kamu melayani satu pelanggan saja harganya mahal. Coba kalau dihitung, berapa banyak pelanggan yang sudah kamu layani? Saya yakin, kamu sudah bisa mendapatkan banyak uang! Hutang sebesar apa yang tidak bisa kamu lunasi?"

Kata-kata Reza membuat Vania merasakan amarah yang membakar seluruh tubuhnya. Ia tidak tahan lagi. "Tutup mulut Bapak!" teriaknya. "Bapak tidak berhak menghakimi saya! Bapak tidak tahu apa pun tentang saya!"

"Saya tahu cukup banyak," balas Reza, suaranya semakin dingin. "Saya tahu siapa kamu. Kamu adalah seorang wanita yang menjual tubuhnya untuk uang. Dan saya adalah seorang pria yang membeli kamu dengan harga yang mahal. Jadi, kamu tidak punya hak untuk marah pada saya."

Vania tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia membenci pria ini. Ia membenci dirinya sendiri. Ia benci semua yang terjadi. "Bapak...," Vania mencoba berbicara, suaranya tersendat.

Reza tiba-tiba bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Vania. Vania mundur beberapa langkah. Ia merasa terancam, tetapi ia tidak akan lari. "Vania," kata Reza, suaranya berubah. Tidak lagi dingin, tetapi penuh dengan dominasi yang menakutkan. "Kamu tidak punya hak untuk memanggil saya Bapak di sini. Saya bukan Bapak kamu. Saya Reza. Dan kamu adalah Vania."

Vania menatapnya, bingung.

"Mulai sekarang, saat kita berdua saja, jangan panggil saya Bapak," kata Reza. "Panggil saya Reza. Dan saya akan memanggil kamu Vania."

Vania tidak bisa berkata-kata. Ia merasa seperti berada di dalam jebakan. Ia adalah mahasiswi yang harus menghormati dosennya. Tetapi ia juga adalah wanita yang dibeli pria itu. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.

"Sekarang, keluar," perintah Reza, kembali ke mejanya. "Saya tidak ingin melihat wajahmu di sini lagi."

Vania menatapnya sekali lagi. Ia melihat ekspresi dingin dan tak terbaca di wajah pria itu. Ia tidak mengerti apa yang pria ini inginkan darinya. Ia merasa seperti boneka yang dimainkan oleh seorang predator. Dengan hati hancur dan air mata yang mengalir di pipinya, ia berbalik dan keluar dari ruangan itu.

Pintu tertutup. Vania bersandar di pintu, menangis tanpa suara. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup ini. Uang seratus juta itu kini terasa seperti kutukan. Ia berharap ia tidak pernah bertemu dengan Reza. Ia berharap ia tidak pernah harus menjual dirinya. Ia berharap ia tidak pernah harus berbohong pada adiknya.

Namun, semua itu sudah terjadi. Ia telah kehilangan dirinya sendiri. Dan yang lebih buruk, pria yang merenggut segalanya darinya kini akan menjadi bagian dari setiap harinya. Pria yang akan selalu mengingatkannya pada malam kelam itu. Pria yang akan selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupnya.

Vania tidak tahu, ini adalah awal dari penderitaannya yang lebih besar.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani terusir setelah malam tragis bersama bos mafia, Rafael Damar, membuatnya mengandung lima bayi kembar jenius. Demi membesarkan anak-anaknya, ia melarikan diri ke luar negeri. Tahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai sosok wanita yang sangat berkuasa. Takdir pun mempertemukannya lagi dengan Rafael. Namun, kali ini kelima anak kembarnya yang cerdas telah mempersiapkan sebuah rencana balas dendam besar untuk ayah kandung mereka sendiri.
Sampul Novel Istri Tanpa Suami
7.9
Aminarsih, gadis yatim piatu, dinikahi seorang CEO kaya hanya sebagai penangkal nasib buruk. Pria itu selalu kehilangan istrinya yang tewas misterius dua hari setelah menikah. Bukannya hidup layak, Aminarsih justru disembunyikan di rumah kosong yang menyeramkan. Demi bertahan hidup di tempat terasing itu, ia terpaksa berteman dengan alam sekitar. Hanya pohon apel, tikus, kecoa, dan semut yang menemaninya setiap hari, hingga ia menganggap makhluk-makhluk tersebut sebagai keluarganya sendiri.
Sampul Novel Kesetiaan Yang Dikhianati
8.6
Sembilan tahun pernikahan Lily hancur saat ayah David wafat dan meninggalkan wasiat mutlak: David harus memiliki anak dengan Elvy demi mencairkan warisan keluarga miliarder tersebut. Lily terpaksa menyaksikan pengkhianatan suaminya yang membawa Elvy ke rumah mereka sendiri. Dengan janji manis pernikahan kembali setelah harta cair, David terus menemui Elvy, menandai setiap pertemuan mereka dengan bunyi lonceng di pintu yang kini telah berdentang sembilan puluh sembilan kali.
Sampul Novel Komodo Hijrah
9.6
Mahesa sukses besar sebagai pengusaha waralaba, namun nasib asmaranya selalu berujung kegagalan. Ia bahkan merasa dikutuk oleh saingan bisnisnya karena tak pernah sukses melangkah ke pelaminan. Berbagai cara logis hingga tak biasa ia tempuh demi menemukan jodoh. Di tengah perjuangan itu, Gayatri, sahabat kecil yang selalu melindunginya, tetap setia menemani. Pertanyaannya, akankah persahabatan mereka tetap kokoh saat benih cinta mulai hadir di antara keduanya?
Sampul Novel Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji
9.7
Clara Martins terancam kehilangan toko roti peninggalan neneknya di São Paulo akibat lilitan utang dan pengkhianatan. Di tengah keputusasaan, Enzo Albuquerque hadir menawarkan solusi. Mantan kekasihnya yang kini menjadi pengusaha dingin itu mengajukan pernikahan kontrak setahun demi melindungi posisinya dari intrik keluarga. Namun, hidup bersama justru membangkitkan kembali rasa yang dulu ada. Kini, Clara harus menyembunyikan kehamilannya, sementara Enzo menyimpan rahasia besar yang dapat menghancurkan hubungan mereka.
Sampul Novel Oh My CEO
8.1
Menginginkan anak tanpa ikatan pernikahan, Restu Kanaya Putri nekat meminta atasannya untuk menghamilinya. Pria itu adalah Alvian Saga Majendra, sang bos berwajah pucat yang juga sahabat dekatnya. Reres pun merencanakan perjalanan ke Bali demi menghabiskan tujuh malam penuh gairah bersama Saga. Akankah misi rahasia pengasuh pribadi ini berjalan mulus? Bagaimana kelanjutan hubungan profesional dan persahabatan mereka setelah malam-malam panas itu berakhir?